The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 47



"Suamiku?" tanya Kailla. Menjatuhkan bokongnya di kursi tepat di depan Stella, Kailla bisa memandang gadis manis berseragam abu-abu yang tengah menyusun file tak jauh darinya.


Ia baru saja menengok ke dalam ruangan Pram, tetapi tidak menemukan kekasih hati yang biasanya duduk sembari mencoret kertas atau mengetik di depan laptop. Kursi empuk itu ditinggal pemiliknya dan dingin.


Belakangan ini, Kailla memang lebih sering menyambangi perusahaan sang suami untuk membawakan makan siang. Walau tidak bisa dilakukan setiap hari, Kailla berusaha menyisihkan waktunya di tengah padatnya jadwal kuliah.


Mereka tidak memiliki banyak waktu di malam hari, anak-anak membutuhkan perhatian lebih. Sebisa mungkin Kailla memanfaatkan waktu luang di siang hari bersama sang suami. Sekedar makan siang dan mengobrol. Kalau sedang tidak ada pekerjaan penting, tak jarang berakhir ke hotel di dekat kantor.


"Sedang rapat, Nyonya." Netra gadis itu berbinar, mengingat betapa gagahnya sang klien baru perusahaan.


"Masih lama, Ste?"


Kailla mengkhawatirkan soto ayam yang dibawanya mendingin. Pram menyukai makanan hangat walaupun tetap bisa menelan semua yang disiapkannya tanpa protes.


"Aku juga sudah tidak sabar." Stella memainkan alisnya, tersenyum manis.


Kailla tersentak. "Serius? Tampankah dia?" Istri pemilik perusahaan itu terperanjat. Ia paham sekali arti tatapan dan senyuman Stella.


"Sangat, Nyonya. Tampan, mapan, rupawan dan menawan. Tanyakan pada Keisya, dunia serasa berhenti berputar saat melihatnya berjalan dari kejauhan. Gagah sekali." Tangan Stella saling menggenggam di depan dada, tersenyum simpul.


"Dia tidak pernah tersenyum. Aku yakin ... andai dia tersenyum, waktu berhenti berdetak saat itu juga. Beruntunglah yang mendapatkan senyumannya ... apalagi hatinya. Pasti jadi wanita sempurna."


Kailla terbelalak, heran melihat kekaguman Stella yang tidak biasa. "Berarti bukan orang yang ramah." Kailla berkomentar.


"Karena dia jarang tersenyum, jadi berbahagilah yang berhasil menjadi wanitanya. Dia tidak suka menebar senyuman pada banyak wanita. Senyumannya limited, Nyonya. Tidak pasaran dan murahan seperti senyuman pria lain. Di sana senyum, di sini senyum."


Deg--


Kailla teringat pada suaminya. "Kamu tidak sedang menyindir suamiku, kan?" Kailla tersinggung.


"Ah, jangan bandingkan dengan Pak Pram. Mereka berbeda zaman, Nyonya." Stella tidak mau menyebut tua, takut disemprot beruntun oleh sang nyonya atasan.


Saat Pram disinggung, raut wajah Stella berubah seketika. Sekretaris itu terlihat berpikir, menatap Kailla dan Keisya bergantian. Ia bingung harus mengadu atau tidak, karena ia sendiri tidak tahu jelas apa yang terjadi pada Pram dan anak magang di kantor. Namun, gosip yang beredar dan sikap Pram yang berlebihan membuat Stella ikut-ikutan berpikiran buruk.


"Kei, tolong fotokopi semua data-data ini," titah Stella, menyodorkan setumpuk file di atas meja kerjanya.


"Ukuran?" Keisya bertanya.


"Folio saja. Disusun berurutan, ya." Stella kembali menjelaskan.


"Siap, Bu Bos." Keisya tersenyum dan segera bergerak cepat menuju ke ruang fotokopi di lantai satu.


Kailla tergelak mendengar cara memanggil Keisya pada Stella. "Dia memanggilku Bos Nyonya," ucap Kailla sembari menatap pergerakan Keisya yang berjalan menjauh dan menghilang di balik lift


Hening menyapa seketika. Stella menghela napas panjang, berat untuk memulai, tetapi tidak mungkin diam. Selama ini ia sudah terlalu lama diam, tidak mungkin menutup mata. Andai memang tidak ada apa-apa, ia berharap Kailla bijak. Kalau memang telah terjadi sesuatu, Kailla tahu lebih cepat akan lebih baik.


"Maaf, Nyonya. Aku tidak tahu harus mulai dari mana." Stella diam sejenak, melirik ke sekitar. Ia tidak mau pembicaraan mereka didengar orang lain.


"Ada apa?" Kailla menegakan duduknya. Jiwa penasarannya bergejolak saat melihat ekspresi serius Stella.


"Ada apa dengan suamiku?"


"Pak Pram ... dan Keisya sedang ... jadi bahan pembicaraan orang-orang di kantor." Stella terbata. Ia takut Kailla bereaksi berlebihan. Selama ini, ia sangat pahan bagaimana sifat istri atasannya.


Kailla mengerutkan dahi. "Memang ada apa? Kenapa sampai jadi bahan gosip?"


"Pak Pram sering jalan berdua dengan Keisya di jam makan siang. Dan ...."


"Aku tahu semua itu, Pram sangat terbuka mengenai masalah itu. Suamiku sangat menyayangi Keisya. Aku tahu ...." Kailla tertunduk sembari meremas tangan di atas pangkuan. Ia merasa bersalah karena menolak untuk hamil lagi sedangkan ia tahu kalau Pram menginginkan kehadiran anak perempuan di tengah rumah tangga mereka.


"Jadi Nyonya tahu semua?" Stella tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Tahu. Aku mengenal suamiku dengan baik. Suamiku bukan sekedar bertanggung jawab pada anak magang itu karena Bayu menabrak ayahnya hingga meninggal. Dia memperlakukan Keisya seperti seorang anak. Pram pernah minta izin padaku, dia tertarik dengan Keisya dan ingin mengurus dan mendidik Keisya sampai dewasa dan bisa mandiri. Makanya, aku tidak terlalu memusingkan hubungannya dengan Keisya. Berapa pun yang dikeluarkan, suamiku akan jujur padaku." Kailla menjelaskan dengan yakin.


Deg--


Stella diam. Sekretaris itu merasa bersalah karena terlalu ikut campur masalah rumah tangga atasannya. Namun, ia tidak bisa tutup mata. Berada di dekat Pram dan Keisya, ia mencium gelagat tidak biasa. Mungkin Kailla bisa percaya pada Pram, tetapi harusnya Kailla waspada pada Keisya. Bagaimana pun, Keisya hanya orang luar. Di usianya yang menginjak 17 tahun sudah bisa dibilang mulai beranjak dewasa. Bisa jadi perhatian seorang ayah yang dimaksud Pram akan ditangkap berbeda oleh Keisya.


"Nyonya tahu kalau Pak Pram membeli apartemen ...."


"Aku tahu ...." potong Kailla, masih tidak terpengaruh. Mengenai keinginan Pram membeli apartemen, ia sudah tahu sejak lama. Suaminya memang menyukai investasi dalam bentuk property dan lahan. Ia tidak heran andai Pram tiba-tiba membeli rumah, apartemen dan lainnya.


"Apartemen untuk Keisya," lanjut Stella, menunggu reaksi Kailla.


Deg--


Bibir Kailla terkatup rapat. Tiba-tiba lidahnya kelu, tidak bisa bicara. Otaknya mulai tercemari, perasaan tenang itu mulai beriak hanya mendengar kalimat terakhir dari Stella.


"Kamu yakin, Ste?" Kailla memastikan. Ia tidak mau menduga-duga. Sesuatu yang belum terbukti kebenarannya tetapi akan jadi bumerang di dalam rumah tangganya yang tenang dan damai. Ia tidak mau membuat rumah tangganya berantakan hanya karena sesuatu yang belum jelas.


Stella mengangguk. "Aku yang mencarinya. Beberapa hari yang lalu, Pak Pram dan Keisya sudah melihat-lihat dan tadi pagi Pieter sudah memprosesnya. Kalau tidak ada halangan ... mungkin minggu depan Keisya dan ibunya akan menempati apartemen baru itu."


Kailla tersenyum. Menghela napas panjang, ia berusaha terlihat tenang dan tidak terpancing. Ia tengah menutupi kepercayaan yang mulai goyah karena cerita Stella. Ini masalah rumah tangganya. Andai harus bertengkar, cukup ia dan Pram. Orang luar tidak perlu melihatnya baku hantam dengan sang suami. Ia juga harus menjaga wibawa suaminya di perusahaan. Andai ia tidak memercayai Pram, bagaimana dengan ribuan karyawan RD Group.


"Aku sudah tahu mengenai itu, Ste ...." Kailla berbohong. Kenyataan sebenarnya, ia tidak tahu apa-apa mengenai apartemen yang dibeli Pram untuk Keisya.


Stella tersenyum. "Baiklah, Nyonya. Kalau memang tidak ada hubungan antara Pak Pram dan Keisya. Mungkin hanya ketakutanku saja, melihat keakraban keduanya. Keisya itu bukan anak kecil lagi. Bisa saja gadis remaja itu menyalahartikan perhatian dan kebaikan Pak Pram. Mudah-mudahan tidak seperti ketakutanku, Nyonya. Aku terlalu sering menonton acara gosip, jadi terbawa ke kehidupan nyata."


Stella berharap ucapannya bisa membuat Kailla waspada. Ia tidak mungkin terang-terangan mengatakan kalau Keisya memandang Pram dengan cara berbeda. Ia tidak mungkin menceritakan sesuatu yang belum bisa dibuktikannya. Ia hanya bisa mengingatkan Kailla. Bagaimana pun, Pram dan Kailla sudah seperti keluarganya, ia tidak mau rumah tangga keduanya berantakan karena orang ketiga.


_


_


_