The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 54



Keisya menunduk sedih. Ia tahu Pram marah besar karena kelancangannya. Sejak kemarin, ia merenungi semua kesalahannya dan menyesal.


Pagi ini, seperti biasa ia berangkat ke kantor dengan wajah sembab karena terlalu banyak menangis. Pram benar-benar mengabaikannya setelah memarahinya. Pria dewasa itu bahkan tidak menyapanya saat berpapasan di pintu masuk. Biasanya, Pram akan tersenyum dan menanyakan kabar ibunya setiap pagi.


"Kenapa lagi, Kei?" tanya Stella sembari menyodorkan ponsel Keisya yang dititipkan Pram padanya.


Keisya menggeleng. "Om Pram marah padaku."


"Kenapa?" tanya Stella penasaran. Sejak awal sekretaris itu melihat sendiri kesabaran Pram menghadapi Keisya. Tentu saja ia tidak menyangka kalau Pram bisa juga marah dan mendiamkan Keisya. Bahkan memindahkan gadis SMA itu ke divisi lain. Yang tidak ada hubungannya dengan Pram bahkan ruangannya pun berbeda lantai.


"Aku ... aku ...." Keisya menghempaskan tubuhnya di kursi sambil meraih kembali ponselnya.


"Aku ... sepertinya menyukai, Om. Selama ini Om Pram sudah baik padaku dan Om Pram memarahiku karena itu." Keisya menumpahkan isi hatinya setelah sepanjang malam memendam sendiri. Ia tidak bisa berbagi masalah dengan ibunya. Apalagi teman-temannya, Pram menyita ponselnya.


Deg--


Stella tertegun sejenak, kemudian tergelak. Awalnya, saat ia tidak mengerti apa-apa, sekretaris itu sempat khawatir sampai berpikiran buruk pada atasan dan anak bau kencur yang sering keluar bersama saat makan siang, hingga mengadu pada Kailla. Namun, saat Pram menjelaskan padanya tentang isu simpang siur yang tengah hangat di lingkungan kantor, Stella paham. Apalagi Pram juga menjelaskan tentang kecelakaan yang menimpa ayah Keisya dan Bayu yang harus ditahan di penjara.


"Jangan konyol, Kei." Stella menepuk pundak Keisya sambil menahan tawa.


"Pak Pram sudah beristri. Jangan terbawa perasaan. Kalau kamu di posisiku pasti sudah lama luluh lantah." Stella menjelaskan. Ia berharap Keisya mengerti.


Keisya tertegun.


"Aku bekerja sebagai sekretaris Pak Pram itu sudah lama. Dari sebelum Pak Pram menikah. Kami sering makan siang berdua, terkadang keluar kota dan semobil bersama. Tak jarang harus berduaan dari pagi sampai malam." Stella bercerita.


"Lalu ... apa aku harus ikut menyukainya. Hanya karena Pak Pram yang kelelahan dan tanpa sengaja tertidur di bahuku. Apa aku harus terbawa perasaan karena Pak Pram membantuku dan keluargaku saat mendiang kakakku, sakit keras dan kehabisan biaya."


Keisya menyimak.


"Beruntunglah, istri Pak Pram bukan orang udik, yang membatasi ruang gerak suaminya. Nyonya tumbuh di lingkungan perusahaan. Dia sudah biasa melihat sekretaris menempel pada ayah dan suaminya. Tapi, jangan coba-coba memancingnya. Saat ia mencurigai seseorang dan merasa terancam, habis hidupmu. Istri Pak Pram lebih mengerikan dari yang kamu bayangkan." Stella mengingatkan.


"Saat itu terjadi, Pak Pram sendiri pasti kewalahan menanganinya," ancam Stella.


"Aku ... aku ... menyesal, Bu Bos. Aku mau minta maaf pada Om Pram. Didiamkan seperti ini tidak enak. Tidak ada lagi yang perhatian padaku." Keisya cemberut.


"Lagi pula, kamu terlalu terbawa perasaan sendiri, Kei. Jadinya seperti ini, kan."


"Maaf, aku salah." Keisya tertunduk.


"Pak Pram baik pada semua orang yang dikenalnya. Bukan hanya padaku, dulu mantan pacarnya pun dibiayai saat masih di rawat." Stella menjelaskan.


"Masalah tempat tinggal, Pak Pram tidak hanya peduli padamu. Beberapa asisten juga dihadiahi rumah oleh Pak Pram. Itu ... si Bayu. Bahkan anak istrinya hidup ditanggung Pak Pram. Rumahnya bagus, dapat mobil juga. Semua dari Pak Pram." Stella sedikit menyesal sudah mengompori Kailla dengan memberi informasi sesat mengenai apartemen setelah tahu kepemilikan apartemen itu atas nama Kailla sendiri. Sekretaris itu berharap ucapannya tidak membuat rumah tangga atasannya berantakan.


"Nah, kalau si tengil Sam. Dia dikuliahkan di kampus mahal sama dengan istri Pak Pram. Jadi jangan terlalu berlebihan. Sikap baik Pak Pram ... bukan hanya padamu, tetapi juga pada semua orang."


Keisya mendengarkan dengan serius.


"Aku sarankan ... kalau mau hidup tenang. Nikmati saja apa yang kamu miliki sekarang. Jangan berpikir yang aneh-aneh. Sekolah yang benar. Aku yakin ... kalau untuk sekolah, Pak Pram bahkan rela merogoh kocek lebih andai kamu meminta kuliah di luar negeri." Stella menyakinkan.


"Ya sudah. Aku harus belajar di tempat yang baru. Belum tentu ... dia sebaikmu, Bu Bos. Aku masih ingin di sini." Keisya melemas.


"Ya. Nanti kalau butuh apa-apa ... minta saja padaku. Pak Pram sudah memintaku untuk mengurusmu. Jangan chatting terus. Bosmu yang baru nanti mengomel." Stella tersenyum ramah.


Hari-hari berlalu begitu cepat, tak terasa dua minggu terlewati. Kehidupan rumah tangga Pram dan Kailla tenang tanpa riak. Pram sibuk dengan pekerjaan kantor, Kailla menghabiskan sebagian hari di kampus dan menemani si kembar yang seminggu belakangan ini tidak enak badan. Kentley rewel dan sering menangis kencang, Bentley tidak mau lepas dari gendongan setiap melihat Kailla.


Disibukan dengan tugas kuliah dan anak-anak, Kailla mulai melupakan kecurigaan yang sempat tertanam di benaknya. Terlalu sibuk, ia bahkan tidak ada waktu melihat apartemen baru yang kini sudah ditempati Keisya dan ibunya.


"Tidur, Sayang." Kailla berbaring menyamping sembari menyusui si bungsu Kentley. Kakaknya, Bentley sudah lebih dulu memejamkan mata.


"Ssstt ... ssstt ...." Ditepuknya pelan bokong mungil putra bungsunya. Kailla berharap Kentley lekas tertidur.


Mata Kailla hampir terpejam, ibu muda itu sudah akan menyusul tidur saat dentingan beruntun pesan masuk di ponsel Pram yang diletakan di atas meja kecil di samping tempat tidur.


"Berisik sekali. Ke mana pemiliknya," gerutu Kailla dengan wajah mengantuk. Diraihnya ponsel Pram dengan wajah kesal. Ia khawatir putranya terbangun.


Suaminya berpamitan ke kamar mandi sampai sekarang belum kembali.


"Apa dia tenggelam di dalam bathtub?" Kailla mengernyit menatap jam di dinding. Sudah hampir satu jam Pram masuk kamar mandi dan sampai sekarang belum menyusulnya ke kamar anak-anak.


Dengan malas, Kailla menuju ke kamarnya yang terletak di sebelah kamar si kembar. Namun, ada sesuatu yang menggelitik saat melihat notifikasi pesan masuk di aplikasi hijau yang terpampang jelas di layar ponsel.


"Siapa ini?" Kailla menghentikan langkahnya. Sudah lama ia tidak menyisir ponsel suaminya.


Mengusap pelan dengan ujung telunjuk, Kailla terbelalak dengan ribuan pesan yang tidak dibaca Pram. Dari grup alumni SMP, SMA, universitas sampai ke paguyuban komplek.


Kailla menggelang. "Andai tetangga rumah ada yang berduka, Pram tidak akan tahu apa-apa. Memang lebih cepat mengandalkan Sam. Informasi Sam lebih akurat dan terpercaya. Kucing tetangga bun'ting saja, Sam tahu jelas siapa bapaknya." Kailla tergelak, mengusap layar ponsel suaminya dan mencari sesuatu yang menarik.


Jemari itu masih menari dengan lincah saat netra Kailla menangkap chat masuk dari nomor yang tidak terdaftar.


"Siapa ini?" Kailla heran. Ada puluhan pesan belum dibaca.


Jantung Kailla bergemuruh saat membuka dan memastikan isi pesan beruntun yang ditujukan untuk suaminya.


Om, maafkan aku. Jangan marah lagi. Aku janji tidak akan nakal dan membuat Om kesal.


Om.


Om.


Om, jangan marah lagi. Aku janji tidak akan mengulangi. Aku tahu, aku salah.


Om.


Om.


Ada puluhan pesan yang tidak dibaca Pram, tetapi Kailla belum mengetahui jelas siapa pengirimnya. Jemari lentik itu masih mengusap, sampai di pesan terlama.


Om, ini Keisya. Maafkan Aku. Aku menyesal. Jangan marah lagi. Aku janji tidak akan mengulangi. Aku janji tidak akan lancang lagi.


-


-


-