
Suasana pagi di kediaman Pram terlihat biasa. Kailla masih menyiapkan MPASI dan sarapan untuk suaminya meskipun hanya nasi putih dan telur mata sapi.
Pram tergelak saat menjatuhkan bokongnya di kursi. Menu andalan Kailla yang sudah lama sekali tidak pernah muncul ke permukaan, tetapi kini hadir lagi di tengah gonjang ganjing rumah tangganya.
“Selamat makan,” ucap Kailla ketus. Ibu si kembar menyodorkan sarapan pagi suaminya dengan kasar.
“Kai ....” Pram meraih pergelangan tangan Kailla, masih membujuk istrinya agar berhenti marah-marah.
“Maafkan aku, Sayang,” bisik Pram. Pria itu mengirim kecupan bibir lewat udara. Ia benar-benar merindukan kemanjaan Kailla setelah pertengkaran mereka kemarin.
“Habiskan sarapanmu dan segera menghilang dari pandanganku. Semakin melihatmu, aku makin muak dan kesal, Sayang,” semprot Kailla kesal.
Pram menciut saat Kailla mengirim ancaman melalui tatapan tajam.
“Kai ....”
“Tutup mulut dan diam!” Kailla mengarahkan telunjuknya ke bibir, meminta Pram berhenti bicara.
Keadaan yang tidak berpihak ini masih berlanjut sampai sarapan usai. Pram menggendong si bungsu Kentley dan Kailla mengekor di belakang sambil menggendong si sulung Bentley. Keduanya berpamitan pada si kembar yang harus ditinggal karena Pram berangkat ke kantor dan Kailla pun menyelesaikan urusannya.
“Mommy berangkat, Sayang,” ucap Kailla mengecup pipi kiri dan kanan putra pertamanya sebelum menyerahkannya pada Binara. Kemudian melakukan hal yang sama pada si bungsu Kentley yang masih berada di gendongan Pram.
“Mommy berangkat, ya.” Kailla berpamitan pada si bungsu yang sedang memeluk leher sang daddy dengan erat.
“Kai, aku tidak diberi kecupan juga?” tanya Pram, menatap istrinya tak berkedip. Tatapan sendu itu penuh harap.
“Minta pada Syasya saja,” sindir Kailla masih kesal.
Pram menelan saliva, Kailla masih belum mau diajak bicara baik-baik. Ia tidak bisa berbuat banyak selain menunggu amarah Kailla mereda seiring waktu.
Dari arah rumah sebelah terlihat Ibu Citra datang menghampiri keluarga kecil yang sedang bersiap melakukan aktivitasnya. Perempuan berusia senja itu sudah memamerkan senyuman dari kejauhan, berjalan pelan menuju ke arah anak, menantu dan cucu-cucunya.
“Ma ....” Pram menyapa dengan senyum secerah pagi.
“Sudah mau berangkat?” tanya Ibu Citra meraih Kentley dari gendongan Pram.
“Sudah.” Pram menatap istrinya. Kebahagiaan Pram pecah saat melihat Kailla melunak.
“Sayang, aku berangkat sekarang. Aku mencintaimu.” Pram mendekat dan mengecup bibir Kailla sekilas.
“Aku juga mencintaimu,” sahut Kailla. Tersenyum dan memulai dramanya di depan sang mertua, Kailla masih berusaha menyembunyikan masalah yang menimpa rumah tangganya.
***
Kailla tertahan di lobi apartemen yang ditempati Keisya. Ia tidak bisa naik tanpa kartu akses menuju ke lift. Berulang kali menghubungi gadis remaja itu, tetapi Keisya mengabaikan puluhan panggilannya dan membuat emosi istri pemilik RD Group itu terpancing.
Bayu yang menenteng tas hitam berisi uang hanya bisa berdoa dalam hati. Ia tidak bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Apalagi, ia melihat sendiri napas Kailla yang naik turun bersama dengan dengusan kesal berulang kali.
“Kurang ajar! Anak itu sedang bermain-main denganku.” Kailla menggerutu sembari menghubungi Pram. Setelah gagal, ia terpaksa meminta bantuan Pram.
Nada sambung baru terdengar beberapa detik, Pram sudah menerima panggilan dengan buru-buru.
“Ya, Sayang. Ada apa?” tanya Pram bersikap manis seperti biasa.
“Minta Keiysa menerima panggilanku. Aku ingin bertemu dengannya sekarang. Kalau tidak ... aku akan mengamuk dan membongkar kelakuannya sampai semua penghuni apartemen ini mengetahui apa yang terjadi. Cepat! Kalau tidak, aku akan mempermalukannya!” ancam Kailla.
“Kai, sudahlah. Untuk apa menemui Keisya. Anggap saja ini kesalahanku, limpahkan padaku. Kamu istriku, untuk apa meladeni anak bau kencur itu,” bujuk Pram. Ia tengah menunggu di tempat parkir apartemen, tidak bisa membiarkan Kailla bertindak sendirian dan di luar kendali.
“Aku beri waktu lima menit. Keisya tidak turun, aku akan berteriak di halaman apartemen. Aku akan mempermalukannya. Aku akan membuat anak itu viral sampai dia tidak punya muka menatap dunia!” ancam Kailla.
“Tidak. Ja'lang kecil itu turun temui aku atau aku akan membuka aibnya pada dunia. Dua menit dari sekarang!” ancam Kailla.
“Kai ....”
Pram menghela napas, tidak bisa berbuat banyak. Andai Kailla tahu, ia membuntuti, semuanya akan bertambah kacau. Meminta Keisya menemui Kailla, mungkin adalah jalan terbaik.
***
Keisya berdiri menunduk dan ketakutan di ruang tamu apartemennya. Ia terpaksa turun ke lobi dan menyambut Kailla setelah Pram menghubunginya.
Tak jauh dari Keisya, terlihat ibunya yang kebingungan. Perempuan tua sakit-sakitan itu tidak tahu permasalahan apa yang sedang menimpa putrinya.
“Bay, kemarikan tasnya!” Kailla menadahkan tangannya ke belakang. Ia sedang menunggu asisten itu menyerahkan apa yang dimintanya.
“Ini, Non.” Bayu ragu, tetapi tidak berani membantah.
“Panggil aku Nyonya Reynaldi Pratama. Aku istri sahnya Pram, pemilik sesungguhnya apartemen ini.” Kailla bersuara setelah sejak tadi bungkam. Tidak ada keramahan sama sekali di nada bicaranya.
Berjalan mendekat dengan tas hitam di tangan Kailla, Kailla merogoh lembaran uang kertas berwarna merah itu dan melemparnya di tubuh Keisya.
“Apa yang kamu inginkan dari suamiku? Uang? Perhatian? Atau cinta suamiku?” tanya Kailla dengan suara menggelegar.
Keisya menciut, menatap lembaran uang yang berjatuhan di lantai. Berdiri menunduk dengan kedua tangan saling menggenggam. Remaja itu benar-benar ketakutan.
Demikian juga dengan Ibu Keisya, perempuan tua itu terkejut. “A ... apa yang ... sebenarnya terjadi?” tanya Ibu Keisya terbata-bata.
Kailla menoleh, menatap perempuan tua yang tampak menyedihkan dengan gurat keriput menghiasi wajah prihatinnya. Namun, Kailla tidak bisa berbohong. Ibu Keisya harus tahu bagaimana kelakuan putrinya.
“Tanyakan pada putrimu ... apa yang diinginkannya dengan menggoda suamiku? Kalau ibu tidak bisa mengajarnya, aku bisa mengajarinya bagaimana bersikap!” teriak Kailla.
Deg—
Ibu Keisya terkejut. Kelopak mata cekung karena termakan usia dan beban hidup itu tiba-tiba memanas dan bergetar. Dua bulir air mata jatuh di pipi kurusnya.
“Nak, apa yang kamu lakukan?” tanya Ibu Keisya meremas dadanya.
“Dia menggoda suamiku. Dia memeluk suamiku, dia mencium suamiku!” Emosi Kailla memuncak saat mengabsen satu persatu kesalahan Keisya. Dilemparnya semua uang dari dalam tasnya ke wajah Keisya dan terakhir tas hitam pun membentur tepat di kepala gadis remaja yang sejak tadi diam dan menangis.
“Dia berani menggoda suamiku dengan tubuhnya. Mau dijual berapa? 100 juta? Aku akan membelinya!”
“Maaf, Nyonya ... aku menyesal,” ucap Keisya terbata. “Aku tidak bermaksud begitu ... aku ....”
“Jadi apa maksudmu menggoda suamiku?” potong Kailla.
“Tidak ada ....” Keisya tertunduk.
“Aku tidak akan mengusirmu. Terlalu mudah hidupmu hanya dengan pergi dari sini. Kamu bisa menikmati semuanya dan akan hidup di bawah bayang-bayangku dan penyesalan karena sudah berani mengusikku, mengusik milikku.” Pandangan Kailla beralih pada ibu Keisya yang kini terduduk di lantai karena terkejut dengan kelakuan putrinya.
Keisya tersentak. Tadinya, ia sudah bersiap dilempar ke jalanan, sudah siap hidup susah seperti dulu lagi. Namun, kenyataannya tak sejalan apa yang dipikirkannya.
“Setelah ini, aku akan mendatangi sekolahmu. Aku akan ceritakan semua kelakuanmu pada pihak sekolah. Aku akan sebarkan semuanya pada dunia, agar mereka tahu bagaimana ja'langnya seorang Keisya. Aku ingin melihatmu hancur, tidak memiliki masa depan dan tidak sanggup mengangkat kepalamu saat berhadapan dengan orang lain. Aku akan membuatmu pergi dengan sendirinya tanpa aku harus mengusirmu dengan susah payah,” ancam Kailla.
Keisya terkejut. “Maaf, jangan lakukan itu. Aku tidak mau ....” Keisya buru-buru bersujud dan memohon ampun. “Jangan laporkan aku ke pihak sekolah. Aku tidak mau dijauhi teman-temanku. Aku tidak mau ....” Keisya menangis sembari memeluk kedua lutut Kailla.
“Singkirkan tanganmu! Kamu bahkan tidak pantas menyentuhku. Bersiap saja menikmati hidupmu yang bagai di neraka. Kamu tidak akan bisa lepas dariku,” ancam Kailla, beralih menatap Ibu Keisya yang tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri.