The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 89



Sampai malam tiba, Kailla hanya bisa menunggu dalam kecemasan. Mondar-mandir di dalam kamar, tidak bisa berbuat apa-apa. Menghubungi Pram sejak siang, tak ada satu pun panggilannya diterima. Entah karena Pram terlampau sibuk sampai tidak sempat menerima panggilan atau mungkin saja kemarahan suaminya belum mereda.


Ia tidak mengelak. Siapa pun yang lalai atas penculikan putra bungsunya, tetap ia yang bertanggung jawab. Ia bisa menerima kemarahan Pram yang ditujukan padanya. Setiap orang tua pasti akan berpikiran sama. Andai bisa memilih, ia pun lebih memilih dirinya yang dibawa penculik.


Kentley masih terlalu kecil, belum mengerti apa-apa. Berbeda dengan dirinya yang akan berteriak dan melawan saat disakiti. Setiap pikiran itu melintas, kembali Kailla dirundung penyesalan mendalam. Ada banyak andaikan dan kalau yang sedang dirangkainya kini.


"Andaikan aku tidak menemui Bella, pasti semua tidak akan terjadi," cicit Kailla pelan.


"Kalau aku tidak mengizinkan Kinara membawa Kentley main di luar, penculikan itu juga tidak akan terjadi."


Setelah lama merenung dan berpikir, Kailla akhirnya menyerah. Memaksa bertahan di dalam kamar, lama-lama ia bisa gila. Bergegas menuju kamar putranya, ia memilih menyusui Bentley dan merangkai rencana.


"Aku tidak bisa diam saja. Aku harus mencari putraku." Kailla menatap putra sulungnya yang kini berada di dalam dekapannya sembari menikmati ASI.


Wajah keduanya yang begitu mirip membuat Kailla kembali mengingat kembali putra bungsunya.


"Kamu di mana, Nak. Apa kamu baik-baik saja?" Kailla menitikkan air mata setelah sekian jam berusaha tegar.


Setelah memastikan putranya kenyang, Kailla bergegas keluar untuk mencari tahu apa yang terjadi. Bisa saja Pram sudah pulang dan tak mau menemuinya.


Gelap pekat menyambut ibu hamil muda itu saat menginjakkan kaki di selasar rumah. Sunyi, tak ada satu pun mobil yang kembali. Bentley hitam kesayangan sang suami tak tampak di sana. Mobil para asisten pun tak keliatan.


"Don!"


"Don!"


Andai ia tak bisa mendapat kabar dari suaminya, ia masih bisa mencari kabar dari para asisten. Pasti mereka tahu di mana kini Pram berada.


"Don."


Tepat di panggilan ketiga, Donny berlari mendekat sembari menenteng sebungkus makanan di tangan.


Tak lama, Kailla sudah kembali dengan celana jeans pensil dan kaus panjang. Ia tidak mau kedinginan saat kulit tubuhnya terkena udara malam.


"Kita jalan sekarang?" tanya Donny, sudah siap di samping mobil yang menyala.


"Ya. Kamu sudah tahu di mana suamiku kini?" tanya Kailla, penasaran.


"Sudah. Pak Pram di kantor, mengumpulkan beberapa petinggi untuk membantunya. Sudah dilaporkan ke pihak yang berwajib. Pak Bara sedang memantu mengurusnya. Bayu juga sedang mengerahkan orang-orang untuk menyelidiki apa yang terjadi."


"Antarkan aku ke tempat suamiku. Aku tidak bisa tenang. Putraku pasti sedang menangis kencang dan kelaparan." Wajah Kailla terlihat sedih.


"Baik, Non."


Sepanjang perjalanan menuju ke kantor, Kailla memilih diam. Menghabiskan waktu dengan menikmati perjalanan malam. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.40 malam. Jalan raya masih dipadati kendaraan.


"Don, mama mertuaku tidak tahu apa-apa, kan?" Tiba-tiba Kailla bersuara.


"Ya, Non. Aku sudah meminta semua pekerja di rumah untuk tutup mulut. Termasuk Kinara. Tadi, sebelum kita berangkat ... aku sudah berpesan kalau Ibu Citra bertanya, tinggal jawan kalau Kent sedang bersama Non Kailla dan Pak Pram."


Hampir setengah jam berkendara, sedan hitam yang dikendarai Donny masuk ke halaman RD Group. Suasana kantor tampak sepi, hanya beberapa kendaraan terparkir di halaman depan yang tiga di antaranya bisa Kailla kenali. Mobil suaminya, bersisian dengan kendaraan operasional para asisten dan mobil kesayangan Pieter.


Berlari masuk untuk mencari keberadaan sang suami, Kailla mengabaikan security yang menyapanya. Saat ini ia hanya ingin bertemu dengan Pram. Tidak ada yang lain. Langkah kaki itu bergerak dengan cepat, melewati ruang-ruang kosong yang gelap gulita. Saat ini ketakutannya akan kegelapan pun lenyap. Kentley membuatnya jadi sosok pemberani seketika.


Pintu ruangan Pram yang terbuka lebar dengan cahaya memancar terang membuat Kailla bersemangat. Ia tidak sabar ingin memeluk suaminya, membagi beban yang menyesal di dada.


"Sayang ...." Kailla menyapa di ambang pintu. Napasnya naik turun, memandang ke satu titik. Suaminya sedang menelungkup di atas meja kerja.


"Sayang ...." Kailla terbelalak saat pria tampan itu mengangkat kepala.