The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 78



Pram melangkah keluar dari ruang praktik dokter kandungan sambil menggenggam tangan Kailla. Perasaannya begitu bahagia sejak dokter memastikan kalau istrinya benar-benar hamil. Ia bahkan hampir gila, menghadiahkan kecupan bertubi-tubi pada Kailla yang tertegun di atas brankar.


Pria 45 tahun itu bahkan tidak peduli dengan dokter dan perawat yang mengulum senyuman dan ikut merasakan kebahagiaan yang sama.


“Kai, kamu tunggu di sini.” Pram menuntun dan membawa istrinya yang tengah hamil sepuluh minggu itu duduk di salah satu kursi kosong ruang tunggu. “Aku masih harus antre untuk mengambil vitaminmu.” Pram tersenyum, mengusap pelan pucuk kepala istrinya dengan penuh cinta.


“Apa akan lama?” tanya Kailla, cemberut. Sejak mengetahui kehamilannya, wanita cantik dengan rambut tergerai itu selalu menghela napas berat, seakan ada beban berat yang dipikulnya.


“Kenapa? Kamu lapar?” tanya Pram, mengalihkan pembicaraan. Sejak awal, ia sudah membaca gelagat Kailla yang tidak nyaman, sering kesal tanpa alasan dan nada bicara terdengar ketus.


Kailla menggeleng.


“Sabar, ya. Aku mengantre dulu.” Pram tersenyum. Saat ini, ia berusaha untuk menyenangkan Kailla dan membuat istrinya bisa berpikiran positif. Hamil dan melahirkan tidak semengerikan yang ada di benak Kailla. Ia tahu, proses melahirkan tiap anak itu tidaklah sama. Ketakutan Kailla mungkin saja tidak akan terjadi.


Pram baru akan melangkah pergi, tetapi pria dewasa itu berbalik, tiba-tiba membungkuk dan memeluk Kailla. “Jangan sedih. Ini hadiah untuk kita, bukan musibah.” Pram berbisik di telinga Kailla, menghadiahkan kecupan di pelipis istrinya.


“Jangan cemberut lagi. Nanti, Tuhan kecewa. Bayangkan kalau kamu memberi sesuatu pada seseorang dan orang itu tidak bersyukur dan sedih menerima pemberianmu. Apa kamu tidak akan kecewa?” bisik Pram, mengingatkan. Diusapnya lembut pipi cemberut Kailla.


Sang istri diam, tidak bereaksi. Namun, Pram yakin kalau Kailla tengah mencerna semua kata-katanya. Saat ini istrinya butuh diingatkan, dijelaskan bukan dibentak atau dikasari, walau terkadang reaksi Kailla berlebihan dan menyebalkan.


Pram mengerti sekali, hamil dan melahirkan itu tidak mudah. Ia menemani Kailla selama hamil dan melahirkan si kembar. Pria dewasa itu tahu, sebesar apa pun kebahagiaan yang dirasakan wanita saat hamil, pasti tersimpan ketakutan dan khawatir akan bayangan melahirkan yang pastinya tidak mudah. Tiap wanita memiliki cara masing-masing untuk menyembunyikan ketakutan itu, termasuk istrinya. Meskipun Pram merasa tidak wajar, tetapi itu yang sekarang dihadapi Kailla.


“Jangan sedih. Ingat kita pernah kehilangan. Aku yakin ... kamu tidak akan mau merasakan kehilangan itu lagi. Aku cari waktu, kita mengunjungi Daddy dan mamamu untuk mengabari kehadiran cucu baru mereka.


Kailla masih menutup mulut rapat-rapat, menatap suaminya tak berkedip.


“Ayolah, Kai. Bayangkan kebahagiaan Mama saat mengetahui kehamilanmu. Apalagi kalau di dalam sini ada baby girl. Kamu bebas mendandaninya nanti. Walau perempuan atau laki-laki itu tidak masalah untukku. Bagiku sama saja.” Pram tersenyum ramah.


***


Sepanjang perjalanan dari rumah sakit menuju ke kediaman mereka, Pram terus menggenggam tangan istrinya. Ketika mobil sedan hitamnya berhenti di halaman rumah pun, pria itu masih tetap enggan melepaskan Kailla.


“Kai, mengenai Keisya ... biarkan Stella atau siapa pun yang mengurusnya. Kamu tidak perlu mengurusinya sendiri.” Pram bersuara. Duduk tenang di balik kemudi mobil yang kini sudah terparkir rapi di pekarangan rumah.


“Tidak. Aku akan mengurusi anak itu.” Kailla menegaskan. "Aku sudah tidak percaya pada siapa pun, termasuk padamu.” Kailla menjawab ketus. “Sekarang lepaskan tanganmu. Aku mau masuk ke dalam dan bertemu si kembar.”


Membuka kasar pintu mobil, Kailla terlihat berjalan tergesa-gesa menuju ke rumah. Ibu hamil itu mengabaikan sapaan asistennya, wajah cemberut Kailla masih tampak jelas di wajah cantiknya.


Pram sendiri memilih menemui mamanya, berjalan dengan kedua tangan menyelip di saku celana, pria berkemeja putih itu sudah tidak sabar membagi kebahagiaan dengan mamanya.


“Ma.” Pram menyapa sesaat masuk ke rumah mamanya. Tampak Ibu Citra tengah berbaring di kursi malas, tertidur dengan televisi menyala.


“Ma.” Menggeleng dan tersenyum menatap wanita berusia senja yang tengah terlelap.



"Ma." Kembali Pram menyapa sambil meraih remote TV dan mematikannya. Kali ini dengan guncangan pelan di bahu, sontak membuat wanita tua yang sedang bertualang di alam mimpi itu terbangun.


"Pram?" Ibu Citra tampak ragu, menyipitkan matanya untuk memastikan pandangannya tidak salah.


"Ya, Ma."


"Ada apa? Kamu tidak ke kantor?" Ibu Citra heran, mengedar pandangan ke sekeliling rumah.


Ibu Citra tertegun sejenak, mencerna semua ucapan putranya yang terdengar tidak nyata. Bola mata wanita berdaster biru itu seakan meminta jawaban dan kepastian dalam kebungkamannya.


Pram mengangguk.


"Jadi Kailla benar-benar hamil? ini bukan prank, kan?" Ibu Citra bertanya dengan polosnya.


Pram tergelak. "Sejak kapan mama mengenal kata prank?"


"Sam yang mengajariku. Asistenmu itu senang sekali mengerjaiku. Setiap aku mengomel, dia mengatakan hanya prank supaya aku tidak jadi memarahinya." Ibu Citra meloncat turun. Ia berlari keluar rumah sambil menyerukan nama menantunya. Terlalu bergembira, bahkan ia lupa mengenakan alas kaki, menyusuri jalanan berkerikil itu dengan kaki telanjang.


"Kai!" seru Ibu Citra. Ia berteriak mengejutkan semua orang di dalam rumah.


"Kailla," teriak wanita tua yang kini sedang berbunga-bunga. Ia akan mendapatkan cucu dari menantu kesayangannya.


Pram hanya bisa menggeleng. "Ya Tuhan, bagaimana kamu bisa mempertemukan botol dan tutup yang sudah terpisah bertahun-tahun lamanya. Mukjizat itu benar-benar nyata." Pram tertawa setiap mengingat kelakuan mamanya yang tak jauh beda dengan istrinya.


***


Sam berlari masuk ke dalam rumah untuk menemui Pram, ia tidak tahu apa yang terjadi. Kedatangan Pram yang tiba-tiba menjemput Kailla dan meninggalkannya sendiri di kediaman Bara membuatnya bertanya-tanya sejak tadi.


"Ada apa, Pak?" Pemuda dengan kemeja biru muda itu berdiri di hadapan majikannya yang tengah menatapnya dengan kedua tangan terlipat di dada.


Sepertinya masalah serius.


Sam mulai waswas, perasaannya sudah tidak enak. Ia khawatir Kailla membuat kekacauan tanpa sepengetahuannya. Ia bisa habis di tangan Pram andai semua itu benar-benar terjadi.



"Sam, Kailla sedang hamil. Aku ingin kamu menjaganya dengan baik." Pram membuka suara.


Pria matang itu memutuskan untuk tidak kembali ke kantor, ia terlalu bahagia dan melupakan pekerjaan penting di perusahaan untuk sementara. Kehadiran seorang anak di usianya yang tidak muda lagi, benar-benar menjadi hadiah terindah untuk Pram.


"Non ... Kailla hamil lagi?" Sam menepuk pelan dahinya, wajahnya bertekuk begitu berita bahagia sampai ke telinganya. Terbayang sudah pekerjaan berat menantinya di depan mata.


"Kenapa reaksimu tidak jauh beda dengan majikanmu?" tanya Pram bersiap menyeruput kopi hitamnya.



"Bu ... bukan begitu, Pak. Ini aku sedang bahagia." Sam berkelit, memaksa tersenyum.


"Bahagia dari mana? Reaksimu dan Kailla hampir sama." Pram menatap tajam ke arah Sam.



"Tolong jaga Kailla untukku. Selama istriku hamil, Bayu akan menemanimu untuk menjaganya," ujar Pram. Ia tidak mau lengah. Kehamilan pertama dan kedua, selalu ada saja yang mengusik kehidupannya. Ia tidak mau sampai kehamilan Kailla kali ini juga bermasalah.


"Baik, Pak."


"Terjadi sesuatu pada Kailla, aku pastikan tamat riwayatmu." Pram mengancam.


"Ya, Pak." Sam menurut. Ia tidak berani protes.