The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 67



Melangkah menuju kantor, Pram segera memanfaatkan situasi. Pria menuju setengah abad itu sangat pintar menangkap peluang dan mengambil kesempatan di dalam kesempitan.


"Kai, ayo." Pram mengulurkan tangannya, sesaat turun dari mobil. Ia yakin, Kailla tidak akan menolaknya. Istrinya pasti akan menyembunyikan pertengkaran mereka di hadapan orang lain dan tidak mungkin mempermalukannya. Ia sangat mengenal Kailla. Sekasar-kasarnya sang istri, pasti akan menjaga nama baiknya dan tidak akan menunjukkan kekecewaannya di tempat umum.


Kailla mendengus kesal, tetapi ia tetap mengukir senyuman dan berdrama seolah-olah hubungan ia dan sang suami baik-baik saja. Apalagi saat mengingat bisa saja Keisya mengintai dari dalam gedung dan mencari kesempatan melahap suami tuanya.


Berjalan keluar lift sembari bergandengan tangan dengan suaminya, Kailla memamerkan senyuman saat Stella menyapa.


"Selamat pagi, Nyonya." Stella menyambut Kailla dengan hangat.


Kailla menghentikan langkahnya. "Sayang, aku ingin mengobrol dengan Stella dulu."


Pram mengerutkan dahi, menatap Kailla dan Stella bergantian. "Baiklah." Tatapan Pram tertuju pada Stella, kedipan mata pria itu menyiratkan sesuatu.


Sebagai sekretaris yang menemani Pram selama ini, Stella cukup paham dengan kode sederhana yang dikirimkan sang atasan.


Kailla menghempaskan tubuhnya di atas kursi tepat di seberang meja Stella. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan saat memastikan Pram sudah menghilang di balik pintu ruang kerjanya.


"Ste, anak itu di mana?" tanya Kailla berbisik sembari memajukan wajahnya agar tidak perlu bersuara kencang dan didengar orang lain. Ia tidak mau harga diri suaminya hancur di mata karyawan RD Group karena skandal anak remaja ingusan.


"Keisya?" Stella yang paham arah pembicaraan.


Kailla mengangguk cepat. "Di mana dia?"


Tersenyum manis, Stella mulai paham arti kedipan mata Pram. Sang nyonya sedang merajut cemburu di dalam hatinya.


"Sudah tidak di sini lagi, Nyonya."


"Keisya dipindahkan ke divisi lain?" tanya Kailla masih saja penasaran.


Stella mengangguk.


"Apa dia sering menemui Pak Pram?" tanya Kailla lagi. "Maksudku ... menemui Pak Pram di luar jam kantor, misalnya jam istirahat dan membahas masalah pribadi." Kailla menjelaskan.


Gadis manis dengan setelan kerja cokelat muda itu tersenyum.


Deg--


Kailla yang menangkap senyuman tak biasa di bibir Stella buru-buru membuka suara. Ia tidak bisa membiarkan sekretaris itu merangkai kecurigaan yang akan mempermalukan dan menjatuhkan harga diri suaminya.


"Bukan begitu, Ste. Kamu tahu sendiri anak itu seperti apa nakalnya. Sering seenaknya, Pram selalu memanjakan dan memaafkannya setiap Keisya berbuat nakal. Aku tidak mau ...."


Tidak, Nyonya. Keisya sudah seminggu ini tidak masuk kerja. Tidak ada kabar apapun," potong Stella. Ia bisa menangkap binar cemburu di mata Kailla meskipun ibu si kembar itu berusaha menutupi.


"Oh, syukurlah." Kailla menghela napas lega.


***


Duduk di kursi kebesaran sembari mencoret berkas di atas meja, Pram mencuri pandang pada istri yang tengah sibuk memerah ASI untuk si kembar. Sejak tadi Kailla menunggu Pram di sofa dan memilih diam seribu bahasa.


Ia masih melakukan gerakan tutup mulut, tidak mau diajak bicara. Semua rayuan, bujukan dan kata-kata cinta yang keluar dari bibir Pram dianggap angin lalu. Tak ada satu pun yang mendapat tanggapan. Keadaan ini berlanjut hingga waktu makan siang.


"Sayang, aku mau makan siang. Kamu mau ikut?" tawar Pram, memandang Kailla yang berbaring di sofa dengan kedua tangan terlipat di dada.


"Tidak, aku mengantuk. Mau tidur saja." Kailla menolak.


"Lalu? Kamu mau makan siang apa?" tanya Pram, berdiri memandang Kailla yang merebahkan diri sepanjang sofa.


"Aku mau bakso saja di kantin kantor saja. Tolong pesankan untukku." Kailla memerintah, masih dengan memejamkan mata.


Ia berharap Kailla mau menemaninya makan siang, setidaknya ia bisa menggenggam tangan Kailla sepanjang perjalanan menuju ke kantin sambil berusaha membujuk.


"Tidak. Anak itu sudah seminggu tidak masuk kantor." Kailla menjawab santai.


Deg--


Pram tersentak saat mengetahuinya. Ia tidak mengurusi Keisya selama ini, jadi tidak mengetahui kondisi Keisya. Ada kekhawatiran yang tampak jelas di wajah tampan pria 45 tahun itu.


"Kenapa? Kamu khawatir? Masih memikirkannya?" todong Kailla.


Pram menggeleng. "Tidak." Suara Pram terdengar pelan. Pria itu menciut saat Kailla mambuka mata dan menatap tajam ke arahnya.


"Awas kalau berani menemuinya ...." Kailla tidak melanjutkan ucapannya, ponsel di saku celana suaminya berdering.


Pria dengan kemeja kerja itu mengerutkan dahi. Sedetik kemudian, pandangannya beralih pada Kailla yang juga tengah menatapnya.


"Kai, Ibu Keisya ...." Suara Pram mengambang.


"Aku ingin mendengarnya juga," cerocos Kailla, menegakkan duduk. Ia sudah bersiap mendengar apa yang ingin disampaikan ibu dari remaja yang berani mencari masalah dengannya.


"Ya, Bu." Pram menerima panggilan sekaligus menyalakan pengeras suara agar Kailla juga bisa ikut mendengar.


"Pak Pram, tolong bisa ke sini. Ibu sedang dalam masalah. Keisya sudah seminggu ini mengurung diri di kamar. Cuma keluar untuk makan. Itu pun hanya makan beberapa suap dan kembali ke kamar. Ibu tidak bisa membujuknya. Anak itu hanya menangis dan mengatakan tidak mau melanjutkan sekolah." Suara Ibu Keisya bergetar.


"Sekalian bawa istri Pak Pram juga. Ibu mau minta maaf, mau mohon ampun agar memaafkan putri Ibu. Tempo hari, Ibu belum sempat minta maaf." Wanita tua itu menghela napas, jeda sejenak sebelum melanjutkan.


"Ibu juga mau mengembalikan uang milik istrinya Pak Pram."


Kailla tertegun.


"Apa yang terjadi pada Keisya, Bu?" tanya Pram ragu, tatapannya tertuju pada Kailla.


"Ibu tidak tahu jelas. Kedatangan Ibu Kailla beberapa hari yang lalu cukup membuatnya terguncang. Sejak pulang dari rumah sakit, Keisya mengurung diri di kamar. Tidak ke kantor, tidak juga ke sekolah. Setiap hari hanya menangis dan tidak mau melanjutkan sekolah lagi."


"Kenapa?" tanya Pram beradu pandang dengan sang istri.


"Dia takut masalahnya dengan Pak Pram disebarkan Ibu Kailla ke pihak sekolah dan teman-temannya. Anak itu malu, jadi Keisya memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah lagi."


Kailla tersentak. Ia tidak menyangka kalau ancaman-ancaman yang dikirimkannya lewat pesan itu sanggup membuat Keisya terguncang. Padahal ia hanya ingin memberi pelajaran, tidak benar-benar melakukannya.


Ia tidak mungkin menyebarluaskan apa yang terjadi pada Pram dan Keisya. Ia seorang istri, tentu saja mempunyai tanggung jawab menutupi aib suaminya walau di sini bukan sepenuhnya salah Pram. Semua dilakukannya demi nama baik suaminya, kalau tidak sudah dipastikan Kailla akan mengundang wartawan untuk mempermalukan Keisya.


"Tolong Pak Pram datang bersama istrinya, dan lihat sendiri kondisi Keisya. Ibu khawatir ... putri ibu lama-lama bisa gila." Ibu Keisya berkata lirih. "Badannya kurus kering, tidak memiliki harapan lagi.


"Baiklah, aku akan ke sana sebentar lagi bersama Kailla," putus Pram.


***


Maaf aku terlambat up.


Note : Wira & Naina tidak up hari ini, aku sedang mempersiapkan detik-detik menuju ending dan sedang fokus untuk kelanjutan kisah Dennis yang tidak dirilis di sini lagi karena berbagai pertimbangan. Selain bab Wira dan Naina sudah terlampau banyak, ini adalah sekuel yang lebih menceritakan sosok Dennis dan kehidupan percintaanya pasca berpisah dengan Naina, akan menyelip kehidupan rumah tangga Wira & Naina pasca kelahiran anak kedua mereka.


Bisa follow instagram : casanova_wetyhartanto atau masuk grup chat untuk tahu lebih banyak ya.


Terima kasih.