The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 55



"Sayang."


"Sayang."


"Sayang, kamu di mana?" Teriakan Kailla menggema di kamar tidur mewahnya, mencari keberadaan sang suami yang tak tampak batang hidungnya.


"Aneh? Masa masih berendam sampai sekarang?" Kailla mengerutkan dahi. Masih menggenggam ponsel suaminya, Kailla mendorong pelan pintu kamar mandi yang tidak terkunci.


"Sayang ...."


Pemandangan menyejukan sekaligus membangkitkan gairah dalam waktu bersamaan tertangkap Kailla. Pandangan wanita itu tertuju pada suaminya yang sedang berendam di dalam bathtub dengan mata terpejam.


Aromaterapi lavender tercium oleh indra penciuman Kailla saat kakinya melangkah masuk. Irama musik klasik sayup-sayup terdengar pelan.


"Sayang, kamu tidur?" tanya Kailla. Ia berjalan mendekat.


Tidak ada reaksi. Pram diam, tidak bergerak dan masih memejamkan mata.


"Sayang." Kailla menjatuhkan bokongnya, duduk di lantai marmer kamar mandi.


Tetap tidak ada reaksi. Pram masih memejamkan mata dengan sebagian tubuh terendam di dalam bathtub.


"Sayang, ayo bangun." Kailla merebahkan kepalanya di pinggiran bathtub. Masih menggengam ponsel, jemari Kailla yang bebas terlihat menggelitik wajah sang suami.


"Sayang, bangun. Kamu harus menjelaskan padaku apa maksud kata-kata Keisya yang dikirimkan di ponselmu. Apa yang dilakukannya sampai kamu mendiamkannya. Kamu harus menjelaskan padaku." Kailla bicara sembari mencubit hidung Pram, membuat pria matang itu kesulitan bernapas.


"Lepas gaun tidurmu dan berendam bersamaku. Aku akan menjelaskannya padamu." Pram membuka mata dan menghempaskan jemari Kailla dari hidungnya.


"Ah, aku butuh penjelasanmu bukan kehangatan darimu," protes Kailla cemberut.


Pram tergelak. "Aku yang butuh dihangatkan. Ayo, masuk ke dalam bersamaku. Aku akan menceritakan semua yang ingin kamu ketahui." Pram membujuk.


Kailla tampak berpikir, menimbang untung ruginya. Namun, tetap saja pada akhirnya ia masuk ke dalam bathtub setelah melepaskan gaun tidur dan pakaian dalamnya, membiarkan teronggok di lantai kamar mandi.


"Pram sudah berendam selama satu jam. Aku yakin adik kecilnya sudah tidak sanggup lagi. Pasti sudah mengkerut, gemetaran dan kedinginan." Kailla tersenyum licik.


"Jangan meremehkanku, Nyonya. Suamimu ini bisa hidup di dua alam, di air dan di darat." Pram tergelak, merespon senyuman licik Kailla.


"Aaahh!" Kailla menjerit. Ia kaget saat Pram menarik pergelangan tangannya dan membuat ia terjatuh di dalam bathtub.


"Tuh, ponselmu tenggelam." Kailla meraba-raba di dasar bathtub dan mencari keberadaan gawai mahal suaminya untuk dijadikan dasar menginterogasi.


Setelah tangannya berhasil mendapatkan benda pipih itu, Kailla tersenyum. Duduk bersadar di dada telanjang suaminya, Kailla kembali menggenggam ponsel yang basah kuyup sama persis seperti keadaan mereka sekarang.


"Sudahlah, apa yang ingin kamu tanyakan?" Pram meraih ponsel dari tangan Kailla dan meletakan di meja kecil di samping bathtub.


"Apa yang terjadi pada Keisya? Kenapa dia meminta maaf padamu?" tanya Kailla menikmati usapan tangan sang suami yang kini berlabuh di perut ratanya.


"Dia nakal." Pram menjawab santai. Tangan pria itu mendekap erat Kailla dari belakang.


"Nakal? Apa yang dilakukannya?" tanya Kailla makin penasaran, menoleh ke belakang berusaha untuk menatap suaminya.


"Dia kelewatan, Kai." Pram mengecup pundak basah Kailla dan menjatuhkan dagunya di sana.


"Kelewatan bagaimana? Ayo, jangan diputar-putar. Aku pusing, Sayang." Kailla tergelak saat tangan Pram mulai nakal dan menjelajah bukit kembarnya. Ditepuknya tangan usil yang tengah memainkan sumber susu si kembar.


"Dia menyukai suami orang. Apa tidak kelewatan itu namanya." Pram mencoba berterus terang sebisanya.


Pria itu harus hati-hati berbicara dan menjelaskan pada istrinya. Kalau sampai Kailla tahu suami orang yang dimaksud itu dirinya, Pram yakin Kailla akan mengamuk dan sulit memaafkannya dan Keisya. Entah hal gila apalagi yang akan dilakukan Kailla untuk melampiaskan kemarahannya. Bisa hancur semuanya.


"Hah? Bagaimana bisa?" Kailla terperanjat.


"Bisa saja." Pram menjawab santai sembari memindahkan rambut panjang Kailla di sisi kiri dan mengecup tengkuk yang kini terpampang sempurna.


"Bagaimana kamu mengetahuinya? Kamu menyita ponselnya dan ...." Kailla tampak berpikir.


Pram tidak menjawab. Sebaliknya pria itu menjelaskan sesuatu yang selama ini tidak diketahui Kailla.


"Keisya itu kurang mendapat perhatian kedua orang tuanya." Pram mengeratkan pelukannya.


"Lalu?"


"Bagaimana kamu bisa tahu?" Kailla heran.


"Dia dititipkan pada ayah dan ibunya yang sekarang. Ayah kandungnya yang menitipkan. Ibunya meninggal saat melahirkannya," lanjut Pram.


"Bagaimana kamu tahu?" tanya Kailla penasaran.


"Ibunya bercerita padaku saat di rumah sakit."


Kailla mengangguk. "Lalu? Apa hubungannya?"


"Kedua orang tua Keisya itu memiliki seorang anak. Tak lama setelah Keisya dititipkan, anak kandung mereka meninggal kecelakaan. Sejak saat itu sikap ayahnya berubah pada Keisya."


"Yang kamu maksud ini ... pria tua yang ditabrak Bayu, kan?" tanya Kailla penasaran.


"Ya."


"Selanjutnya?"


"Sering dimarahi dan dipukul, makanya Keisya itu memberontak dan susah diatur. Tidak mau sekolah lagi dan sering bolos." Pram menjelaskan.


"Kasihan sekali." Kailla tersentuh.


"Lalu, bagaimana ceritanya dia sampai menyukai suami orang?"


"Mungkin dia merasa ada seseorang yang menyayangi dan memperhatikannya, yang tidak didapatkannya di keluarganya. Ditambah pergaulannya yang salah. Kamu tahu ... salah satu temannya jadi simpanan pria beristri."


"Kamu melihat dari ponselnya?" tanya Kailla.


"Ya."


"Kasihan juga. Tapi, sepertinya dia benar-benar menyesal, Sayang." Kailla berkomentar.


"Biarkan saja dulu. Sampai dia benar-benar menyadari kesalahannya. Baru aku akan memaafkannya."


"Jangan terlalu keras padanya. Aku mengerti apa yang dirasakan Keisya. Dia sedang mencari perhatian. Itu juga yang dulu aku lakukan pada Daddy." Kailla berbalik menatap Pram dan tersenyum.


"Ayo ganti topik saja. Sudah di dalam sini, apa tidak ada yang kamu inginkan? Apa tidak mau memesan sesuatu? Pecel lele mungkin," tanya Pram, memainkan kedua alisnya.


"Jangan macam-macam. Aku meninggalkan anak-anak di kamar untuk mencarimu. Aku pikir ... kamu tenggelam di dalam bathtub."


"Ya, tenggelam. Kedinginan dan kehabisan napas. Butuh napas buatan dan kehangatan, Kai." Pram tergelak saat melihat Kailla buru-buru bangkit dengan tubuh basah kuyup.


"Ini artinya lanjut di dalam, ya?" tanya Pram saat melihat Kailla meraih handuk dan mengeringkan tubuh.


"Cepat, jangan banyak bicara. Aku meninggalkan anak-anak di kamar mereka. Aku khawatir, Sayang."


Kailla melenggang keluar, mengabaikan Pram yang menatapnya penuh damba.


***


Siang itu, Kailla memutuskan berkunjung ke kantor Pram dan membawakan makan siang. Sudah lama mereka tidak menghabiskan makan siang bersama karena kesibukan Kailla.


Menenteng tas bekal di tangannya, Kailla tersenyum ramah menyapa beberapa karyawan yang berpapasan dengannya. Keluar dari lift yang mengantarnya menuju ke ruangan Pram, Kailla mengernyit heran saat melihat meja Stella kosong.


"Oh ya, jam makan siang." Kailla tersadar dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Koridor itu sepi. Tidak ada siapa-siapa, semua karyawan menghabiskan waktu di kantin atau mencari makan siang di luar.


Namun, Kailla tersentak saat melihat seseorang muncul dari arah lain dan berbelok menuju ruangan suaminya.


Dari kejauhan ia bisa melihat gadis manis berseragam putih abu-abu membuka pintu ruangan Pram tanpa mengetuk.


"Mau apa Keisya ke ruangan suamiku?" tanya Kailla, buru-buru menyusul dan mencari tahu.


-


-


-