
"Ayo, Kai."
Keduanya berlari dari kejaran orang-orangnya Wiraguna. Teriakan ancaman dan suara senjata yang ditembakkan ke sembarang arah memacu jantung keduanya.
"Kai, berlindung, Sayang," teriak Pram di tengah situasi mencekam.
Kailla berlari di depan sembari menutup telinganya. Saat ini lebih mengerikan dibandingkan ketika ia disekap di gudang tua. Jantungnya berdetak kencang. Memilih bersembunyi di balik pohon besar bersama sang suami, Kailla bisa menarik napas lega sejenak.
"Kalian baik-baik saja?" Pram mengamati istrinya. Ditatapnya wajah panik Kailla sembari mengusap perut istrinya yang masih rata. "Bayi kita baik-baik saja, kan? Mereka tidak menyakiti kalian, kan? Aku takut sekali terjadi sesuatu padamu dan Kent."
Tidak ada jawaban, Kailla tengah mengatur napasnya yang tak beraturan.
"Maafkan aku, Kai." Ada nada penyesalan di dalam nada bicara Pram.
Dor ... dor ... dor.
Suara tembakan beruntun kembali membuat suasana mencekam. Sontak Kailla berteriak dan menutup kedua telinganya. Semuanya begitu mengerikan, ia tidak bisa menghindar dan berbuat banyak.
"Ikuti aku, Kai. Di sini tidak aman. Kita harus ke mobil secepatnya." Pram meraih tangan istrinya dan membawa Kailla berlari bersamanya.
Bayangan perjalanan hubungannya dan Kailla berputar ulang. Dari awal bayi merah yang didekapnya di depan kamar operasi, gadis kecil nakal yang selalu menyusahkan hingga akhirnya Kailla remaja yang jatuh ke dalam pelukanya sebagai seorang istri.
Entah kenapa, di saat panik seperti ini semua bayangan-bayangan itu mengisi pikirannya. Pram berharap semua ini bukan pertanda. Ia tidak bisa kehilangan Kailla yang saat ini sedang mengandung bayinya.
"Kai, cepat, Sayang. Tetap berlindung di balik tubuhku," titah Pram.
Letusan demi letusan terdengar sangat menyeramkan. Keduanya berusaha untuk menghindar. Teriakan pemburu yang sejak awal sudah mengincar Kailla semakin jelas, menandakan jarak mereka makin dekat.
Seratus meter di depan, Pram bisa melihat orang-orang Bayu berlari mendekat untuk melindunginya.
"Kai, kita harus berlari ke tempat mereka secepatnya," titah Pram bersamaan dengan suara letusan senjata.
"Sayang, tanganmu tertembak." Kailla panik saat melihat lubang kecil di lengan suaminya yang terbungkus jaket mengeluarkan darah.
"Aku baik-baik saja. Lari secepatnya ke arah mereka. Aku akan melindungimu, Sayang," titah Pram sembari menahan sakit di lengannya.
"Sayang, tanganmu." Kailla panik.
"Cepat! Yang mereka inginkan itu kamu, Kai. Bukan aku. Cepat selamatkan dirimu." Pram mendorong kasar istrinya agar berlari menjauh.
"Lari secepatnya ke tempat mereka. Minta perlindungan pada Bayu. Love you." titah Pram.
"Ba-baik." Kailla menurut, berlari secepat kilat ke arah orang-orang yang akan membantu menyelamatkannya.
Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Baru saja wanita hamil itu berlari, tiba-tiba dari arah samping muncul pria asing dengan senyum menyeringai. Pria itu keluar dari semak belukar dengan sebilah belati. Kailla yang tidak menyadari ancaman di depan mata, tak memiliki persiapan sama sekali.
Bless.
Belati itu menancap di perut Kailla. Tertegun, ibu si kembar menghentikan langkahnya seketika. Waktu terasa berhenti berputar saat rasa nyeri merobek perutnya. Kedua kakinya melemah saat tak sanggup melawan.
"Bayiku." Kata yang bisa diingat Kailla saat kesadaran masih utuh di dalam dirinya. Ia hanya bisa menatap pria yang sedang tersenyum bahagia menikmati kesakitannya.
"Segera menyusul Pranitaku," ucapnya sembari menarik kembali pisau yang sempat disemayamkannya di tubuh Kailla tanpa perasaan.
"Aahh!" Kailla merintih kesakitan bersamaan dengan belati yang ditarik keluar. Bersamaan dengan itu, suara tembakan pun lenyap. Seakan paham kalau misi telah selesai dilaksanakan dengan sempurna.
Senyap. Hanya teriakan Pram yang berlari menyusul untuk menyelamatkan istrinya. Pria itu menggila saat istrinya disakiti di depan matanya.
"B'reng'sek!" Pram masih sempat melayangkan pukulan di rahang pria yang telah melukai istrinya. Namun, kekuatan pria itu hilang ketika menyaksikan tubuh Kailla yang jatuh ke tanah.
"Kai ...."
"Kai ...."
"Kai ...."