
Aku berlari memasuki markas Black Dragon. Berlari ke arah tangga namun disana ada 2 orang yang menghadang ku. Mereka menyerang ku namun dengan segara aku menyingkir dan menendang kakinya membuat salah satu darinya terjatuh, aku menangis serangan satunya lagi dan menariknya hingga jatuh ke atas tangga.
Aku langsung berlari kembali mencari dimana Arka berada. Satu persatu aku membuka pintu, berkali kali aku tidak menemukan Arka, semua pintu yang aku buka selalu kosong, walaupun beberapa terdapat beberapa wanita dan pria dekapan disini tapi aku tidak perduli dengan mereka.
Sampai akhirnya aku menemukan Arka di pintu yang paling pojok serta ruangan yang paling besar diantara kamar-kamar lainnya.
"Arka?" panggilku pelan membaut pria yang sedang berada di balkon kamar ini menyunggingkan senyum sinis dengan menatap ke arah bawah, tepatnya dimana kekacauan sedang terjadi.
Ia menangis menatap adiknya yang tergeletak mengenaskan seperti ini, tubuh yang bersimbah darah membuat ia menangis. Ia terjatuh terduduk di samping tubuh lemas sang adik.
"Arka...hiks...ini mamah sayang? bangun?" aku menepul-nepuk pipi Arka yang memerah bahkan ada bercak darahnya.
"Kau datang? ayo bertarung, kita tentukan siapa pemenangnya maka semua berakhir." mendengar suara bariton seorang pria membuat ia langsung melirik tajam ke arah suara tersebut terdengar.
"Kau!!!" ucapku dengan penuh penekanan. Sedangkan pria didepan ku ini tersenyum remeh.
dengan perasaan yang menggebu-gebu marah, aku bangkir dari dudukku lalu melepaskan jaket kulitku hingga tersisa tank top milikku. Melempar jaket itu asal dan maju dengan langkah biasa ke arah pria itu.
"Jangan sungkan untuk memukulku, pukul saja aku. jangan lihat aku sebagai wanita, lihat saja aku sebagai Pemimpin Valhalla." ucapku dengan sinis.
"Oke." baru saja dia menjawab aku sudah meninju pipinya hingga ia tersungkur dilantai.
Ravi mendesis sakit, ia memegang pipinya yang terkena pukulan maut dari wanita didepannya itu, "Pukulan mu boleh juga." pujinya.
Ravi bangkit dan menyerang Aileen dengan membabi buta. gelap mata seperti yang Aileen suruh agar tidak memandangnya sebagai seorang perempuan melainkan sebagai pemimpin Valhalla.
Pertarungan sengit terjadi diantara mereka berdua. Aileen mendorong tubuh Ravi hingga membentur lemari kaca hingga pecah. Membuat Ravi terjatuh dan kesempatan itu tidak membuat Ravi kalah, ia menarik kaki Aileen hingga Aileen terjatuh.
Ravi menarik kaki Aileen dengan kencang membuat Aileen menendang wajah Ravi dengan keras.
"Akh....sialan." maki Ravi sakit. Tangan Ravi di gapit dengan kedua kaki Aileen dan menariknya dengan kuat.
"Akh...." Ravi berteriak kesakitan. Ia mengumpulkan tenaganya, lalu melepaskan diri dari Aileen dan berada diatasnya lalu mencekik leher Aileen dengan kuat dengan wajah yang merah padam.
"Mati kau sialan." makinya semakin kuat mencekik leher Aileen.
Aileen kehabisan nafas, dadanya terasa sakit. Lelaki diatasnya begitu kuat membuat dia kesusahan untuk merubah posisi.
Lalu, "AKH...." satu tendangan kuat dia layangkan di bagian vital pria itu membuat pria itu terguling ke samping dengan memegangi alat vital nya yang habis ditendang.
lepas dari cekikan pria itu ia segera mungkin meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia bangkit dan lelaki itu pun ikut bangkit walaupun menahan sakit di bagian vitalnya.
Mereka kembali saling memukul satu sama lain, melempar ke dinding lalu mengunci pergerakan dan memukul dengan membabi buta.
...***...
Aldo dan Carlos berlari ke arah kegaduhan yang terjadi antara dua kelompok mafia itu.
"Nathan, dimana Aileen?" tanya Carlos saat baru menemukan Nathan yang sedang menghajar habis-habisan lawan nya.
"Dia ada di atas. Tolong selamatkan Arka. CEPAT." mereka berdua pun menganggukan kepalanya dan segera menyusul Aileen ke atas. namun perjalanan mereka terhalang dengan anggota Black Dragon menghalangi jalan mereka.
Mereka harus menyingkirkan mereka terlebih dahulu sebelum menyelamatkan Arka.
Disisi lain, Rimba dan Izana sudah babak belur dan bersimbah darah.
"Ayo lanjutkan sampai titik darah penghabisan." ucap Rimba dengan nafas yang tak beraturan.
Izana memiringkan kepalanya, "Siapa takut. kita lihat siapa yang mati terlebih dahulu." jawab Izana dengan keadaan yang sama dengan Rimba.
"Tidak akan ada yang mati. Semu hidup. Kita bertiga hidup."
Rimba dan Izana menengok ke samping dan menemukan Claude berjalan ke arah mereka dengan sebilah pisaunya.
"Menyingkir lah brengsek. Jangan ikut campur." Maki Izana yang tidak ingin Claude ikut campur dalam urusannya dengan Rimba.
"Tentu aku akan ikut campur. Kalian selalu saja bersenang-senang tampa ku. Lihat pisau ku ini ingin dilumuri darah."
perlu diingat jika mereka bertiga adalah sahabat dengan tingkat kewarasan yang minim. Psychopat. Saling menyakiti hingga darah terjatuh adalah kebiasaan mereka. Karena bagi mereka itu semua adalah kesenangan.
Seringai licik muncul di wajah Rimba dan Izana. Diam-diam mereka berdua mengeluarkan benda tumpul yang mereka simpan di saku mereka masing-masing.
Senyum sinis pun akhirnya dampak di wajah ketiga psychopat berwajah rupawan itu.