The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 57



"Kai, jangan begini. Aku mohon dengarkan penjelasanku." Pram masih berusaha mencegah pergerakan Kailla yang hendak keluar dari ruangannya.


Pria dewasa itu tidak mau menyisakan salah paham berkepanjangan tanpa penyelesaian. Ia tidak ingin rumah tangganya berantakan untuk hal-hal seperti ini.


"Kai, kamu mau ke mana, Sayang?" tanya Pram. Tidak sanggup mencegah Kailla, ia berusaha menahan pintu yang baru saja dibuka Kailla. Ia lupa mengantongi anak kunci dan membiarkannya menggantung di pintu begitu saja.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Aku juga sedang tidak ingin bicara denganmu. Aku sudah jelas semuanya. Apa pun yang ingin kamu jelaskan untuk membela diri dan mencari pembenaran, faktanya bibir ini sudah disentuh wanita lain. Aku tidak suka itu," cerocos Kailla sembari meremas kasar bibir Pram.


Wajah ibu si kembar itu cemberut, mata membulat dengan napas memburu menahan kesal, kecewa dan amarah.


"Kai, aku mohon dengarkan aku, Sayang. Semua tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku tidak memiliki perasaan apa-apa padanya. Aku mencintaimu, mencintai anak-anak kita. Sudah tidak ada lagi tempat untuk yang lain. Coba kamu lihat sendiri isi hatiku. Bahkan mamaku berdiri di luar karena tidak ada tempat kosong lagi di hatiku." Pram menahan senyuman sembari mengusap dadanya sendiri. Ia sedang berusaha merayu Kailla.


"Sayang, Cukup! Aku sedang tidak ingin mendengarkan penjelasanmu. Satu hal, aku kecewa padamu." Kailla mengarahkan telunjuknya tepat ke wajah Pram. Tidak ada senyum merekah di paras cantik Kailla.


"Sayang, dengarkan aku. Kamu tidak bisa merasakannya, kah?" Pram meraih tangan Kailla dan membawa ke dadanya sendiri.


"Coba kamu rasakan, Sayang. Aku serius. Di dalam sini, hanya ada namamu dan anak-anak. Denyut jantung ini menyerukan namamu di setiap detaknya."


"Baiklah, aku tidak sepeka itu. Aku akan membuktikannya sendiri. Lepaskan aku sekarang. Biarkan aku keluar!" titah Kailla dengan binar amarah yang belum reda di matanya.


"Mau ke mana, Sayang?" Pram bertanya sembari berdiri di tengah pintu. Ia tidak mengizinkan Kailla melangkah sedikit pun dari ruangannya.


"Mau ke pantry. Aku harus mencari belati, pisau, golok atau sebangsanya. Aku akan memastikan sendiri kalau memang hanya ada aku dan anak-anak di hatimu. Bahkan Mama mertuaku saja berdiri di luar karena tidak kebagian tempat. Aku akan membuktikannya dengan mata kepalaku sendiri. Aku tidak percaya lagi dengan kata-kata manismu. Aku bukan Kailla yang dulu, aku bukan semut yang bisa hanyut hanya dengan kata-kata manis dan gombalanmu. Menyingkir sekarang!" Kailla berteriak sambil mendorong kasar sang suami.


Melihat itu, Pram buru-buru menahan daun pintu yang sudah terbuka setengah.


"Sayang, aku mohon. Jangan seperti ini." Nyali pria itu menciut saat memastikan Kailla sudah terbakar.


"Menyingkir, Sayang! Kalau tidak aku akan memukulmu lagi," ancam Kailla.


"Tidak. Kamu tidak boleh ke mana-mana sampai amarahmu reda. Lampiaskan padaku. Boleh memukulku, boleh mencaci maki suamimu. Tapi ... jangan lampiaskannya pada ... orang lain." Pram terbata. Ia tidak mau Kailla salah sangka dan mengira ia membela Keisya.


Kailla menatap tajam.


"Bukan begitu, Sayang. Aku tidak mau ... kamu memukulnya, menyakitinya. Kalau sampai dia melaporkanmu ke polisi karena kasus penganiayaan dan Kailla-ku dipenjara ... bagaimana nasibku dan anak-anak, Sayang. Di mana lagi ... aku mencari istri cantik dan menggemaskan seperti ini," rayu Pram sembari menahan pintu.


"Singkirkan tanganmu sekarang, Sayang. Kalau tidak ... aku akan menggigitnya sampai putus." Kailla kembali mengancam.


"Sayang ...."


"Kamu tenang saja. Aku harus berpikir tenang untuk mencari cara menghancurkan kalian berdua bersamaan. Aku tidak sebodoh itu!" tegas Kailla, menghempas kasar tangan suaminya dan bergegas keluar.


Pram menyusul.


"Sayang, maafkan aku," ujarnya berusaha menyesuaikan langkah kakinya dengan sang istri.


Kailla hanya mendengus dan berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan suaminya.


Saat keduanya berada di depan lift, kembali Pram membujuk. Bagaimanapun, ia harus menyelesaikan kesalahpahaman ini secepatnya dan tak mungkin membuatnya berlarut-larut.


"Sayang, jangan marah lagi." Pram mendekap pundak Kailla.


"Lepaskan, Sayang!" titah Kailla dengan wajah asam.


"Sayang ...."


"Le ...." Kailla tidak melanjutkan kata-katanya. Pintu lift terbuka dan muncul Stella dengan senyum manisnya.


"Siang, Nyonya." Stella menyapa dengan ramah. Sekretaris itu menatap Pram dan Kailla bergantian, seolah bisa membaca ada masalah di antara keduanya.


"Ya, Ste." Kailla tersenyum untuk pertama kalinya sejak menginjakan kaki di kantor RD Group.


"Ste, tolong minta karyawan pantry membereskan ruanganku. Ada makanan tertumpah." Pram bersikap biasa, menyembunyikan pertengkarannya. Tangan kanannya dengan cepat memeluk pinggang ramping Kailla. Pram benar-benar memanfaatkan keadaan. Kehadiran Stella membuat istrinya melupakan kemarahan sejenak.


"Ya, Pak." Stella menahan pintu lift agar tetap terbuka.


"Makan siang yang dibawa istri kesayanganku tertumpah." Pram kembali melancarkan rayuan disertai kecupan di pipi Kailla.


Stella mengernyit heran. "Bagaimana bisa?"


"Sayang, ayo kita masuk," ajak Pram sembari menggenggam erat tangan Kailla. Ia tidak mau memperpanjang masalah di depan sekretarinya.


"Ste, tolong batalkan semua janjiku hari ini. Aku akan menemani Kailla." Pria itu masih sempat mengirim senyuman manis sebelum pintu lift tertutup rapat.


***


"SAM!' teriak Kailla saat berada di parkiran.


"SAM!"


"Kai, jangan begini. Malu dilihat security." Pram menciut saat amarah Kailla kembali. Sepanjang perjalanan menuju ke parkiran, Kailla terlihat manis dan menurut. Namun, istrinya kembali berulah saat tidak ada karyawan.


"Kai."


"Diam! Tutup mulutmu, Sayang!" perintah Kailla.


"Sayang ...."


"Diam!" teriak Kailla makin kesal.


Dari kejauhan terlihat Sam berlari menghampiri. Asisten merangkap sopir itu tampak berusaha datang ke hadapan majikannya secepat kilat, bahkan ia masih mengunyah sambal hati ampela dan menggenggam kerupuk kulit di tangannya.


"Ya, Non." Sam menelan makanan di dalam mulutnya dengan susah payah. Napas pemuda itu memburu, nyeri di ulu hati karena berlari dengan perut terisi penuh.


Dari nada bicara Kailla, asisten itu tahu kalau majikannya sedang tidak baik-baik saja. Siap meledak sewaktu-waktu dan sulit dijinakan meski oleh tim gegana sekalipun.


"Panggilkan Bayu. Aku mau minta kunci mobil kesayangan suamiku."


Deg--


Pram dan Sam saling berpandangan, bicara lewat tatapan mata. Tidak ada seorang pun yang berani bersuara.


"SAM!" tegur Kailla mulai kesal.


"Untuk apa, Non? Aku asistenmu, bukan Bayu. Ayo kita pulang ... aku antar, ya." Sam yang mulai paham situasi setelah membaca kedipan mata Pram segera mengatasi keadaan.


"Aku mau menyetir mobil suamiku sendiri. Panggilkan Bayu. SE ... KA ... RANG!" titah Kailla.


"Kai, aku mohon jangan seperti ini." Pram berusaha menenangkan istrinya.


"Kamu tidak perlu mengurusiku lagi. Urusi saja kekasihmu, pacarmu, atau apalah itu namanya. Mulai sekarang kita jalan masing-masing!" tegas Kailla. "Silakan lindungi pacar kecilmu."


"Hah? Pak Pram pacaran?" Kata-kata itu keluar tanpa sengaja dari bibir Sam.


"SAM!"


"SAM!"


Kailla dan Pram berteriak bersamaan diiringi tatapan tajam mematikan.


"Cepat, panggilkan Bayu untukku," titah Kailla.


"Kamu berani berpindah selangkah saja dari tempatmu sekarang ... aku pastikan akan memecat Kinara dan Binara bersamaan." Pram mengancam seperti biasanya.


Deg--


Sam menelan saliva, lidahnya kelu. Asisten itu tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi amarah Kailla tak terbendung, di sisi lain ia tidak bisa berpisah dengan dua pengasuh si kembar.


"Pilih panggilkan Bayu untukku atau memukul Pak Reynaldi Pratama ini untukku?" Kailla memberi pilihan.


"Hah?" Sam terbelalak saat kondisinya makin terjepit. Kailla memberinya pilihan yang sulit. Lebih sulit dari pilihan Pram.


"Kalau tidak mau memanggil Bayu, silakan pukul suamiku sampai babak belur. Sampai dia gegar otak dan melupakan ja'lang kecilnya!" titah Kailla.


***


Untuk jadwal up, info tentang novel bisa masuk ke grup chat, ketik PRAM atau bisa follow ig casanova_wetyhartanto.