The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 73



Kailla mengangkat test pack dan memastikan kalau penglihatannya tidak salah. Ia masih ragu dengan keakuratan hasil test pack yang nyata-nyata menampilkan garis dua.


“Ini akurat?” tanyanya masih menatap tak percaya. Dikibas-kibasnya benda kecil ditangannya. “Apa dengan begini garisnya bisa menghilang satu.” Kewarasan Kailla nyaris punah mendapati hasil positif yang artinya ia benar-benar hamil.


Mungkin bagi sebagian orang kehamilan adalah suatu kebahagiaan, tetapi tidak untuk Kailla. Ia tidak siap, belum siap dan entah kapan baru siap. Saat memastikan dirinya benar-benar hamil, terbayang kembali harus berbaring di atas meja operasi dengan pisau bedah mengiris perut, jarum suntik menancap di kulit. Sontak Kailla bergidik ngeri.


“Aku harus menghadapi semua itu lagi.” Kailla berbisik lirih.


Kembali meraih kemasan alat tes kehamilan itu demi mencari tahu keakuratannya, Kailla tersenyum. “Masih ada sekian persen kemungkinan alat ini error.” Tersenyum dan menghibur diri sendiri, walau di dalam hati Kailla sangat yakin kehamilan di dirinya itu nyata. Bukti dan gejala yang dialaminya itu membuat Kailla tidak bisa mengelak.


“Apa aku tes ulang saja?” Kailla berkata pelan sembari berjalan keluar untuk mencari asisten kesayangan. Ia akan meminta Sam membeli test pack lebih banyak lagi dengan beraneka merek demi mencari hasil segaris.


***


“Non hamil?” Sam tersenyum kecut. Terbayang bagaimana posesifnya Pram andai Kailla benar-benar hamil lagi.


“Ini baru mau dicek Sam. Tolong beli yang banyak dari berbagai merek. Em ....”


“Mending ke dokter saja, Non. Itu sudah pasti akurat. Tidak mungkin salah lagi.” Sam memberi ide.


Kailla menggeleng. “Aku ....” Wajah ibu si kembar meredup. “Jangan banyak bicara, pergi beli saja, Sam.” Kailla setengah menggerutu. Menyodorkan uang pada asistennya, berbalik masuk ke dalam rumah.


***


Keesokan paginya.


“Kai ....”


Kailla masih terlelap di kamar putra kembarnya saat Pram mengetuk pintu kamar. Ia tidak bisa tidur semalaman, memikirkan belasan test pack yang berkhianat padanya. Semuanya bergaris dua dan terlihat nyata. Bahkan tak ada satu pun yang samar.


“Sayang ....” Kembali Pram memanggil dari luar. Ia tidak mau Kailla marah-marah-marah hanya karena masuk kamar seenak hati meski sebagai suami tentu tidak ada salahnya.


“Kai ....”


Bunyi pintu dibuka, kepala Kailla menyembul di balik pintu. Mata masih setengah terpejam rambut acak-acakan.


“Kai, aku sebentar lagi jalan. Aku harus ke Bandung hari ini. Harus berangkat pagi-pagi sekali supaya tidak terjebak macet.” Pram berpamitan.


Bandung? Jenny?


Otak Kailla tengah merangkai dua kata yang saling berkaitan. Mata ibu muda itu terbuka lebar. “Aku ikut,” tegas Kailla. Kantuknya hilang, apalagi saat netranya membuka sempurna dan mendapati Pram sudah rapi dan tampan dengan setelan casual, bukan setelan kerja seperti biasanya. Celana hitam dengan kaus polo biru tua.


“Ada acara apa? Kamu tidak sedang kencan dengan seseorang di belakangku, kan?” tebak Kailla dengan suara serak.


“Kai, jangan berlebihan.” Pram mulai kesal. Belakangan ini kecemburuan Kailla semakin menjadi dan tidak tahu tempat. Semua hal selalu dikaitkan dengan wanita lain.


“Aku ikut. Tunggu aku bersiap.” Kailla berlari masuk ke dalam kamar. Ia masih sempat berteriak. “Jangan meninggalkanku dan pergi sendirian!” ancamnya.


Bersiap secepat kilat, Kailla sudah muncul di depan Pram dengan tampilan setengah berantakan. Rambutnya basah, pakaiannya pun masih belum rapi sempurna, celana panjang biru muda dipadankan dengan kaus putih. Kantung mata tampak jelas, menunjukkan seberapa kurang tidurnya ia semalam.


“Kai?” Pram masih berdiri di depan pintu kamar. “Apa tidak sebaiknya kamu beristirahat saja di rumah?” Gurat kekhawatiran tampak jelas di wajah Pram.


Kailla menggeleng. “Aku mau ikut.”


“Ini masih terlalu pagi. Sebaiknya kamu di rumah saja dan menemani anak-anak. Tidak perlu ikut.”


“Tidak. Aku tetap ikut.” Kailla melangkah keluar kamar sembari merapikan tasnya dan memastikan alat make-up tidak tertinggal.


“Kai, tidak bisakah kembali seperti dulu lagi? Jangan kekanak-kanakan seperti ini.” Jujur saja, Pram mulai lelah diperlakukan seperti ini. Kailla seperti orang yang berbeda. Cemburu berlebihan, curiga tidak pada tempatnya lagi.


“Aku sudah tidak percaya padamu. Ayo jalan!”


Pundak Pram melemas. Ia bukan tidak mengizinkan, tentu saja ia bahagia Kailla berada di dekatnya setiap detik, setiap menit, setiap jam. Namun, ini tidak sehat. Rumah tangga tidak bisa seperti ini. Bukan hanya Pram, anak-anak juga membutuhkan ibunya. Mau sampai kapan Kailla memupuk curiga dan cemburunya.


“Aku pamit dengan si kembar. Tolong minta Mama datang ke sini untuk menemani anak-anak.” Pram mengalah. Ia tidak mau berdebat dan memulai pertengkaran sepagi ini.


***