The Widower'S Charmer

The Widower'S Charmer
Part 9 D



Tom menunggu anaknya yang sedang ditangani didalam ruang rumah sakit. Ia terbengong, begitupun dengan Bella.


Pandangan mata Sarah kosong, ia memangku Arka yang tertidur dipangkuannya. Ia mendekap Arka dengan erat namun pikirannya berada didalam ruangan penanganan putrinya.


Justine berada disamping Bella, Ibunya. Dia hanya terdiam duduk. Ia sengaja dijauhkan dari jangkauan Sarah dan Arka, karena takutnya nanti kenapa-napa.


Sedari tadi air mata Sarah selalu jatuh, ia menangis dalam diam. Ia tak perduli dengan suaminya itu. Ia rasanya sudah muak dengan semua ini, terlalu sabar dia bertahan selama 12 tahun namun ujung-ujung dikhianati.


Bella sedari terdiam, matanya terlihat bengkak karena terlalu lama menangis. Ia khawatir akan kondisi anak tirinya itu. Ia merasa bersalah dengan keluarga suaminya itu, seharusnya ini tidak terjadi.


Sedari tadi ia memikirkan tentang kehidupannya selanjutnya harus bagaimana? Ia tidak boleh egois, mungkin bercerai dengan Tom membuat semuanya kembali dengan normal.


Ya, mungkin bercerai dengan pria yang sangat ia cintai bisa merubah nasib malang Putri tirinya itu.


Ia sudah memantapkan hatinya, ia akan mengatakannya disaat Aileen sudah membuka matanya nanti. Ia akan mengembalikan kehidupan Aileen dan keluarganya seperti semula.


Justine akan bahagia hidup bersamanya, ia tidak akan melarang Anaknya bertemu dengan Tom. Ia akan tetap bekerja sama merawat Justine bersama walaupun dengan status yang berbeda.


jika dia tetap melanjutkan egonya maka bukan 1 hati yang tersakiti melainkan 3 hati yang ia sakiti sekaligus terutama Sarah.


ia sungguh tidak tahu harus mengatakan apa? secara pribadi Sarah adalah wanita yang sangat baik, namun kebaikan Sarah malah dipermainkan oleh suaminya, Tom.


Selama menjadi istri kedua Tom yang akhir-akhir ini diakui, sikap Sarah perlahan membaik kepadanya yang awalnya acuh sekarang menjadi lebih baik.


Sarah selalu menyambutnya sebagai tamu spesial. mendapat perlakuan sedemikian rupa dari Sarah, selalu membuatnya menangis setelah pulang dari rumah Sarah.


Ia sangat merasa bersalah karena telah merebut suaminya. Bagaimana bisa Sarah bisa se-sabar ini? Bagaimana Sarah bisa menghadapi semua ini? bagaimana Sarah bisa menerima kembali Tom dan rela membagi suaminya?.


Jawabannya hanya 1, yaitu anak. Sarah pernah mengatakan satu hal kepadaku, "Jika suamiku sudah tidak bisa dijadikan semangat hidup *ku maka sekarang hanya anak-anak ku yang menjadi semangat hidupku."


"Mau bagaimana rasa sakit yang aku rasakan, jika memang anak-anakku bahagia seperti ini, maka aku korbankan semuanya bahkan hatiku sekaligus demi anak-anakku*."


Ia menghela nafas panjang, Ia melirik ke arah Justine. Lalu ia meraih Justine dan memeluknya dari samping ia menciumi pucuk kepala Justine.


...❤️❤️❤️...


empat hari berlalu, keadaan Aileen juga semakin membaik walaupun Aileen masih belum membuka suaranya. Ia hanya terdiam dan menatap langit-langit kamarnya, bahkan rasa sakit ditubuhnya pun tak ia rasakan.


seolah tubuh nya sudah mati rasa.


Aku menghela nafas panjang, aku duduk di sofa sedangkan Sarah duduk disamping ranjang Aileen yang tengah melamun. Sarah dengan sayang mengelus rambut Aileen.


Sedangkan Tom berdiri bersandar didinding menatap Putrinya yang semakin hari sifatnya semakin menghawatirkan.


"Tom." panggilku dengan pelan. Tom menengok ke arahku.


"Aku minta maaf sebelumnya. Aku ingin mengatakan kalau aku ingin kita bercerai." ucapku dengan pelan.


aku menata mara Tom dengan berkaca-kaca. kulihat tubuh Tom langsung tegak.


"Kenapa Bel? selama ini kita baik-baik saja." Tom berjongkok di depanku, ia memegang kedua tanganku dengan sorot mata yang terluka.


"Maafkan aku, mungkin kita yang baik-baik saja tapi tidak dengan istri pertamamu dan anak-anak mu."


Tom terdiam menundukkan kepalanya, "Aku tidak mau bahagia diatas penderitaan orang. Aku merasa bersalah dengan perubahan pada diri Aileen. Aku merasa....hiks....akulah penyebabnya...."


"Aku akan membuat semuanya kembali seperti semula. Kita lupakan rasa kita masing-masing-"


"Kau pikir dengan bercerai semua akan baik-baik saja?" ucapan ku terpotong oleh ucapan Sarah.


aku menatap Sarah dengan tatapan bersalah, aku berdiri dan melangkah mendekati Sarah hingga kami berdiri berhadap-hadapan. aku memegang tangannya namun dia langsung menghempaskan ya dengan kasar.


"Setelah kau bercerai, tidak akan ada yang berubah. Suamiku akan selalu memikirkan mu dan putramu. Semuanya akan semakin berantakan."


"Kau pikir ini mainan? aku sudah ikhlas menerima semua ini dengan lapang dada karena perbuatan kalian berdua lalu kau Bella dengan mudah mau mengakhiri ini semua?" bentak Sarah panjang lebar, sorot matanya penuh dengan kebencian.


"Otakmu dimana Bella? pikirkan kehidupan tentang Justine. Dia tidak mungkin berpisah dengan ayahnya."


"Sarah, aku akan tetap mempertemukan Justine dengan Tom." selaku dengan cepat saat menyadari bahwa Sarah semakin marah.


"Ya dalam status kalian sudah berpisah. kau tahu? Justine bisa jadi menjadi anak broken home. kau pikirkan itu?" dengan langkah lebar Sarah menghampiri Tom dan menamparnya dengan keras.


"Tahan dia Tom...hiks...tolong tahan Bella...hiks...bukankah dia cinta pertamamu?"


Tom menatap Sarah dengan iba. Baru saja ia akan memegang bahu Sarah, Sarah sudah luruh kebawah bersujud dibawah kakinya.


"Aku tahu kau sangat mencintai dia lebih dari kau mencintai ku. hiks....Tom jangan biarkan dia melakukan hal bodoh."


"AK-AKU....RELA TOM. AKU RELA KAU BERSAMA DENGAN DIA, AKU RELA. JANGAN BIARKAN DIA PERGI TOM. JIKA DIA PERGI MAKA KAU PUN AKAN HANCUR LALU SETELAH ITU AKU PUN AKAN HANCUR."


Tom terkejut mendengar bentakan Sarah yang menangis meraung agar dia menahan Bella, bahkan sampai berjanji dengan sangat mudahnya yang malah menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang pria.


Tom menundukkan tubuhnya ia memegang kedua bahu Sarah, dan menguncangnya dengan pelan.


"Apa-apa yang kau katakan Sarah?" tanya Tom tidak percaya.


"Tom dengarkan aku, aku tidak akan menghalangi mu mengejar cinta pertamamu. Kejarlah dia, perjuangan cinta mu Tom hiks...kau lelaki bukan? maka kejarlah dia Tom." aku menangis meraung didepan Tom.


"Sarah jangan katakan itu, kau seolah membuat ku terasa aku tidak adil mencintai kalian berdua. aku mencintai kalian berdua, cintaku terbagi dengan adil untuk kalian berdua Sarah. jadi tolong jangan katakan itu lagi."


Tom merengkuh Sarah kedalam pelukannya yang terduduk lemas diatas lantai yang dingin. ia pun sama sakit hatinya. cinta segitiga ini sungguh membuat mereka merasakan kesakitan yang luar biasa.


Bella membekap mulutnya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh madunya itu.


Ia merasakan sebuah sentuhan di telapak tangannya seolah ada yang mengengam nya, ia membalikan badannya kebelakang dan mendapati Aileen yang menatapnya dengan pandangan sayu.


"Tante jangan pergi tinggalkan Ayah. Tetaplah disini bersama ayah." ia terdiam mendengar penuturan gadis kecil didepannya ini. mengapa mereka meminta aku tetap tinggal padahal kelakuanku sudah sangat membuat mereka sakit hati.


"Aku minta maaf karena telah membunuh anjing Tante. Tante boleh menghukum ku." aku tak bisa membendung air mataku lagi, hingga akhirnya aku menangis dengan memeluk Aileen.


sedangkan Tom masih memeluk Sarah, Sarah memukul dadanya dengan keras dan membisikan sesuatu ditelinga Tom, "Sakit sekali, sakit sekali disini rasanya Tom."


Sarah menunjuk-nunjuk dada Tom membuat Tom semakin mengeratkan pelukannya kepada Sarah.