
Tiga tahun berlalu.
Embusan angin menerpa rambut panjang bergelombang yang dicat keemasan. Wanita cantik menenteng Hermes hitam keluaran terbaru sembari menuntun gadis kecil menuruni tangga pesawat.
Dia adalah Kailla Riadi Dirgantara Pratama dan putrinya, Tesla RD. Pratama. Setelah hampir tiga tahun menetap di Singapura, Ibu dan anak itu kembali ke Jakarta.
High heel tujuh senti menggema di sepanjang koridor menuju terminal kedatangan. Kailla yang masih merasakan traumanya pasca penculikan tiga tahun silam tampak mengeratkan genggaman tangannya pada si bungsu Tesla yang tak mau digendong.
“Sam,” ucapnya dengan suara bergetar. Kailla berbalik menatap asistennya yang berjalan di belakang ditemani Sekar. Putir Ibu Sari itu kini dipercaya mengasuh dan menjaga Tesla.
“Tidak apa-apa, Non. Pak Pram dan si kembar sudah menunggu di depan.” Sam menenangkan.
Butuh perjuangan untuk Kailla kembali ke Jakarta. Ia harus meyakinkan dirinya agar kuat. Bayangan penculikan hingga ngilu saat perutnya ditusuk belati masih membekas di ingatannya. Ia semakin bergidik saat mengetahui kalau pelaku tidak di penjara.
Ya, Wiraguna bisa bebas dari jerat hukuman saat diketahui mengalami gangguan mental parah dan kini menghuni salah satu Rumah Sakit Jiwa di Jakarta.
“Ayo Nona Tesla, aku gendong, ya. Kasihan Mommy.” Sekar berjalan mendahului dan berjongkok di depan gadis kecil yang terlihat cantik dengan gaun merah muda. Direngkuhnya tubuh gadis mungil itu dan dibawa naik ke gendongannya.
“Tidak apa-apa, Non. Tesla aman bersamaku.” Sekar meyakinkan.
“Ya.” Kailla menelan saliva sembari merogoh ke dalam tas untuk mencari keberadaan kacamata hitamnya. Ia merasa lebih aman saat menutupi separuh wajahnya. Tidak akan ada yang mengenalinya, begitulah pikir Kailla.
Melewati prosedur di bandara, tak lama Kailla yang ditemani asistennya melangkah keluar. Mengedarkan pandangannya, ia sudah tidak sabar bertemu Pram dan si kembar. Baru saja dua hari berpisah dengan ketiga jagoan di dalam hidupnya, rindu itu sudah menumpuk.
Selama ia menetap di Singapura, Pram, Bentley, dan Kentley bolak-balik terbang menemuinya. Hampir setiap minggu ketiganya menghabiskan akhir pekan bersama di negeri Singa. Banyak pertimbangan yang akhirnya membuat mereka harus tinggal terpisah sementara.
Kailla dan Tesla di Singapura, Pram bersama si kembar di Indonesia. Pekerjaan yang membuat Pram tak bisa selamanya stay di Singapura membuat mereka sepakat membagi waktu. Ditambah kondisi si kembar yang sedang aktif-aktifnya membuat Pram tidak tega harus membebani Kailla.
Di Singapura tak seperti di Indonesia. Mereka memiliki banyak keterbatasan dan tidak sebebas saat di Jakarta. Hunian yang tidak terlalu besar ditambah Bentley dan Kentley yang sudah bersekolah membuat Pram mengambil sikap. Untuk sementara sampai si kembar mandiri, mereka tetap seperti ini.
Kailla tersenyum saat netranya menangkap penampakan Pram yang berdiri di tengah kerumuman bersama Kent dan Bent. Bayu dan Tom berjaga tak jauh dari ketiganya.
“Sayang!” pekik Kailla berlari memeluk Pram. Suara ketukan sepatu terdengar semakin kencang saat jarak makin dekat.
Genggaman Pram pada pergelangan tangan kedua putra kembarnya terlepas, ia menyambut Kailla yang sudah bergelayut di lehernya dan dengan tidak tahu malu menge'cup bibirnya sampai puas.
“Kai, Kai sudah. Kita baru dua hari berpisah. Kasihan anak-anak. Mereka juga merindukanmu.” Pram tergelak. Ditatapnya wajah sedih Bentley dan Kentley yang kini memandang iri padanya.
“Nanti malam saja. Aku sudah meminta Stella memesan hotel. Setelah anak-anak puas denganmu, datanglah padaku.” Pram tergelak. Pandangannya tertuju pada Tesla.
“Ah, Sla. Ayo bersama Daddy.” Pram meraih si bungsu dan menge'cup wajah mungil itu dengan penuh cinta. “Daddy rindu Tesla. Jangan terlalu cepat besar, Nak. Biar Daddy bisa menggendongmu lebih lama."
Tak berbeda dengan Pram, Kailla tengah berjongkok dan melepas kerinduan dengan kedua putranya. Dipeluk dan dikecupnya bergiliran putranya yang kini berusia empat tahun.
“Mommy mobil-mobilanku tertinggal di kamal. Apa Mommy membawanya?” Kentley bertanya setelah Kailla melepaskan pelukan.
“Ya Tuhan, Kent. Mommy lupa. Tidak apa-apa, dua hari lagi kita pulang ke sana.” Kailla menggandeng kedua tangan putranya, berjalan menyusul Pram.
“Sayang, dua hari lagi kalian jadi ikut pulang ke Singapura, kan?” Kailla memastikan.
“Ya, Kai. Anak-anak libur sekolah. Kamu bisa membawanya bersamamu.”
“Kamu tidak ikut?” Kailla heran.
“Aku ikut. Tapi, tidak selama Bent dan Kent. Dua minggu aku di sana. Setelah itu bolak-balik lagi, ya?” Pram terkekeh. “Kamu sudah berani pulang ke Jakarta artinya kita bisa sering bertemu sekarang. Kalau rindu, kamu bisa datang padaku kapan saja. Tidak perlu menunggu akhir pekan,” lanjut Pram.
“Tesla mulai sekolah, Sayang.” Kailla memberitahu.
“Oh ya.” Pram menghentikan langkahnya dan berbalik. Jadi?”
“Selesaikan pekerjaanmu secepatnya, bawa ke Singapura. Aku tunggu di sana!” titah Kailla.
“Nanti kita bicarakan lagi. Malam ini aku mengundang keluarga dan teman dekat kita makan malam di rumah. Sudah lama tidak bertemu Fro dan Sya, kan?” tanya Pram.
“Serius? Bella?”
“Ada.”
“Fro sudah pulang dari Jerman? Bukannya dia sedang di Jerman?”
“Cuma mengantar anak-anaknya. Dia sudah kembali ke Jakarta beberapa hari yang lalu. Sepupumu itu sibuk mengurus bisnisnya di Surabaya dan Jakarta, bukan sepertimu ... hanya sibuk shopping dan menghabiskan uangku.” Pram tergelak.
“SAYANG!” omel Kailla.
“Sudah, jangan mengomel. Kita jarang bisa bertemu.” Pram menenangkan.
***
Anak-anak tampak bermain di halaman rumah. Riuh rendah tawa dan perdebatan terdengar jelas dari tempat para orang tua duduk dan mengobrol. Pram, Ditya, Bara seperti biasa sedang membahas bisnis yang tak ada habisnya sembari menjaga daging barbeque agar tidak hangus dan Kailla tengah bercerita pada Frolline, Keisya, dan Bella sembari menemani anak-anak bermain.
" Sya, kamu jadi ke Austria?" tanya Kailla sembari menyesap jus jeruk di tangan.
"Jadi, berdua dengan Kak Meisya." Keisya menjawab singkat. Meisya yang dimaksud adalah saudara kembar yang baru diketahuinya setelah bertahun-tahun terpisah. Berdasarkan hasil tes DNA, akhirnya Keisya bisa menemukan keluarga kandungnya lagi.
"Om Reino? Apa kabarnya?" tanya Kailla.
"Om Reino di Surabaya sekarang. Kemarin ikut dengan Koko dan belum mau balik ke Jakarta." Frolline menjelaskan.
"Oh." Pandangan Kailla tertuju pada Bella. "Boo, kamu sendiri bagaimana? Aku iri padamu. Sebentar lagi akan mendapat menantu. Sedangkan anakku masih kecil-kecil." Tatapan Kailla tertuju pada Tesla yang berlari sambil tertawa. Real sedang mengejar gadis kecil itu.
"Bolil, No." teriak Tesla menangis kencang saat Real berhasil menggapainya. Gadis kecil itu terjatuh di rumput. Tangisnya terdengar semakin kencang.
"Real! Jangan menggoda Tesla, Nak," teriak Bella.
"Sla lucu, Mom."
"Ya, tapi jangan menggodanya, Real." Bella berjalan menghampiri.
Kailla buru-buru berlari untuk menenangkan putrinya, tetapi saat ia tiba ada tangan lain yang lebih dulu membantu putrinya berdiri.
"Terima kasih, Ditya. Apa kabarmu?" tanya Kailla salah tingkah. Ia tidak enak hati saat berada di dekat pria yang pernah membawanya ke dalam kesesatan sesaat. Rumah tangganya hampir hancur berantakan karena ulahnya sendiri yang terlalu mengagumi pria yang ketampanannya mengalahkan Dewa Yunani.
"Aku baik, Kai." Tatapan Ditya tertuju pada Kailla. Pria itu tertegun menatap wanita cantik yang menjadi cinta pertamanya.
Detak jantung ini masih sama. Bergemuruh hebat saat menatapmu, Kailla Riadi Dirgantara.
Ditya mengusap dadanya yang berpacu tak karuan. Buru-buru berdiri dan mengalihkan pandangannya. Ia menelan saliva saat mendapati Frolline tengah menatap tajam padanya.
"Aku permisi, Kai."
***
Fairmont Hotel selalu menjadi langganan Pram dan Kailla kala menghindar dari anak-anaknya. Di kamar ini keduanya bisa mengekspresikan diri tanpa takut de'sah dan era'ngan mengusik anak-anaknya.
"Sayang, sekali lagi." Napas pria setengah abad itu tersengal-sengal. Setelah sekian hari puasa, ia bisa merasakan hari kemenangan tanpa gangguan ketiga anaknya.
"Aku teringat anak-anak." Kailla berkata lirih.
"Mereka sedang mimpi indah. Ayo, jangan dipikirkan. Besok pagi bisa bertemu mereka lagi."
"Aku khawatir Tesla mencariku."
"Tidak akan, Sayang." Pram membujuk.
"Ini malam pertamanya di Jakarta. Aku khawatir." Kailla menarik selimut, menutupi tubuh polosnya yang berhias tanda kemerahan karena ulah sang suami.
"Tidak akan. Ayo," rengek Pram sembari melempar selimut sejauh mungkin.
Memulai kembali, ia bahagia saat Kailla melunak dan melingkarkan tangan ikut memeluknya. Wanita yang dicintainya itu mulai terbuai dan mengikuti arus yang diciptakannya. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Semuanya berantakan saat dering ponsel berbunyi.
"Sudah aku katakan. Tesla pasti menangis." Kailla menggerutu. Pram kesal sendiri saat tinggal selangkah lagi dan semuanya berantakan.
***
The end.
Ending ini adalah pembuka untuk dua karyaku yang lain. Perjodohan Abad 21 (26 bab ) dan Cinta Pertama Suamiku ( belum dirilis )
Terima kasih kepada pembaca setia Pram dan Kailla yang masih bertahan sampai selama ini. Dari season 1, 2, dan 3.
Silakan follow instagramku : casanova_wetyhartanto, untuk mengetahui kabar terbaru Pram dan Kailla. Aku menyelesaikan perjalanan kisah cinta mereka di sini. Aku harap masih bisa menggores kisah mereka suatu saat nanti, walau mungkin tak di sini lagi.
Aku mau istirahat sejenak dari Noveltoon. Karya baruku akan rilis bulan depan di Noveltoon. Silakan unfavorit bagi yang tidak sabar menunggu. Bagi yang setia bisa tetap favoritkan karya2ku. Aku akan berbagi kabar di lapak ini dan instagramku.
Love you all the time,
Pram & Kailla.