
"Sebenarnya ada satu cara." ucap Rimba dengan pelan, membuat semua orang yang berada disana menatap ke arahnya.
"Bagaimana?" tanya Natalie kepada putra sulungnya itu.
"Kita harus buat Alex bahagia dulu, dia sangat ingin menjalin hubungan Aileen. Aku yakin jika Aileen memberikan syarat pasti Alex akan menyanggupinya. Biarkan Alex menjalin hubungan dengan Aileen selama satu Minggu." semua tercengang dengan ide gila Rimba.
"Tapi Alex akan hilang kendali dan Mama takut Alex akan berbuat macam-macam." memang ada benarnya ucapan Rimba, membuat Alex bahagia untuk sementara. Alex tidak pernah merasakan cinta yang sesungguhnya dari wanita lain kecuali dirinya dan Aileen.
"Itu masalah gampang, Bukanya Rimba melatih Aileen untuk menjaga dirinya?" Sam menaikan satu alisnya menatap istrinya.
"Tapi ada satu masalah." Lisa menatap kedepan dengan pandangan kosong. Nathalie menatap Lisa dengan pandangan bertanya.
Lisa menunduk, "Ak-aku hamil anak Alex."
...***...
"ALEX JANGAN GILA, AKU INI SEPUPUMU. KAU HARUS SADAR SEKARANG." teriak Aileen penuh dengan amarah. Alex mengajaknya kabur dan menikah diam-diam lalu hidup bahagia. Gila apa ya Alex? Alex memang gila.
"LALU AKU HARUS BAGAIMANA LAGI LEEN? AKU TIDAK MENCINTAI LISA, AKU TERTEKAN BERADA DISAMPINGNYA." Alex mengguncang tubuh Aileen dengan kuat.
Aileen menyentak tangan Alex di bahunya. Ia berjalan keluar dan bersandar dipagar balkon kamar Alex, menikmati hembusan angin malam yang menerpa tubuhnya. Mendinginkan pikiran.
"Kita saling mencintai Leen, kita harus berkorban untuk cinta kita." baru saja ia akan mendinginkan pikirannya, Alex lagi-lagi membuat telinganya panas seketika.
"CUKUP ALEX. AKU MENCINTAIMU SEBATAS SEPUPU BUKAN PRIA. JANGAN GILA KAU." bentak Aileen penuh kemarahan.
"Kau mencintaiku, tapi kau belum sadar saja."
"Bicara denganmu seperti bicara dengan orang gila, tidak nyambung." aku keluar dari kamar Alex mengabaikan Alex yang berteriak memangil-mangilku.
berniat untuk pulang daripada meladeni ajakan Alex yang semakin ngelantur. Saat ia melewati ruang tamu yang sedang berkumpul bersama dengan Lisa.
"Aku pulang." ucapku tanpa melirik ke arah mereka. Baru saja berbicara, Rimba sudah menarik tanganku dan membawaku pergi membuat aku mengerutkan keningku.
ditambah Rimba membawaku ke tepi kolam renang, "Jadilah kekasih Alex selama satu Minggu dengan syarat setelah itu Alex harus menikahi Lisa yang tengah mengandung anak Alex. Jika tidak begini Alex akan membunuh Lisa dan janinnya dengan perlahan."
mataku membulat seketika, Rimba memang selalu to the point saat berbicara dan selalu berhasil membuat aku terkejut tentunya. Lengan kirinya masih dicekal kuat Rimba, membuat ia menjambak rambutnya frustasi.
"Akh....kenapa bisa serumit ini?" raung ku dengan frustasi, namun Rimba tetap tidak melalaikan cekalan nya malah semakin menarik diriku agar ke arahnya.
"Lakukan saja setelah ini kau akan bebas menjalin hubungan dengan siapapun." bisik nya ditelinga ku.
"Tapi aku sudah memiliki kekasih Kak."
"Siapa? bajingan itu?" aku mengangguk menjawab pertanyaan Kakak.
"Kau tingal bilang yang sebenarnya, atau kau ingin menutupinya? tapi itu tidak akan bisa. Aku yakin baik Alex atau bajingan itu akan tahu jika kau memiliki dua kekasih." Rimba tersenyum mengejek membuat aku mengeram kesal.
"Ah kakak mah gitu selalu saja membuat rumit semuanya." sebal ku kepada Rimba yang selalu mengambil keputusan tanpa meminta persetujuan kepada ku dulu.
"Aku lelah, gendong." aku merentangkan tanganku meminta digendong oleh Rimba.
Rimba mengendong adiknya itu ala koala. Sudah lama ia tidak memanjakan adik kesayangannya itu sejak menikah dengan Violet.
Ku sandarkan kepalaku di bahunya, "Dulu kakak sering menggendongku saat pulang sekolah. Membawaku jalan-jalan dan ikut dalam organisasi yang Kakak ikuti."
"Jadi sekarang cemburu sama Violet kamu?" goda Rimba kepada adik kecilnya itu, ia mendudukkan tubuhnya di kursi dekat kolam renang. Masih dengan memangku Aileen yang bersandar di bahunya.
"Ih...bukan gitu, sekarang Kakak tidak perduli lagi sama Aileen."
"Bukan gitu sekarang Aileen udah besar harusnya Aileen udah mandiri, masa masih mau dimanja Kakak sih, engak malu sama kedua pacar kamu itu?" Rimba semakin menggoda adiknya ini yang sedang merajuk kepadanya.
"Ih Kakak mah engak peka, sebel deh aku jadinya."
Aileen hanya terdiam tidak menjawab perkataan Rimba, masih dalam mode marah.
"Oh jadi gini kalian mesra-mesraan tanpa aku." Violet datang dengan menatap garang ke arah dua sejoli itu.
"Sini duduk Kak. Aku lagi ngambek sama Kak Rimba." Violet duduk disebelah Rimba, Aileen masih dipangkuan Rimba.
"Katanya ngambek kok dipangku Rimba sih?"
"Iya pengin dipangku Kak Rimba aja." Violet tidak cemburu sama sekali kepada Aileen. Karena Violet tahu Aileen adalah adik kecil Rimba, Rimba sangat memanjakan Aileen seperti anak kecil.
"Kakak bilangin dong sama Kak Rimba, buat ajak aku jalan-jalan." pinta Aileen dengan memelas.
"Loh katanya kemarin habis belanja sama Kakak, kok minta lagi?"
"Ih itu tuh karena kalian semua ke pantai engak ngajak-ngajak aku, aku ngambek terus Kak Rimba ngajakin aku ke mall. Aku kan pengin ikut juga."
"Iya-iya nanti kita liburan bersama sekeluarga."
"Yey....pake yang Kak Rimba ya?" Violet menganggukan kepalanya.
"Berapa usia kandungan Lisa?" tanya Rimba kepada Violet. Karena tadi Lisa, Ara dan Violet sempat mengobrol bersama.
"Baru satu bulan. Aku engak nyangka cewek se polos Lisa mau aja di ajak begituan sama Alex." jujur saja Violet sangat tidak suka jika ada yang hamil diluar nikah, itu adalah aib bagi keluarga pria maupun wanita yang melakukan itu.
"Makannya itu dijadikan pelajaran buat Aileen, jangan mau-maunya kamu diajak begituan sama pria ya Leen?" Aileen mengangguk mendengar nasehat Kakak iparnya kepadanya.
"Rimba kamu punya saudara perempuan satu-satunya disini, kamu harus jaga adik kamu dengan benar jangan sampai kaya Lisa yang mau-mau aja. Boleh mencintai Leen, tapi jangan keterlaluan jangan mau memberikan sesuatu yang berharga apalagi harga diri kita." Aileen menatap Rimba dengan tajam, saat Violet mengatakan 'jangan keterlaluan dalam mencintai'.
Rimba yang menyadari tatapan menyindir Aileen hanya mendengus kesal.
"Ya walaupun sepupu kamu banyak yang perempuan diluar sana tapi Aileen yang paling dekat dengan kalian. Aileen pandai-pandailah bergaul dengan teman."
"Awas saja nanti jika kamu kayak Lisa hamil diluar nikah, heh...kakak cabik-cabik kamu nanti."
aku terkekeh mendengar ancaman Kak violet kepada ku. Itu tandanya ia sayang kepadaku buktinya ia tidak ingin aku bergaul dengan orang yang tidak baik padahal suaminya sendiri saja tidak baik.
"Kakak aku pacaran sama duda anak dua loh!"
... ***...
Alex merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamarnya lalu mengambil ponselnya di atas nakas.
membuka galeri tempat dimana ia membuka foto-foto kenangan bersama Aileen dulu dari kecil sampai sekarang.
Dari Aileen kecil sampai Aileen besar semua ada disini. Foto dimana Aileen datang ke acara kelulusannya di kuliah dan membawakannya buket bunga kepadanya lalu foto dimana ia membuka perusahaan fashion yang diberikan modal sang Ayah.
terakhir adalah saat Aileen berkunjung ke perusahaannya. Banyak foto-foto mesra antara dirinya dengan Aileen yang tersimpan disini.
foto mereka seperti sepasang kekasih namun nyatanya mereka adalah sepasang sepupu membuat rasa sakit menyeruak dalam diri Alex. kenapa harus ia? kenapa harus Aileen yang menjadi cintanya? kenapa harus sepupunya? semakin Alex berharap semakin sakit pula takdir yang ia dapatkan.
"Entah kenapa takdir sepertinya menentang ku." lalu Alex memejamkan matanya karena lelah. Ia tertidur.
selang beberapa menit Aileen datang kembali ke kamar Alex, ia tak jadi pulang dan akan menginap disini bersama Alex.
Aileen membuka pintu kamar dan menemukan Alex yang tertidur dengan kaki yang menggantung ke lantai.
"Kau ini kalo tidur selalu saja seperti ini, tidak kenal posisi." ku pindahkan tongkat infus milik Alex lalu ku angkat tubuh Alex agar ke atas meluruskan tubuhnya.
Setelah memastikan Alex nyaman, aku pergi ke kamar mandi dan Menganti pakaianku sebelum ke kamar mandi aku mengambil celana pendek dan kaos milik Alex lalu memakainya. Setelah selesai aku merebahkan tubuhku disamping Alex.
tertidur dengan membelakangi Alex tak lupa memeluk guling milik Alex. Alex terlihat nyaman dengan tidurnya, Alex sangat tenang saat tidur tidak sepertinya yang akan pergi kemana-mana saat tidur.