
Pram masih menatap langit-langit kamar sembari mengintip pergerakan di atas tempat tidur. Otaknya sedang merancang rencana licik untuk membuat Kailla menyerah.
“PPKM?” Pram tergelak. “Pelan-pelan kamu menyerah. Aku pastikan.” Dengan penuh percaya diri, pria itu melipatkan tangan di dada, menikmati hawa dingin yang membuat ngilu tulangnya.
Mulai menimbang rencana apa yang akan dilancarkannya untuk menaklukkan istrinya, seringai licik tampak di bibirnya.
“Sayang, kamu sudah tidur?” Pram memecah keheningan malam, membuka pembicaraan.
“Hmm.” Kailla bergumam sembari memejamkan mata, refleks menarik selimut untuk menghangatkan tubuhnya yang terbalut pakaian tipis.
“Mau mendengar ceritaku?” tanya Pram lagi.
“Hmm.” Kailla masih bergumam. Separuh dari kesadaran sudah tidak di tempatnya lagi.
“Ada cerita menyeramkan terjadi ....” Pram menaikkan kepalanya, mengintip pergerakan di atas tempat tidur. “Huh! Akan sia-sia saja sepertinya. Kailla sudah terbang.” Pram merebahkan tubuhnya kembali dan meratapi nasibnya.
“Apa aku langgar saja aturannya. Toh, aturan dibuat untuk dilanggar.” Pram tersenyum. “Nanti, kalau dia marah tinggal minta maaf. Urusan selesai, dapat pelukan hangat.” Pram baru saja menurunkan kakinya dari sofa saat terdengar suara Kailla mengingatkannya.
“Berani melangkah ....”
“Ternyata dia belum tidur.” Pram merapikan duduknya, menghela napas kasar. Kalau tidak ingat semua ini terjadi karena kesalahannya, tentu saja Pram bisa bersikap semena-mena seperti dulu. Namun, kondisinya beda. Ia bersalah pada Kailla dan ia harus rela membujuk dengan sabar. Apa lagi saat ini istrinya itu tengah hamil muda, Pram tak mau pertengkaran mereka memengaruhi kehamilan Kailla.
Mengumpulkan sabarnya sambil memastikan Kailla tertidur, Pram menabuh genderang kemenangan saat bunyi dengkuran halus Kailla mulai terdengar teratur.
“Kisah horor tidak mempan. Baiklah, aku akan menarik selimutnya dan membiarkan dia kedinginan seperti yang lalu-lalu. Tak perlu menunggu lama, Kailla pasti akan datang padaku." Tidak mungkin juga mematikan lampu kamar, jeritan ketakutan Kailla akan mengagetkan putra kembar mereka.
Mengendap-endap, Pram sudah menarik selimut dan menurunkan suhu ruangan. Disembunyikannya kain tebal itu di dalam lemari, Pram harus memastikan kalau Kailla tidak akan menemukan dan mau tidak mau berlari ke dalam dekapannya mencari kenyamanan.
“Beres.” Pram menelan saliva. Binar matanya seolah hendak menerkam Kailla yang terbungkus lingerie merah. “Aku pastikan kali ini kamu sendiri yang datang padaku, Sayang.” Pram menghela napas lega, kembali berbaring di sofa sambil menunggu detik-detik kemenangannya tiba.
Waktu telah lewat tengah malam, hari pun berganti sudah saat Pram merasakan hawa dingin menembus kulit dan merontokkan tulang-tulangnya. Menggigil kedinginan karena ulah dirinya sendiri, tidur Pram terusik sembari meringkuk di sofa.
“Jam berapa sekarang?” Tak hanya dingin, pria itu juga harus menghadapi serangan pegal di pinggang dan leher karena posisi tidurnya yang tak sempurna.
Pandangan Pram beralih ke atas tempat tidur saat memastikan jam di dinding sudah hampir pukul 04.00 pagi.
“Kailla?” Pram meloncat turun dari sofa saat memastikan tempat tidur telah kosong. Jangankan Kailla, jejak pun sudah tak ada. Entah ke mana perginya mommy si kembar. Pram tampak menguap, melangkah ke kamar putranya dengan mata setengah terpejam.
Ngilu itu masih merasa mencabik-cabik tubuh Pram. Ujung kaki dan tangannya sedingin es, bahkan ia harus menggerakan tubuhnya untuk mengusir dingin yang tengah menyerang.
“Hooh.” Pram menghela napas. Ia kesal melihat Kailla tengah terlelap dengan nyaman, membungkus diri dan bersembunyi di balik selimut tebal bermotif The Cars.
“Ini artinya fungsi otakku yang menurun seiring pertambahan usia atau otak Kailla yang mengalami peningkatan seiring bertambahnya umur. Harusnya aku sudah tahu, dia akan mengungsi ke kamar anak-anak saat kedinginan, bukan mendatangiku dan meminta kehangatan atau pelukan. Bodohnya kamu, Pram.” Pria dengan kaus tidur dan celana pendek itu memukul dahinya sendiri. Ia tidak peduli lagi, memilih tidur di samping Kailla.
Masa bodoh dengan omelan istrinya. Kepalanya sakit, ia kedinginan. Setidaknya bisa menumpang dan berbagi selimut dengan ibu si kembar.
Namun, kelegaannya tidak berlangsung lama, Kailla terusik dan menedangnya turun.
“Mau apa?” Kailla bertanya dengan suara serak. Matanya membuka lebar, menatap tajam pada Pram yang tengah bersiap mengambil posisi nyaman di sampingnya.
“Tidur di tempatmu!” usir Kailla. “Sudah menumpang banyak maunya!” gerutu Kailla lagi, menguasai selimut dan tidak mau berbagi. Ia bisa melihat rona kecewa Pram yang terpaksa bangun dari tidur dan melangkah kembali ke kamar mereka.
***
Pagi harinya, Pram sudah keluar kamar menenteng jas hitam dan siap berangkat ke kantor. Menjatuhkan bokong ke kursi, ia bersiap menyantap sarapan buatan Kailla yang tiada duanya. Apalagi kalau bukan telur ceplok tanpa minyak dengan tingkat kematangan kuning telur yang sempurna untuk selera Pram.
"Kai, sampai kapan kita harus saling mendiamkan seperti ini?" Pram membuka suara sembari menatap istri yang tampak cantik dengan celemek merah muda.
Mengaduk-aduk telur yang disajikan di atas piring, Pram terlihat melamun. Selera makannya hilang bersama kepergian Kailla.
"Pram, apa yang terjadi?" Suara Ibu Citra tiba-tiba menyapa. Wanita tua itu sengaja berkunjung pagi-pagi sekali untuk memastikan keadaan menantu kesayangannya baik-baik saja. Kehamilan Kailla membuatnya terlalu bahagia sampai tak bisa tidur nyenyak sepanjang malam.
"Ma." Pram menatap mamanya dengan sedih. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk melunakkan istrinya. Ia sangat berharap bisa menemani Kailla semalam kehamilan ini, membayar semua yang terlewatkan saat istrinya hamil si kembar.
"Apa yang terjadi? Bukannya Kailla hamil lagi, harusnya kamu bahagia?" Ibu Citra menjatuhkan tubuh dan duduk di hadapan putranya. Belakangan ini, ia mulai membaca ada sesuatu yang terjadi di dalam rumah tangga putranya. Meskipun begitu, Ibu Citra memilih tidak ikut campur sampai Pram sendiri yang membaginya.
Pram memandang lekat mamanya. Terlihat pria berkemeja hitam pekat itu berpikir. "
Apa aku minta bantuan Mama saja untuk melunakkan Kailla. Mereka selalu sehati. Pasti Kailla akan mudah dibujuk oleh Mama.
Pram menyunggingkan senyuman.
Berdeham pelan, Pram menegakkan duduknya. "Ma, apa aku bisa meminta bantuanmu?" Pram memulai.
"Ada apa?" Ibu Citra menatap heran.
"Aku sedang bermasalah dengan Kailla. Sampai sekarang dia belum mau memaafkanku, Ma." Suara Pram terdengar lemah. Rasanya malu menceritakan masalah rumah tangganya pada orang lain. Di usianya yang setua ini, rasanya sudah tidak pantas.
"Masalah apa?" Ibu Citra masih menyimak. Sikapnya pun masih santai seolah bukan masalah besar. Sebagai orang tua, ia sudah sangat hafal dengan hubungan Pram dan Kailla. Berbagai kegilaan yang mungkin bagi orang luar akan menggeleng kepala, Ibu Citra sudah terbiasa. Putra dan menantunya sama-sama gila dan tak tahu malu dalam hal mencintai.
"Kailla cemburu pada seorang gadis yang magang di kantor." Pram memulai.
"Lalu?"
"Istriku sempat mengamuk dan mendatangi gadis itu ...."
"Siapa? Gadis mana? Usia berapa?" Ibu Citra mulai terpancing.
"Keisya. Anak magang di kantor. Aku sering membantunya. Ayahnya sudah meninggal dan ibunya sakit-sakitan. Masih kelas 3 SMA," jelas Pram.
"Lalu? Apa yang membuat Kailla mengamuk?"
"Gadis itu diam-diam menyukaiku dan Kailla tahu kalau gadis itu sempat memeluk dan menciumku."
Ibu Citra terbelalak. "PRAM!" Ibu Citra tiba-tiba berdiri dan menggebrak meja.
"Ma, dengarkan dulu. Aku tidak punya perasaan apapun padanya. Hanya saja ...."
"Kurang ajar. Pantas saja Kailla memusuhimu. Kalau suamiku, sudah pasti aku akan mencincangnya sampai tak bersisa." Ibu Citra berdiri dengan kedua tangan di pinggang, menatap Pram dengan penuh amarah.
Glek.
Pram menelan saliva. Harusnya ia tahu kalau mamanya dan Kailla itu bak pinang dibelah dua. Ia salah meminta bantuan mamanya. Yang terjadi malah sebaliknya, hanya menambah masalah.
"KAI!" teriak Ibu Citra. "Sini, Kai." Wanita berusia senja itu sudah naik darah dan bersiap mencabik-cabik putranya.
"Ma, sudah. Jangan begini." Pram berusaha membujuk.
"Tidak, aku pastikan akan menyeretmu ke seberang. Akan aku tenggelamkan!" Ibu Citra mengancam.