The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 43



Tanpa terasa, perayaan ulang tahun RD group pun tiba. Kailla, Ibu Citra dan anak-anak sudah bersiap sejak sore. Acara tahunan ini tidak digelar meriah setiap tahun, tergantung kebijakan dari Pram dan hasil diskusi dengan beberapa petinggi perusahaan.


Pram yang sejak siang keluar karena ada sedikit urusan, baru kembali saat semua orang sudah siap dan berdandan rapi, menunggu di ruang tamu.


"Sayang, kamu cantik sekali." Pram melangkah masuk ke dalam rumah. Tatapannya terpaku pada Kailla yang tampil cantik dengan gaun serba terbukanya.


"Kenapa terlambat sekali, Pram?" tanya Ibu Citra, ikut bicara.


"Ya, Ma. Aku ada sedikit masalah di kantor. Padahal sejak seminggu yang lalu sudah minta Stella mengosongkan jadwalku." Pram menjelaskan.


Pria itu menyapa kedua putranya yang kini tampak tampan dengan balutan tuksedo putih, duduk manis di pangkuan kedua pengasuhnya, Kinara dan Binara yang juga dihadiahkan gaun oleh Kailla. Khusus tahun ini, Kailla menghadiahkan banyak sekali gaun dan setelan jas untuk para bawahan, asisten dan beberapa karyawan kantor.


"Anak Daddy tampan sekali hari ini," ucap Pram sembari mengecup pipi Bentley dan Kentley bergantian.


"Kamu juga cantik, Ma." Pram mengedipkan sebelah matanya sebelum menarik pergelangan Kailla mengikutinya ke kamar. Pujian yang ditujukan pada Ibu Citra sanggup membuat perempuan lanjut usia itu melambung ke udara. Malu-malu, mencengkeram tas tangan mungil pinjaman dari menantunya.


Untuk masalah penampilan, Ibu Citra tidak pernah memusingkannya. Kailla mengurus semua untuknya, bahkan tadi pagi menantu kesayangannya itu turun tangan sendiri memoles kutek kuku di jari-jari tangannya yang keriput.


Ia beruntung bermenantukan Kailla. Di balik sifat manja, asal dan suka seenaknya, ibu dari cucu kembarnya itu sosok yang baik dan tulus. Tidak terbayang bagaimana nasibnya andai Pram menikah dengan wanita lain.


***


Kailla tengah memainkan game di ponsel, duduk di sofa kamarnya sembari menunggu Pram keluar dari kamar mandi. Hampir setengah jam memusatkan perhatiannya pada pertandingan di gawai rose gold-nya, Kailla tersadar saat mendengar derap langkah kaki Pram mendekat.


"Sayang, kamu yakin dengan gaunmu?" Pram melepas bathrobe dan meraih pakaiannya yang sudah disiapkan Kailla di atas sofa.


"Yakin." Kailla menatap Pram sekilas. Suaminya itu sedang berjuang mengenakan celana panjang.


"Tidak ada niat berubah pikiran?" tanya Pram lagi, menatap paha putih mulus yang terpampang dan menggoda.


Kaki kanan Kailla keluar dari belahan gaun yang tinggi. Belum lagi bagian atas gaun tidak sanggup menutup surga dunia para kaum lelaki. Pram hanya bisa mengumpat dalam hati dan berdoa semoga gaun itu tidak membawa tragedi untuk istrinya. Andai melorot di tengah pesta, atau sobekan di gaun makin tinggi. Pram bergidik ngeri, membayangkan semua ketakutannya itu menjadi kenyataan.


"Tidak, ini sudah cantik. Rambut dan make-up sudah sempurna. Mau diganti dengan apa lagi." Kailla menelan saliva, saat tatapannya tertuju pada perut kotak suaminya.


"Ya sudah, aku bisa apa kalau istriku sudah memutuskan." Pram tersenyum kecut saat keikhlasan itu hanya sebatas bibir.


Buru-buru berpakaian dan meminta Kailla memasangkan dasi seperti biasa. Harinya tak akan sempurna tanpa sentuhan tangan istrinya.


"Kai, tolong pasangkan untukku." Pram berjalan mendekat dan membungkuk ke arah Kailla supaya istrinya bisa memasangkan dasi kupu-kupunya dengan leluasa.


Dari jarak dekat, ia bisa melihat jelas wajah istrinya yang sudah disapu dengan sentuhan bedak.


"Kamu ke mana saja seharian ini?" Tiba-tiba, Kailla yang tengah memasangkan dasi melempar pertanyaan.


Pram mengerutkan dahi. Tidak biasanya Kailla menanyakan banyak hal padanya. Istrinya itu selalu percaya penuh dengan semua ucapannya selama ini.


"Di kantor. Aku ada urusan dengan pengacaraku, lalu ada sedikit masalah di proyek dan tidak bisa ditunda." Pram menjelaskan.


"Ini sudah, Sayang. Kamu terlihat tampan," puji Kailla, menempelkan hidungnya pada hidung mancung Pram.


"Ya Tuhan, Kailla ...." Pram berdecak dan menggeleng saat melihat sang istri menyiksa diri demi tampil cantik. Terbayang bagaimana sulitnya berjalan dengan hak di atas 7 cm berujung lancip.


"Jangan banyak protes, aku baik-baik saja." Kailla membela diri, menarik ujung gaunnya dan menunjukan kakinya yang terbalut high heels model tali berwarna keemasan. Jari-jari kaki berhias kutek senada tampak indah dipandang mata.


***


Tempat acara di sebuah ballroom di hotel berbintang telah ramai disesaki tamu dan karyawan RD Group. Pram yang masuk menggenggam erat tangan istrinya, tiba-tiba menjadi pusat perhatian.


Tidak seperti biasanya, pemilik RD Group itu tampil sempurna dengan jas rancangan desainer ternama tanah air. Di belakang keduanya tampak Ibu Citra dan si kembar yang digendong pengasuhnya.


Pram tampak menyapa beberapa kenalan dan relasi bisnisnya, ia juga mengenalkan Kailla pada mereka. Sedangkan Ibu Citra memilih membawa kedua cucunya duduk di meja yang telah disediakan. Umur membuatnya tidak bisa berdiri terlalu lama.


Di salah satu meja, tampak Keisya memandang Pram tak berkedip. Netranya sejak awal kedatangan Pram dan Kailla terus mengekor pergerakan sang pemilik acara malam itu.


Ia merasa diabaikan dan sendirian. Biasanya, Pram akan menyapa. Sekedar bertanya mengenai kabarnya dan Ibu. Namun, saat ini terasa berbeda. Begitu masuk ke tempat pesta, Pram terlihat menggandeng Kailla ke sana kemari. Terlalu sibuk, bahkan Pram melupakannya. Padahal, ia sudah berdandan cantik, berharap mendapat pujian.


"Kei, Kei ...." Stella yang duduk semeja dengan remaja magang itu mulai menangkap kecurigaan. Sejak tadi Keisya menatap ke arah yang sama dan Stella paham sekali arti tatapan Keisya yang penuh iri.


"Kei, apa yang kamu lihat?" tanya Stella lagi. Sekretaris itu bisa melihat perubahan wajah Keisya yang tidak biasa.


"Eh ... tidak, Bu Bos. Aku hanya ...."


"Ah, aku tahu. Pasti kamu sedang mengagumi Nyonya, kan?" pancing Stella. Ia harus mencari tahu banyak hal dan memantau Keisya. Kalau memang gadis remaja yang bekerja di bawah pengawasannya itu hendak melangkah lebih jauh, ia pastikan akan melapor pada Kailla. Bukannya penjilat, ia tidak suka dengan Keisya yang selalu mencari perhatian dan sepertinya haus akan perhatian atasannya.


Keisya mengalihkan pandangannya. Ia kesal, Pram yang biasanya peduli, kini melupakan keberadaannya.


"Jangan berpikiran macam-macam. Kamu masih kecil, sekolah yang benar. Pak Pram itu sudah beristri, jadi jangan bermimpi lebih. Pak Pram tidak mungkin melirik wanita lain apalagi bocah ingusan sepertimu."


"Aku ...." Keisya mengarahkan telunjuk ke arahnya sendiri.


Stella mengangguk. "Jangan karena Pak Pram baik, jadi kamu berpikiran lebih. Pak Pram itu baik pada siapa saja, termasuk padaku."


"Ah, Bu Bos. Jangan berlebihan. Aku tidak memikirkan apa pun." Keisya berkata pelan dan menunduk. Kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan.


Ia merasa iri pada istri Pram. Entah kenapa, rasa itu tiba-tiba muncul. Padahal, ia tahu kalau Pram yang dipanggilnya Om adalah pria beristri. Namun, belakangan ini ia merasa nyaman. Pram memperhatikan dan menyayanginya dengan cara berbeda. Bahkan, ayah dan ibunya tidak selembut itu. Dan sekarang, saat Pram mengabaikannya, ia merasa kehilangan.


Sepanjang acara, gadis remaja itu tidak konsentrasi. Diam-diam mencuri pandang dari kejauhan.


"Beruntung sekali ... dia mendapatkan suami sebaik Om Pramku." Keisya bicara dalam hati.


-


-


-