The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 41



"Ste, tolong carikan rumah atau apartemen yang tidak terlalu jauh dari kantor." Pram yang baru kembali dari makan siang tiba-tiba menurunkan titah pada sekretarisnya.


Di belakang pria matang itu, mengekor Keisya dengan senyum merekah sempurna. Bagaimana tidak bahagia, Keisya masih setengah tidak percaya saat Pram menjelaskan padanya perihal rumah baru yang akan disiapkan Pram untuknya dan sang ibu.


"Siap, Pak. Stella buru-buru berdiri. Sedikit bingung mengenai hunian yang dimaksud atasannya.


"Rumahnya seperti apa, Pak? Kalau apartemen tipe apa, Pak?" Stella mencari tahu lebih banyak lagi.


Pram tampak berpikir. "Rumah di komplek perumahan, memiliki parkiran mobil. Tidak perlu dua lantai. Rumah yang ramah dan nyaman untuk wanita paruh baya yang sedang dalam masa pemulihan. Kalau apartemen ... pastikan ambil unit di lantai paling bawah. Jangan terlalu tinggi yang bisa menyulitkan akses ibu untuk ke mana-mana." Pram menjelaskan.


"Tapi, aku pribadi lebih merekomendasikan rumah dibanding apartemen." Pram melirik ke arah Keisya yang tengah tersenyum mendengar ucapannya.


"Tanyakan saja padanya," lanjut Pram, menunjuk ke arah Keisya. Ia menolak ikut campur terlalu jauh dan menyibukan diri dengan pekerjaan kantor yang sedang menanti.


Bunyi pintu ruangan Pram tertutup, Stella meneliti Keisya yang tengah berdiri sembari tersenyum manis. Gadis itu memainkan kedua alisnya dengan rona memancarkan kebanggaan. Tentu saja Keisya sedang berbangga diri saat menjadi anak emas pemilik perusahaan yang tampan, pengertian dengan segudang kesabaran.


"Apa benar Pak Pram berselingkuh?" Stella memandang Keisya dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Sudah bukan rahasia lagi di kalangan karyawan RD Group mengenai kedekatan Pram dan anak SMA yang sering berkeliaran bersama di saat jam makan siang. Sejauh ini Stella masih berpikiran positif dan tidak mau terseret dalam isu-isu yang belum terbukti kebenarannya. Ia sangat mengenal Pram, atasannya itu sangat mencintai anak dan istrinya. Mustahil rasanya Pram berselingkuh seperti kabar yang beredar dari mulut ke mulut belakangan ini.


Namun, permintaan yang belum lima menit keluar dari bibir Pram membuat Stella terhanyut dalam pusaran curiga.


"Apa selama ini yang dibicarakan anak lantai bawah benar adanya." Stella mengerutkan dahi, masih menatap ke arah Keisya.


"Bu Bos, jangan melihatku seperti ini. Aku jadi malu." Keisya menghempaskan bokongnya di kursi, duduk nyaman di depan Stella.


"Rumah itu untukmu?" Stella memastikan.


Keisya mengangguk.


"Aku mau apartemen, Bu Bos. Izinkan aku memilih sendiri. Karena aku dan ibuku yang akan tinggal di sana," pinta Keisya.


"Kamu tidak sedang menggoda Pak Pram, kan?" todong Stella dengan ketus. Terbayang andai Keisya benar-benar menggoda atasannya, ia tidak akan tinggal diam. Sebagai sesama perempuan, ia akan membela Kailla.


Keisya menggeleng, wajahnya tampak kebingungan. "Om Pram sendiri yang menginginkan aku dan Ibu pindah dari kontrakan. Kami tidak pernah memintanya, Bu Bos." Keisya menjelaskan.


Stella masih berusaha mencari tahu, mencari kebenaran dari pernyataan Keisya.


"Kamu sedang tidak menjadi sugar baby, kan?" tembak Stella langsung ke sasaran.


Keisya tambah bingung. "Istilah apalagi itu? Kamu jangan membuatku pusing, Bu Bos. Otakku tidak sanggup mencerna istilah-istilah asing. Kemampuan berpikirku tidak setara dengan kemampuanku membuat kekacauan," sahut Keisya dengan polosnya.


"Simpanan Om-om beristri yang haus sentuhan daun muda. Pacaran dengan mereka, dibiayain, dijajani, dibelikan apartemen, barang-barang mewah, ponsel mahal, mobil, uang saku bulanan dengan nilai fantastis dan bonus jalan-jalan ke luar negeri." Stella berterus terang.


"Wah, parah. Bicaramu ngawur, otakmu travelling ke mana-mana, Bu Bos." Keisya menjentikan jemarinya tepat di hadapan Stella. Dengan santai mengabaikan ucapan Stella dan menganggap angin lalu.


Stella heran. Sembari duduk kembali, sekretaris itu masih belum puas mencari tahu.


"Kei, kamu dan Pak Pram ke mana saja? Kenapa sering keluar bersama saat jam makan siang?"


"Makan siang. Terkadang jenguk Ibu di rumah sakit." Keisya menjawab santai.


"Kamu tidak takut istrinya Pak Pram marah ... kalau sering pergi berdua. Walau bagaimana pun, Pak Pram itu pria beristri." Stella berusaha menjelaskan.


"Cuma pergi makan memang salah. Aku tidak merebut Om Pram. Dia 'kan tetap suaminya wanita menyebalkan itu."


"Hush!" Stella mengibaskan tangannya, meminta Keisya berhenti bicara.


"Serius aku, Bu Bos. Aku tidak menyukainya." Keisya bicara blak-blakan.


"Sudahlah, jangan diperpanjang." Stella akhirnya mengalah. Tidak mau berdebat yang akan membuat masalah melintir ke mana-mana.


***


Beberapa hari kemudian.


Pram tampak menunggu di mobil sembari bersandar di kursi dan memejamkan mata. Bayu yang sudah mulai aktif kembali terlihat keluar mencari makan siang di sekitar tempat mobil mereka terparkir.


Siang itu, Pram ada janji menemani Kailla dan mamanya mencari gaun di butik langganan keluarga mereka. Seperti biasa, Pram tidak mengizinkan Kailla menentukan sendiri gaun yang akan dikenakan di perayaan ulang tahun perusahaan. Selama mengarungi bahtera pernikahan, tidak ada satu pun pilihan Kailla yang tak berujung dengan penyesalan.


Pria dengan kemeja hitam itu hampir tertidur saat ketukan pelan di jendela mobil mengusiknya.


"Kailla ...."


Pram membuka pintu mobil dan tersenyum menyambut istrinya yang tengah menggendong Kentley.


"Kamu membawa anak-anak juga." Tak lama, Pram turun dari dalam mobil dan menyambut si bungsu.


"Ya, sekalian membawa mereka jalan-jalan."


"Mama ikut, kan?" tanya Pram lagi, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Pria itu tengah mencari keberadaan sang mama.


"Ada. Sudah masuk ke dalam bersama Bentley."


"Ya sudah. Ayo, aku harus segera kembali ke kantor, Kai. Masih ada rapat penting." Pram menjelaskan.


***


Sedangkan di sisi lain, Ibu Citra tampak cemberut. Sedikit berbeda dengan Kailla yang tiap kali ditolak Pram, perempuan berusia senja itu selalu dianggukin Pram. Lima gaun yang dicobanya selalu mendapat komentar yang sama.


"Pram, ini bagaimana?" tanya Ibu Citra.


"Cantik, Ma." Pram menatap sekilas dan langsung mengeluarkan pendapatnya.


Ibu Citra kesal. Belum sempat berbalik masuk ke kamar ganti, Kailla sudah keluar dengan gaun yang ke sekiannya.


"Sayang ... bagaimana?" tanya Kailla, berputar.dan memamerkan gaun indah yang kini melekat di tubuhnya.


"Itu kepanjangan, Sayang. Kamu akan kesulitan berjalan nanti." Pram menjelaskan keberatannya. "Tapi ... atasnya cantik. Kamu terlihat menggoda." Pram tersenyum, menatap Kailla tak berkedip.


Ibu Citra bertambah kesal saat Pram mengomentari gaun Kailla dengan begitu detail. Sedangkan mengomentari gaunnya asal-asalan.


"Pram, apa ini tidak terlalu panjang menurutmu?" Ibu Citra mencoba menarik perhatian putranya.


Pram melirik mamanya sekilas. "Itu tergantung Mama sendiri, aku tidak bisa berkomentar."


Ibu Citra terbelalak. "Istrimu dikomentari panjang lebar, sedangkan Mama ...." Ibu Citra menggeleng, merasa tidak diperhatikan.


"Mama sudah berumur. Kenakan saja gaun yang membuatmu nyaman, Ma. Bukan dilihat dari penampilan luar. Apapun yang Mama kenakan akan tampak cantik di usia Mama." Pram menjelaskan alasannya.


"Aku tidak bisa mengomentari, Mama. Asal Mama nyaman, itu sudah lebih dari cukup," lanjut Pram.


Ibu Citra tidak melanjutkan kalimatnya, ia terbelalak saat melihat Kailla yang keluar dari dalam kamar ganti dengan gaun indah menjuntai. Belahan dada rendah membuat Pram melotot. Belum lagi saat Kailla berputar, gaun berwarna keemasan itu tidak sanggup menutup punggung mulus Kailla.


"Gaun apa ini?" Pram menggeleng.


"Belahan dada rendah, belahan paha tinggi, punggung tanpa penutup. Ya Tuhan, perancangnya sedang tidur saat mendesain gaun ini sampai terbalik antara belahan dada dan paha," lanjut Pram.


"Ini saja, Kai." Ibu Citra


"Aku mau ini, Sayang." Kailla tersenyum menatap mertuanya. Ibu Citra pun turut setuju dengan pilihannya.


"Tidak! Pilih yang lain, asal jangan yang ini," tegas Pram.


"Ah, Sayang ... boleh, ya?" Kailla berjalan mendekat, membungkuk dan mengecup bibir Pram tanpa malu-malu.


Pram menggeleng.


"Ini cantik, Sayang," bujuk Kailla lagi.


"Tetap tidak. Terlalu cantik, aku susah menjagamu." Pram tersenyum usil.


"Ah ...." Kailla menggerutu kesal.


"Kin, Bin." Tolong bawa anak-anak." Pram menyerahkan si kembar pada pengasuh. Sejak tadi, tidak ada satu pun gaun yang melekat di hatinya. Entah apa yang dilakukan Kailla sejak tadi.


Berjalan di depan deretan gaun yang tergantung rapi di lemari kaca, Pram menunjuk beberapa gaun yang menarik perhatiannya. Kailla hanya mengekor di belakang, tak berani protes.


"Sayang ...." Tangan Kailla tiba memeluk erat perut Pram.


"Hmm." Pram melirik ke belakang dengan ekor matanya saat merasakan Kailla tengah menempel di punggungnya.


"Aku mencintaimu, tapi sayangnya gaun yang kamu pilihkan itu terlalu ketinggalan zaman." Kailla berbisik pelan.


Pram menghentikan langkahnya. Tiba-tiba berbalik dan mengunci Kailla dengan kedua tangannya. Dua karyawan butik yang tengah mendekap gaun tampak mengulum senyuman.


"Bisa tinggalkan kami sebentar." Pram meminta.


Keduanya mengangguk dan diam-diam pergi tanpa bicara.


"Apa pun yang istriku kenakan pasti sempurna. Tidak ada istilah ketinggalan zaman."


"Ah, tapi ...."


"Kamu yang pilih, aku hanya akan mengangguk atau menggeleng. Jangan terlalu terbuka, sedikit terbuka tidak apa-apa. Suamimu tidak terlalu dermawan, sampai mengikhlaskan istrinya jadi tontonan semua orang."


"Benarkah? Boleh sedikit seksi? Aku juga ingin menjadi pusat perhatian dan tampil cantik, Sayang." Wajah Kailla berbinar.


Pram mengangguk. Sejak dulu wanita memang terlahir seperti itu, selalu memuja kecantikan. Ia bisa apa, selain diam-diam memendam cemburu. Tidak semua harus mengikuti aturannya, terkadang Pram juga harus mengalah. Kailla masih terlalu muda saat menikah dengannya, belum puas menikmati indahnya kebebasan.


"Yes!" Kailla meloncat dan segera berbalik.


Belum sempat Kailla melangkah, Pram sudah memukul bokong istrinya sembari menggigit bibir.


"Ayo cepat, aku akan membantumu mengenakannya di ruang ganti. Pasti menyenangkan di dalam." Pram tersenyum usil sembari melirik jam mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.


-


-


-