The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 71



“Ste, minta Pieter menggantikanku rapat dengan Mr. Tsang.” Pram menitah sekretarisnya melalui sambungan telepon. Ia tidak punya jalan lain, selain menyerahkan semuanya pada Pieter dan duduk manis di rumah. Kailla tidak akan tinggal diam andai ia berani melangkah keluar dari kediamannya.


Berjalan keluar kamar dengan ponsel masih menempel di telinga, Pram berpesan banyak hal pada sekretaris.


“Nanti laporkan semua hasil rapat padaku, Ste.”


“Ya, Pak.” Stella menjawab dari seberang.


“Oh ya, beberapa berkas penting yang harus segera ditandatangani tolong titipkan pada Bayu. Dia sedang dalam perjalanan ke kantor untuk mengambil semua dokumen yang harus ....” Suara Pram terhenti saat mendengar Kailla memanggilnya.


“Sayang, kamu mau ke kantor?” tanya ibu si kembar. Berbaring dan memejamkan mata, pusing masih belum mau pergi dari kepalanya.


“Sebentar, Ste. Kailla membutuhkanku.” Pram menurunkan ponselnya dari telinga dan berjalan menghampiri istrinya.


“Kenapa, Kai?” Pram menaikkan lutut kanannya di atas tempat tidur dan mendekati Kailla.


“Kamu mau ke kantor?” Kailla membuka mata.


Meletakkan ponselnya yang masih tersambung dengan sang sekretaris, Pram menempelkan punggung tangannya di dahi Kailla.


“Sayang ....” Kailla protes dan menepis tangan sang suami.


“Kenapa, Kai?” Pram berusaha sabar.


“Kamu mau ke kantor lagi?” tanya Kailla.


Pram menggeleng. “Tidak, Sayang. Aku meminta Pieter menggantikanku. Kalau sempat ... aku akan coba ikut rapat melalui sambungan video saja.” Pram menjelaskan. Jemarinya terlihat lincah, merapikan rambut panjang Kailla yang berantakan di atas bantal.


“Istirahat saja. Aku tidak akan ke mana-mana.” Pram tersenyum hangat. Ia berusaha untuk meyakinkan sang istri agar segera mengembalikan kepercayaan yang tak sengaja dinodainya. Ia tahu itu tidak mudah. Butuh kelapangan hati untuk memulai dan melupakan apa yang telah terjadi.


Kailla memejamkan mata setelah memastikan suaminya tidak berbohong.


“Aku akan bekerja dari rumah. Kalau membutuhkanku ... kamu bisa mencariku di ruang kerja.” Pram mendekatkan wajahnya, ragu-ragu mengecup bibir Kailla yang terbuka.


Rasanya sudah lama sekali tidak menikmati bibir manis istrinya. Belakangan ia tidak bisa mendekati, Kailla selalu mengaum dan siap menerkamnya.


Kailla membuka mata saat merasakan bibirnya disentuh dengan cara tak biasa. Begitu lembut dan hangat, Kailla bisa merasakan Pram tengah memanjakannya. Sapuan bibir sang suami begitu ringan dan manis.


“Maafkan aku, Kai. Tolong jangan marah lagi. Aku tidak mau melihatmu sakit seperti ini.” Pram berbisik pelan setelah menyudahi ciumannya. “Aku dan anak-anak sangat sedih melihatmu seperti ini.” Mengusap lembut kening Kailla, Pram juga merapikan anak rambut istrinya yang berantakan.


Ibu muda itu diam, menatap ke dalam manik mata suaminya. Pandangan itu teduh dan menenangkan jiwa.


“Aku harus minta maaf dengan cara apa?” tanya Pram lagi. Suaranya pelan, berbisik di telinga Kailla yang kini memalingkan wajah tak mau beradu tatap dengannya.


“Pergi!” usir Kailla.


Pram terbelalak. “Masih belum mau berdamai denganku?” Pram sudah setengah menindih, kedua tangannya mengunci di kiri dan kanan kepala istrinya.


Kailla menggeleng, cemberut dan memalingkan wajahnya ke samping. Ia tidak mau beradu pandangan. Suaminya sengaja mendekatinya dengan cara berbeda.


“Kai, tatap aku, Sayang.” Pram memohon.


Kailla masih menggeleng.


Tersenyum, Pram menggunakan ujung telunjuknya menyentuh dagu Kailla dan membuat istrinya itu mau menatapnya.


Deg—


Kailla tertegun ketika beradu tatap dalam jarak begitu dekat. Ia bisa merasakan embusan napas Pram, begitu dekat dan menyapu wajahnya.


“Aku mencintaimu,” bisik Pram dengan suara berat.


“Sangat mencintaimu.” Wajah pria 45 tahun itu kian dekat, menempelkan ujung hidung mancungnya pada ujung hidung lancip istrinya.


“Hanya ... mencintaimu.” Suara Pram terdengar semakin berat, embusan napasnya pun makin hangat.


“Jangan marah lagi, Mommy. Mau Daddy belikan tas baru?” tawar Pram, menegakkan duduknya. Tampak ia merapikan kemeja hitam yang menempel di tubuhnya dan terlihat berantakan.


Kailla diam.


“Terbaru?” tanya Pram lagi, menggelitik Kailla dengan tawaran yang menggiurkan.


Kailla terlihat berpikir, kemudian menggeleng kembali.


"Serius?" tanya Pram, masih belum puas.


"Ya ...." Kailla menjawab lemah.


Terdengar helaan napas Pram, pria itu menyerah setelah tak berhasil membujuk Kailla. Entah menggunakan cara apa lagi untuk melunakkan sang istri. Ciumannya dibalas, Kailla tak menolak didekati tetapi saat diajak berdamai, istrinya menolak tegas.


"Aku harus bekerja, Sayang." Pram berdiri dan menyunggingkan senyuman. Sedikit membungkuk, ia menghadiahkan kecupan di pelipis Kailla. "Istirahat saja. Biarkan anak-anak bersama dengan pengasuhnya hari ini." Pram baru akan melangkah pergi saat teringat dengan ponselnya yang masih tersambung dengan Stella dan diletakkan di atas nakas.


"Ya Tuhan, aku membuat Stella menunggu." Tanpa banyak bicara, Pram mematikan sambungan teleponnya.


***


Setelah dua hari beristirahat di rumah, kondisi Kailla jauh lebih baik. Ia sudah bisa menyiapkan sarapan pagi dan MPASI untuk kedua putranya. Ibu Citra yang pagi itu ikut sarapan bersama karena permintaan Pram tampak senyum-senyum sendiri. Perutnya kenyang tepat saat Pram meletakkan shopping bag berisi tas di atas meja.


"Untuk Mama, Pram?" tanya Ibu Citra, matanya berbinar.


"Ya, aku tadinya mau membeli dua. Yang hitam untuk Mama dan yang pink untuk ...." Pram berhenti bicara, melirik ke arah Kailla sekilas.


"Sudahlah. Istriku sekarang sudah tidak menyukai tas lagi. Sekarang, aku cukup membeli untuk Mama saja." Pram menjatuhkan bokongnya di kursi, diam-diam mencuri tatap pada Kailla yang pura-pura sibuk menyiapkan nasi dan lauk untuknya.


"Terima kasih, Pram." Mama Citra sangat bahagia melihat hadiah dari putranya.


"Dibuka saja, Ma. Mungkin Kailla juga ingin melihatnya." Pram tersenyum licik, menunggu reaksi istrinya.


Benar saja, begitu tas hitam dikeluarkan dari kotaknya, bubur pumpkin yang hendak disiapkan Kailla untuk kedua putranya tertumpah. Bola mata ibu si kembar itu membulat sempurna, melebihi bulan purnama.


"Cantiknya, Pram." Ibu Citra mendekap tas hadiah dari Pram dengan penuh cinta.


"Kalau Mama mau, masih ada di kantor. Tapi, berwarna merah muda. Kalau Mama mau, ambil saja." Pram berkata sembari menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sendiri. Ia sedang menunggu detik-detik Kailla memohon padanya.


Sedetik, dua detik, lima detik hingga semenit terlewati. Pram sedang menunggu istrinya membuka suara sambil menyantap makanannya. Ia mengulum senyuman saat melihat Kailla meraih tisu dan meminta Kinara membersihkan bekas tumpahan bubur.


"Kin, tolong bersihkan. Aku harus menghubungi Bella. Aku ada janji dengannya hari ini."


Deg--


Pram menelan ludah sembari menajamkan pendengarannya untuk menguping pembicaraan istrinya.


"Boo, apa kabar?" tanya Kailla saat panggilannya tersambung. Ia dengan sengaja menyalakan pengeras suara agar Pram juga ikut mendengar acara jalan-jalannya bersama Bella siang nanti. Ia tidak akan membiarkan Pram menang semudah itu.


"Aku Bapak, bukan Ibu. Ada apa, Kai? Bara menerima panggilan dengan ketus. Istrinya sedang sibuk mengurus anak-anaknya.


"Om, Bellanya ada?" tanya Kailla ragu-ragu.


"Ada, tapi tidak bisa menerima telepon. Di rumahku sekarang pukul 07.00, sedang jam sibuk." Bara setengah menggerutu.


"Baiklah, kalau begitu ... aku ke sana membawa anak-anakku. Sudah lama putra kembarku tidak mengacak-acak rumahmu, Om."


Bara tersentak, terakhir saat putra kembar Pram itu berkunjung ke rumah sudah memecahkan vas antik peninggalan kedua orang tuanya. Terbayang entah apalagi yang akan dihancurkan Kentley dan Bentley di kunjungannya kali ini. Kenakalan anak Pram saat berkolaborasi dengan Real sama dengan gempa bumi berpotensi tsunami. Apa saja akan disapu oleh ketiganya tanpa pandang bulu.


"Ti ... tidak bisa, Kai. Bella sibuk sampai batas waktu yang tidak ditentukan." Bara bergidik ngeri, membayangkan kekacauan yang akan terjadi andai mengizinkan Kailla berkunjung. Seorang Kailla saja, ia sudah kewalahan. Apalagi ditambah dua prajurit kecil Pram yang mulai mengikuti jejak ibunya menjadi pengacau kecil.


***