The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 42



Mata Kailla berbinar indah, menatap pantulan dirinya di depan cermin kamar ganti yang sempit. Berduaan dengan Pram yang juga tengah menatap ke arah yang sama.


"Yang ini saja," putus Pram, tersenyum. Kedua tangan pria itu melingkar di pinggang ramping istrinya. "Kamu juga boleh membeli gaun yang sebelumnya," tambah Pram.


"Serius?" Menatap Pram dari cermin, Kailla meminta kepastian.


"Ya." Pram mengangguk. "Kenakan di kamar saja."


Ucapan Pram selanjutnya membuat Kailla cemberut.


"Kenapa? Tidak suka?" bisik Pram, mengeratkan pelukannya. Kecupan dihadiahkan Pram di pipi kanan Kailla yang menggembung.


Bibir Kailla mengerucut, mengirim tatapan tajam lewat cermin. Ia bisa melihat bahu suaminya berguncang pelan memandang ke arahnya.


"Wanita itu milikku, tentu saja harus mengikuti aturanku." Telunjuk Pram mengarah ke cermin, menunjuk ke arah pantulan Kailla.


Bibir merah Kailla kian merengut. "Untuk apa membuang-buang uang kalau hanya boleh dikenakan di dalam kamar?" Kailla menggerutu.


Pram tergelak.


"Memang ... kamu mau siapa yang melihatnya? Kamu mau menarik perhatian siapa dengan gaun terbukamu. Bukankah aku sudah cukup berbaik hati dengan mengizinkanmu membawanya pulang." Pram beralasan.


"Huh!" Kailla mendengus kesal.


"Aku bukan tidak mengizinkanmu tampil cantik, tapi tidak dengan pamer semua-semuanya. Coba hitung berapa kerugianku, kalau sampai istriku melenggang dengan gaun tadi di perayaan ulang tahun perusahaan. Aku tidak sedermawan itu, Sayang."


"Semua wanita itu ingin tampil cantik di hadapan semua orang," ungkap Kailla, kesal.


Terdengar Pram menghela napas panjang dan tersenyum kecut.


"Coba kamu hitung berapa kerugianku, Nyonya. Aku menghabiskan banyak uang untuk gaun-gaun mahal ini, harus merelakan istriku jadi tontonan semua orang. Ckckck ... aku membayar mahal untuk semua ini dan masih harus berbagi dengan pria lain. Ini sungguh tidak adil, Nyonya." Pram menggigit kecil pipi istrinya. Tampang Kailla sangat menggemaskan di saat melancarkan protes seperti sekarang.


Kailla berbalik, mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami. "Kalau aku tampil memukau, kalau aku menjadi sorotan semua mata ... bukankah harusnya Tuan boleh berbangga," ucap Kailla memainkan bola matanya.


"Aku membawa nama besarmu, Sayang. Kalau istrimu tampil cantik, semua orang hanya akan menyebutku sebagai istri Reynaldi Pratama, bukan Kailla Riadi Dirgantara." Kailla beralasan.


Cup!


"Bibir ini sudah pintar merayu." Pram mengecup bibir istrinya sekilas.


"Sudah bisa protes dan melawan. Kenakan apa yang menurutmu nyaman. Aku pribadi tidak keberatan. Cuma sedikit cemburu."


"Jadi boleh? Yang tadi?" Kailla memastikan kalau ia tidak salah dengar.


"Boleh, tapi ada syaratnya ...."


"Hah?" Kailla terbelalak. "Syarat apalagi?" tanya Kailla.


"Menempel terus padaku sepanjang acara. Agar aku bisa merasakan kebanggaan saat orang-orang memuji istriku. Setidaknya ... aku tidak rugi telak." Pram tergelak.


Bugh. Pukulan mendarat di pundak Pram.


"Bukan untukku Nyonya, ini juga untuk kebaikanmu. Tahukah kamu, Kai? Pria yang kamu sebut tua ini, masih bernilai jual tinggi di luar sana. Kalau kamu tidak percaya, coba kamu tawarkan pada gadis-gadis muda." Pram menggigit bibir. Ia sangat menikmati perubahan raut Kailla yang berubah panik. Ada semburat cemburu terlihat jelas. Tentu saja, ia bahagia. Cemburu adalah tanda kalau cinta itu masih besar untuknya.


"Berani macam-macam denganku, jangan sebut aku Kailla Riadi Dirgantara," ancam Kailla, mengepalkan tangan.


"Kalau di usia 25 tahun ini ... kamu memasuki usia emasmu, pria juga ada masanya, Sayang. Jangan berpikir makin muda makin baik." Pram mengulum senyuman. Melihat istrinya kesal, ia makin semangat memanasi.


"Pria 40an itu tengah di masa emasnya, Sayang. Matang dalam segala hal. Matang secara pemikiran dan finansial. Umur-umur di mana pria-pria ini bisa memberi kenyamanan yang lebih dari sekedar kata cinta dan sayang, tetapi bagaimana menunjukan rasa cinta itu dalam tindakan nyata. Kemapanan? Tentu saja. Kalau di usia 20an 30an, mereka baru berjuang, masih jatuh bangun. Di usia 40an sebagian pria sudah stabil dalam pekerjaan. Apa kamu tidak takut suamimu direbut wanita lain?" Pram kembali menggoda.


Dua pukulan beruntun mendarat di pundak Pram dengan bibir mengerucut. "Berani macam-macam denganku ... akan tahu akibatnya." Kailla mengancam.


"Usia di mana para pria bukan hanya sekedar menghadiahkan mawar merah yang dipetik di kebun tetangga atau dipesan dari florist. Di usia ini, pria biasanya menghadiahkan sesuatu yang jauh lebih berharga. Perhiasan, rumah, mobil, deposito, jalan-jalan keluar negeri, shopping." Pram tergelak saat Kailla merogoh dompetnya.


"Mau apa, Kai?"


"Mau memblokir semua kartu-kartumu. Sepertinya ... mulai sekarang, aku yang memberimu jatah bulanan. Supaya, kamu tidak bisa menghambur-hamburkannya dengan perempuan lain." Kailla tampak serius. "Aku akan membatasinya," lanjut Kailla.


Pram tertawa. "Uang di dompet dan kartu itu tidak seberapa, Sayang. Masih ada limitnya. Yang di perusahaan itu yang harusnya kamu sita, Sayang. Itu tidak ada limitnya. Selama perusahaan berjalan, akan terus bertambah dan bertambah. Asal tidak gulung tikar." Pram menjelaskan dengan serius sembari melirik jam di pergelangan tangannya.


"Kamu sudah harus ke kantor?" tanya Kailla.


Pram mengangguk.


"Aku mau membelikan gaun untuk Naina, dan meminta Pieter menyerahkannya. Boleh?" tanya Kailla, meminta izin dan berbalik.


"Tolong bukakan ritsletingnya, Sayang," pinta Kailla lagi.


Pram menurut. "Terserah, Kai. Asal jangan terlalu mencampuri urusan pribadi Pieter dan Naina. Cukup Ricko dan Rikka saja, jangan semua orang mau kamu pasangkan."


Kailla tersenyum dan mengangguk. "Putri kesayanganmu? Mau dibelikan juga?" tawar Kailla.


"Keisya. Apa mau dibelikan juga?" jelas Kailla.


"Terserah padamu saja, Kai."


Kailla terlihat berpikir sembari menurunkan gaunnya dan membiarkan teronggok sampai ke mata kaki.


"Ya Tuhan, cobaan apa ini?" Pram berkata pelan, menelan saliva saat disuguhkan pemandangan yang menggetarkan imannya.


"Kamu beruntung, Kai. Kalau tidak sedang di butik, aku jamin kamu tidak akan bisa lolos dari cengkeramanku." Pram mendekap Kailla dari belakang.


"Belikan gaun apa?" tanya Kailla bingung.


"Terserah. Aku tidak ikut campur untuk penampilan orang lain. Kewajibanku hanya memastikan penampilan istriku saja." Pram menatap lekat Kailla yang mengenakan pakaian dalam dari pantulan cermin.


"Aku belikan gaun ... em ...." Kailla mengetuk bibirnya dengan ujung telunjuk. Terlihat ia berpikir keras.


"Sesuaikan saja dengan umurnya, Kai. Keisya itu masih remaja. Titipkan pada Stella, biarkan sekretarisku yang mengurusnya." Pram menyarankan.


"Baiklah, nanti aku akan menitipkannya pada Stella, sekalian menitipkan gaun Naina pada Pieter."


***


Beberapa hari kemudian, di kantor RD group.


"Ini untukmu." Stella menyodorkan kotak berisi gaun berwarna hijau tosca pada Keisya. Di atas meja masih tersisa dua kotak dengan ukuran sama.


"Ini apa?" Keisya bingung, membuka simpulan pita keemasan yang terletak di bagian atas kotak.


"Dari Nyonya. Tadi dititipkan pada Bayu untuk dibagi-bagi."


Keisya terperanjat saat penutup kotak terbuka "Wah, cantik sekali, Bu Bos." Keisya memeluk gaunnya dengan gembira.


"Terima kasih, Bu Bos."


"Itu dari Nyonya Kailla. Ucapkan terima kasih padanya Nyonya saja," ujar Stella.


"Dan itu, Bu Bos?" tanya Keisya penasaran.


"Itu milikku dan Naina."


"Aku boleh melihatnya?" tanya Keisya.


"Nanti saja, sedang jam kerja," tolak Stella.


Keisya masih memeluk gaun hadiahnya saat Pram berjalan mendekat sembari menggenggam ponsel di tangan kirinya.


"Om ...." Keisya memekik saat melihat Pram berjalan ke arahnya.


Belum sempat Pram menjawab, gadis itu berlari dan meraih pergelangan tangan Pram.


"Terima kasih gaunnya. Sampaikan ke ...." Keisya bingung harus memanggil apa pada Kailla.


"Panggil istriku Nyonya atau Ibu." Pram menegaskan.


"Ah, sampaikan terima kasih ya, Om. Aku suka gaunnya." Keisya begitu bahagia menerima hadiah pertama seumur hidupnya. Ia terlahir dari keluarga kekurangan. Jangankan hadiah, untuk makan pun susah.


"Ya, kamu menyukainya?" tanya Pram.


Keisya mengangguk.


"Istriku yang memilihkannya untukmu," jelas Pram, tersenyum menatap Keisya.


"Ah ... aku suka sekali, Om." Kedua tangan gadis itu baru akan memeluk pinggang Pram. Terlalu bahagia, sampai ia lupa kalau sedang di kantor.


"Sya ...." Pram mengingatkan.


"Maaf, aku terlalu bahagia." Keisya memeluk erat gaunnya sambil menatap Pram.


Pram hanya tersenyum. Ada haru menyapa hatinya saat melihat kebahagiaan Keisya.


"Om masih ada pekerjaan, lanjutkan pekerjaanmu." Pram menepuk pelan pucuk kepala Keisya dan bergegas masuk ke ruangannya.


-


-


-