
"Sayang, aku pulang dulu." Kailla baru saja selesai memompa asinya. Berjalan menenteng cooler bag, ia menghampiri suaminya yang mulai menyibukan diri lagi dengan setumpuk pekerjaan.
"Tidak menungguku?" Pram mengalihkan pandangan dari layar komputer dan menarik Kailla mendekat padanya.
Ibu si kembar menggeleng. "Mama mertuaku bisa berteriak lagi kalau aku pulang terlambat. Bisa-bisa aku tidak diizinkan masuk ke dalam rumah." Kailla terkekeh kemudian.
Pram terlihat menaikan kedua alisnya, sedikit mendorong kursinya ke belakang, pria itu memberi jalan dan menarik Kailla duduk di pangkuannya.
"Ah!" protes Kailla, hampir menjatuhkan cooler bag di tangannya.
Wanita 25 tahun itu memekik kaget, Pram menarik tangannya tiba-tiba, kemudian mengunci tubuhnya dengan dekapan posesif.
"Mari kita tanyakan pada Mama." Pram meraih ponsel, mengusap layar dan melakukan panggilan video dengan Ibu Citra.
"Kita lihat ... apa Mama berani mengomeli menantu kesayangannya ini," ujar Pram, menjatuhkan dagunya di pundak Kailla.
Bunyi nada dering terasa begitu lama. Tut ... tut ... tut ... tut.
Pram menyibak kerah polo shirt Kailla dan mengecup leher jenjang istrinya saat wajah mamanya muncul memenuhi layar.
"Ya Tuhan, Pram. Kamu menghubungiku hanya untuk menunjukan kemesraanmu dan Kailla?" omel Ibu citra kesal.
"Oh, aku terlalu lama menunggumu menerima panggilan, jadi sedikit bermain-main dengan Kailla." Pram tersenyum usil menatap ponsel yang berdiri di samping komputer.
"Ada apa? Ibu Citra masih tetap ketus.
"Kailla ulang tahun. Mama mau memberi hadiah apa untuknya?" Pram tiba-tiba bertanya.
Sontak Kailla menoleh ke belakang, menatap tajam suaminya yang begitu berterus terang. Ia tidak berniat meminta kado dari mertuanya. Toh, selama ini ia tidak kekurangan. Pram selalu memberi setiap ia meminta.
"Sayang ...." protes Kailla.
"Sstt, jangan berisik. Biarkan aku mengurusnya untukmu." Pram mengecup bibir Kailla sekilas. Tanpa malu-malu meskipun di hadapan Ibu Citra.
Tampak Ibu Citra menggeleng. Sebagai seorang ibu, ia sudah sangat hafal bagaimana kelakuan putranya.
"Ma ... mau membelikan kado apa untuk istriku?" todong Pram, tersenyum usil.
"Kai, Mama tidak tahu kalau kamu berulang tahun. Mau dibelikan apa? Nanti Mama akan meminta Kinar menemani untuk mencari hadiahmu."
"Tidak perlu, Ma."
"Tidak perlu, Ma."
Pram dan Kailla menjawab bersamaan, keduanya saling berpandangan dan tertawa.
"Kailla tidak mau kado apa-apa, Ma. Menantumu tidak pernah kekurangan. Dia hanya kekurangan kasih sayang darimu. Bisakah jangan terlalu sering mengomel? Itu kado terindah untuk menantu kesayanganmu."
Bola mata Ibu Citra melotot. Belum sempat ia menyanggah, putranya sudah bersuara kembali.
"Eits, baru saja aku meminta jangan sering protes dan mengomeli istriku. Mama sudah memulainya lagi." Pram mengarahkan telunjuknya, dengan usil menggoda sang mama.
"Mama tidak melakukan apa-apa. Kenapa kamu protes?" Ibu Citra ikut protes.
"Mata Mama itu melotot, istriku berpikir kalau Mama akan mengomelinya."
Deg-- Ibu Citra menelan saliva. Ia kesal dan makan hati setiap berdebat dengan putranya. Ada-ada saja kalimat Pram untuk membungkamnya.
"Ma, saat bicara dengan istriku ... kurangi melotot dan perbanyak senyuman. Jadi Kailla tidak salah paham. Dia memang memanggilmu Mama, sama sepertiku. Tapi, dia tidak lahir dari rahimmu berbeda denganku. Saat Mama melotot atau berkata kasar, pasti itu sampai ke hatinya. Berbeda denganku ... sejak di dalam perut Mama aku sudah terbiasa mendengar omelanmu, Ma." Pram tergelak.
Kailla diam, menatap Pram tanpa yang duduk memangkunya tanpa berkedip.
"Ma, kalau Mama kesal padanya atau Kailla melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan Mama, sampaikan padaku. Aku yang akan mengurus istriku. Karena aku suaminya. Aku yang diserahi tugas oleh ayahnya untuk mendidik dan menyayangi Kailla saat aku meminta restu untuk menjadikannya sebagai istriku."
Deg --
"Sayang, aku tidak apa-apa." Kailla mengusap pelan pipi Pram. Ia terharu mendengar ucapan Pram.
"Sstt, aku sedang merayu Mama untuk mendapatkan kadomu," sahut Pram, berbisik.
Lama terdiam, Ibu Citra akhirnya menjawab. "Ya."
"Baiklah, kalau Mama sudah setuju. Kailla mau mengambil kado pertamanya. Hari ini ... dia pulang terlambat. Mama tidak keberatan, kan?" Pram langsung menembak ke sasaran.
"Mau bersenang-senang."
Kembali Ibu Citra terperangah.
"Hari ini Kailla ulang tahun, jadi dia akan bersenang-senang seharian. Ok?" tanya Pram.
Pundak Ibu Citra melemas, ia menjawab pelan. "Ya."
"Ya sudah, aku matikan dulu, Ma. Ingat ... senyum." Pram mengulang kembali.
Tampak bibir Ibu Citra melengkung, berusaha tersenyum manis.
"Ma, kalau Mama tersenyum seperti ini, kecantikanmu bertambah. Aku yakin Kailla akan tambah menyayangimu. Dia tidak akan segan-segan menghadiahkan cucu lagi untukmu. Sebagai kado ulang tahunmu."
"Benarkah?" tanya Ibu Citra. Wajah rentanya berbinar bahagia. Sejak lama ia menginginkan Kailla bisa hamil dan memberinya cucu lagi. Namun, selama ini ia harus memendam keinginannya. Pram sudah menegaskan kalau Kailla tidak mau hamil dan melahirkan lagi.
"Tanyakan saja pada menantumu, Ma. Pasti dia setuju. Apa yang tidak bisa Kailla lakukan untukmu." Pram mengulum senyuman. Bersusah payah membujuk Kailla, istrinya menolak untuk hamil lagi.
Kailla melotot dan memandang Pram sambil bergumam. "Aku tidak mau lagi, Sayang."
"Kamu tidak melihat wajah memelas Mama. Bukan aku yang menginginkannya tetapi Mama." Pram menahan senyumannya supaya tidak terlihat.
Kailla terdiam sesaat dan akhirnya menjawab. "Ya, Ma." Jemari tangannya tengah mencubit paha suaminya di bawa meja, Kailla melampiaskan kekesalannya.
"Ya, sudah. Bye." Pram mematikan sambungan teleponnya dan tergelak mendapati wajah cemberut istrinya.
"Aku tidak mau hamil lagi." Kailla menegaskan setelah sambungan telepon terputus.
"Sekali lagi. Setelah itu ... aku tidak akan memaksa." Pram berusaha membujuk.
"Aku tidak mau. Aku mau pulang saja."
Kailla bangkit dari pangkuan suaminya. Sebuah kecupan tipis dilabuhkan di bibir Pram. "Aku pulang sekarang. Kasihan anak-anak di rumah. Mereka pasti merindukanku," putus Kailla.
"Jadi ... kamu tidak mau bersenang-senang denganku?"
"Tidak. Aku pergi sekarang."
"Mau aku antar ke bawah?" tawar Pram, masih berusaha menahan lengan istrinya.
"Tidak, Love you, Sayang."
"Love you, too." Pram melemas, menatap punggung Kailla menghilang dari balik pintu.
***
Kailla pergi, berganti Keisya yang masuk tanpa permisi. Gadis dengan seragam sekolah itu berjalan mendekat.
"Om ...."
"Sya? Kamu belum pulang?" Pram mengangkat pandangannya.
"Belum, Om. Aku ... mau mengambil berkas yang sudah ditandatangani."
"Oh ...." Pram menyodorkan tumpukan berkas maju ke depan agar Keisya mudah mengambilnya. Setelahnya, kembali ia fokus dengan pekerjaan.
"Om." Keisya memanggil sembari memeluk berkas.
"Ya, ada apa?" tanya Pram menautkan kedua tangannya di atas meja, menyimak.
"Ibuku ingin bertemu dengan Om. Apakah bisa ...."
"Hari ini tidak bisa, Sya. Istri Om ulang tahun dan kami harus merayakannya bersama. Om harus pulang cepat. Besok saja, jam makan siang, Om akan menemui ibumu" putus Pram.
-
-
-