
Obrolan Kailla dan Stella terhenti saat terdengar suara langkah kaki berjalan mendekat. Keduanya sontak mengalihkan pandangan ke arah sumber suara.
"Sayang, kamu sudah selesai rapatnya?" Kailla berdiri. Ibu si kembar itu terpana pada sosok tinggi dan gagah yang berjalan di belakang suaminya.
"Ste, siapa dia?" bisik Kailla.
"Pak Panji. Panji Aksara Winata. Klien baru perusahaan kita, Nyonya." Stella menjawab tanpa melihat lawan bicaranya. Pandangan sang sekretaris juga tertuju pada titik yang sama. Pria tinggi, gagah dengan wajah rupawan yang tengah berjalan ke arah mereka, mencuri perhatian pada pertemuan pertama.
"Beruntung sekali istrinya," Kailla berkata spontan. Berbisik pelan, ia tidak mau suaranya terdengar oleh Pram. Kalau sampai suaminya mendengar, pria tua itu akan cemburu dan menggila. Ia bisa habis dilahap Pram sampai tak bersisa.
"Dia belum menikah, Nyonya. Masih sendiri. Dia sengaja meminta Pak Pram membangun hotel untuk melamar calon istrinya." Stella menjelaskan.
Sejak awal Pram bercerita, Stella sudah jatuh cinta pada sosok Panji. Pria bertangan besi, dingin dan tak tersentuh, tetapi bisa manis saat jatuh cinta.
"Dia teman baiknya Pak Wira. Dan bisa menghubungi Pak Pram atas rekomendasi Pak Wira" lanjut Stella berbisik pelan. Tidak mau suaranya terdengar saat langkah kaki dua pria tampan itu kian mendekat.
"Sayang, maaf membuatmu menunggu. Aku sepertinya tidak bisa makan siang bersamamu." Pram mengecup pipi Kailla sekilas. "Aku harus menemani klien ke lokasi sebelum memulai kerja sama ini," jelas Pram, merengkuh pinggang ramping Kailla dengan posesif.
"Ya, tidak apa-apa, Sayang." Pandangan Kailla tertuju pada Stella. Sekretaris suaminya itu memang terlihat menyukai Panji. Terlihat jelas dari cara memandang Stella yang penuh arti.
"Oh ya, kenalkan ... ini Pak Panji Akswin dari Aswin Group."
"Pak, ini istriku, Kailla Riadi Dirgantara," lanjut Pram.
Ragu-ragu, Kailla menyodorkan tangannya. Jantungnya berdetak kencang, saat melihat pria gagah itu menyambut uluran tangannya. Bukan apa-apa, seperti yang diceritakan Stella, pria itu dingin, kaku dan tidak ramah. Tidak ada senyuman di wajah tampannya. Apalagi dua pria berbadan kekar yang berdiri mengawal di belakangnya tampak menyeramkan, membuat Kailla bergidik ngeri.
"Panji Aksara Winata. Senang berkenalan denganmu, Nyonya." Suara maskulin itu terdengar begitu berwibawa, Kailla sempat dibuat tertegun saat pria itu berkenalan tanpa menatap ke arahnya.
"Kai ...." Kailla baru akan menyebutkan namanya, tetapi Panji sudah melepas genggaman tangan dan mengabaikannya. Bahkan pria itu mengubah topik pembicaraan.
"Kalau tidak keberatan ... bagaimana kalau kita makan siang bersama, baru setelah itu kita ke lokasi." Suara berat keluar dari pria gagah itu. Ia teringat dengan gadisnya yang ditinggal menunggu di mobil karena menolak untuk turun bersamanya.
"Ada calon istriku menunggu di mobil," jelas Panji.
Kata calon istri yang keluar dari bibir Panji membuat pundak Stella melemas. Kuncup di hatinya layu sebelum berkembang. Ia tahu sejak awal kalau Panji sudah memiliki kekasih, tetapi perasaan tidak bisa ditolak kapan akan datang dan pergi. Selama bekerja di RD Group, hanya sosok Panji yang sanggup menggetarkan hatinya. Sayangnya, pria itu sudah memiliki tambatan hati. Ia harus siap menerima kecewa untuk kedua kali setelah ditinggal David menikah.
"Baiklah. Aku tidak masalah. Ayo, Sayang. Ikut denganku," ajak Pram.
Kailla mengangguk. Sosok Panji Aksara Winata sanggup mengalihkan kegusarannya akan Keisya. Sejenak, ia melupakan gadis remaja yang katanya sedang menjadi perbincangan semua orang. Ia belum memikirkan apa yang akan dilakukannya ke depan, tetapi ucapan Stella cukup membuatnya berpikir ulang. Bagaimana pun, ia akan mencari tahu apa yang terjadi di antara Keisya dan suaminya.
***
Berjalan di belakang Pram sembari menggenggam tali tas yang menggantung membelah dadanya, Kailla menatap punggung pria asing yang tengah berbincang dengan suaminya.
"Stella pasti menggila di meja kerjanya. Dia memang tampan. Lebih tampan dari Dewa Yunani." Kailla membatin.
Ibu muda itu berbalik ke belakang, beradu pandang dengan dua bodyguard menyeramkan.
"Aku pikir hidupku sudah menyedihkan. Hidup calon istrinya pasti lebih menyedihkan. Setidaknya Pram masih memberiku asisten yang ketampanannya di atas rata-rata." Kailla menggeleng, membayangkan dikawal oleh pria seram berbadan kekar dengan tato di mana-mana.
Sampai di parkiran, Kailla kian dibuat terperanjat saat melihat wajah dingin Panji sedikit mencair. Pria itu terlihat menggeser pintu mobil dan memanggil seseorang untuk keluar.
"Ilen ... bangun, Sayang." Panji berdiri di samping mobil. Sebagian tubuhnya masuk ke dalam untuk membangunkan seseorang yang terlelap.
Kailla mengulum senyuman, teringat akan dirinya yang sering tertidur di mobil. Tak lama, ia melihat seorang gadis cantik turun dengan wajah bantal dan rambut sedikit berantakan. Gadis sederhana yang diperkirakan usianya masih belasan tahun.
"Kenalkan ... calon istriku, Ellena Sandra." Panji tersenyum menatap gadis di sampingnya. Jemari panjangnya tengah merapikan rambut panjang bergelombang sang calon istri.
Senyuman pertama Panji yang tertangkap Kailla. Di saat itulah, ia baru mengerti arti kata limited yang diutarakan Stella padanya.
"Ya Tuhan, pantas saja Stella tergila-gila. Senyuman itu memang limited. Kalau suamiku ditukar tambah dengannya. Pasti aku harus menambah banyak." Tawa Kailla pecah seketika. Buru-buru ia menutup mulutnya saat Pram menatap tajam padanya.
Andai Pram tahu apa yang dipikirkannya, Kailla yakin suaminya akan mengamuk.
"Jangan coba-coba menukarku dengan pria lain, Sayang. Aku tidak akan tergantikan," bisik Pram, mengecup pucuk kepala Kailla dan mendekap istrinya tiba-tiba.
"Aku tidak seperti itu." Kailla cemberut.
"Ayo masuk ke mobil," ajak Pram, menggandeng tangan Kailla.
"Pak Panji, kita bertemu di restoran, ya," pamit Pram, bergegas menuju ke mobilnya.
***
Dalam perjalanan menuju restoran, Kailla lebih banyak diam. Ia tengah merenungi ucapan Stella. Walau kepercayaannya begitu besar pada Pram, tetapi apa yang disampaikan Stella ada benarnya juga. Ia tidak mungkin mengabaikannya begitu saja.
"Sayang ...."
"Hmm," gumam Pram, bersandar memejamkan matanya di samping Kailla.
"Apa ... kamu membeli apartemen lagi?" tanya Kailla.
"Ya."
Kailla menoleh ke samping, memandang suami yang kini tengah melepas lelah dengan mencoba beristirahat.
Kailla tampak berpikir, bibirnya sudah ingin mencecar Pram dengan banyak pertanyaan yang menyesak sejak tadi, tetapi diurungkannya.
"Kalau aku bertanya terang-terangan, suamiku ini pasti akan memberi jawaban yang membuatku tak berkutik. Lalu, dia akan mencurigaiku mengetahui sesuatu tentang hubungannya dan Keisya. Dan, Pram pasti akan lebih waspada. Bagaimana aku bisa menemukan buktinya kalau suamiku memiliki hubungan dengan anak magang itu. Sebaiknya, aku pura-pura tidak tahu dan mencari bukti diam-diam." Kailla tersenyum manis.
"Sayang, pinjamkan aku ponselmu. Ponselku kehabisan baterai."
Tanpa banyak drama, Pram mengeluarkan gawai dari saku celananya.
"Ini," sodor Pram dan melanjutkan tidurnya. Pria itu tidak tahu kalau saat ini Kailla sedang mengobrak-abrik ponselnya.
Jemari Kailla mulai berselancar, menelusuri semua yang ada di dalam ponsel. Dari pesan masuk sampai daftar panggilan. Tidak ada yang mencurigakan, semuanya aman terkendali. Pesan masuk tidak ada yang aneh, daftar panggilan pun aman. Beralih ke aplikasi obrolan berlogo hijau, Kailla tidak menemukan apa pun di sana Hanya obrolan grup teman SMA Pram dan beberapa teman kuliah yang menanyakan kabar.
"Apa yang kamu cari, Kai?" tanya Pram tiba-tiba. Pria 45 tahun itu merebahkan kepalanya di pundak sang istri.
Kailla tersentak. "Ti ... tidak ada apa-apa. Aku hanya ...." Lidah Kailla kelu, tidak bisa menjawab.
"Tanyakan padaku apa yang ingin kamu tanyakan, aku akan menjawab semua penasaranmu." Pram menegakan duduknya. Pria itu tersenyum, merengkuh pundak Kailla dan membawanya ke dalam dekapan hangatnya.
Kailla diam, menikmati detak jantung Pram yang teratur.
"Apa yang ingin kamu ketahui?" tanya Pram lagi.
Kailla menggeleng.
"Kalau tidak ada ... cium aku sekarang," pinta Pram.
Bugh! Pukulan mendarat tepat mengenai dada Pram, pria itu tergelak saat melihat Kailla menengadah dan menatap tajam ke arahnya.
"Ada Bayu!" gerutu Kailla, melirik ke arah Bayu yang sedang menggenggam erat kemudi.
"Biarkan saja. Aku akan memintanya menutup mata saat kamu menciumku," tawar Pram.
"Jangan gila."
Bola mata Kailla kian membulat saat Pram tiba-tiba mencium bibirnya tepat setelah ia menyelesaikan ucapannya. Mengecup dengan lembut dan dalam, membuat Kailla terseret dalam perlakuan manis suaminya.
Kedua tangan Kailla sudah bergelayut manja di leher sang suami saat Pram bersuara di sela ciumannya.
"Apa yang ingin kamu tanyakan ... ayo tanyakan padaku. Aku tahu, perasaanmu sedang mengambang saat ini," bisik Pram, mengeratkan dekapan pada istrinya.
***
Panji dan Ellena di judul Manisnya Cinta di Penghujung Dendam.