The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 65



"Bagaimana bisa?" Ditya menegakkan duduknya. Masa lalu istrinya bukan hanya tidak menarik, tetapi memalukan. Selama ini, ia berusaha menutupinya dari semua. Bukan hanya demi keluarga besar dan perusahaan, tetapi demi Frolline dan keturunannya. Ia tidak mau, masa lalu Frolline akan memberatkan langkah anak-anaknya di kemudian hari.


Pram menyesap kopi hitam yang baru saja diantar pelayan restoran. "Aku juga tidak terlalu yakin, tetapi temuan dari orang-orangku mengarah ke sana." Pram terlihat meraih ponsel dan menunjukkan foto-foto seorang gadis dan seorang pria tua yang sedang duduk di teras sebuah rumah sederhana.


"Tolong tanyakan pada istrimu, apa mengenal pria tua ini?" tanya Pram sembari menyodorkan ponselnya pada Ditya.


"Aku tidak bisa bertanya banyak hal pada Kailla tentang masa lalu mamanya, karena kamu tahu sendiri ... mama mertuaku meninggal saat melahirkan Kailla. Berbeda dengan istrimu ... mungkin saja, mamanya masih sempat berhubungan dengan keluarga yang lain."


Ditya masih menyimak. Ia tidak paham kenapa Pram sampai mencari tahu masa lalu istrinya, padahal mereka berdua sudah sepakat untuk menyembunyikan dan menguburnya dalam-dalam.


"Bagaimana bisa?" tanya Ditya lagi. "Kapan kamu mendapatkan semua ini." Ditya penasaran, ikut meneliti foto yang sama.


Aku pernah mengalami kecelakaan tahun lalu dan sampai sekarang aku tidak yakin hanya kelalaian sopir. Karena target sebenarnya adalah Kailla, bukan aku." Pram menghela napas.


Ditya tersentak, saat mendengar Kailla dalam bahaya. "Butuh bantuan orangku?" tawar Ditya segera. Hatinya tersentuh saat mendengar perempuan yang menjadi cinta pertamanya itu adalah target kejahatan dari seseorang yang tidak dikenal.


"Tidak, terima kasih. Aku bisa mengatasinya." Pram menunjukkan wajah tidak sukanya saat menangkap rona keprihatinan yang jelas terlihat di wajah lawan bicaranya.


"Kailla istriku," tegas Pram, berusaha menyembunyikan kecemburuannya.


"Aku sudah berusaha untuk mencari tahu dari pelaku yang sekarang sedang menjalani hukuman di penjara ... tetapi dia tidak mau mengaku. Aku sempat mencurigai seseorang, cuma tidak ada bukti mengarah ke sana." Pram menghela napas.


"Buktinya mengarah ke pria ini. Berdasarkan data yang aku dapatkan, sopir itu mengenal baik pria di foto ini. Mereka adalah teman baik, Reino dan Wiraguna adalah teman baik." Pram menerangkan.


"Maksudnya bagaimana, Pram?" tanya Ditya memastikan.


"Pria ini namanya Reino. Aku tidak mengenalinya, tetapi aku mencurigai kalau dia adalah adik dari mama mertuaku, yang artinya paman Kailla. Setahuku, nama adik mama mertuaku juga Reino, tetapi aku tidak pernah melihatnya secara langsung atau pernah tetapi aku sudah lupa."


Ditya mengangguk. "Jadi ... apa yang bisa aku bantu?"


"Aku hanya ingin tahu ... apakah istrimu mengenalinya? Kalau ... ya, berarti dugaanku tidak salah. Dia adalah paman Kailla dan berniat buruk. Aku harus memperketat penjagaan pada istri dan anakku. Karena aku tidak mau kejadian lalu terulang lagi."


Ditya mengangguk. "Kirimkan saja padaku fotonya."


Pram tersenyum. "Aku hampir lupa, gadis yang duduk di sebelahnya ini ... aku sudah bertemu dengannya. Namanya Keisya, tetapi informasi yang aku dapatkan masih simpang siur. Orang tuanya berbeda, bukan Reino. Foto ini pun tidak diambil di Jakarta, ini di Mulyorejo," cerita Pram.


"Aku harap ... informasi ini bisa membantumu. Kita tidak tahu apa motif orang ini, sebaiknya ... kamu berhati-hati menjaga istri dan anakmu."


"Ya, terima kasih. Aku juga baru tiba di Jakarta tadi pagi. Aku ada sedikit urusan pekerjaan di Singapura. Kebetulan saja, Matt menghubungiku dan mengatakan kalau kamu minta bertemu. Selama ini aku menetap di London bersama istriku."


"Hah?" Pram tersentak. Sejak tadi, ia tidak menyadari kalau Ditya datang tanpa didampingi oleh asisten kesayangannya.


Ditya tersenyum. "Sore ini, aku harus terbang ke Singapura dan melanjutkan penerbangan ke London. Kasihan istriku ditinggal sendirian di sana."


"Oh, maaf aku tidak tahu. Tolong kabari aku, kalau sudah mendapat kabar dari istrimu." Pram mengulurkan tangannya.


"Baik." Ditya mengukir senyuman tipis sembari menyambut uluran tangan pemilik RD Group itu.


***


Pagi hari setelah hampir seminggu Kailla melakukan gerakan tutup mulut, diam seribu bahasa, tiba-tiba pagi ini ibu si kembar bersuara saat menyiapkan sarapan untuk suaminya di meja makan.


"Aku memutuskan untuk cuti kuliah sampai batas waktu yang tidak ditentukan!" tegas Kailla, membuka pembicaraan di meja makan.


Deg--


Pram mengangkat pandangannya, memandang istrinya penuh tanya. "Kenapa?"


Pria itu sedang memasukkan sesendok penuh nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Mulai sekarang, aku akan ikut denganmu ke kantor. Aku sudah tidak bisa percaya lagi padamu, Sayang." Kailla menjelaskan dengan wajah asam kecut. Sudah seminggu ini, senyum di wajahnya menghilang.


"Aku baik-baik saja, Kai." Pram menenangkan. Baru saja Pram akan menggenggam tangan Kailla yang duduk di sisinya, tetapi istrinya sudah mengangkat piring dan berpindah duduk menjauh.


"Kita belum baik-baik saja, Sayang. Aku mengajakmu bicara hanya karena aku tidak punya pilihan. Tetap jaga jarak kecuali ...." Kailla tidak bisa melanjutkan kalimatnya, terdengar suara mama mertuanya berteriak menyapa dari kejauhan.


"Spada?"


"Anybody home?" teriak Ibu Citra yang tampak segar dengan atasan batik hijau dan celana panjang katun berwarna hitam. Rambutnya digelung ke atas, disempurnakan dengan riasan tipis. Perona mata, pipi dan bibir dengan warna senada.


"Mama?" Kailla buru-buru mengangkat piring dan duduk kembali ke tempatnya semula.


Pram mengulum senyuman, sembari menggenggam erat tangan Kailla.


*T*idak sia-sia aku menyuruh Mama berkunjung ke rumahku pagi-pagi sekali. Setidaknya Kailla akan melunak meski cuma sejenak.


"Ma, duduk. Sudah sarapan?" tanya Pram sembari memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Sudah. Mama sudah bersiap dari subuh." Ibu Citra menjawab sembari merapikan rambutnya yang sudah ditata sedemikian rupa. Dengan gemulainya meletakkan tas tangan mungilnya di atas meja.


"Memang, Mama mau ke mana?" tanya Kailla heran. Ia menghentikan sarapannya sejenak, demi memastikan mama mertuanya baik-baik saja. Biasanya, tampilan ibu Citra tak jauh dari daster rumah, tetapi kali ini berbeda.


"Pram meminta Mama datang ke rumah ini setiap pagi, mulai berlaku hari ini. Kata Pram, kalau Mama menurut, akan dibelikan tas branded keluaran terbaru seperti milikmu, Kai."


"Jadi, Mama siap-siap saja. Kapan mau diajak pergi belanja, tinggal pergi." Ibu Citra bercerita dengan polosnya.


Pram tertunduk, ia yakin Kailla sudah paham dengan ide liciknya.


"Apa maksudmu?" tanya Kailla, mendekatkan bibirnya di telinga Pram. Ia tidak mau pertengkarannya dengan Pram sampai diketahui ibu mertuanya.


"Tidak apa-apa, Kai. Aku hanya ingin menciummu setiap pagi sebelum berangkat ke kantor. Kalau tidak ada Mama, aku tidak bisa melakukannya," sahut Pram, jujur.


Bola mata Kailla membulat, berusaha menyembunyikan kesalnya.


"Jadi, kapan Mama akan dibawa berbelanja? Jadi pergi, kan?" tanya Ibu Citra, memandang anak dan menantunya yang sedang berbisik-bisik di depannya.


***