The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 92



“Non, jangan terlalu lama. Aku tidak mau sampai terjadi sesuatu dan menambah masalah untuk Pak Pram.” Sam mewanti-wanti. Sebenarnya ia ragu menurunkan Kailla di restoran untuk bertemu dengan Matt, tetapi majikannya itu memaksa. Tak ada yang berani membantah saat wanita manja itu menurunkan titah.


“Ya, Sam.” Merogoh isi tas tangan, Kailla mengambil kacamata hitam dan mengenakannya. Ia tidak mau sampai dikenali dan seperti yang diingatkan suaminya, ia harus selalu hati-hati. Tidak ada yang tahu kalau musuh mengintai.


Langkah kaki wanita 25 tahun itu tergesa-gesa. Kailla menyapu setiap sudut halaman. sebelum masuk ke dalam dan menemui Matt.


“Selamat siang, Nyonya Kailla. Apa kabar?” Matt menyapa terlebih dulu.


“Baik.” Kailla melepas riben hitamnya dan mengambil posisi duduk tepat di depan asisten Ditya Halim Hadinata itu.


“Aku rasa kamu sudah mengetahui maksudku meminta bertemu. Tolong ceritakan semuanya padaku. Aku ingin mengetahui sedetail mungkin. Dan aku yakin saat ini kamu mengetahui tentang penculikan anakku.” Rona di wajah Kailla menggelap setiap mengingat Kentley yang sampai sejauh ini belum diketahui keberadaannya.


Matt menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya pelan. “Mau mulai dari mana?”


“Semuanya.” Kailla memaksa tersenyum di tengah hatinya yang gundah gulana. “Aku yakin kamu tahu kalau aku tidak tahu apa-apa mengenai masa lalu dan sejarah hidupku, terutama dari garis mamaku.”


“Rania, Riana dan Reino. Mereka tiga saudara. Rania dan Riana adalah saudari kembar. Masing-masing memiliki seorang putri. Rania itu mamamu, kan?” Matt memulai.


Kailla mengiyakan.


“Riana adalah mertuanya Ditya Halim Hadinata. Artinya istri Ditya adalah sepupumu.”


Kembali Kailla mengangguk.


“Reino adalah adik laki-laki satu-satunya. Ia memiliki putri kembar. Meisya dan ....” Matt menghentikan ceritanya. Ditatapnya lawan bicaranya.


“Dan mungkin Keisya yang kini diurus Pak Pram, suamimu.”


Kailla tercengang. “Serius? Yakin kalau informasi ini tidak salah?”


“Semoga saja. Aku sedang menunggu hasil tes DNA untuk memastikan kalau Keisya dan Meisya adalah kembaran dan benar-benar putri Reino yang dibuang belasan tahun silam karena kesulitan biaya.”


“Suamiku tahu?” tanya Kailla memastikan.


“Atas izin suamimu, Nyonya.” Matt berterus terang.


Kailla mengangguk. Sambil mencerna semua cerita, jemarinya mengetuk meja restoran. Mengejutkan, Kailla tidak menyangka sama sekali dengan apa yang disembunyikan suaminya selama ini.


“Sejak kapan suamiku tahu?”


Matt menggeleng. “Om Reino dan Meisya sekarang tinggal di salah satu rumah Ditya. Sementara Keisya masih di apartemen Pak Pram. Rencananya, saat semua sudah pasti dan hasil tes DNA juga membuktikan kalau memang Keisya dan Meisya adalah saudara kembar barulah ketiganya dipertemukan.”


Kailla menyimak.


“Tidak, terima kasih. Oh ya, apa hilangnya Kent ada hubungan dengan semua ini?” tanya Kailla lagi.


“Kecurigaan Pak Pram seperti itu. Awalnya Pak Pram mencurigai ... siapa namanya ... aku lupa.” Matt terlihat berpikir keras.


“Ah, Dennis. Putra tunggal Andi Wijaya yang juga mantan adik ipar ayahmu. Tapi, setelah ditelusuri rasanya tidak mungkin. Andy Wijaya sudah meninggal di penjara karena terlibat dalam insiden kecelakaan mamamu.”


“Ya Tuhan. Kenapa mereka tega sekali.”


“Dan putranya Dennis ... sepertinya menetap di Amerika selama ini. Jadi kecil kemungkinan pelakunya dia.” Matt menjelaskan. “Satu-satunya orang yang patut dicurigai adalah Wiraguna. Pria ini adalah orang yang terlibat dalam kecelakaan yang sempat membuat Pak Pram koma tahun lalu. Nyonya ingat?”


“Ya.”


“Om Reino sudah mengakui kalau dia adalah dalang dari kecelakaan itu. Om Reino sakit hati pada Riadi. Menurutnya, karena Riadi yang menyebabkan kakaknya, Rania meninggal. Mengenai identitasmu yang ternyata adalah keponakannya sendiri, dia baru mengetahuinya akhir-akhir ini. Dan Om Reino sangat menyesal sekali pernah berencana melenyapkanmu.” Matt menjelaskan panjang lebar.


“Lalu apa hubungannya dengan Wiraguna?” Kailla masih belum paham.


“Wiraguna ini tadinya teman baik Om Reino. Begitu mendengar cerita Reino tentang sakit hatinya, Wiraguna yang terikat budi dengan pamanmu memilih menyanggupi untuk mengeksekusi. Kecelakaan itu dilakukan oleh Wiraguna. Dan selama ini dia penjara. Baru saja keluar belum lama ini.” Matt menjelaskan.


“Sekarang, Om Reino sedang mencari keberadaannya. Mudah-mudah setelah ditemukan, kita bisa memastikan apa Kentley ada bersamanya atau tidak. Kami sudah mencoba menemui istrinya. Tapi di rumahnya hanya ada istri dan dua anak laki-lakinya,” lanjut Matt.


“Baiklah. Sejauh ini ... aku mulai paham. Oh ya, apa aku boleh meminta nomor kontak sepupuku ... em ... siapa namanya, Matt?”


“Frolline Gunawan.”


“Ya, boleh aku minta ....”


“Maaf, Nyonya Kailla. Sampai hari ini Nyonya Frolline tidak tahu apa-apa mengenai cerita masa lalu ini. Jadi aku tidak bisa sembarang memberikan nomor kontak majikanku. Butuh persetujuan Ditya Halim Hadinata. Apalagi saat ini Nyonya sedang menantikan kelahiran buah hatinya.”


“Oh ya?” Kailla ikut bahagia.


“Ya. Bos dan Nyonya sudah sejak bulan Maret di Eropa. Dan sekarang sedang menanti kelahiran putra pertamanya di London.”


“Oh, sampaikan salamku saja kalau begitu.” Kailla mengangguk.


“Baik, Nyonya. Aku masih ada urusan. Aku permisi dulu. Baiknya Nyonya cepat kembali ke rumah. Di luar tidak aman.” Matt menyesap sisa kopi di cangkir dan memanggil pelayan untuk melakukan pembayaran. Tak lama, asisten itu sudah berdiri dan bergerak menjauh, meninggalkan Kailla dengan pertanyaan-pertanyaan yang butuh jawaban.


Hampir lima belas menit merenung, Kailla akhirnya memutuskan untuk pulang. Namun, ia benar-benar tidak beruntung. Baru saja berdiri dan mengalungkan tasnya membelah dada, ia merasa ada benda tajam yang tiba-tiba menempel di punggungnya.


Tak lama, ia bisa mendengar suara serak laki-laki mengancamnya.


“Jangan berteriak, jangan melawan. Bayimu ada bersama kami. Kalau ingin anak nakal itu selamat, tolong menurut. Sepanjang malam kami dibuat kewalahan oleh teriakannya. Jadi sebaiknya diam dan menurut. Kamu akan bertemu dengan putramu.”