
Mengendarai Bentley kesayangannya, Pram menghentikan laju sedan hitamnya itu tepat di depan hunian dua lantai, kompleks perumahan mewah di Selatan Jakarta. Sepi, itulah kesan pertama yang ditangkapnya saat turun dari mobil dan tak menemukan siapa pun.
Senja hampir terhempas, malam perlahan datang, Pram dengan wajah berhias lelah dan putus asa berjalan menuju beranda rumah. Ditekannya bel pintu berulang kali. Ia berharap semakin sering menekan, makin cepat pula penghuni rumah membukakan pintu untuknya.
Ia sudah tidak sabar menemui Reino dan bertanya kabar. Istri dan anaknya butuh uluran tangannya secepatnya. Tidak mungkin membiarkan Kailla dan Kentley berada terlalu lama di tangan penculik. Keselamatan keduanya sedang terancam.
Jemarinya kembali menekan bel pintu. Kali ini tanpa jeda. Ia yakin, penghuni rumah akan muak mendengarnya. Benar saja, seorang gadis manis yang wajahnya serupa dengan Keisya muncul dari balik pintu.
“Mau cari siapa?”
“Reino.”
“Sudah membuat janji dengan ayah?” tanyanya mengerutkan dahi.
“Sudah. Katakan pada ayahmu, kalau suami keponakannya sedang berdiri di depan pintu.” Pram menegaskan.
Berbalik tanpa mempersilakan masuk, gadis itu membiarkan Pram menunggu di tengah pintu.
“Ckckck. Kenapa mereka serupa dengan istriku semua.” Pram menggeleng.
Di tengah penantiannya, tampak pria tua berjalan mendekat. Langkahnya tertatih-tatih dengan sebuah tongkat di tangan. Tidak terlalu tinggi, tubuh sedikit gempal.
“Pram?” sapanya saat jarak tinggal beberapa langkah.
“Ya.” Jawaban singkat pria putus asa itu terdengar pelan.
“Masuk. Ada yang bisa aku bantu?” Reino mempersilakan. “Panggil aku, Om Reino. Sama seperti Ditya Lim,” pintanya.
“Baik, Om.” Pram melangkah masuk, mengekor langkah pria tua di depannya.
“Bagaimana?” Reino duduk sembari menggenggam erat tongkatnya.
“Istri dan anakku menghilang. Diculik. Kami mencurigai keterlibatan Wiraguna.”
Reino menelan saliva. Rasa bersalah terpancar dari matanya yang tiba-tiba berkaca-kaca.
“Maafkan aku. Semua bermula dariku.” Reino tertunduk.
“Semula berawal dariku. Tapi, aku benar-benar tidak tahu kalau istrimu adalah keponakanku. Aku tidak menyangka kalau bayi di dalam kandungan Rania selamat. Berita yang aku dapatkan ....”
“Ya, sejak awal identitas Kailla disembunyikan. Ia terdata sebagai putri adopsi Riadi Dirgantara. Tidak ada pernikahan, mertuaku baru mengakuinya setelah tes DNA keluar.” Pram menjelaskan.
“Aku minta maaf. Aku tidak membenci keponakanku. Targetku hanya Riadi. Aku membencinya. Dia tega sekali pada Rania dan putrinya sendiri.”
Pram menyimak. Jujur saja, ia tidak mengetahui jelas masa lalu Riadi seperti apa. Ia masih terlalu muda untuk terlibat saat itu.
Reino menyunggingkan senyuman. Ada perih saat senyuman itu menghilang. Pria tua kunci masa lalu yang belum terkuak sempurna itu menghela napas berulang kali. Terlihat berat membagi semuanya.
Sebagian puzzle mungkin sudah terbuka, tetapi ada potongan yang hilang dan masih menjadi misteri.
“Aku membenci Riadi karena dia juga dalang dari kecelakaan Rania.” Reino membagi berita tak disangka-sangka.
“Bagaimana bisa? Dia Daddy Kailla.” Pram menggeleng.
“Jangan terlalu naif. Aku yakin kamu mengetahuinya. Bukankah Riadi menggunakan segala cara, termasuk bujuk rayu agar Rania bersedia menggugurkan kandungannya dulu. Tapi, Rania terlalu bodoh. Perasaan sudah membutakan akal sehat. Berawal karena uang, dia benar-benar jatuh cinta pada Riadi dan memilih menggunakan segala cara untuk bisa hamil benih Riadi.” Reino menggeleng.
“Tolong jelaskan padaku mengenai kecelakaan. Apa benar mertuaku terlibat? Kailla putrinya ... bagaimana bisa dia setega itu membunuh ....” Pram menghela napas berat. Ia masih tidak yakin.
“Riadi dan Andi bersekongkol. Riadi otak dibalik semuanya dan Andi yang mengeksekusi. Saat kejadian ... di mana mertuamu?” Reino berusaha menunjukkan kebenarannya.
“Selama puluhan tahun, kasus ini ditutup. Bahkan mertuamu seolah menutupi kesalahan Andi. Apa kamu tidak merasa aneh? Kenapa Riadi bisa selunak itu dan tidak menuntut Andi Wijaya?”
Pram mulai menangkap kepingan cerita yang tertinggal. Ia juga merasa janggal, tetapi ia tidak menyangka keterlibatan mertunya yang membuat semuanya menjadi misteri tak terpecahkan.
“Andi menerima hukumannya setelah bertahun-tahun berlalu. Dan kamu sendiri yang menuntut keadilan itu setelah istrimu mengalami keguguran. Benar begitu, kan?”
Pram mengangguk.
“Aku tahu. Sejak awal ... mertuaku tidak menginginkan Kailla. Tapi ... aku benar-benar tidak menyangka kalau kecelakaan itu melibatkannya.” Pram menunduk, menyembunyikan perasaan terlukanya. Walau pada akhirnya Riadi menyesal dan mau menerima Kailla, rasa sakit itu masih tetap ia rasakan.
“Mengenai Wiraguna ... apa bisa membantuku? Kailla sedang hamil dan anakku belum genap setahun. Aku benar-benar khawatir.”
Reino tersenyum. “Aku sedang menunggu kabar dari salah satu sahabatku yang kebetulan dekat dengannya. Mudah-mudahan mendapat kabar secepatnya.”
“Ya. Aku juga harap seperti itu. Oh ya, mengenai masa lalu Kailla ... apa bisa merahasiakannya?” Pram meminta. “ Sampai sejauh ini ... istriku tidak tahu apa-apa. Bisakah membantuku untuk menutupi semua keburukan mamanya?”
“Tentu. Itu aib keluargaku. Ditya juga meminta hal yang sama. Bahkan sampai saat ini, Ditya masih merahasiakannya dari Fro.”
“Baiklah. Kira-kira ... ada tempat yang mungkin bisa aku datangi?” Pram terlihat putus asa.
“Aku sudah membagi informasi ini dengan orangmu. Aku juga tidak tahu banyak. Aku dan Wiraguna putus hubungan saat ia mendekam di penjara karena kecelakaanmu tahun lalu. Bahkan aku baru mengetahui kalau dia sudah bebas.”
“Baiklah. Aku tidak bisa berlama-lama. Tolong kabari aku begitu mendapat kabar dari temanmu.” Pram berdiri dan berpamitan. Ia tidak bisa berlama-lama mengobrol dan bernostalgia. Waktunya berharga, ia harus menemui Kailla secepatnya.
Berlari keluar, ia masih bisa mendengar dering ponsel Reino saat melewati pintu utama. Memilih mengabaikan, Pram sedang berpacu dengan waktu.
Baru saja ia akan menjalankan Bentley hitamnya, terlihat Reino berjalan cepat keluar rumah sembari melambaikan tangan padanya. Wajah keriput itu begitu bersemangat, seolah ada berita baik yang akan disampaikan.
***