
"Sam!" Kailla berteriak.
"Y-ya, Non." Asisten itu terbata. Ingin rasanya mengumpat pasangan suami istri yang sedang bertengkar di hadapannya. Pasangan setengah gila yang selalu menjadikan dirinya tempat pelampiasan.
"Ayo, cepat!"
Sam diam, menatap sedih ke arah Pram.
"Pak, mau pilih yang mana? Aku menurut saja. Kalau disuruh pukul, aku akan memukul. Kalau disuruh panggilkan Bayu, aku juga tidak keberatan." Sam membiarkan Pram memilih salah satunya.
"SAM!" Kailla berteriak.
"Y-ya, Non. Aku bingung. Apa tidak ada pilihan lain?" Sam menawar, buru-buru memasukan sisa kerupuk kulit ke dalam mulutnya agar tidak terbuang percuma.
"Ada. Pilihan ketiga ... kamu dipecat!"
Mata Sam membulat. "Ini lebih parah lagi," cicit Sam memandang sedih ke arah Pram.
"Aku akan memberimu waktu, Sam. Satu ... dua ... tiga ... empat ... lima." Emosi Kailla kian terpancing saat melihat Sam tampak santai seakan tidak terpengaruh akan hitungannya yang kian bertambah.
"SAM!" teriak Kailla lagi.
"Apa lagi, Non? Aku mendengarmu menghitung. Silakan lanjutkan." Sam menjawab tanpa beban.
Napas Kailla semakin pendek-pendek. Tangan terkepal, menatap tajam ke arah asistennya.
Sam menciut. "Aku harus bagaimana? Non mau berhitung dan aku hanya bisa menyimak." Sam menjawab. Bagi Sam, berhadapan dengan Kailla tidak semenyeramkan saat berhadapan dengan Pram.
"Aku menunggu jawabanmu." Kailla menjawab ketus.
"Non tidak mengatakannya dengan jelas. Non hanya mengatakan akan menghitung tanpa memberi batas dari hitungan berapa sampai ke berapa ...." Sam masih saja menjawab. Sontak membuat darah Kailla kian mendidih.
"SAM!" teriak Kailla dengan wajah memerah menahan kesal.
"Sudah-sudah, Sam. Ambilkan kunci mobilku di tempat Bayu. Turuti Kailla," titah Pram pada akhirnya. Ia tidak mau membuat amarah Kailla tambah menjadi karena keisengan Sam di waktu yang tidak tepat.
"Ba-baik, Pak." Sam berbalik, menggaruk kepala.
"Tanganku sudah gatal ingin menghajar Pak Pram. Tadinya aku pikir akan diminta memukul, ternyata aku harus menyimpan keinginan itu dalam-dalam." Sam berbicara dalam hati. Bibir asisten itu mekar, tersenyum membayangkan wajah Pram babak belur.
Tak butuh waktu lama, Sam kembali bersama Bayu saat Pram sedang berusaha membujuk Kailla dengan berbagai upaya.
"Sam, mana kunci mobilnya." Kailla bersuara setelah sejak tadi bungkam. Ia sama sekali tak mau meladeni rayuan suaminya.
"Sayang ...." Pram masih mengunci pinggang ramping Kailla dengan kedua tangannya.
"Aku tidak ada urusan denganmu. Mana kunci mobilnya, Bay. Berikan padaku!" titah Kailla menyodorkan tangannya.
"Kai, aku mohon ... jangan seperti ini. Kamu belum lancar membawa mobil sendiri. Biarkan Bayu atau Sam yang menyetir." Pram memohon.
"Makanya sekarang aku mau melatihnya supaya lancar. Kalau tidak begini sampai Sam berjenggot kawat pun aku tidak akan lancar-lancar menyetir," gerutu Kailla.
"Sayang ...."
"Menyingkir!" Kailla mendorong Pram menjauh. "Kenapa? Kamu takut mobilmu lecet dan rusak lagi?" tuduh Kailla, menatap tajam sang suami.
"Ti-tidak. Bukan begitu, Sayang. Aku bukan takut mobilnya, aku lebih takut istriku lecet." Pram kembali melancarkan rayuan.
"Huh! Berhenti memanggilku sayang. Aku muak mendengarnya."
"Sayang ...."
"Bay, katakan di mana mobil kesayangan tuanmu diparkir. Kalau tidak mau menurutiku ... aku akan mengatakan pada Tante Kinar kalau selama kamu tidak pulang ke rumah itu sebenarnya kamu sedang bersama istri mudamu." Kailla mengancam.
Bayu diam sembari melempar pandangan pada Pram.
"Pergi! Aku tidak mau terlihat akur denganmu. Di depan dua orang itu ... kita tidak perlu bersandiwara," omel Kailla, menghempas tangan Pram dan berjalan di depan.
Kedua asisten hanya bisa mengikuti dari belakang. Terdengar Sam berbicara pelan pada Bayu yang berjalan di sampingnya.
"Ini masalah orang ketiga. Seperti dulu lagi, Bay. Sewaktu Non Kailla bersama Dewa Yunani. Hanya saja, sekarang Dewi Yunani yang menggoda Pak Pram," bisik Sam.
"Lagipula, Pak Pram sudah tahu istrinya seperti penguasa neraka, masih saja berani coba-coba. Nah, benar-benar terbakar sekarang," lanjut Sam.
Asisten itu tiba-tiba berhenti melangkah ketika Pram berbalik dan menatap tajam ke arahnya.
"Jangan membahas masa lalu Kailla. Kalau sampai istriku mendengar, kamu akan tahu akibatnya," ancam Pram mengarahkan telunjuknya pada Sam.
***
Sepasang suami istri itu sudah berada di dalam mobil. Kailla menggenggam setir dan Pram duduk di sebelahnya.
"Sayang, jangan terlalu kencang membawa mobilnya." Pram menggenggam erat sabuk pengamannya saat Kailla melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Kenapa? Kamu takut kita kecelakaan dan tidak bisa bertemu dengan istri mudamu?" tanya Kailla ketus sambil memukul setir mobil berulang kali.
Ibu muda itu sudah ingin memukul suaminya. Semakin lama ia menatap, keinginan untuk menghajar Pram kian besar. Apalagi saat teringat Keisya sudah mencium dan memeluk sang suami tanpa sepengetahuannya.
"Huh!" Kailla menginjak pedal gas, membuat mobil mewah Pram melesat dan meraung di jalanan ibu kota.
Tampak Bentley Continental hitam itu menyalip satu persatu kendaraan lain dan menjadi pusat perhatian pemakai jalan lainnya.
"Sayang, jangan begini. Bahaya." Pram berusaha menenangkan saat merasakan laju mobil kian cepat.
"Tidak. Aku harus memberimu pelajaran dan ...." Kailla tidak melanjutkan kalimatnya. Ia terkejut dengan penjual bakso gerobak yang tiba-tiba muncul dari persimpangan.
"Sayang, rem!" teriak Pram, buru-buru membuka sabuk pengaman yang melilit di tubuhnya. Ia bisa melihat kepanikan Kailla saat kemudi yang dipegang istrinya sudah tidak tentu arah.
"SAYANG, REMNYA!!" teriak Pram sambil mengambil alih kemudi dan memutar ke arah kanan saat mobil hampir menghantam trotoar.
Kailla bergeming. Panik membuat otaknya berhenti berpikir.
"SAYANG, INJAK REMNYA!" teriak Pram lagi.
"Hah?" Kailla bingung. Bahkan, ibu muda itu melupakan mana pedal gas, mana pedal rem.
"KAILLA ITU GAS!" Pram kian panik saat laju mobil bertambah kencang. Pria matang itu tidak bisa berpikir dan berbuat banyak saat mobil berada di dekat perempatan lampu merah. Ia terpaksa mengarahkan mobilnya ke sebuah pohon di pinggir jalan agar tidak memakan banyak korban.
"SAYANG!" teriak Pram, berusaha memeluk Kailla saat mobilnya akan berbenturan dengan pohon besar.
CITTT ... BRAKK. Suara ban yang menggesek aspal saat mobil dipaksa berhenti tiba-tiba dan diakhiri dengan dentuman kencang.
Kailla tertegun di dalam pelukan Pram. Ia berhasil menginjak pedal rem di detik-detik terakhir, tetapi kecelakaan tunggal itu tidak dapat terelakan.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Pram setelah mobilnya berhenti sempurna.
"Y-ya, aku baik ... baik saja." Jantung Kailla bergemuruh.
"Tidak ada yang terluka?" tanya Pram, membingkai wajah Kailla dan tersenyum.
Kailla menggeleng lemas.
"Tunggu, aku akan menghubungi Sam. Dia akan mengantarmu pulang. Aku akan mengurus semuanya di sini." Pram mengusap pucuk kepala Kailla yang masih terkejut.
"Kamu tunggu di sini. Aku akan keluar untuk memastikan apa yang terjadi." Pram mengecup kening Kailla yang masih tak bereaksi.
"Kunci pintu dan jangan keluar sampai aku memintamu," ujar Pram berpesan sebelum turun dari mobil. Ia menggeleng melihat kaca mobil yang hancur dan sebagian melukai tubuhnya saat hendak melindungi Kailla.
***