The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 68



Tas hitam itu disodorkan Ibu Keisya di hadapan Kailla dan Pram. Kemudian wanita tua itu menunduk, tidak berani memperlihatkan wajahnya di depan kedua tamunya.


“Ini uang Ibu Kailla. Ibu tidak tahu jelas jumlahnya, tetapi semua sudah dimasukkan dan disusun kembali oleh Keisya. Semoga tidak berkurang." Ibu Keisya melirik ke arah tamu yang tengah duduk bersisian di sofa ruang tamu.


Pram melirik Kailla sejenak, kemudian beralih pada wanita berusia senja yang tampak lebih kurus dibandingkan pertemuan terakhir mereka.


“Ya.” Singkat, padat, jelas dan tidak bermakna apa-apa. Kailla hanya mengeluarkan satu kata yang tidak menunjukkan sikap yang akan diambilnya ke depan.


“Bu Kailla ....” Suara Ibu Keisya terdengar bergetar. Ia berusaha menguatkan dirinya. Malu, tentu saja rasa itu mendominasi saat ini. Bahkan, sebelum bertemu pasangan suami istri Pratama yang kini duduk di hadapannya, Ibu Keisya sudah menebalkan muka demi masa depan putrinya.


“Ibu ... minta maaf. Ibu sadar selama ini belum mendidik Keisya dengan benar. Sampai-sampai anak itu tidak tahu bagaimana harus bersikap. Ibu benar-benar minta maaf.”


Kailla diam, demikian juga Pram. Keduanya menatap ke arah yang sama. Ibu Keisya menahan tangis, berusaha terlihat tegar.


“Ibu mohon, Pak Pram dan istri bersedia memaafkan dan memberi Keisya kesempatan. Ibu berjanji akan mengawasinya dan tidak membiarkan Keisya membuat masalah lagi.”


“Sekarang, Keisya sudah tidak bisa diajak bicara. Selama seminggu ini, Ibu membujuk agar dia mau bersekolah lagi seperti biasa. Ke kantor lagi, menyelesaikan magangnya, tetapi ....” Jeda sejenak, tangan wanita tua itu terlihat mengusap pipi keriputnya yang basah oleh air mata.


Kailla menyimak, Pram tidak mengeluarkan suara sama sekali. Ia tidak mau membuat istrinya murka dengan sepatah kata yang keluar dari bibirnya.


“Dia baru 17 tahun ... masa depannya masih panjang. Tolong kasihani, Pak, Bu,” lanjut Ibu Keisya. Suaranya terdengar semakin pelan, wajah renta itu pun makin tertunduk.


“Ibu berharap, Keisya bisa melanjutkan kuliah seperti anak-anak remaja lainnya. Untuk itu, Ibu sanggup meminta maaf atas nama Keisya ... kalau memang diperlukan.” Tiba-tiba wanita berusia senja itu berdiri, berjalan tertatih-tatih dan berlutut memohon.


Wajah keriput berlinang air mata itu tampak begitu memelas, memohon dengan tulus.


“Pak, Bu, mohon ampuni putriku. Tidak masalah ... kalau kami harus kembali ke rumah kontrakan yang lama. Tidak masalah kalau uang bulanan ditiadakan. Ibu akan berusaha bekerja lagi jadi buruh cuci. Sebelum ini, ibu juga mengais rezeki dengan tangan ibu ini untuk membantu ekonomi keluarga. Yang terpenting, Keisya diizinkan sekolah dan melanjutkan kuliah seperti janji Pak Pram sebelumnya. Tolong maafkan, Keisya.” Wanita tua itu baru akan mencium kaki Kailla saat terdengar suara Keisya yang menghentikannya.


“Ibu jangan lakukan itu,” pekik Keisya. Gadis remaja itu tampak kurus dan berantakan. Wajahnya pucat dengan tulang pipi menonjol.


Kailla dan Pram tersentak, keduanya mengalihkan pandangan ke arah Keisya yang tengah berdiri di tengah pintu kamarnya.


“Ibu jangan lakukan itu. Aku akan meminta maaf untuk kesalahanku sendiri. Aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku sendiri.” Keisya berjalan mendekat, dan berlutut mencium kaki Kailla.


“Sudah! Jangan menyentuhku!” Kailla tiba-tiba berdiri. “Aku anggap masalah ini selesai sampai di sini. Mulai hari ini semua keperluanmu, kebutuhanmu, dan keluargamu harus melalui aku, bukan suamiku lagi.” Kailla menegaskan.


Keisya mengangkat pandangannya, menatap Kailla yang berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Istri Reynaldi Pratama itu bahkan tidak mau memandang ke arahnya.


“Aku sudah memaafkanmu. Jangan coba-coba mengulanginya lagi kalau tidak mau berurusan denganku. Aku akan melakukan hal yang lebih mengerikan dari sekarang. Kalau kamu berani mengganggu suamiku, kupastikan ... kamu akan memilih mati dibandingkan bernapas.” Kailla mengancam.


“Aku, Kailla Riadi Dirgantara ... tidak takut dengan apa pun. Mulai sekarang, kalau kamu berani mendekati suamiku, aku pastikan akan menghancurkanmu sampai tak bersisa. Aku lebih mengerikan dibanding yang kamu bayangkan selama ini.”


“Terima kasih,” ucap Ibu Keisya, tersenyum di sela tangisnya. Begitu juga dengan Keisya, gadis itu menangis sembari tersenyum.


“Terima kasih.”


“Aku permisi.” Kailla berjalan keluar tanpa menunggu Pram. Ia tidak mau terlalu lama berada di sana. Kemarahan dan rasa ibanya tampak begitu kompak, saling bicara dan berlomba-lomba memengaruhi perasaan dan hatinya.


Pram tersenyum, menyambar tas berisi uang dan menyusul langkah istrinya.


“Aku permisi. Mulai besok, kembalilah ke kantor seperti biasa. Kailla sudah memaafkanmu,” ucap Pram berlari keluar agar tidak kehilangan jejak istri manja kesayangannya.


Pria dewasa itu merasakan embusan angin segar setelah hampir seminggu kehilangan pelukan Kailla dan harus tidur sendirian di ruang kerjanya.


“Kai ....”


“Kai ....”


“Sayang, tunggu aku.” Pram memeluk erat pinggang Kailla dari belakang begitu berhasil menyusul istrinya.


“Sayang, terima kasih. Aku janji ... tidak akan membuatmu kecewa lagi. Aku janji ....” Pram tidak melanjutkan kalimatnya, Kailla memotong dan bersuara.


“Aku sudah memaafkan Keisya ... karena aku kasihan pada ibunya. Aku tahu ... masa depannya masih panjang. Kalau aku membiarkan dia dan ibunya berkeliaran di jalanan, aku juga merasa bersalah.”


“Apalagi ... uang yang dikeluarkan untuknya itu tidak ada artinya untuk kita. Anggap saja aku berbuat baik dan menjadi amal untuk anak-anakku nanti.”


Pram tersenyum, pelukan di pinggang Kailla semakin erat. Terbayang, nanti malam ia sudah bisa bermesraan dengan istrinya, berpelukan dan berbagi kehangatan di atas tempat tidur. Ia sudah merindukan semua itu. Namun, kalimat Kailla selanjutnya membuat semua mimpinya hancur berantakan. Kuncup di hatinya belum sempat berkembang, tetapi sudah layu dengan kalimat sederhana dari bibir Kailla dan membuatnya melemas di tempat.


“Jangan bahagia dulu. Aku memaafkan Keisya, tetapi aku belum bisa memaafkanmu. Lepaskan tanganmu dari tubuhku!” titah Kailla, membuat Pram terkejut.