
"Ya, Bar. Ada apa menghubungiku?" tanya Pram bersikap santai
"Kamu bermasalah dengan istrimu?" tanya Bara saat mendengar suara Pram menyapa. Ia sudah tidak sabar membagi berita yang membuatnya hampir tidak percaya.
"Ada apa?" tanya Pram, bingung. Bersandar di dinding, pria dewasa itu belum bisa menerka apa yang ingin disampaikan Bara padanya.
"Istrimu mau menggugurkan kandungannya. Sebaiknya selesaikan masalah kalian, jangan sampai ...."
Pram tergelak. "Kamu sedang mengerjaiku?"
"Aku serius. Aku mendengar sendiri kalau Kailla ingin menggugurkan kandungannya. Dia sedang di tempatku, mengobrol dengan Bella."
Pram sedang merangkai semua kata-kata Bara. Butuh beberapa detik untuknya memahami semua cerita sahabatnya tentang sang istri yang berencana menggugurkan kandungan.
"Kamu jangan bercanda, Bar. Istriku tidak ham ...." Kalimat Pram menggantung, ia tertegun sejenak.
Ingatan Pram tertuju pada sikap dan tidak tanduk Kailla yang memang berbeda beberapa hari belakangan. Bahkan, istrinya tampak pucat dan sempat jatuh pingsan di ruang rapat.
"Ya Tuhan, istriku benar-benar hamil dan aku tidak tahu apa-apa." Pram memejamkan mata, menyesal.
"Bar, aku ke tempatmu sekarang. Tolong tahan Kailla di sana sampai aku datang."
Bara terkekeh. " Tenang saja, istrimu kalau tidak diusir, tidak akan ingat pulang," canda Bara.
Berlari menuju lift, Pram melupakan rapatnya. Saat ini pikirannya disesaki Kailla. Mengingat, mengulang kembali apa yang dilewatinya, Pram mendesah berulang kali dan menyesal karena tidak sepeka dulu. Harusnya ia sudah bisa membaca kejanggalan-kejanggalan yang ditunjukkan Kailla beberapa hari belakangan.
"Bodohnya kamu, Pram," ucapnya mengumpat diri sendiri sembari menekan tombol lift untuk mengantarnya ke tempat parkir.
"Padahal aku sudah merasa ada yang tidak beres dengan Kailla, tetapi ...." Pram menghela napas panjang, teringat kemarin ia meminta Kailla menahan lapar dan berakhir pingsan. Jika benar istrinya hamil, bisa saja berakibat fatal pada bayinya yang masih lemah.
"Semoga tidak terjadi apa-apa," ucap Pram berjalan keluar dari lift. Bibirnya sejak tadi komat-kamit, bicara sendiri. Bahkan, ia mengabaikan sapaan beberapa karyawan yang berpapasan dengannya. Pikirannya sudah terbang jauh menuju ke tempat istrinya. Tidak sabar untuk segera bertemu dengan Kailla dan memastikan semua.
***
Menempuh perjalanan dari kantor ke kediaman Bara, khawatir dan bahagia menyatu di dalam diri pria 45 tahun itu. Pram hampir gila saat mobil yang dikendarainya sendiri itu bertarung dengan kemacetan jalan raya. Ia hanya bisa menekan klakson hampir tak berjeda, memancing umpatan pengendara lain. Terlalu panik, ia tidak peduli lagi dengan keadaan di sekitarnya. Pria berhias peluh di dahi itu harus segera sampai di tujuan dan memastikan sendiri keadaan Kailla yang sebenarnya.
Pram baru bisa menghela napas lega saat mobil sedan hitam mengkilap yang dikemudikannya masuk ke dalam pekarangan rumah Bara. Jantungnya bergemuruh, berlari masuk ke dalam rumah Bara yang terbuka lebar. Ia sudah tidak peduli dengan sopan santun yang harus dijaganya sebagai tamu. Saat ini, detik ini ia hanya ingin bertemu dengan Kailla, memeluk dan mengucapkan kata maaf sampai istrinya puas.
"Pram." Bara terkejut melihat sahabatnya muncul di depan mata dengan tampilan sedikit berantakan kemeja kerja yang biasanya rapi, kini sudah keluar dari celana. Kancing-kancing pun sebagian terbuka dan memamerkan kulit dada berkeringat.
"Istriku mana?" tanya Pram, sudah tidak sabar. Ia hanya melirik Bara yang tengah duduk santai di ruang tamu.
"Di teras samping bersama Bella. Istriku sedang membujuknya agar berubah pikiran dan tidak melanjutkan niat gilanya."
"Aku permisi menemui Kailla."
Bara menggeleng saat melihat sahabatnya yang sudah tidak bisa berpikir tenang. Ia mengerti sekali apa yang dirasakan Pram saat ini.
***
Kailla tertunduk lesu, duduk di kursi taman sembari memandang bunga mawar merah yang bermekaran. Jujur saja, ia masih bingung dengan kehamilannya. Bukannya tidak bahagia, tetapi setiap mengingat proses kelahiran yang akan dilewatinya beberapa bulan ke depan, Kailla benar-benar diliputi kekhawatiran.
Belum ada setahun, ia harus berbaring pasrah di atas meja operasi. Sekarang, Kailla harus merasakannya lagi. Bahkan sakitnya suntikan-suntikan menusuk kulit, perihnya luka sayatan itu masih tersimpan rapi di otaknya. Ketakutannya belum hilang, kini ia harus menerima kenyataan kalau semua itu harus dilewatinya lagi beberapa bulan ke depan.
"Sayang." Suara maskulin yang tidak asing tiba-tiba menyadarkan Kailla
"Om Pram." Bella tersenyum, menyapa dengan ramah. Buru-buru ia berdiri untuk menyambut tamunya.
"Sayang." Suara Kailla menggantung, tatapannya bertemu dengan sang suami. Ia nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pram sedang tersenyum menatapnya, berdiri di pintu. Entah bagaimana suaminya tahu dan menyusul ke tempat Bella.
Berjalan mendekat tanpa banyak bicara, Pram memeluk Kailla. Dikecupnya kening dan pipi sang istri bertubi-tubi, menumpahkan kebahagiaan dan kegembiraan yang ditahannya sejak tadi. Paniknya menguap, berganti kelegaan yang tampak jelas di wajah tampannya.
"Kamu hamil?" tanya Pram sesaat setelah mengurai pelukannya. Pertanyaan yang disimpannya sejak tadi dan membutuhkan jawaban secepatnya untuk menyempurnakan semuanya.
Kailla diam dan tertunduk, kedua tangannya terkulai di atas pangkuan.
"Kenapa tidak memberitahuku mengenai kehamilanmu?" tanya Pram lagi.
Bella yang terpaku menatap keduanya, terkejut saat merasakan tepukan ringan di bahunya. Seseorang memanggilnya dari belakang.
"Mas." Bella berbisik pelan.
"Ayo ikut aku. Biarkan mereka bicara dari hati ke hati. Urusan rumah tangga, kita tidak perlu ikut campur." Bara mengulurkan tangannya dan menggandeng tangan istrinya pergi menjauh.
"Kai, kenapa tidak mau jujur padaku? Sejak kapan kamu mengetahuinya?" todong Pram lagi.
Kailla menggeleng.
"Sudah diperiksa?" tanya Pram lagi.
"Belum." Suara Kailla terdengar pelan, tetapi sanggup membuat Pram berbunga-bunga. Kailla tidak membantah. Itu sudah cukup menjawab penasarannya.
Kita ke rumah sakit sekarang," putus Pram, menggandeng tangan Kailla dan mengajak istrinya itu mengikuti langkahnya.
***
"Jangan lakukan ini lagi. Selama ini aku tidak tahu kalau kamu hamil dan harus ikut denganku bepergian jauh. Mudah-mudahan bayi kita baik-baik saja. Kalau tidak, aku akan merasa bersalah sekali, Kai." Pram berkata pelan sesaat setelah mereka berada di dalam mobil.
Kailla masih diam, tertunduk dan tidak mau bicara.
"Jangan marah lagi, Sayang. Aku minta maaf." Pram menoleh ke samping sambil mengusap pipi Kailla. Ia tidak mau menyakiti istrinya walau sempat kecewa dengan pernyataan Bara yang mengatakan kalau Kailla ingin membuang bayi mereka.
Pram tahu, saat ini Kailla butuh dukungan, bukan kemarahannya. Apapun yang Kailla pikirkan, pria itu yakin istrinya tidak akan tega dan sanggup menggugurkan kandunganya. Ia sudah mengenal Kailla dengan baik.
"Kenapa tidak memberitahuku?" Pram mengulang pertanyaan yang sama.
Kailla lagi-lagi menggeleng.
"Masalah Keisya?" tebak Pram.
"Bukan." Kailla menjawab singkat.
"Lalu?"
Kailla mengangkat pandangannya, memberanikan diri menatap sang suami. "Aku tidak mau melahirkan lagi."
***
Jadwal up, rilis novel baru bisa ikuti ig : casanova_wetyhartanto