The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 96



Melajukan mobilnya menuju ke luar Jakarta, Pram merasa sedikit lega ketika Reino membagi secuil informasi berharga. Walau belum ditemukan lokasi pasti penyekapan istri dan anaknya, setidaknya itu memberinya secercah harapan.


“Bay, aku sedang menuju ke luar kota. Aku sudah mengirimkan alamatnya di ponselmu. Bawa beberapa asisten dan orang-orangmu. Fokuskan pada lokasi yang aku kirimkan!” titah Pram sebelum mematikan ponselnya. Kedua tangan mencengkeram kemudi dengan kuat, buku-buku jarinya tampak memutih.


Andai berteriak, menangis dan mengamuk bisa mengembalikan keadaan, tentu ia akan melakukannya agar Kailla dan Kentley lekas kembali ke pelukannya. Namun, ia tahu semua sia-sia.


***


Kailla terbaring tak sadarkan diri di sebuah gudang tua setelah mendapat pukulan kencang di belakang kepalanya. Kondisinya mengenaskan, kedua tangan dan kakinya terikat tali tambang dengan mulut tersumpal sapu tangan.


Tak jauh dari tempatnya, tampak Kentley menangis kencang sedang diasuh seorang wanita. Jeritan bayi itu terdengar memilukan, menyerukan mamanya yang terkapar di atas lantai kotor dan berdebu.


“Ssstt, diam, Nak. Sebentar lagi mamamu bangun.” Wanita yang tengah menimang Kentley tampak sopan dan keibuan. Tak ada aura penjahat atau penculik di wajah sederhananya.


“Tolong, bangunkan wanita itu.” Teriaknya pada dua penjaga berperawakan tinggi, besar, dan berkulit gelap. Wajah keduanya menyeramkan, tak ada senyuman dengan kedua tangan dipenuhi tato.


“Tolong, anaknya kelaparan dan tak mau disusui dengan susu formula. Kasihan.” Wanita yang menggendong Kentley mengiba. Ia harus bisa menaklukkan dua orang pria di dalam setidaknya karena penjaga di luar lebih menyeramkan. Ditambah dengan suaminya yang setengah gila pasca keluar dari penjara.


“Tolong bangunkan ibunya anak ini. Kasihan ... anaknya lapar sejak kemarin. Menangis terus-terusan. Kalau sudah begini, aku yakin malam ini pun kalian akan merasakan bagai di neraka. Saranku sebaiknya cepat bangunkan ibunya dan minta dia menyusui putranya,” ancam sang wanita meminta pengertian.


Pria penjaga dengan perawakan lebih pendek terlihat keluar dari tempat penyekapan. Begitu pintu dibuka, terlihat api unggun menyala terang. Ternyata orang-orang di luar sedang berpesta sembari berjaga-jaga. Riuh rendah terdengar menusuk telinga.


Kembali dengan seember air di tangan, pria itu membangunkan Kailla dengan cara tak biasa. Disiramkannya dengan kasar, kemudian menendang kedua kaki yang terkulai lemas tak berdaya.


“Bangun!” teriaknya.


Tak mempan dengan air dan tendangan, tangan kekar itu menjambak rambut Kailla. Kali ini berhasil. Kelopak mata ibu si kembar mengerjap beberapa kali dan tak lama membuka sempurna.


“Aku di mana?” Kepalanya sakit, pelipisnya berdenyut. Ia baru bisa bersuara setelah sapu tangan yang menyumpal mulutnya disingkirkan.


“Di hotel bintang lima. Bangun dan tolong susui anak nakal itu. Jangan coba-coba kabur. Aku mau berpesta di luar!” ancamnya sembari melepas ikatan di tangan dan kaki korbannya. Tak lama, ia berjalan keluar bergabung dengan teman-teman yang lain, meninggalkan seorang temannya untuk berjaga-jaga di dalam.


Berjalan tertatih-tertatih menuju putranya, Kailla menumpahkan tangis saat berhasil menyentuh putra bungsunya. Didekapnya Kentley yang sudah dua hari menghilang dari pelukannya.


"Sayang." Rasa sakit yang menguasai tubuh lemahnya sontak hilang saat putranya berada di dalam dekapan. Disusui tanpa malu dan ragu-ragu. Saat ini sang putra membutuhkan sentuhannya.


"Maafkan suamiku." Wanita yang tadinya mengasuh Kentley bersuara. Netranya berkaca-kaca ketika menyaksikan pemandangan ibu dan anak di depannya. Ia teringat dengan putrinya yang harus pergi setahun lalu karena sakit jantung bawaan sejak lahir.


Kailla tidak menjawab, pandangannya hanya tertuju pada putra bungsunya. Cahaya kuning dari lampu seadanya di gudang tua itu cukup untuknya meneliti Kentley. Putranya baik-baik saja. Hanya sedikit lebih kurus dan tampak lesu.


"Kamu baik-baik saja, Nak." Tersenyum kecil saat melihat bibir mungil itu menikmati ASI dari sumbernya. Sisi keibuan Kailla terpanggil, saat ini semangatnya berkobar kembali. Ia akan melindungi Kentley dan membawa bayinya keluar dengan selamat.


Sejak mengetahui dirinya hamil, Kailla tengah berjuang melatih si kembar untuk lepas dari ASI dan mengenalkan susu formula. Namun, kedua bayinya masih butuh pengenalan lebih lama lagi. Sampai saat ini, baik Bentley maupun Kentley masih membutuhkan sumber ASI setiap mengantuk dan tidur malam.


"Susui di sini saja." Wanita itu menepuk kursi kayu tua yang juga didudukinya.


Kailla bergeming, memilih duduk bersila di lantai kotor. Celana dan vest putihnya tampak berantakan. Saat ini, ia tidak bisa percaya pada siapa pun, hanya mengandalkan otak dan ototnya saja.


"Aku janji akan membantumu. Perkenalkan aku istrinya Wiraguna. Dalang dari semua ini. Aku minta maaf atas apa yang dilakukan suamiku." Wanita itu membujuk. Suaranya pelan bagai desiran angin malam.


"Ayo, aku tidak mau penjaga itu mendengarnya. Aku akan membantumu dan putramu keluar dari sini. Tolong naik ke atas supaya bisa bicara dengan leluasa."


Kailla meneliti. Saat ini ia tidak bisa percaya pada semua orang. Ditatapnya wanita itu dalam, seakan hendak menembus dan mencari tahu isi hati yang sebenarnya. Setelah memastikan, ia naik dan duduk di sebelahnya.


"Aku tahu kalau kamu tidak percaya padaku. Tapi, aku yang membujuk suamiku untuk membawamu ke sini. Aku tidak bisa menyelamatkan bayimu sendirian. Aku membutuhkan bantuanmu. Besok pagi-pagi, saat penjaga itu masih terlelap. Keluarlah dari pintu sebelah kiri. Masuk ke dalam hutan dan ikuti jalan rintisan warga. Sampai di ujung, akan bertemu dengan jalan setapak desa." Wanita itu berbisik pelan. "Aku akan mengecoh penjaga dan suamiku." Ia tersenyum, menyemangati.


Kailla masih menyimak. Ia belum paham wanita ini benar-benar akan membantunya atau sekadar menjebak.


"Jangan lewati jalan setapak di depan gudang. Di sana banyak penjaga. Aku khawatir ... kamu tidak bisa lolos."


Sorot mata wanita yang diperkirakan berusia di atas Kailla beberapa tahun itu terlihat tulus.


"Kenapa menolongku?" bisik Kailla.


Wanita yang tidak diketahui namanya itu tersenyum. "Karena aku juga pernah kehilangan bayi perempuanku. Dua anakku terlahir dengan kelainan jantung. Pramana dan Pranita. Pram sudah menjalani operasi, sedangkan Nita baru akan. Setahun yang lalu ...."


Suara lembut itu terbata-bata saat bercerita, Kailla bisa melihat mata indah lawan bicaranya berkaca-kaca.


"Tahun lalu, saat suamiku memutuskan untuk mencelakaimu ...."


Kailla terkejut. "Maksudnya ... bagaimana?"


"Kecelakaan yang disebabkan suamiku. Dia dibayar 20 juta untuk melakukannya. Uang itu yang akan digunakan untuk membantu biaya operasi putriku. Tapi, suamiku dipenjara dan Nita meninggal tanpa bisa bertemu dengan papanya. Aku ingat ... saat itu pernah memohon pada orangmu ... meminta agar diselesaikan baik-baik. Setidaknya suamiku masih bisa melihat anak kami untuk terakhir kali. Tapi ...." Suaranya terhenti, air matanya tumpah tanpa suara.


"Maafkan suamiku, dia sakit. Saat putri satu-satunya yang kami miliki meninggal, suamiku terpukul. Sangat terpukul dan sampai saat ini dia masih belum bisa menerimanya. Aku akan berjuang untuk menyelamatkanmu. Tapi, tolong jangan jebloskan suamiku ke penjara lagi. Aku ingin menyembuhkannya. Dia benar-benar sakit ...."


"Aku juga sama sepertimu. Aku seorang ibu yang mempunyai dua anak laki-laki menunggu di rumah saat ini. Aku meninggalkan mereka, Prasetya dan Pramana di rumah sendirian demi menyelamatkan putramu dan menyelamatkan suamiku. Tolong pertimbangkan lagi," ucapnya memelas.


***


Part2 ini adalah part2 pembuka untuk beberapa karyaku yang lain. Bagi yang bingung, aku mengerti. Mungkin tidak semua mengikuti karyaku yang berjudul Diadra dan Perjodohan Abad 21. Tapi, aku harus menulis part-part ini agar ceritaku tetap menyatu dan tidak ada kepingan puzzle yang hilang.