
Pram bersandar di kursi mobilnya sembari memejamkan mata. Ia tengah menunggu Kailla keluar dari kampus. Sepanjang perjalanan harus meredam hasratnya karena ulah lancang Keisya.
Usianya memang sudah mendekati setengah abad, tetapi ia masih normal. Pram masih bergairah saat disentuh dan didekati wanita. Tidak bisa dipungkiri, Keisya sanggup memancing gairah dan amarahnya dalam waktu bersamaan.
Pria berkemeja putih itu menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Ia bersyukur logikanya masih utuh, masih berjalan di tempat yang seharusnya. Tidak hanyut dalam permainan remaja ingusan yang tengah bermain api.
Tok ... tok ... tok.
Mata Pram yang merapat, terbuka seketika saat mendengar bunyi ketukan di kaca mobil. Pria itu tersenyum lega, tatapannya tertuju pada Kailla. Istri kesayangannya itu sedang tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Kailla begitu cantik saat ini, tampak menggiurkan.
"Masuk, Kai." Pram merapikan posisi kursi mobil yang tadinya dibuat setengah berbaring. Ia sudah tidak sabar melampiaskan gejolak di dalam dirinya pada sang istri. Wanita sahnya, wanita yang halal untuk disentuh, bisa dimiliki sesuka hati dan kapan pun saat ia menginginkannya.
"Kenapa, Sayang? Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba datang tanpa memberitahu?" tanya Kailla sesaat setelah masuk ke dalam mobil. Tampak ibu si kembar merapikan posisi duduknya sambil meletakan tas di atas pangkuan.
"Aku merindukanmu."
Tiba-tiba Pram merapatkan diri pada Kailla sebelum akhirnya merengkuh tengkuk sang istri tanpa permisi. Dikecupnya bibir yang masih beraroma nasi goreng itu dengan ganas. Bahkan ia tidak membiarkan Kailla protes atau menolak.
Pram sedang menuntaskan hasrat yang menguasainya sejam belakangan. Ia hampir gila dan butuh Kailla untuk membantunya. Dinikmatinya bibir tipis istri kecilnya sampai puas, sedikit memerah dan bengkak.
"Sayang," Kailla bersuara saat Pram melepaskan bibirnya. Ia bisa melihat ada sesuatu yang berkobar dalam di netra suaminya. Begitu membara, hingga membuat seorang Reynaldi Pratama nyaris terbakar.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Kailla heran.
"Ya, kita cari hotel sekarang." Suara serak Pram terdengar berat, napas pria itu tersengal-sengal.
"Kamu tidak sakit, kan?" tanya Kailla sambil menempelkan punggung tangannya di kening Pram.
"Normal. Tidak demam." Kailla tampak serius.
"Hah?" Pram bingung.
"Kamu tidak terkena corona, kan? Kenapa napasmu terdengar berat." Kailla bersuara. Ia sangat paham dengan apa yang kini tengah menyiksa suaminya. Apalagi saat menurunkan pandangannya, ada yang menyesak di balik celana hitam sang suami.
Pram menyentil dahi Kailla sebelum merapikan duduknya kembali. "Sembarangan," gerutu Pram. Wajah pria itu tampak serius.
"Napasmu itu memprihatinkan, Sayang." Kailla tergelak. Ia masih belum puas menggoda Pram.
"Kita ke hotel atau ke apartemen?" tanya Pram.
Kailla terlihat berpikir. Kedua bola matanya berlari ke kiri dan kanan, dengan ujung telunjuk mengetuk pelan bibirnya.
"Kita ke apartemen yang baru. Bagaimana menurutmu, Sayang?"
Deg--
Pram diam, teringat akan Keisya yang baru saja membuatnya naik darah. Tidak mungkin berterus terang tentang kelakuan Keisya pada Kailla. Istrinya akan mengamuk saat tahu apa yang baru saja dilakukan Keisya padanya. Bahkan bisa saja Kailla melakukan hal-hal di luar dugaan. Ia mengenal wanita cantik di sampingnya ini bukan sehari dua hari. Pram mengetahui jelas bagaimana meledaknya Kailla saat sedang marah.
"Apartemen itu masih belum siap. Rencananya, Keisya dan ibunya yang akan menempati." Pram menjelaskan.
Kailla menyimak.
"Aku pikir lebih baik mereka tinggal di apartemen atau rumah yang lebih layak dibanding di kontrakan kecil yang mereka tempati sekarang. Jalanannya sempit, tidak bisa masuk mobil. Kalau terjadi sesuatu pada ibunya, akan sulit sekali. Kamu tahu sendiri kalau Ibu Keisya sakit-sakitan." Pram menjelaskan alasannya.
Kailla menatap Pram, mencari kejujuran di bola mata suaminya. Sejauh ini, ia masih menyimpan kepercayaan pada sang suami walau sempat berkurang karena cerita Stella beberapa waktu lalu.
"Jadi?" tanya Kailla. Ia memang masih menyimpan curiga, tetapi tanpa bukti Kailla juga tidak bisa menuduh. Apalagi selama ini ia merasa Pram tidak menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kita ke hotel saja." Pria itu tersenyum dan bersiap melajukan mobilnya.
"Kenapa tidak di sini saja?" Kailla menggoda. Menggeser tubuhnya mendekat dan meletakan tangan kanannya di atas pangkuan Pram.
"Ya Tuhan, Kai. Kamu sengaja mengerjaiku sekarang." Suara Pram terdengar serak, menahan hasrat yang menyesak.
Gelak tawa Kailla terdengar renyah, ia menyudahi semuanya dan mengangguk.
"Ya, ke hotel saja. Tapi, jangan lama-lama. Si kembar sedikit rewel hari ini, Sayang. Mungkin efek vaksin tadi pagi. Bentley agak panas badannya. Kalau Kentley lengannya bengkak. Anak itu menangis setiap bergerak. Kamu tahu sendiri kalau Kentley itu aktif sekali." Kailla mendesah. Sebagai ibu, tentu saja ia tidak bisa tenang saat mengetahui anak-anaknya sakit.
"Dengan siapa ke rumah sakit?" tanya Pram.
"Mama menemani Kinara dan Binara saat imunisasi. Tadi saat aku video call, anak-anak masih tidur." Wajah Kailla meredup. Ia sedih mengingat si kembar yang sedang tidak enak badan.
"Sam di mana?" Pram mengedarkan pandangannya sebelum menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya meninggalkan kampus.
"Aku mengirimnya pulang untuk mengantar ASI perah."
"Dosenmu masih sering mengganggu?" tanya Pram. Fokus pria itu terbagi dengan jalanan.
Kailla menggeleng. "Tidak lagi. Aku sudah tidak pernah jalan dengan temanku. Jadi tidak pernah bertemu Pak Adrian di luar jam kuliah."
"Baguslah kalau begitu." Pram meraih tangan Kailla dan menggenggamnya.
Dikecupnya pelan. "Aku mencintaimu, Kai," ucap Pram, membagi perhatiannya dengan jalanan.
-
-
-