
Presidential suite, Fairmont Hotel.
Bermenit-menit suara desahan dan erangan di kamar mewah itu saling bersahutan, berkolaborasi menciptakan harmoni yang tidak biasa. Pram tersenyum puas setelah menuntaskan hasratnya, melepaskan Kailla yang dijajahnya sejak masuk di dalam kamar.
"Terima kasih, Sayang." Pram mengecup dahi Kailla yang berhias bulir keringat. Pria itu menggulingkan tubuh dan berbaring di samping Kailla untuk mengambil napas sebanyak-banyaknya.
Tersenyum mengingat pertempuran sengit yang baru saja selesai, Pram melirik ke sebelahnya. Napas Pram naik turun, dadanya masih bergemuruh hebat setelah pelepasan. Pria itu menatap istrinya yang tengah menikmati kelelahan.
Sejak awal melangkah masuk ke dalam kamar hotel, Pram terlalu bekerja keras. Gairah memang masih sama tetapi usia tetap tidak bisa berbohong. Stamina menurun seiring pertambahan usia. Tidak bisa dibandingkan dengan pemuda dua puluhan tahun, yang masih prima-primanya.
"Hmm." Kailla tidak sanggup menjawab, hanya bergumam lirih sembari memejamkan mata. Terlihat ia menarik selimut menutup tubuh polosnya yang memerah karena ulah sang suami. Pram memberi jejak hampir di sekujur tubuhnya.
"Bersiap, Kai. Anak-anak pasti mencarimu." Pram bangkit dari tidurnya, menepuk pelan paha Kailla dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket karena peluh.
Suara gemericik air keran di kamar mandi menyadarkan Kailla. Ia tersentak saat menyadari sesuatu. Pekerjaannya bertambah belakangan ini. Ia harus menyisir isi ponsel suaminya setiap hari untuk memastikan kalau kecurigaannya selama ini tidak benar.
Jemari tangan Kailla tampak lincah mengusap layar ponsel ke atas, ke bawah, samping kiri dan kanan. Ia harus mengunjungi satu persatu aplikasi pesan di gawai suaminya untuk memastikan kalau semuanya aman dan tak seperti ketakutannya.
Terlalu hanyut, Kailla yang tengah membaca percakapan teman SMA Pram di grup chat alumni tak menyadari kedatangan suaminya. Ia terlalu menikmati saat suaminya dibully teman-teman sekolah karena masih memiliki anak bayi di usia yang tak muda lagi.
"Apa yang membuatmu tertawa?" tanya Pram. Ia berdiri di depan Kailla hanya dengan sehelai handuk melilit di pinggang.
"Hahaha ...." Kailla tergelak saat ada yang mengomentari foto si kembar dan membandingkan dengan cucu salah seorang teman Pram yang usianya bahkan lebih besar.
"Mereka menjadikanmu bahan lelucon." Kailla tergelak.
"Biarkan saja. Itu harga yang harus kubayar karena memperistri wanita yang lebih pantas menjadi putriku sendiri." Pram terlihat santai dan tidak menanggapi.
"Kamu tidak marah?" tanya Kailla heran.
Pram menggeleng. "Ayo bersiap sekarang," titah Pram, merebut ponsel dari tangan istrinya.
"Aku belum selesai membaca." Kailla protes.
"Bersiap sekarang, Kai. Anak-anak pasti mencarimu." Pram menarik Kailla agar segera bangun dan membersihkan diri. Pria itu tersenyum saat melihat tubuh polos istrinya, berjalan menuju kamar mandi tanpa malu-malu.
***
"Bay, kamu di mana?" Pram menghubungi Bayu setelah memastikan Kailla masuk ke kamar mandi.
"Masih di apartemen, Bos. Ada apa? Katanya ... tadi Bos ke apartemen?" tanya Bayu dari seberang.
"Ya ...." Pram diam sejenak, menelan saliva.
Bayu menyimak dalam diamnya. Ada perasaan bersalah menghantamnya, tiap mengingat kelalaiannya yang berimbas pada melayangnya satu nyawa tak bersalah.
"Untuk sementara aku menarik diri, sampai dia benar-benar mengerti kalau yang dilakukannya itu salah. Aku tidak mau Kailla salah paham. Kamu tahu sendiri Kailla seperti apa. Ini untuk kebaikan Keisya juga." Pram menjatuhkan bokongnya di sofa, berbisik pelan. Ia tidak mau obrolannya terdengar Kailla.
"Baik, Bos."
"Aku tidak bisa melepaskan Keisya begitu saja. Bagaimana pun, Keisya dan ibunya masih tanggung jawabku." Pram menghela napas kasar.
"Maaf, Bos. Karena kelalaianku, semua jadi berantakan." Terdengar nada penyesalan di dalam suara Bayu.
"Mau diapakan lagi. Itu sudah digariskan untukku. Mungkin, Tuhan mengingatkanku untuk sedikit berbuat baik dengan apa yang sudah aku capai selama ini. Aku tidak bisa melepas anak itu setelah kamu menabrak mati ayahnya." Jeda sejenak, tatapan Pram menerawang, menatap langit-langit kamar.
"Santunan saja tidak pernah cukup. Mereka kehilangan kepala keluarga, yang artinya tidak ada lagi yang menjadi tulang punggung keluarga. Tidak ada lagi yang menghidupi Keisya dan ibunya. Tidak ada lagi yang mendidik anak nakal itu."
"Andai Ibu Keisya masih sehat, semuanya akan lebih mudah. Aku tinggal memberinya modal usaha, dan setelah usahanya stabil, aku bisa melepaskan tanggung jawabku. Tanpa takut akan membuat kehidupan orang lain telantar," lanjut Pram.
Bayu diam.
"Aku akan merasa bersalah sampai anak itu salah jalan, kehidupan mereka berantakan. Berapa pun uang yang aku keluarkan untuk mereka tidak akan pernah sebanding dengan nyawa ayahnya. Aku harap kamu mengerti maksudku, Bay. Jadi kamu bisa mengawasi Keisya dan menggantikanku sementara. Setidaknya ... sampai Keisya paham semuanya dan aku bisa tenang melepaskan tanggung jawabku tanpa beban lagi. Sampai dia benar-benar dewasa dan mandiri secara finansial. Kalau tidak membentuknya, sampai kapanpun dia akan selalu bergantung padaku."
"Baik, Bos."
"Terlepas bagaimana kehidupannya sebelum bertemu denganku, itu bukan urusanku. Saat takdir mempertemukannya denganku, aku akan memperlakukannya dengan layak sesuai standarku."
"Ya, Bos."
"Tolong aku, Bay. Ini juga bagian dari tanggung jawabmu juga. Tapi, aku paham. Kamu juga tidak bisa berbuat banyak. Aku hanya memintamu membantuku. Aku juga bisa sampai seperti sekarang karena ada seseorang yang berbaik hati membawaku ke dalam kehidupannya. Andai aku masih di jalanan, tidak bisa dibayangkan Reynaldi Pratama akan jadi apa sekarang. Mungkin tinggal nama atau mendekam di balik jeruji." Pram bersandar di sofa dengan mata terpejam rapat.
"Baik, Bos. Tenang saja."
"Jangan memarahinya. Remaja seusianya tidak bisa diperlakukan kasar dan keras. Laporkan semua tentangnya padaku, Bay," titah Pram lagi.
"Remaja seusia siapa?" Suara Kailla terdengar menyela obrolan Pram dan Bayu.
"Kai?" Pram membuka mata dan terkejut dengan kehadiran Kailla tiba-tiba. Istrinya sedang berdiri di hadapannya hanya dengan sehelai handuk melilit di tubuh.
-
-
-