The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 69



“Kai ....”


“Sayang, tunggu aku.” Pram mengejar Kailla yang sudah berjalan ke arah lift.


Kailla tidak meladeni, bahkan sampai masuk ke dalam lift sikapnya tetap dingin dan membiarkan Pram bicara sendiri.


“Sayang, terima kasih sudah memaafkan semuanya. Kamu menyelesaikannya dengan indah. Sempurna, Sayang.” Pram baru akan memeluk Kailla, tiba-tiba pintu lift terbuka dan bergabung sepasang muda mudi menumpang di lift yang sama. Pram terpaksa mengurungkan niatnya meluluhkan hati Kailla.


Berjalan menuju ke tempat parkir, situasi tetap sama. Kailla masih diam, menutup rapat bibirnya. Hanya bunyi sepatu hak lima senti yang membungkus kakinya terdengar teratur saat membentur lantai semen.


“Kenapa, Bos?” Bayu yang menunggu di lobi mengekor langkah Kailla dan Pram.


“Sedang sensitif. Biasa ... cari perhatian suaminya, tetapi tidak mau terus terang.” Pram berbisik pelan, tidak mau jawabannya terdengar Kailla dan menjadi masalah. Kailla masih terbawa perasaan, tidak bisa dibujuk dengan mudah.


Bayu tersenyum. Sudah lama mengabdi dengan Pram dan mengawasi Kailla sejak berusia belasan tahun, tentu saja ia sangat paham watak kedua majikannya.


Pasangan berbeda usia dengan karakter yang bertolak belakang, pasang surut hubungan sampai pernah melewati ambang perceraian walau pada akhirnya tetap bersama.


***


Hari-hari melesat dengan cepat tanpa terasa. Sejak peringatan yang dilayangkan Kailla, Keisya berubah drastis. Gadis remaja itu benar-benar menepati janjinya. Itu terlihat dari keseriusannya belajar banyak hal di perusahaan.


Kailla yang mengambil cuti kuliah pun lebih fokus pada kedua putra kembarnya di sela kesibukannya menjaga suami tuanya dari kejaran para gadis, wanita dewasa, bahkan wanita bersuami. Pria kepala empat miliknya memang masih memikat banyak kaum hawa.


Pagi itu, Kailla yang biasa bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk suami dan putra kembarnya tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak biasa di dalam tubuhnya. Sudah beberapa hari ini, ia merasa ada yang berbeda dengan dirinya.


Tubuhnya mudah lelah, letih dan kurang bersemangat. Ditambah pusing dan sakit kepala tak kenal waktu yang menyerang dirinya beberapa hari terakhir.


Kamar luas itu dihuninya sendirian. Pram masih tidur di ruangan lain karena pertengkaran mereka yang tak kunjung usai. Baru saja menginjakkan kakinya di lantai, Kailla merasa dunia berputar, disusul mual yang menggelitik lambung tanpa belas kasihan.


Berlari menumpahkan isi perutnya ke dalam wastafel, Kailla benar-benar kewalahan.


“Aku kenapa lagi?” keluh Kailla, mengusap wajahnya yang basah. Hari masih pagi, di luar pun masih gelap. Ingin rasanya bergelung di balik selimut, tidak memasak, tidak menyiapkan sarapan, tidak perlu turun ke dapur.


Merebahkan tubuhnya kembali ke tempat tidur, Kailla melanjutkan tidurnya dan menarik selimut. Tampak tangan kirinya mengusap pelan sisi ranjang tak berpenghuni yang dingin. Ada kerinduan menyesak di dada, tetapi ia masih belum mau berdamai untuk saat ini. Kesal itu masih memenuhi benaknya saat mengingat lagi bagaimana Pram bisa kecolongan sampai dicium dan dipeluk Keisya.


Mata Kailla terpejam, terlelap kembali sampai ia mendengar sayup-sayup suara memanggilnya.


“Sayang, bangun.”


“Kai, kamu baik-baik saja?”


Pram sudah rapi dengan setelan kerja, membawa kedua anak kembarnya untuk membangunkan Kailla. Pagi mereka terasa kurang berwarna tanpa kehadiran sang nyonya rumah yang belum turun mengisi meja makan seperti biasa.


“Hmmm.” Kailla bergumam. Tidurnya terganggu, ibu muda itu tampak menguap dengan mata masih terpejam.


“Sudah jam berapa, Sayang?” tanya Kailla, belum sepenuhnya sadar.


“Setengah delapan. Sebentar lagi aku akan berangkat ke kantor. Kamu istirahat saja di rumah, tidak perlu mengikutiku.” Pram berpendapat.


Di sela suara maskulin itu, Kailla bisa mendengar celotehan bayi laki-laki di dekatnya.


“Ma ... mama ... ma.” Si bungsu Kentley berceloteh di samping Kailla. Duduk sembari menggigit bantal.


“Ma ... ma ... ma.” Si sulung memilih merebahkan diri di pundak Kailla, bermanja-manja seperti biasa.


Kailla masih mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali, sebagian masih bertualang di alam mimpi.


“Mommy, bangun.” Pram bersuara sembari menepuk pelan pipi istrinya.


“Hmmm.” Suara Kailla terdengar lemas. “Kepalaku sakit, Sayang.” Kemanjaan yang selama ini tidak tersalurkan karena ia terlalu mengeraskan hatinya, kini muncul di saat setengah sadar.


“Ya, sudah. Aku pamit ke kantor. Aku sudah sarapan dan anak-anak juga sudah selesai makan pagi. Istirahat di rumah saja hari ini, temani anak-anak. Kalau memang masih tidak enak badan, nanti siang aku akan menemanimu ke dokter.” Pram berkata lembut, mengecup dahi istrinya.


Deg—


Kailla membuka mata, tatapannya beradu dengan tatapan teduh sang suami. “Aku ikut ke kantor,” ucap Kailla pelan. Ia belum bisa meninggalkan Pram sendirian sampai benar-benar yakin kalau suaminya yang dulu kembali. Suami yang tegas dan tidak bisa dipermainkan wanita.


“Kamu sakit ... untuk apa ikut ke kantor, Sayang?” Pram berkata lembut.


“Tidak. Kamu ada rapat dengan klien hari ini. Aku harus ikut.” Kailla bersikeras. Menarik tubuh lemasnya untuk duduk, Kailla tergelak saat melihat si kembar berebutan duduk di pangkuannya.


“Ma ... mama ... ma.” Kentley meremas wajah Kailla. Anak itu terlihat bahagia, berteriak dengan histeris. Bentley seperti biasa, merebah di dada, dengan manjanya. Putra sulung Reynaldi Pratama itu tidak banyak bicara.


“Aku cuma sebentar rapatnya. Lagi pula tidak ada perempuan. Semuanya laki-laki.” Pram menjelaskan.


Kailla menggeleng. “Aku mau ikut.”


“Ya sudah. Bersiap sekarang. Aku akan menunggumu di bawa bersama anak-anak.” Pram mengalah. Ia tidak mau membuat masalah dengan Kailla selama keadaan rumah tangganya belum kembali seperti semula. Ia sudah sangat rindu tidur memeluk Kailla, berbagi cerita dan banyak hal.



***


Informasi karya baru, jadwal up, silakan follow ig. casanova_wetyhartanto