The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 53



"Siapa?" tanya Kailla masih menunggu jawaban.


Mendekap handuknya agar tidak melorot, Kailla membiarkan rambut panjangnya yang masih basah itu tergerai berantakan. Titik air terlihat jatuh di sekitar kaki telanjangnya.


"Siapa?" ulang Kailla dengan nada manja.


Pram tersenyum memandang tampilan Kailla yang begitu menggoda.


"Bay, nanti kita lanjutkan. Aku masih ada urusan dengan istriku." Pram menyeringai licik.


Dengan sekali sentak, Pram berhasil menarik tubuh basah istrinya agar duduk di atas pangkuan.


"Aah!" pekik Kailla terkejut.


"Kamu menggemaskan sekali, Kai." Pram mendekap erat Kailla dan mengunci tubuh istrinya dengan posesif. Kecupan dilabuhkan pria dewasa itu di sekujur pundak putih mulus sang istri yang kini juga membelit lehernya dengan erat.


"Apa yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Kailla, duduk menyamping di atas pangkuan sang suami.


"Tidak ada." Pram menggeleng. Tangannya mengusap paha Kailla yang terekspos sempurna. Handuk putih tidak sanggup melindungi tubuh sang istri dari jamahannya.


"Katakan siapa yang sedang kamu dan Bayu gosipkan. Aku mendengarnya," ancam Kailla, mengarahkan telunjuknya tepat di depan hidung mancung Pram.


"Kalau sudah mendengar, harusnya tidak bertanya lagi padaku, Sayang." Pram menggigit kecil telunjuk Kailla.


"Aah!" Kailla kembali protes bersamaan dengan dua pukulan beruntun di pundak Pram. Ia kesal, sejak tadi Pram menggodanya.


Pram tergelak sembari menatap mata indah Kailla. Wajah istrinya tampak cemberut, membuang pandangan berpura-pura marah.


"Keisya. Aku membicarakan Keisya." Pram berterus terang. Didekapnya pinggang ramping Kailla dengan erat.


Kailla mengernyit. Ibu si kembar itu heran. "Ada apa dengan Keisya? Bukankah putri kesayanganmu itu sudah jadi anak baik. Bahkan kamu sudah menghadiahkan ponsel baru untuk kelakuannya. Dia bolos lagi?" tanya Kailla penasaran. Ia ingat seberapa hancurnya rapor Keisya. Lebih parah dari miliknya.


Pram menggeleng. "Keisya masih labil. Mudah terpengaruh lingkungan dan teman-temannya. Aku tidak tahu bagaimana dulu ayah dan ibunya mendidik Keisya," jelas Pram memejamkan matanya.


Ia teringat dengan kelakuan Keisya beberapa jam yang lalu. Andai Kailla tahu apa yang terjadi, ia tidak yakin hidup gadis itu akan tenang. Kailla tidak akan tinggal diam. Pram mengenal jelas istrinya.


"Kamu tidak melihat isi ponselnya ...." Pram menggeleng.


"Oh." Kailla teringat sesuatu. "Di saku celanamu itu ponsel Keisya? Kamu menyitanya?" Kailla tergelak. Ia sudah pernah merasakan di posisi Keisya. Dulu Pram juga sering melakukan hal itu padanya.


"Ya." Pram mengangguk.


"Dia lebih nakal dariku sepertinya." Kailla berkomentar.


"Sedikit di atasmu, Kai." Pram mengeratkan pelukannya.


Kailla terdiam, tiba-tiba ia teringat akan ucapan Stella.


"Sayang, kapan Keisya pindah ke apartemen?" Wajah Kailla meredup.


"Aku belum tahu. Sekarang pekerjaku mulai mengisi perabotan dan merakit funiture. Aku sengaja mengambil tipe tiga kamar tidur supaya lebih luas dan lega. Aku tidak tahu ke depannya akan dimanfaatkan untuk apa, sementara Keisya dan ibunya yang tinggal." Pram menjelaskan.


Kailla menyimak.


"Aku juga ingin secepatnya selesai, jadi Keisya bisa segera pindah. Di kontrakannya sekarang, anak itu harus dua kali naik angkutan umum untuk bisa sampai ke kantor. Makanya aku pikir cari hunian di dekat kantor, jadi tinggal naik busway atau ojek. Aku juga lebih tenang. Dia anak perempuan, khawatir kalau terjadi sesuatu di jalan. Lagi pula ibunya sakit, akan lebih mudah kalau mereka tinggal di apartemen." Pram menjatuhkan dagunya di pundak Kailla.


Kailla masih diam, mencerna ucapan Pram.


Kailla mengangguk. Ia mulai mengerti.


"Begitu apartemen itu rapi, aku akan menunjukan padamu, Kai. Pada pemilik sebenarnya," ungkap Pram membuat Kailla terperanjat.


"Maksudnya?" Kailla bingung.


"Apartemen baru itu atas namamu, Sayang. Pieter sedang mengurusnya." Pram menjelaskan apa yang selama ini tidak diketahui Kailla. Disisirnya rambut panjang Kailla dengan jemari.


"Serius?" Kailla masih tidak percaya.


Pram mengangguk.


"Ah, terima kasih, Sayang." Kailla mengecup bibir suaminya sekilas, jemari tangannya menggelitik di tengkuk suaminya.


"Sementara ini, Keisya dan ibunya yang menempati. Tidak masalah, kan?" tanya Pram memastikan.


Kailla menggeleng. "Tentu saja aku tidak masalah." Kailla menjawab dengan senyum merekah.


"Tadinya, aku pikir ingin menempatkan Keisya dan ibunya di rumah Pondok Indah. Ada orang tua Sam juga di sana. Bisa menemani Ibu Keisya. Tapi, kasihan Keisya. Terlalu jauh ke sekolah. Bisa saja aku mengizinkan Keisya tinggal di apartemenku. Hanya saja ... aku tidak rela. Ada banyak kenangan kita di apartemenku. Jadi, aku putuskan membeli apartemen baru. Anggap saja investasi masa depan. Suatu saat anak-anak kita juga bisa menggunakan apartemen itu."


Kailla menyimak penjelasan Pram.


"Aku sedang berusaha untuk mempersiapkan Keisya agar bisa melepaskannya suatu saat nanti. Dia baru 17 tahun dan masih sekolah, ibunya sakit-sakitan. Mereka kehilangan sosok ayah. Nahkoda di dalam kehidupan mereka. Mereka benar-benar kehilangan orang yang bertanggung jawab di dalam hidup mereka. Keisya dan ibunya masih membutuhkan kita. Bukan hanya uang, tetapi butuh perhatian."


"Kamu lihat sendiri Keisya seperti apa. Aku bisa saja memberinya lima ratus juta, satu miliar untuk membayar nyawa ayahnya walau aku pikir itu tidak akan sebanding. Mau miskin atau kaya, nyawa itu tetap sama berharganya, tidak bisa dinilai dengan uang. Jangan karena dia orang susah, jadi menganggap nyawanya tidak seberapa. Tapi, aku tidak yakin uang itu bisa dipergunakan dengan baik. Keisya belum siap, yang ada ... uang itu akan habis dan mereka tetap seperti ini. Bayangkan saat itu terjadi, kamu mendengar kabar ibunya sakit-sakitan mungkin tengah meregang nyawa karena tidak ada biaya. Hidup Keisya berantakan, bisa saja terlibat ke dalam pergaulan yang ...." Pram memejamkan matanya. Mengingat sikap berani Keisya, ia sudah bisa membayangkan akan jadi apa remaja itu ke depannya.


"Kalau ke depannya terjadi hal buruk pada Keisya dan ibunya, aku ikut bertanggung jawab. Karena aku dan Bayu terlibat di dalamnya. Beda kalau kematian ayahnya tidak ada hubungannya dengan kita. Aku tutup mata dan masa bodoh."


"Sejak awal, aku percaya padamu, Sayang." Kailla menatap suaminya penuh cinta. Kepercayaan yang tadinya sempat goyah karena ucapan Stella, kini kembali lagi.


Pram menghela napas panjang. "Aku tidak ingin selamanya Keisya ada bersama kita. Suatu saat aku akan melepasnya sampai dia benar-benar dewasa dan mampu berdiri di kakinya sendiri, mampu bertanggung jawab untuk dirinya sendiri dan ibunya. Itu yang sedang aku persiapkan untuknya. Aku mengambil tanggung jawab itu karena bagaimana pun, Bayu orangku. Dia sedang bekerja saat tragedi itu terjadi. Aku harap kamu mengerti, Kai."


"Aku mengerti. Kalau tujuanmu ke sana, tidak mungkin melepaskan tanggung jawab ini pada Bayu atau yang lainnya" Kailla berpendapat.


"Lagi pula, selama ini, aku tidak pernah mempermasalahkan apa yang kamu lakukan. Aku bahkan tahu, kamu sering keluar makan siang berdua, kan?" lanjut Kailla memainkan kedua alisnya


"Tidak juga. Sesekali saat aku luang ... aku akan mengajaknya. Atau saat menjenguk ibunya di rumah sakit." Pram menjelaskan sembari menyentil dahi Kailla.


Kailla mengerutkan dahi, mengingat informasi yang disampaikan Stella padanya.


"Selebihnya aku makan siang bersamamu, Nyonya. Ayo, luangkan waktumu untukku setiap siang, jadi kita bisa bertemu."


"Aku pikir-pikir dulu, Tuan. Tergantung bayarannya." Kailla tergelak.


"Kamu sudah pintar bernego denganku sekarang." Pram menempelkan dahinya ke dahi Kailla.


"Kai, aku pernah ada di dalam situasi saat ibu Keisya kritis. Anak itu tidak bisa membuat keputusan, hanya menangisi ibunya. Demikian juga Donny yang pada saat itu aku minta untuk menemani. Mereka tetap membutuhkanku untuk mengambil tindakan." Pram menangkup wajah Kailla dengan kedua tangannya. Ia tampak serius.


"Dia berbeda denganmu, Kai. Aku ingat dulu ... saat Daddy pertama kali kritis dan harus masuk ICU. Kailla-ku mengurus semuanya sendiri tanpaku. Kamu tahu, Kai ... betapa bangganya aku melihat gadis manja yang hanya bisa merengek tapi menjaga Daddy di rumah sakit." Pram tersenyum.


"Aah, kamu tidak perlu merayuku." Kailla membenamkan wajah di ceruk leher Pram saat mendengar pujian sang suami. Kedua kakinya yang menjuntai tampak berayun.


"Hahaha ... bagaimana kalau satu putaran lagi," tawar Pram. Tangannya sudah mencengkeram ujung handuk Kailla dan bersiap menghempaskannya.


***