
“Keisya menciumku saat aku memeriksa interior sebelum kepindahan Keisya dan ibunya ke apartemen.” Pram masih bersimpuh sambil menggenggam tangan Kailla.
Plak!
Baru saja menyelesaikan kalimatnya, Pram sudah dihadiahkan sebuah tamparan keras di pipi.
“Maaf.” Pram menatap sedih sembari menikmati sensasi perih di pipinya. Kailla memukul wajahnya dengan kencang.
“Aku tidak suka milikku disentuh orang lain.” Kailla menangis untuk pertama kalinya. Sejak mendengar kenyataan menyakitkan itu, Kailla melampiaskannya dengan bersikap kasar pada Pram dan Keisya, tetapi saat ini ia menumpahkan perasaan kecewanya melalui air mata.
“Kamu lebih mengetahui sakitnya saat milikmu disentuh orang lain. Harusnya kamu tahu jelas ... sakit yang aku rasakan sekarang.”
“Maafkan aku, Kai. Aku tidak bermaksud untuk ....” Pram baru akan menghapus air mata yang jatuh di pipi Kailla, tetapi istrinya itu sudah mengangkat tangan dan memintanya untuk tidak melanjutkan.
“Setahun yang lalu ... aku pernah bersalah padamu. Aku tahu sekarang bagaimana rasanya mengetahui orang yang dicintai, disentuh orang lain. Kalau Tuhan ingin menghukumku dengan cara yang sama, aku terima. Namun, aku tidak bisa memaafkanmu semudah itu,” ungkap Kailla kecewa.
“Kamu ingin balas dendam padaku ... karena aku berciuman dengan Ditya Halim Hadinata? Kamu ingin membalasku ... karena aku berkhianat darimu dan berselingkuh dengan Ditya Halim Hadinata?" tanya Kailla berlinang air mata.
“Sstt.” Pram buru-buru memeluk Kailla. Pria itu mengabaikan penolakan istrinya.
“Aku mohon jangan mengingatnya lagi. Aku sudah melupakannya. Masalah Keisya tidak ada hubungannya dengan kesalahanmu dulu. Aku benar-benar tidak ingin membalas dendam. Ini murni ....” Pram mengeratkan pelukannya. Ia bisa merasakan Kailla berguncang. Tangisan istrinya makin kencang.
“Lepaskan aku!” titah Kailla, mendorong kasar tubuh suaminya.
“Kai, jangan marah lagi. Ini murni hanya kekhilafan Keisya. Dia hanya salah memahami perasaannya dan salah mengartikan perhatianku pada keluarganya.”
“Aku tidak peduli dengan perhatianmu pada Keisya dan ibunya. Aku tidak mempermasalahkan berapa pun yang kamu beri untuk mereka. Aku sangat mengerti atas dasar apa kamu melakukannya. Aku kecewa karena kamu tidak bisa menjaga dirimu sampai bisa disentuh wanita lain,” ungkap Kailla, menatap sedih ke arah suaminya.
“Maafkan aku, Kai.”
“Kemarin ... aku masih menganggapnya gadis kecil yang butuh kasih sayang, sekarang aku tidak bisa lagi berpikir seperti itu. Dia wanita yang menginginkan lebih dari suamiku. Dia wanita yang ingin merusak rumah tanggaku.” Kailla menegaskan.
“Ceritakan padaku, apa lagi yang sudah dilakukannya padamu?” cerocos Kailla.
“Sayang, jangan begini. Aku memang sedikit tidak tegas dalam hal ini sampai bisa menyentuhku dan kecolongan. Aku tidak menyangka kalau Keisya seberani itu, Kai,” ungkap Pram, menyesal.
“Cukup! Katakan saja apa yang belum aku tahu. Jangan sampai aku mengetahuinya dari orang lain ... dan aku akan menghabisimu saat itu terjadi,” ancam Kailla.
“Apa saja yang telah kamu berikan padanya tanpa sepengetahuanku.”
“Tidak ada, Kai. Aku tidak pernah memberi sesuatu diam-diam tanpa sepengetahuanmu,” tegas Pram.
“Tidak ada lagi selain uang saku, tempat tinggal, ponsel, uang bulanan untuk ibunya?” tanya Kailla.
“Tidak ada, Sayang.”
“Hanya makan siang bersama. Ada lagi?” tanya Kailla masih mencari tahu.
Pram terlihat berpikir. Bingung harus jujur atau tidak saat Keisya memeluk dan menciumnya, gadis itu juga sudah setengah telanjang. Kejujurannya pasti akan berakhir petaka. Andai ia tidak jujur, mungkin masih bisa selamat jika kebenaran itu tidak terungkap.
Pram menghela napas berat. “ Keisya pernah setengah ... melepas pakaiannya di depanku. Hanya ....”
Plak!
Tamparan kedua mendarat di pipi Pram, melengkapi tamparan sebelumnya.
“Kamu menyembunyikannya dariku?” tanya Kailla. Binar kekecewaan tampak kian nyata. Ibu si kembar berdiri, tangannya terkepal menahan amarah.
“Aku kecewa padamu, Sayang. Siapkan uang tunai untukku 100 juta. Aku akan membuat perhitungan dengan anak itu. Dia tidak tahu sedang menabuh genderang perang dengan siapa.” Kailla berjalan keluar dari ruangan.
“Kai, jangan begini. Aku yang salah. Jangan lakukan apa pun padanya. Aku janji akan menjaga jarak darinya.” Pram berusaha menghentikan.
Kailla baru saja meraih gagang pintu, emosinya memuncak saat mendengar Pram memohon untuk Keisya.
“Kamu membelanya?” tanya Kailla dengan mata memerah. Amarah yang sempat reda kini memuncak kembali.
Pram menggeleng. “Tidak, Sayang. Aku hanya menjagamu. Aku tidak mau ... istriku melakukan sesuatu di luar batasannya dan harus berakhir ....”
“Jangan khawatir. Aku tidak bodoh!” tegas Kailla. “Siapkan uangnya atau aku akan meminta pada Pieter.” Kailla memberi pilihan.
“Sayang, kamu mau apa? Tolong jangan berlebihan. Kasihan ibunya sakit-sakitan. Dia sudah tidak punya siapa-siapa. Remaja seperti itu harus dididik bukan dikasari.”
“Cukup! Kamu jangan pernah melangkah masuk ke dalam kamar. Silakan tidur di mana pun yang kamu mau, tetapi tidak di kamarku dan anak-anak!” tegas Kailla.
Baru berjalan keluar beberapa langkah, Kailla kembali memerintah.
“Aku ingin uang itu ada di kamarku besok saat aku membuka mata. Tidak peduli bagaimana kamu mendapatkannya. Oh ya, kirimkan alamat apartemen dan nomor unitnya padaku. Aku akan mengajarinya bagaimana menjadi seorang wanita.”
***
Pagi-pagi sekali, Pram sudah bangun. Semalaman pria itu tidak bisa tidur. Bukan karena tidak terbiasa dengan ruang kerjanya, tetapi ia mengkhawatirkan Kailla. Entah apa yang akan dilakukan istrinya pada Keisya, Pram tidak berani bertanya atau menolak permintaan Kailla yang hanya akan membuat ibu si kembar semakin meradang.
“Bay, tolong bertukar tempat dengan Sam hari ini. Aku tidak tenang meninggalkan Kailla bersama Sam. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan istriku pada Keisya, tetapi aku yakin pasti bukan hal yang baik. Aku mengkhawatirkan Kailla, Bay,” titah Pram sembari menenteng tas hitam berisi uang yang baru dikirim bagian keuangannya melalui sopir kantor.
“Apa masih belum selesai, Bos?” tanya Bayu heran.
Pram menggeleng. “Kailla tidak akan semudah itu mereda. Kamu tahu sendiri bagaimana sifat Kailla.”
“Pastikan istriku tidak sampai memukul atau menyakiti Keisya. Aku benar-benar takut, Bay. Kailla di posisi benar, tetapi saat ia berani mengangkat tangan dan memukul Keisya, akan ada celah untuk orang lain menghancurkan istriku. Aku tidak mau itu,” ungkap Pram, menghela napas lelah.
“Bos tidak ikut?”
Pram menggeleng. “Kalau aku berani melibatkan diri, Kailla akan semakin menjadi. Laporkan semuanya padaku, Bay.” Pram menyerahkan tas hitam pada Bayu. “Berikan pada Kailla. Kalau dia bertanya, katakan aku sudah berangkat ke kantor.”
Bayu terkejut. “Bos mau ke kantor sepagi ini?” tanyanya.
“Ya, aku harus menghindar sementara. Istriku pasti akan emosi setiap melihat wajahku,” ungkap Pram.