
“Kai.”
“Kai.” Pram merengkuh tubuh Kailla yang tak berdaya. Darah segar mengucur keluar, membasahi vest putih.
Tak ada jawaban. Kailla diam sembari menunjukkan tangannya yang basah oleh darah.
“Ya. Kamu pasti baik-baik saja.” Pram berusaha menguatkan di tengah perasaannya yang campur aduk. Rasa sakit di lengannya seakan hilang, denyutan dan nyeri yang disebabkan timah panas itu tak memengaruhinya. Saat ini isi benaknya hanya Kailla, Kailla, dan Kailla.
“Ba ... yi ....” Suara Kailla terbata-bata, memandang suaminya yang kini mulai samar-samar di dalam penglihatannya.
“Ya, Sayang. Kamu pasti baik-baik saja,” sahut Pram, menyakinkan. Tangannya buru-buru menutup luka, berusaha menghentikan darah semampunya. “Kita ke rumah sakit. Kalian pasti baik-baik saja.” Pram hampir menangis saat menatap Kailla yang sudah tak mampu berkejap apalagi bersuara. Memandang ke satu titik dengan mata sendu. Perlahan netra itu meredup dan dalam hitungan detik tertutup, tak sadarkan diri.
“Kai, bangun. Kai, buka matamu, Kai.”
“Sayang, bangun. Jangan bercanda. Ini tidak lucu. Ayo, bangun!” Pram menepuk wajah Kailla yang tak bereaksi. Berharap tepukannya akan membuat mata yang terpejam rapat itu terbuka.
“Kai, bertahan. Kita ke rumah sakit sekarang!”
Berlari sembari membopong perempuan yang dicintainya, Pram harus segera membawa Kailla ke rumah sakit terdekat. Ia tidak bisa kehilangan istrinya. Panik dan ketakutan itu menyatu bersama langkah kaki bak cheetah, melesat secepat mungkin. Ia mengabaikan sakitnya, saat ini di benaknya hanya ada satu nama, yaitu Kailla Riadi Dirgantara Pratama.
“Tetap bernapas, Sayang.” Seruan itu bukan hanya untuk perempuan yang melemas di dalam dekapannya, tetapi untuk dirinya yang juga hampir hancur saat mendapati Kailla yang kuat, cerewet, dan nakal kini menutup mata rapat-rapat. Tak ada lagi Kailla yang usil, suka membantah, dan membuat masalah.
Sampai di tepi jalan besar, Pram tak menemukan Bayu lagi. Hanya mobil anak buah Bayu yang sebagian juga ikut berlari bersamanya.
“Antar aku ke rumah sakit dan minta Bayu menyusulku segera setelah mengurus Kentley!” titah Pram dengan sisa kekuatannya. Hatinya hancur, hampir tak sanggup berbuat apa pun saat ini. Ia hanya ingin tiba di rumah sakit secepatnya dan memastikan istrinya baik-baik saja.
***
Rumah sakit.
Berlari bersama brankar yang didorong petugas medis, Pram hanya bisa memandang tubuh tak berdaya yang kehilangan kesadaran dan tak sanggup menggenggamnya tangannya lagi saat ini. Kailla yang dikenalnya selama ini tiba-tiba lenyap.
Kehilangannya semakin terasa saat brankar didorong masuk ke dalam ruangan dan Pram tertahan di luar. Ia tidak diizinkan masuk.
“Maaf, Pak. Bapak tidak bisa masuk.”
Pria muda berseragam putih menahan tubuh Pram di depan pintu.
“Tapi ... istriku ....” Pram menunjuk ke arah dalam.
“Ya, kita akan menanganinya.”
Pria dewasa itu mundur beberapa langkah, perasaannya berantakan saat daun pintu menutup di depan matanya. Ia tidak tahu harus berbuat apa-apa. Saat ini hanya bisa menunggu dan berdoa. Ia tidak mau kehilangan Kailla, tidak sanggup, dan tidak siap.
“Ya Tuhan, jangan ambil dia dariku. Kamu boleh meminta apapun dariku. Tapi jangan Kailla dan anak-anakku.” Tubuh gagah itu merosot, duduk di lantai dingin rumah sakit. Kedua tangannya menutupi wajah, menyembunyikan tangisnya.
Menunggu adalah hal yang paling menyebalkan, apalagi di saat genting seperti ini. Pram harus rela menikmati detik-detik mengerikan di dalam hidupnya. Tidak ada sakit yang lebih menyakitkan daripada ini. Pria itu hanya bisa pasrah dan menyelipkan nama istrinya di dalam doa yang tak henti diucapkannya di dalam hati.
Bunyi pintu terbuka, Pram yang tengah meremas rambut klimisnya segera bangkit dan menemui pria paruh baya yang berdiri di ambang pintu.
"Keluarga pasien luka tusukan?" Pria yang bisa dipastikan seorang dokter itu bertanya pada Pram.
"Saya, Dok." Pram menghampiri.
"Lukanya tidak terlalu dalam dan tidak mengenai organ-organ vital. Tapi, harus cepat ditangani. Pasien kehilangan banyak darah dan harus transfusi darah."
"Istriku sedang hamil, Dok."
"Ya, kami akan berusaha semaksimal mungkin." Sang dokter tersenyum. "Tolong ke bagian administrasi, ada berkas-berkas yang harus diselesaikan. Dan pastikan persediaan kantong darah yang cocok untuk istri anda di bagian administrasi, Pak. Kalau sampai kosong, bisa meminta bantuan keluarga atau rekan-rekan yang memiliki kecocokan darah dengan istri anda. Kami harus melakukan tindakan secepatnya."
Dokter belum menyelesaikan kata-katanya, Pram sudah berlari ke bagian administrasi. Rumah sakit butuh tanda tangannya dan deposit untuk bisa melakukan tindakan. Ia tidak bisa membuang-buang waktu.
***
Duduk di depan meja administrasi, Pram kembali dihadapkan dengan masalah baru. Ketakutannya menjadi kenyataan. Persediaan kantong darah kosong dan baru bisa tiba di rumah sakit saat tengah malam.
"Ya sudah, aku coba cari di luar." Pram panik, merogoh saku celananya untuk mengeluarkan dompetnya. "Berapa yang harus aku deposit?" tanyanya lagi sembari berdiri. Ia tidak menemukan apa yang dicarinya.
Di tengah kepanikannya, tiba-tiba seorang remaja tanggung berusia belasan tahun mendatanginya.
"Om, dompetmu terjatuh di sana." Anak laki-laki bersuara serak dan wajah berjerawat itu menunjuk ke arah koridor.
"Oh." Pram bingung, tak sanggup berkata-kata. Ia hanya menerima dompetnya seperti orang linglung.
"Juna, ayo cepat. Kita harus menemui Papi sekarang." Seorang wanita memanggil dari kejauhan.
"Aku permisi, Om. Mami sudah mencariku."
Pram menatap anak laki-laki itu pergi tanpa mengucapkan terima kasih. Pikirannya kalut saat ini dan tak ada yang bisa dilakukannya. Ia merasa sedang berlari di jalan yang panjang tanpa bisa melihat tujuannya. Terus berlari mencari batas akhir dan perhentian agar ia bisa beristirahat sejenak.
***
Pram terlihat berbaring di brankar ditemani Bayu. Memanfaatkan kesempatan saat Kailla sedang ditangani dokter, ia harus mengeluarkan timah panas dari lengannya.
"Bay, bagaimana Kent?" tanyanya sembari mengernyit.
"Aku titipkan pada Kinar. Sam dan Kinara juga bersama mereka di rumahku."
"Tolong minta Pieter untuk mengurus semuanya. Sore ini terbangkan Kent, Kinara dan Sam ke Singapura menyusul Bent. Ah ...." Pram mendesah saat merasakan sakit di lengannya. Setelah berjam-jam mengkhawatirkan Kailla, kini ia bisa tenang saat istrinya dipastikan aman.
"Aku belum bisa menyusul dalam waktu dekat. Minta Pieter carikan rumah di Batam. Aku tidak tahu anak-anak dan mamaku sampai berapa lama bisa tetap di Singapura. Andai waktu itu habis, mereka harus keluar dari Singapura." Pram mengernyit, menahan rasa sakit di lengannya.
"Baik, Bos."
"Ssshhh, tolong minta Pieter tanyakan persyaratan untuk mengajukan permanent resident di Singapura."
"Maksudnya, Bos?" Bayu belum begitu paham.
"Setelah kondisi Kailla stabil, aku akan membawa keluargaku menetap di Singapura. Aku belum tahu berapa lama tinggal di sana. Bisa saja selamanya kalau di sana lebih aman untuk Kailla dan anak-anakku."
Wajah Bayu meredup. Tampak bayangan kesedihan di wajahnya saat kalimat perpisahan itu tertangkap indra pendengarannya. Andai Pram menetap di Singapura, ia dan asisten lainnya tidak akan dibutuhkan lagi. Rasanya sedih harus berpisah dengan orang-orang yang sudah dianggapnya seperti keluarga, terutama Pram, Kailla dan anak-anak. Semua sudah seperti keluarga untuknya.
"Ba-baik, Bos."
Tampak Pram mengusap lengannya yang berdenyut parah.
"Keisya di mana?" tanya Pram lagi.
"Setelah mendonorkan darahnya untuk Non Kailla aku memintanya beristirahat sambil mengisi perut di kantin rumah sakit. Aku tidak bisa membiarkannya pulang, takut darahnya masih dibutuhkan." Bayu menjawab dengan polosnya.
Pram tergelak untuk pertama kali setelah berjam-jam dirundung kepanikan. "Memang kamu pikir darahnya bisa disedot sesuka hati. Ada batasannya, Bay. Minta orangmu mengantarnya pulang. Biarkan Keisya beristirahat di rumah," titah Pram.
-
-
-