The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 74



Sepanjang perjalanan Jakarta Bandung, Kailla lebih banyak diam. Fakta kehamilan yang masih disimpannya seorang diri, menyesak di dada dan membuatnya kesulitan bernapas. Sampai sejauh ini, ia tidak tahu harus bersikap apa. Belum terbayang apa yang akan dilakukannya ke depan.


Duduk bersandar menikmati perjalanan yang dilewati, mata Kailla terbuai oleh ayunan mobil yang bergelombang saat melewati jalan yang tidak rata. Ia hampir tertidur ditemani deru mobil yang meraung pelan sampai dua tangan kekar menarik tubuhnya untuk bersandar pada kehangatan yang sudah lama tidak didapatinya.


Kailla menangkap aroma yang sudah lama dirindukannya. Parfum mahal suaminya bercampur dengan aroma tubuh Pram yang begitu menenangkan dan menghanyutkan.


"Kai, kamu baik-baik saja?" Terdengar suara maskulin yang berbisik lembut.


"Hmm." Kailla bergumam. Masih nyaman dan berpura-pura tidur. Ia tidak mau sampai ketahuan kalau saat ini sedang menikmati dekapan hangat sang suami. Gengsinya terlalu tinggi, masih belum rela berdamai meski Pram sudah mengalah dan mencoba mengajak bicara.


"Kamu lelah?" tanya Pram lagi, mendekap erat tubuh istrinya.


"Hmm." Kailla menggeleng. Ragu-ragu, ia memeluk erat pinggang suaminya dan mulai mengendus. Kebiasaan setiap hamil yang tak berubah, aroma tubuh Pram selalu menjadi candu untuknya.


"Mengantuk?" bisik Pram lagi. Pria itu tersenyum saat mengetahui Kailla juga tengah memeluknya. Seakan menunjukkan ada rindu yang terpendam, ada rasa yang selama ini tidak tersampaikan.


Mengetahui istrinya tidak menjawab, Pram pun merapatkan bibir dan memilih diam, menikmati kemesraan yang sudah jarang terjadi belakangan ini.


"Tidurlah. Aku akan memelukmu sampai kamu bosan, Kai." Pram menjatuhkan dagunya di pucuk kepala Kailla. Saat ini perasaannya menghangat. Ada kebahagiaan tanpa alasan jelas yang dirasakannya. Pria dewasa itu merasa bunga bermekaran di dalam hatinya saat mendekap erat Kailla.


Pertengkaran ini membuat hubungan kita menjauh, Kai. Di saat aku bisa memelukmu lagi seperti ini, kebahagiaan yang aku rasakan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Pram mengeratkan pelukan, dikecupnya ubun-ubun Kailla berulang kali.


"Aku mencintaimu, Kai." Pram berbisik dan ikut memejamkan mata.


Menempuh empat jam perjalanan karena terjebak macet, mobil yang dikendarai Bayu akhirnya tiba di kantor anak perusahaan RD Group. Tampak Jenny yang sebelumnya sudah bertukar kabar dengan Pram, menunggu di depan pintu masuk.


"Siang, Pram." Gadis cantik berambut pendek itu menyunggingkan senyuman.


Kailla masih sempoyongan, berjalan tertatih-tatih sembari menikmati kesemutan di kedua kakinya. Ketika tatapannya beradu dengan gadis manis yang menunggu di pintu, alarm tanda perang berbunyi nyaring di telinganya.


Suaminya memang sudah berumur, tetapi bukan berarti bisa dilepaskan begitu saja. Terbukti, Keisya saja bisa tergila-gila. Kailla yakin banyak gadis lain di luar sana mengidam-idamkan posisinya, menjadi istri seorang Reynaldi Pratama.


"Sayang, tunggu aku." Kailla memaksa berjalan cepat untuk bisa segera merengkuh dan mendekap lengan Pram yang kini tengah berbincang dengan Jenny.


Bugh! Tiba-tiba, Kailla sudah menyelipkan tangannya di lengan suaminya, dengan manja memeluk dan bersandar manja di sana.


"Bu." Jenny tersenyum menyapa Kailla.


Tatapannya itu seperti hendak menerkam suamiku. Tidak bisa dibiarkan. Aku tidak mau kecolongan lagi.


"Ayo silakan masuk." Jenny mempersilakan. Ia tersenyum saat menatap Kailla yang berjalan menempel pada pimpinannya.


"Aku baru kali ini melihat nyonya pemilik perusahaan bersikap seperti ini. Apa Pak Pram tidak salah pilih istri? Tidak merasa risih?" Jenny yang berjalan di belakang Pram dan Kailla terlihat berbisik dengan asistennya yang sudah lama mengabdi pada perusahaan.


"Sudah rahasia umum. Karyawan lama sudah tidak kaget lagi. Istrinya Pak Pram adalah putri pemilik perusahaan. Gadis manja, putri tunggal Riadi Dirgantara. Pak Pram itu tidak punya apa-apa. Dengar-dengar ...." Sang asisten diam sejenak, mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk memastikan informasi yang disampaikan olehnya tidak terdengar orang lain. Ia tidak mau dianggap suka bergosip, walau sebenarnya yang diungkapkannya adalah fakta.


"Apa?" Jenny berjalan melambat, memasang telinga untuk mendengar berita penting yang akan disampaikan.


"Pak Pram itu beruntung. Dia hanya anak yang diangkat dari jalanan. Tidak bawa apa-apa saat masuk ke keluarga Riadi, dapat takhta, harta dan terakhir disodorkan wanita. Bukan sembarangan ... gadis 20 tahun disodorkan untuknya yang waktu itu sudah berusia 40 tahun, bonus jabatan dan harta. Siapa yang kuasa menolak."


Jenny dan asistennya berhenti bicara saat Kailla berbalik dan menatap tajam pada keduanya. Ancaman yang dikirim Kailla tidak main-main, bahkan ia mendengus dan memperhatikan keduanya satu persatu.


Mereka pikir aku tidak tahu apa yang mereka gosipkan. Telingaku ini sudah terlatih sejak SMA. Kalau tidak tajam, bagaimana mungkin aku bisa mendengar jawaban dari soal ujian yang dibisikkan teman sekelasku dari kejauhan.


Kailla bersyukur sekali sudah mengajukan cuti kuliah. Belajar bagaikan momok untuknya. Bahkan, sampai sekarang di saat ia mendapatkan mimpi mengulang bersekolah lagi, bagaikan mimpi buruk yang mengerikan. Begitu terbangun, ia bisa bernapas lega setelah memastikan seragam putih abu-abu yang dikenakannya itu hanya bunga tidur.


***


"Pak, mau makan siang dulu atau langsung memulai rapat saja?" tanya Jenny saat berada di ruang rapat.


"Sudah makan siang semua?" tanya Pram, menatap jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 siang. Jam makan siang telah usai.


"Kita di sini sudah semua. Kalau Bapak ...." Jenny tidak dapat menyelesaikan ucapannya Pram sudah menyela.


"Untuk menghemat waktu, kita mulai rapat saja. Aku harus kembali ke Jakarta secepatnya. Aku bisa menunda makan siangku." Pram berbalik menatap Kailla. Ia merasa iba saat istrinya juga harus ikut menahan lapar sepertinya.


"Kai, ajak Bayu cari makan siang. Aku harus rapat dulu, Sayang."


Kailla tidak menjawab, sebaliknya ia memilih kursi kosong dan ikut duduk bersama peserta rapat lainnya. "Aku ikut rapat bersamamu, Sayang. Aku ingin belajar dan ikut mendengarkan di sini." Kailla tidak bisa membiarkan suaminya sendirian di dalam ruang rapat. Apalagi, ia melihat sendiri bagaimana tatapan Jenny pada Pram.


Pram berjalan mendekat, menyentuh pundak Kailla dan berbisik. "Sayang, aku tidak apa-apa. Pergi makan siang bersama Bayu. Kamu pasti lapar."


Kailla bergeming. Tidak menjawab, tidak juga berpindah dari duduknya. Pram hanya bisa menurut setelah menunggu beberapa saat dan Kailla tetap pada keputusannya.


"Baiklah, ayo kita mulai rapatnya." Pram menggeser kursi dan duduk di sebelah Kailla. Ia tidak mau memaksa. Hubungannya dengan Kailla baru saja akan membaik. Berdebat hanya akan membuat keruh suasana.


Kira-kira apa yang akan terjadi di ruang rapat?