The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 81



“Kai!” Ibu Citra masih berteriak. Berjalan mendekati putranya dan melayangkan pukulan bertubi-tubi. Di pundak, bahu, punggung, bahkan wajah tampan Pram tak bisa lolos dari kepalan tangan mamanya.


“Sudah tua! Masih saja kelakuannya!” omel Ibu Citra, kembali memukul pundak dan dada putranya dengan kencang.


“Aw! Ma, ini sudah kelewatan. Mama salah paham. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Keisya.” Pram mengusap wajahnya yang memerah karena terkena tamparan. Pukulan pamungkas yang sanggup membuat Pram meringis kesakitan dan mendesah pelan.


“Umur sudah tidak bisa dihitung jari lagi, masih saja kelakuanmu, Pram!” omel Ibu Citra.


“Ingat umur, jangan hanya bisa tebar pesona. Mama yakin, sebagian temanmu pasti sudah menghadap Yang Maha Kuasa.”


“Apa-apaan ini!” Pram menggeleng mendengar ucapan yang keluar dari bibir Ibu Citra. Pembanding yang digunakan mamanya lain dari pada yang lain. Kalau orang lain selalu membandingkan anak-anak Pram yang masih kecil dengan anak-anak temannya yang rata-rata sudah menamatkan kuliah, bahkan tidak sedikit yang telah menikah. Mamanya malah membandingkannya dengan rekannya yang sudah jalan lebih dulu.


“Supaya kamu sadar diri, kalau usiamu bukan ABG lagi. Jangan sampai berulah dan ditinggal anak istrimu. Kailla kalau lepas darimu masih bisa mendapatkan suami baru lagi. Nah, kalau kamu. Apa bisa mendapatkan wanita yang benar-benar menyayangimu. Kalau ada, pasti sulit sekali. Rata-rata pasti mendekati uangmu. Saat kamu sakit-sakitan mereka tinggal melemparmu ke jalanan.” Ibu Citra mengeluarkan isi hatinya. Ia kesal dengan Pram.


“Tidak, Ma. Aku cuma setia ....” Pram merapatkan bibir saat melihat Kailla muncul sembari menggendong putra sulungnya.


“Ya, Ma. Ada apa teriak-teriak?” Kailla bertanya dengan santai. Ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi.


“Suamimu berselingkuh dan kamu menyembunyikan hal penting ini dari Mama?” Ibu Citra melancarkan serangannya. Berjalan mendekati Pram, kembali memukul kencang putranya itu. Di pundak, lengan dan dada, bahkan Ibu Citra ikut memukul kepala Pram dan membuat putranya menjerit kesakitan.


“Ma, mau membunuhku?” teriak Pram, merasakan kesakitan yang teramat sangat saat pukulan mamanya mengenai pelipis.


Kailla bingung, menatap suaminya dan mama mertua yang sedang bertengkar. Tadi, keduanya terlihat baik-baik saja, tetapi sekarang kondisinya berbeda. Melihat bola mata mertuanya yang memerah dengan urat-urat leher menegang, Kailla yakin sebentar lagi akan terjadi pertumpahan darah.


“Ma, ada apa ini?


“Suamimu ini ... kalau memang dia sudah berani berselingkuh di belakangmu, sebaiknya kita tenggelamkan saja di lautan seberang. Kamu dan anak-anakmu masih bisa mencari pengganti yang lebih pantas.” Ibu Citra tampak berapi-api. Tubuh yang biasanya mengeluh sakit-sakitan, sekarang bersemangat dan menyeret Pram keluar.


“Kai, tolong aku. Mama salah paham mengenai Keisya. Kamu tahu jelas ....”


“Tidak perlu membela diri. Salah tetap salah!” potong Ibu Citra, tidak mau mendengar pembelaan Pram. Ia sibuk menyeret tubuh putranya yang memang tidak mau melawan. Kalau Pram mau, bisa dipastikan Ibu Citra tak akan sanggup menandingi tenaganya.


“Ma, jangan begini.” Kailla akhirnya bersuara setelah sempat bingung.


“Suamiku tidak berselingkuh. Mama salah sangka. Itu semua tidak benar,” lanjut Kailla berusaha menjelaskan. Ia tidak mau urusan semakin panjang dan diketahui semua orang. Sejak awal ia selalu menutupi masalah ini dan tak ingin mertuanya mengetahui.


“Ma ....” Kailla memohon dengan wajah memelas. Sambil menggendong Bentley, ia merengkuh pergelangan tangan Ibu Citra.


“Katakan padaku, Kai. Di mana Pram menyimpan perempuan itu. Ayo, setelah memberi pelajaran pada pria tua tidak tahu diri ini, kita memberi pelajaran pada selingkuhannya.” Ibu Citra masih berkobar. Begitu bersemangat sampai lupa dengan umurnya yang tak muda lagi.


“Ma, aku mohon. Masalah itu sudah selesai. Hanya salah paham saja. Aku dan Pram juga sudah berbaikan. Murni Cuma salah paham, Ma.” Kailla membujuk


Mendengar penjelasan menantunya, Ibu Citra melunak. “Kamu yakin?” tanyanya, melepas cekalan tangan dan beralih meraih tubuh mungil cucunya yang ketakutan karena teriakannya.


“Dia tidak menyakitimu?” tanya Ibu Citra lagi.


Kailla menggeleng.


“Baiklah kalau begitu. Tapi, kalau masih berniat menenggelamkannya, Mama akan mendukungmu.” Ibu Citra mencium pipi Bentley dan segera keluar tanpa banyak bicara lagi.


***


"Kai, terima kasih." Pram duduk di sofa kamarnya sembari mengusap pelipisnya yang bengkak karena pukulan mamanya.


"Mama sudah kepala tujuh, kenapa saat marah pukulannya begitu mematikan." Kailla menyingkirlan tangan suaminya dan mengusap pelipis Pram dengan handuk basah.


"Aku tidak tahu. Yang terpenting saat ini aku bahagia." Pram tiba-tiba merengkuh pinggang Kailla yang sedang berdiri membungkuk, menghadapnya.


"Tidak perlu terlalu bahagia. Aku membelamu bukan berarti kita berbaikan. Aku tidak mau Mama menenggelamkanmu di seberang. Kalau pun harus ditenggelamkan, aku bisa melakukannya sendiri. Aku yang akan menenggelamkanmu, bukan Mama."


Deg--


Pram menelan ludah. Ia pikir, masalahnya dengan Kailla selesai ketika istrinya itu membelanya, ternyata dugaannya salah. Semua masih sama. Genderang perang itu masih berkumandang, belum ada rencana gencatan senjata dari istrinya.


"Tidak apa-apa, Sayang. Yang penting terima kasih sudah membelaku tadi. Kamu memang terbaik, tidak ada duanya." Pram menarik Kailla untuk duduk di pangkuannya. Didekapnya pinggang istrinya dengan posesif.


Tampak Kailla mengusap kulit wajah Pram yang memerah.


"Bagaimana Mama bisa tahu?" Kailla duduk menyamping, menatap ke arah jendela kamar.


"Aku memberitahu Mama." Pram berterus terang, menjatuhkan dagunya di pundak Kailla.


Ibu si kembar menghela napas pelan. "Sejak awal aku sudah menutup masalah ini dari Mama. Kenapa kamu membongkarnya lagi? Aku tidak mau masalah memalukan ini diketahui orang lain, makanya aku diam. Ini memalukan, aku tidak mau orang-orang merendahkan suamiku." Kailla berkata lirih.


"Aku ...." Pram diam, menatap istri yang kini bisa dipeluknya dengan leluasa. Dikecupnya pipi Kailla tanpa permisi. Sudah lama rasanya tidak menyentuh wanita yang dicintainya ini secara nyata.


"Aku tidak suka masalah rumah tanggaku dicampuri orang lain, termasuk Mama. Aku ingin menyelesaikannya sendiri, berdua denganmu saja, tanpa diketahui orang lain." Kailla berkata pelan.


"Ya, terima kasih, Kai. Di saat marah, benci dan kesal sekalipun, kamu masih menjagaku dengan sangat baik. Terima kasih." Pram tersenyum.


Tidak salah juga aku meminta bantuannya. Mama memang yang terbaik.


***


Maaf, aku terlambat up. Kisah Pram & Kailla ini alurnya sudah mendekati tamat. Aku sedang berjuang menamatkannya dan menyelesaikan semua konfliknya. Terima kasih.