The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 50



Pram sempat tertegun beberapa detik sebelum bereaksi. Ia terkejut dengan remaja yang dijaga dan diurusnya dengan harapan Keisya akan menjadi anak yang membanggakan orang tua dan tentunya membanggakannya dengan prestasi.


Kenyataan tidak sejalan dengan harapannya. Kelakuan Keisya di luar dugaan dan membuatnya naik darah. Andai itu perempuan lain, tentu ia akan menampar, menyeret dan mempermalukannya. Namun, gadis yang telah bersikap lancang padanya adalah Keisya. Anak yang dididiknya agar bisa mandiri dan kelak merawat ibunya sendiri saat Pram melepas tanggung jawabnya suatu hari nanti.


Terlihat Pram mendorong kasar Keisya, pria itu harus mengepalkan tangannya agar tidak memukul. Gadis di depannya itu baru 17 tahun. Belum paham sepenuhnya hidup seperti apa. Keisya hanya menarik kesimpulan dari apa yang dirasakannya, bersikap tanpa berpikir panjang dan mudah terhasut pergaulan di luar yang dia sendiri belum mengerti baik dan buruknya.


"Om ...." Suara Keisya terdengar pelan. Namun, mata itu tidak memancarkan ketakutan. Ada sorot menantang yang ditangkap Pram.


Pram mengeleng. Garis wajah pria matang itu mengeras, menatap tajam pada Keisya yang kini berdiri di depannya.


"Apa yang kamu lakukan? Jelaskan!" Pram meradang. Saat ini, ia ingin memukul untuk melampiaskan kekesalannya.


"Aku menyayangimu, Om. Jangan marah padaku." Keisya berkata dengan suara manja. Sampai detik ini, gadis itu tidak menunjukan ketakutannya. Amarah Pram tidak sanggup membuat nyalinya menciut. Sebaliknya, Keisya makin berani.


Bola mata Pram hampir melompat keluar saat Keisya berjalan dengan gemulai mendekatinya dan tiba-tiba melepaskan kaus yang menutupi tubuh atasnya.


"Om ...."


"Ya Tuhan." Pram tidak bisa bicara lagi. Hanya mengarahkan telunjuknya dengan tegas pada gadis yang kini berdiri menantangnya. Keisya yang belum sepenuhnya dewasa itu hanya terbalut bra dan celana pendek saat ini.


"Stop! Tetap berdiri di situ. Apa maumu?" Pram meminta Keisya berhenti. Pria itu harus menghela napasnya berulang kali untuk meredam amarahnya. Ia tidak mau sampai menyakiti Keisya.


Keisya menatap dengan berani. Sampai detik ini, gadis itu tidak menunjukan ketakutannya.


"Silakan, buka saja semuanya!" Pram berkata sinis.


Pria itu berulang kali mengatur napas agar amarahnya tidak meledak.


"Berani maju selangkah mendekatiku. Aku akan menarik semua fasilitasmu, Sya," ancam Pram, mengusap kasar wajahnya.


Keisya tertegun. Kalimat Pram menyadarkannya kalau ada yang salah.


"Aku kecewa padamu, Sya. Aku mengeluarkan banyak uang membiayai sekolahmu dan ibumu bukan untuk semua ini. Aku tidak butuh ... kamu membalasnya dengan tubuhmu." Suara Pram menyiratkan kekecewaan mendalam.


"Kenakan pakaianmu. Aku tunggu di luar!" Wajah Pram menegang. Berjalan keluar kamar, pria itu membanting pintu dengan keras. Ia tidak bisa menghukum Keisya seperti pada wanita murahan. Bagaimana pun Keisya masih terlalu kecil untuk diberi hukuman yang terlalu keras.


BRAK.


Suara daun pintu yang menutup kencang membuat Keisya tersentak. Kali ini ia ketakutan. Sedikit pun, ia tidak menyangka reaksi Pram akan menyeramkan. Baru kali ini ia melihat kemarahan Pram yang ditujukan padanya.


Tadinya, ia berpikir Pram akan menyambutnya dengan bahagia, seperti dugaannya dan teman-temannya. Setiap pria adalah sama, takluk pada wanita dan tidak akan sanggup menolak. Apalagi pada gadis muda seumurannya. Ibarat bunga yang sedang merekah, tidak akan ada kumbang yang sanggup menolak pesonanya.


***


Mengendap-endap, Keisya berjalan menunduk. Ia tak berani menatap Pram. Pria itu duduk di sofa ruang tamu yang belum ditata sempurna. Keberanian remaja itu terbang, Keisya benar-benar menciut.


"Dari mana kamu mempelajari semua ini?" Suara Pram terdengar melunak. Ia masih mengingat ciuman kaku Keisya pada bibirnya. Gadis itu baru belajar, belum semahir istrinya.


Keisya diam. Kedua tangannya saling meremas, gadis itu menunduk dan tidak berani beradu tatap dengan Pram.


"JAWAB!" teriak Pram.


"Maaf, Om." Keisya hampir mau menangis.


"Kamu belajar dari mana? Aku ingin tahu." Pram masih menyimpan kemarahan. Duduk di sofa dengan tangan terkepal.


"JAWAB, SYA!" bentak Pram.


Keisya diam.


"Belajar dari sekolah? Baik, besok aku akan menemui kepala sekolahmu dan protes tentang ilmu yang diajarkannya."


"Jangan, Om. Bukan dari sekolah." Keisya menjawab ragu, tetapi ia tidak bisa mengelak lagi.


"Kalau tidak menjawab ... aku pastikan akan menemui gurumu."


"Maaf, Om. Dari teman sekolahku." Keisya menjawab jujur.


"Oh, dari temanmu. Berarti aku memang harus menemui guru kelasmu besok." Pram menegaskan.


"Jangan, Om. Aku tidak mengulanginya lagi. Aku janji." Keisya mengangkat pandangannya. Matanya memanas, cairan bening itu hendak mendesak keluar.


"CEPAT!" bentak Pram kesal.


Keisya buru-buru menyerahkan ponselnya pada Pram. Ia tidak mau memancing kemarahan pria itu dan membuat keadaan makin mencekam.


Tampak Pram mengecek satu persatu aplikasi di dalam ponsel Keisya. Pria itu menggeleng saat menggeledah isi ponsel gadis remaja di hadapannya.


"Besok, ambil ponselmu ini di tempat Stella." Suara Pram terdengar melunak.


"Ya, Om."


"Mulai besok, kamu akan dipindahkan ke divisi lain. Aku tidak mau melihatmu berkeliaran di sekitarku, Sya. Kamu benar-benar mengecewakan."


"Maafkan aku, Om."


"Hubungi Bayu untuk membantumu mengurus kepindahanmu ke apartemen. Aku tidak mau ikut campur lagi. Terserah, aku tidak peduli kamu akan jadi apa ke depannya." Pram menghela napas.


"Maaf, Om."


"Mengenai kebutuhanmu, minta pada Stella. Sekretarisku akan mengurus semuanya."


"Maafkan aku, Om."


"Sudahlah, Sya. Aku lelah. Masih banyak yang harus aku urusi. Aku meluangkan waktu di sela pekerjaanku yang padat untuk memastikan kamu dan ibumu baik-baik saja. Tapi, sebaliknya kamu melakukan hal yang membuatku kecewa." Pram memejamkan mata.


"Maafkan aku, Om." Keisya memberanikan diri mendekat.


"Coba kamu renungkan, apa yang baru saja kamu lakukan. Andai aku pria b'rengsek, kamu pasti habis, Sya. Tidak akan ada kucing yang menolak disuguhi ikan." Pram menatap Keisya. Ia benar-benar lelah melihat tingkah gadis itu.


"Coba kamu pikir baik-baik ... untuk apa menjalin hubungan dengan pria beristri? Apa yang kamu dapatkan?"


Keisya diam.


"Kalau pria baik-baik ... tidak akan mau menduakan istrinya hanya karena gadis kecil sepertimu, Sya. Kalau kamu bisa mendapatkan pria jenis ini, apa kamu yakin suatu saat dia tidak akan membuangmu setelah menikmatimu. Istri yang sudah mendampinginya bertahun-tahun, masih bisa dibuang seenaknya. Apalagi gadis kecil yang tidak punya harga diri, menyodorkan tubuhnya dengan sukarela. Apa ini yang kamu inginkan, Sya?"


"Gunakan otakmu! Jangan mudah mendengarkan teman-teman yang mungkin saja menyesatkanmu. Kamu baru 17 tahun, jalan hidupmu masih panjang. Jangan sampai kamu menyesal nanti." Pram mengingatkan.


Pria itu terlibat berdiri dan berjalan mendekati Keisya yang membeku di tempat.


Menghela napas panjang, Pram kembali bersuara.


"Sya, kamu ingat ini ... pria be'jat, b'rengsek dan penjahat sekali pun akan memilih gadis baik-baik untuk dijadikan kekasih apalagi istri. Jadi ... kalau memang ingin dicintai dan mendapatkan pria baik dan bertanggung jawab, jadilah gadis baik-baik. Miskin boleh, tetapi harus punya harga diri. Kalau kamu menemukan ja'lang di luar sana yang bertemu dengan pria baik-baik ... dia hanya satu yang beruntung di antara jutaan teman seprofesinya yang bernasib buruk." Pram mengingatkan. Disentilnya dahi gadis remaja itu dengan kencang.


Keisya kian menunduk.


"Aku menikahi istriku ... saat dia berusia dua puluh tahun. Kailla bukan yang pertama, aku sudah pernah tidur dengan wanita lain sebelum menikahinya." Pram bercerita.


"Tapi, aku yang pertama kali menciumnya. Aku yang pertama kali mendapatkannya. Aku sangat bahagia saat mendapatkan kesempatan pertama. Bahkan, aku mengingatnya seumur hidupku."


"Itu sangat berharga, Sya. Harus dijaga, bukan dijual apalagi diobral. Serahkan saja pada suamimu nanti. Aku tidak berminat." Pram berlalu pergi dan meninggalkan Keisya sendiri.


***


Pram memacu mobilnya menuju ke pinggiran Jakarta dengan perasaan kacau. Membelah jalanan ibu kota yang ramai lancar, pria itu akhirnya menepikan Bentley kesayangannya di depan kampus Kailla. Sebuah perguruan tinggi ternama tempat Kaila menimba ilmu selama beberapa bulan terakhir.


"Sayang, kamu di mana?" Pram berbicara dengan Kailla di ponselnya. Ia masih menyimpan kecewanya karena ulah Keisya.


"Aku di kantin. Ada apa?"


"Ayo keluar sekarang. Aku sudah menunggumu di depan kampus," pinta Pram.


"Hah! Yang benar saja? Kenapa mendadak sekali?" tanya Kailla heran.


"Aku merindukanmu, Kai. Ayo keluar sekarang. Aku sudah tidak tahan. Aku membutuhkan istriku. Butuh pelampiasan, Sayang." Pram merengek manja sembari tergelak.


-


-


-