
Kediaman Barata Wirayudha.
Siang itu, ruang tamu kediaman Bara dipenuhi teriakan dan tangisan anak-anak. Real yang memang sedang tidak bersekolah tampak mengusili si kembar, Bentley dan Kentley. Ella dan Queen ikut meramaikan dengan celoteh tak jelas keduanya yang bersahut-sahutan, berebutan boneka.
Real, putra pemilik rumah itu selalu bahagia mendapat kunjungan Kailla. Bagaimana tidak, ia yang menjadi satu-satunya pangeran di keluarga Wirayudha itu jadi memiliki teman bermain, meskipun usia Real jauh di atas si kembar.
Di sofa ruang tamu terlihat Kailla dan Bella tengah berbincang. Tertawa cekikikan, nada bicara turun naik menurut tema, bola mata keduanya bermain mengikuti tema pembicaraan yang sudah lari ke mana-mana .
“Onty ....” Real tiba-tiba datang dan memeluk erat Kailla. Tak sampai di situ saja, Real melompat naik ke atas pangkuan Kailla.
“Hati-hati, Real. Di dalam perut Onty Kai ada adik bayi.” Bella waswas dan mengingatkan.
“Hah? Adik bayi lagi?” Real terbelalak, memperhatikan perut Kailla yang masih rata.
“Boy?” Real mengusap perut tante kesayangan yang selalu membawakan hadiah setiap berkunjung.
“Jangan boy lagi, yang ini harus girl, Sayang. Kasihan Onty belum ada saingan di rumah.” Kailla tergelak mendapati ekspresi aneh Real.
“Aku mau boy, Onty. Biar ... biar bisa diajak main pedang-pedangan.” Real cemberut.
“Onty mau girl. Cantik, pintar seperti Onty.” Kailla menangkup kedua pipinya dengan telapak tangannya.
“Ya, kalau girl ... aku ... aku tidak bisa ajak main Onty. Tidak bisa diajak berantem. Ah, tidak seru.”
“Lah, Real 'kan sudah besar. Jagoan harus jaga adik-adiknya.” Kailla kembali tergelak saat pipi Real mengembung. Bocah laki-laki berusia enam tahun itu cemberut. Tidak terima dengan pernyataan Kailla.
“Aku tidak mau. Adik-adik nakal.” Real menunjuk ke arah Ella dan Queen yang digendong pengasuhnya.
“Mau jaga adik yang di perut Onty saja. Pasti yang ini tidak nakal. Yang ini baik ‘kan, Onty? Tidak seperti Ella, berteriak terus. Apa ... apa lagi Qin, hanya bisa menangis. Lapar menangis, pup menangis, semuanya menangis. Aku pusing, Onty,” celoteh Real disambut tawa Kailla dan Bella pecah seketika.
Di antara semuanya, Real yang paling aktif dan susah diatur. Sering tidak terkendali dan mudah terpancing emosi. Belum lagi teriakannya kadang tidak terkontrol dan membuat kedua orang tuanya menyerah akan kerasnya sikap Real.
Namun, anehnya bocah kecil nakal kebanggaan Wirayudha itu sangat menyayangi Kailla. Ia akan menurut dan mudah diatur.
“Onty, aku main dengan kembar dulu, ya.”
“Hai, aku Real. Nanti kita berteman, ya.” Berlari menghampiri si kembar, ia masih masih sempat melambaikan tangan pada tante kesayangan.
Kailla tersenyum menatap Real yang lincah dan menggemaskan. Sejak masih dalam kandungan, ia merasa ada ikatan tersendiri dengan Real. Terbukti setelah lahir pun, anak itu selalu menempel dan menurut padanya.
"Boo, andaikan bayi di kandunganku perempuan, bolehkah aku menjodohkannya dengan putramu, Real. Aku jatuh cinta padanya saat masih di dalam kandunganmu." Kailla masih menatap putra sahabatnya itu.
Bella tersenyum. "Tentu saja kalau anaknya tidak keberatan. Aku tidak terlalu mempermasalahkan jodoh anak-anakku nantinya."
"Aih, calon besanku." Kailla memeluk erat sahabatnya. Pelukan dua sahabat itu belum terurai saat terdengar suara perabotan terjatuh bertepatan dengan teriakan kencang Bara yang baru saja tiba di kediamannya.
Prang.
"REAL!"
Sebuah guci keramik yang baru saja dibeli Bara dari sahabatnya yang pengoleksi barang antik itu pecah berkeping-keping. Ia sengaja membeli untuk mengisi ruang kosong di sudut rumah. Tadinya, tempat itu diisi oleh guci pusaka peninggalan orang tuanya yang sampai sekarang belum ditemukan pelaku utama yang menghancurkqn benda berharga Wirayudha itu.
"Mas, sudah." Bella tidak enak hati. Ada sahabatnya di sini. Kemarahan Bara bisa saja menyinggung perasaan Kailla.
"Kamu lihat!" Bara menunjuk ke arah putranya yang ketakutan.
"Ah, cuma guci saja, Om. Tinggal beli yang baru. Coba kamu lihat calon menantuku sudah gemetar ketakutan." Kailla merengkuh pundak Real dan membawa menjauh.
"Lagi pula, anak-anak itu tidak mengerti apa-apa. Yang salah itu yang meletakkan guci di sembarang tempat. Kalau memang berharga, masukkan ke dalam brankas, dikunci rapat-rapat."
Bara tertegun sejenak.
Tumben anak ini otaknya jalan.
Kailla tersenyum. "Aku sudah kenyang dimarahi Pram karena mengomeli anak-anak. Kata-kata itu aku pinjam dari suamiku. Mendapatkannya susah, jadi perlakukan dengan baik." Kailla mengibas rambutnya dengan wajah penuh kebanggaan.
***
Maaf, di sini slow update dan pendek. Terima kasih.