The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 75



Berada di tengah rapat bukanlah hal yang menyenangkan untuk Kailla. Bermenit-menit mendengarkan pembahasan yang tidak dipahaminya, memaksa mata untuk tetap terbuka dan menyerap semua ilmu yang tidak bisa sampai ke otaknya.


Bukan hal mudah untuk Kailla yang memang tidak memiliki minat di bidang bisnis. Berulang kali mencoba memaksa diri untuk paham, berpura-pura mengangguk dan mengerti agar para peserta rapat mengakui kualitas dirinya, tetap saja Kailla tidak dapat menyerap ilmu apa-apa. Materi hanya masuk dari telinga kiri dan keluar melalui telinga kanan.


Begitu seterusnya, ia lebih berminat dengan penampilan para pembicara yang silih berganti berdiri di depan, menjelaskan dengan detail pada suaminya yang tersenyum penuh kekaguman menanggapi setiap untaian kata. Tak jarang, Pram mengangguk dan tampak terkesima.


Namun, saat tatapan Pram beradu dengannya, rona di wajah suaminya berubah.


"I love you." Pram berbicara tanpa suara. Hanya gerakan bibir yang masih bisa terbaca oleh Kailla. Senyum pria dewasa itu terlihat tampan, disempurnakan dengan kedipan mata kiri yang menggoda.


Kailla memasang wajah cemberut. "Kita belum baik-baik saja. Jangan menggodaku." Kailla berkata ketus dan membuang pandangan.


Pram tidak tinggal diam. Jujur, ia juga mulai bosan, menikmati perutnya yang keroncongan dan terus menerus menelan air putih yang disajikan di atas meja rapat.


"Setelah rapat, kita cari makan siang, Kai." Pram berbisik pelan. Diam-diam menggenggam tangan Kailla di bawah meja rapat.


"Lepas." Kailla memerintah tanpa suara, ia tidak mau suaranya terdengar orang lain. Tatapan tajam ibu muda itu menghunus langsung ke hati, mengirim ancaman pada sang suami.


Satu jam berlalu tanpa terasa, Kailla yang kelaparan, kelelahan dan kebosanan mulai tidak fokus. Pandangannya berkunang-kunang. Wajahnya pucat, menikmati sensasi perutnya yang juga sudah mulai berontak.


"Sayang, apa masih lama?" tanyanya pada Pram yang duduk di sebelah.


"Tidak, tunggu sebentar lagi." Pram menjawab tanpa melihat ke arah Kailla sama sekali. Ia tengah serius mendengar penjelasan dari Jenny.


Kailla mengalah, memilih menelungkupkan kepalanya di atas meja rapat. Ia sudah tidak kuat lagi, bahkan tidak sanggup untuk sekedar mengangkat kepala dan membuka mata. Pandangan berkunang-kunang itu tiba-tiba mengabur dan gelap dalam hitungan detik. Kailla kehilangan kesadaran, merebahkan kepala di atas meja. Ia tidak bisa mendengarkan apa-apa, dunianya gelap, lenyap seketika.


"Tidur lagi. Kebiasaan lama." Pram berkata pelan, tersenyum datar melihat istrinya yang tidur di tengah rapat. Bukan hanya Pram, Jenny ikut menyunggingkan senyuman saat melihat Kailla terlelap di atas meja tanpa malu-malu. Disaksikan banyak pasang mata yang diam-diam mengulum senyuman dan tentunya bergosip dalam hati, menertawai sang nyonya yang tidak tahu tempat.


"Ini lebih parah dari yang Kak Anita ceritakan." Jenny berkata dalam hati. Ia sering mendengar kisah Kailla dan Pram dari kakak iparnya. Namun, fakta yang berbicara lebih dari bayangannya.


Jujur saja, sosok Pram sangat menarik untuknya. Hanya saja Jenny tidak menyangka, kalau Pram menjatuhkan pilihannya pada wanita biasa. Kailla bukanlah wanita karier dengan banyak prestasi, bukan juga sosok ibu rumah yang menguasai banyak hal. Kailla hanya putri manja seorang konglomerat. Selain harta orang tuanya, tidak ada kelebihan Kailla di matanya sama sekali.


Jenny tidak habis pikir, bagaimana Pram bisa setia dengan satu wanita di saat posisinya sangat mendukung untuk mendapatkan wanita lain yang jauh lebih berkelas. Pram yang dewasa, tampan dan mapan. Jenny yakin, andai Pram mau ia bisa memilih wanita mana pun yang jauh lebih baik dari seorang Kailla Riadi Dirgantara yang tidak memiliki kelebihan apa-apa. Hanya wanita biasa tanpa prestasi.


"Sayang." Pram mencoba memanggil Kailla setelah rapat usai. Ia sengaja membiarkan istrinya terlelap walaupun itu hal yang sangat memalukan. Melihat wajah Kailla yang pucat dan kelelahan, rasanya ia tidak tega.


"Kai." Pram mulai khawatir, buru-buru berdiri untuk memastikan apa yang terjadi. Diangkatnya wajah Kailla yang bertumpu di atas meja. Tubuh Kailla melemas, tak bertenaga sama sekali.


"Sayang, bangun." Pram panik, merasakan ada yang tidak beres. Ia baru menyadari kalau istrinya bukan tertidur melainkan tidak sadarkan diri saat menepuk pipi Kailla dan tidak ada respons sama sekali. Kailla diam, Kailla tidak bergerak, Kailla tetap memejamkan mata.


"Kai, jangan membuatku takut." Pram berkata lirih, mendekap kepala Kailla yang lunglai di tangannya.


"Jenny, tolong ambilkan minyak kayu putih atau semacamnya. Sepertinya Kailla pingsan." Pram memeluk Kailla. Hilang sudah lapar yang ditahannya sejak tadi, lenyap sudah ketenangan yang dijaganya. Ia hampir gila, berusaha menyadarkan istrinya yang tengah mengembara.


"Kai, bangun. Jangan menakutiku." Tepukan di wajah Kailla kian kencang, meninggalkan noda merah. "Sayang, bangun." Pram memeluk erat.


Tampak Jenny berlari masuk dengan sebotol minyak kayu putih. "Ini, Pram."


"Terima kasih. Tolong tinggalkan kami." Pram mengusir Jenny.


"Ya. Ditidurkan di sofa saja." Jenny mengusulkan sembari menunjuk ke arah tempat duduk panjang di sisi kiri ruangan. Tak lama, ia bergegas keluar menuruti permintaan atasannya.


"Kai, bangun. Maafkan aku." Tampak Pram mengusap minyak kayu putih di dahi, leher dan bawah hidung Kailla. Diusapnya pelan tangan Kailla yang dingin.


"Bangun, Sayang. Jangan menakutiku." Suara Pram bergetar. Pertahanan dirinya hampir runtuh, rasa bersalah menghantamnya tiba-tiba.


Pria matang itu bisa bernapas lega saat melihat kelopak mata istrinya bergerak. Tak lama, netra itu membuka dan Kailla terlihat bingung.


"Aku ...." Kailla meremas kepalanya, suara ibu si kembar terdengar lemah.


"Akhirnya, kamu bangun juga, Kai." Pram memeluk istrinya. "Kita cari makan, setelah itu kembali ke Jakarta. Besok-besok, aku usahakan untuk tidak keluar kota lagi. Aku janji padamu. Maafkan aku."


Pram merasa bersalah. Kalau bukan karena Keisya, semua ini tidak akan terjadi. Kepercayaan Kailla padanya masih utuh dan tak ternoda. Ditangkupnya wajah istrinya dengan kedua tangan, kemudian dipeluknya erat tubuh Kailla yang masih lemas.


Sesal memang selalu datang di belakang, ia tidak menyangka sama sekali imbas dari kesalahpahaman itu akan berbuntut panjang.


***


Jadwal up, rilis novel baru bisa follow ig : casanova_wetyhartanto