The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 46



Mobil yang dikendarai Bayu akhirnya masuk ke halaman RD Group. Terlihat kendaraan mewah itu berhenti di depan pintu utama untuk menurunkan dua orang penumpang di kursi belakang.


Pram turun sembari merapikan lengan kemejanya yang digulung sampai ke siku, menyusul Keisya turun dari pintu sisi lain dengan wajah kecewa. Gadis remaja berseragam putih abu-abu itu masih kesal karena rencana melihat hunian harus dibatalkan mendadak. Kailla yang tiba-tiba menghubungi Pram dan membuat rencana mereka berantakan.


"Ayo, Sya. Nanti makan siang di kantin kantor saja." Pram setengah berlari, masuk ke dalam gedung. Ia sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Kailla.


Melangkah masuk ke dalam, Pram kembali berbalik. Tatapannya tertuju pada Keisya yang berjalan menunduk, menyembunyikan perasaan kecewa.


"Ayo, Sya. Masih bisa besok-besok, kan?" Pram berbalik dan berjalan menghampiri remaja yang terlihat lesu. Ia paham, Keisya sedang kecewa dan tidak bisa protes.


"Ya, Om." Keisya mengangguk dan menunduk.


"Ayo, jangan seperti anak kecil. Kamu itu sudah dewasa."


Pram baru meraih lengan Keisya agar berjalan mengikuti langkahnya, tetapi dari arah pintu masuk terdengar suara Kailla.


"Sayang ...." Kailla menghambur, memeluk pinggang Pram tanpa peduli dengan keadaan di sekitarnya. Bahkan, ia mengabaikan Keisya yang tengah menatapnya tak berkedip.


"Kailla." Pram tergelak, mengusap lembut punggung Kailla yang tengah mendekapnya erat.


"Aku membawakan makan siang untukmu, Sayang." Kailla bergelayut manja di lengan Pram sembari menunjuk ke arah Sam yang tengah menenteng bungkusan makanan dan berjalan ke arah mereka.


"Hmm." Pram mencubit hidung lancip istrinya sampai memerah. Tanpa sengaja, ia menangkap sesuatu yang berbeda dari tatapan Keisya pada Kailla.


"Sya, ke atas temui Stella. Makan siang bersama Stella di kantin," titahnya, mengusir Keisya agar menjauh.


Kailla tersadar setelah mendengar ucapan Pram, ibu si kembar itu menoleh dan ikut memperhatikan Keisya yang tengah mematung.


"Sya, kamu di sini juga. Maaf, aku tidak membawakan makan siang lebih. Lain kali, ya." Kailla tersenyum, masih bersandar manja pada sang suami.


"Aku lupa, Sayang. Kenapa tidak mengingatkanku?"


"Tidak apa-apa. Yang penting kamu masih ingat pada suamimu," goda Pram, mengedipkan matanya. "Ayo temani aku makan siang, Kai." Pram melirik ke arah Keisya sekilas, kemudian menggenggam tangan Kailla untuk mengikuti langkahnya.


***


"Tadi ... kalian dari mana?" Kailla melangkah masuk ke dalam ruangan Pram sambil menenteng bungkusan makanan.


"Dari luar, jalan-jalan, berduaan, pacaran ...." Pram menjawab asal. Kedua tangannya tiba-tiba memeluk Kailla yang sedang sibuk membuka bungkusan makanan berisi ayam goreng mentega dan sayur buncis.


"Apa yang kamu bawakan untukku, Sayang?" tanya Pram, merebahkan dirinya di punggung istrinya. Tidak puas menempel manja, pria dewasa itu menyibak rambut panjang Kailla dan mengecup tengkuk mulus yang kini terekspos sempurna.


"Ah!" Kailla menggelinjang saat Pram memberi kecupan basah sembari meremas gundukan kembar yang sekarang lebih sering dikuasai si kembar.


"Kamu belum memompa asi untuk anak-anakku?" tanya Pram saat merasakan gundukan yang biasanya kenyal terasa lebih keras.


"Setelah makan siang." Kailla memukul pelan tangan Pram yang makin nakal dan berkeliaran di balik blus katunnya.


Jemari Pram sedang mengukir di kulit mulus Kailla tanpa permisi. Ia sangat menikmati desah bercampur protes manja istrinya.


"Sudah, makanan ini bisa tumpah. Makan sekarang!" Kailla memerintah setelah selesai menyajikan makan siang di atas meja kerja.


Pram sudah duduk kursi empuknya dan Kailla di seberang meja. Keduanya menikmati makan siang bersama sambil bersenda gurau dan berbagi kisah.


"Ke mana tadi? Kamu belum menjawabku, Sayang." Kailla kembali bertanya sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Tadinya mau lihat-lihat apartemen. Tidak jadi, Nyonya Pratama mengacaukan semuanya." Pram menyuapkan makanan terakhir ke dalam mulutnya. Ia ingat, belum bercerita mengenai keinginannya membeli apartemen atau rumah yang akan ditempati Keisya dan ibunya nanti.


"Oh, mau beli apartemen lagi?" tanya Kailla, bersikap biasa. Bukan hal aneh, Kailla tidak terkejut lagi. Sejak dulu, Pram sudah sering mengutarakan niat membeli apartemen.


Pram mengangguk.


"Di mana?" Kailla masih berbasa-basi.


"Kenapa jadi manja begini?" Kailla heran, tiba-tiba Pram memeluknya dari belakang. Pelukan erat sampai ia sulit bergerak.


"Entahlah ... aku merasa ada yang salah." Pram berbisik di telinga Kailla. Perasaannya masih tidak enak saat menangkap basah Keisya yang memandang istrinya dengan tatapan tak biasa.


"Masalah apa?" Kailla heran, segera melepas sendok dan garpu dari tangannya.


"Aku tidak tahu, tetapi perasaanku tidak tenang, Kai. Seperti ada ... entahlah. Sulit diungkapkan, Sayang." Pram menarik kursi dan duduk di samping Kailla.


***


Keesokan harinya.


Setelah sempat batal, akhirnya siang ini Pram dan Keisya mengunjungi apartemen yang disarankan Stella. Sebuah hunian yang terletak di pusat kota, strategis dengan fasilitas mewah dan keamanan berlapis.


Unit yang sedang ditunjukan oleh bagian marketing itu lumayan luas. Dengan dua kamar tidur, ruang tamu yang menyatu dengan ruang makan dan dapur. Di tambah lagi balkon yang menghadap langsung ke kolam renang dan taman.


"Aku suka, Om." Keisya dengan wajah berbinarnya buru-buru memeluk lengan Pram. Gadis remaja itu bersandar manja persis seperti yang dilakukan Kailla kemarin di depan matanya.


"Sya, jangan begini." Pram mengingatkan, mengurai belitan tangan Keisya yang mengunci lengan atasnya.


Keisya tertegun sejenak saat merasakan penolakan halus Pram. Ia merasa ada yang salah. Belakangan ini, ia sering berbagi kisah hidupnya dengan sahabatnya. Dan para sahabatnya itu menasehati dan mengajarinya banyak hal.


Namun, Keisya menemukan fakta yang berbeda dengan apa yang disampaikan sahabatnya yang lebih berpengalaman mengenai hubungan antara pria dan wanita. Pram bukannya bahagia, tetapi menolak. Tidak seperti dugaannya.


"Aneh?" Keisya membatin, memandang Pram yang kini menjaga jarak dengannya. Sebaliknya, Pram malah menyibukan diri berbicara dengan orang marketing sambil melihat ruangan yang lain.


"Bukannya menurut teman-temanku ... kalau Om Pram baik padaku pasti ada maunya. Seperti Om-om yang sering mendekati mereka. Dibayari makan, shopping dan setelah itu harus menemani Om-om itu bersenang-senang. Apalagi aku sudah diberi banyak, harusnya aku membayar banyak." Keisya bingung sendiri sekaligus kecewa saat mendapati reaksi Pram yang menolaknya.


Mengekor pergerakan Pram yang kini masuk ke salah satu kamar tidur, Keisya tersenyum saat melihat pria yang tadi menemani Pram berjalan keluar untuk menerima panggilan telepon.


Gadis itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ikut masuk ke dalam kamar, tiba-tiba Keisya memeluk Pram dari belakang.


Deg--


Pram yang sedang menatap pemandangan dari jendela kamar terkejut saat merasakan dua tangan mengunci pinggangnya dengan posesif.


"Sya, lepaskan Om. Jangan begini." Pram melepas paksa tangan Keisya yang membelit tubuhnya dengan erat.


Sejak awal, Pram sudah menaruh curiga pada Keisya. Ada yang salah dengan pikiran gadis remaja itu.


"Apa-apaan ini, Sya?" Pram berbalik dan menatap tajam gadis muda dengan rambut dikuncir kuda.


Keisya tidak menjawab, sebaliknya gadis itu menghambur memeluk Pram. "Om, terima kasih untuk semuanya." Dekapan Keisya makin erat, menempel rapat di tubuh Pram.


Dalam posisi seperti ini, Keisya bisa menikmati detak jantung Pram yang teratur saat membenamkan diri di dada bidang Pram. Aroma parfum mahal bercampur keringat, menciptakan sensasi yang memabukan. Keisya merasakan sesuatu yang berbeda saat bisa melakukan hal yang sama seperti Kailla lakukan.


"Pantas saja istrinya tergila-gila."


Rasa asing yang membuat nyaman dan terlindungi, Keisya hampir lupa diri. Ia baru tersadar saat Pram mendorongnya menjauh.


"Ada batasannya, Sya. Harus tahu di mana posisimu, Sya." Nada bicara Pram masih terdengar lembut tetapi penuh penekanan. "Om harap ... kamu tidak mengulanginya lagi." Pram menegaskan.


Ada kecewa saat kenyamanan itu harus berhenti begitu saja. Keisya tertunduk dengan tangan saling meremas. Ia baru sadar saat Pram memanggilnya dari pintu keluar.


"Ayo, Sya. Kita pulang ke kantor." Pram bicara seakan tidak terjadi apa-apa.


-


-


-