
Hari demi hari berlalu begitu cepat, hubungan mertua dan menantu pun perlahan membaik. Dinding es yang dibangun keduanya mulai mencair. Seperti ada kesepakatan bersama, Ibu Citra perlahan mengalah. Demikian juga Kailla, ibu si kembar itu memupuk sabar lebih banyak lagi setiap berhadapan dengan mertuanya.
ASI yang sempat tersumbat beberapa waktu lalu, menjadi pelajaran buat keduanya. Yang muda dan yang tua sama-sama menurunkan ego demi kebaikan si kembar.
Pram, pria itu jauh lebih banyak di rumah dan menikmati waktu bersama keluarga. Tidak terlalu sering pulang malam seperti sebelumnya. Selain Kailla dan Ibu Citra, Pram pun ikut tertampar. Belajar dari kejadian itu, Pram memilih lebih perhatian pada Kailla dan anak-anaknya.
Pagi itu, semua sudah bersiap melakukan aktivitas masing-masing. Kailla yang akan berangkat ke kampus setelah menyiapkan sarapan dan makanan pendamping ASI untuk anak-anaknya tampak keluar dari walk in closet dengan tampilan casualnya. Kaus polo putih dengan celana jins pensil biru muda disempurnakan dengan tas berukuran mini yang menggantung membelah dadanya.
Ia menghampiri Pram yang tengah berdiri di depan meja rias, sibuk mengancingkan kemeja kerjanya.
"Kai, kamu pulang kuliah jam berapa hari ini?" tanya Pram saat langkah kaki Kailla mendekatinya.
"Kenapa?" tanya Kailla, melingkarkan kedua tangannya dengan mesra di leher suaminya. Tatapannya tertuju pada dada bidang Pram yang baru tertutup sebagian.
"Aku terpesona, Sayang." Kailla berkata lirih, pandangannya terkunci pada tubuh telanjang suaminya.
Pram tergelak saat melihat ekspresi menggoda Kailla yang melihatnya seakan siap memangsa. Istrinya tampak menyapu bibir bergincu merah muda itu dengan ujung lidah. "Kamu seperti sudah tidak sabar sekali ingin menerkamku, Nyonya." Pram berkomentar sambil mengulum senyuman.
Jujur saja, salah satu yang disukainya dari Kailla adalah sikap menantang Kailla yang seperti ini. Istrinya selalu pintar menggoda, manja dan bersikap nakal saat mereka berduaan. Bahkan, Kailla tidak pernah malu-malu meminta duluan atau merayunya setiap menginginkan kehangatan lebih darinya.
"Kamu bersyukur saat ini aku harus kuliah. Kalau tidak, aku pastikan akan membuatmu kelelahan, Sayang." Kailla memandang Pram dengan sorot mata kelaparan. Ia tahu, suaminya sangat menyukai kenakalannya ini.
Lagi-lagi Pram tergelak. "Aku ada kejutan untukmu. Minta Sam mengantarmu ke kantor setelah dari kampus." Pram melepaskan jemari dari kancing kemejanya dan meminta Kailla menyelesaikan untuknya.
Wajah Kailla berbinar bahagia. Setiap Pram membahas tentang kejutan, pasti akan ada barang-barang kesukaannya yang dihadiahkan Pram untuknya. Suaminya memang pengertian dan selalu tahu apa yang diinginkannya. Terkadang, Kailla tidak perlu meminta, Pram sudah mewujudkan semua yang ada di mimpinya, mengabulkan apa pun yang melintas di dalam pikirannya.
"Apa itu?" tanya Kailla penasaran, mulai mengancingkan satu persatu kancing kemeja Pram yang tersisa. Jemari lentik dengan pewarna kuku merah jambu itu tampak menyusuri kemeja dari bawah sampai ke atas. Dengan cekatan menurunkan ritsleting celana hitam suaminya dan membantu memasukan ujung kemeja ke dalamnya
"Kamu akan menyukainya. Aku yakin." Pram tersenyum, menikmati dilayani Kailla bak raja. Ia bisa merasakan Kailla tengah merapikan kemejanya kemudian memasangkan ikat pinggang.
"Tas lagi?" tanya Kailla, menatap Pram sekilas sebelum meraih dasi yang terletak di meja rias.
"Mmm." Pram menggeleng. Ia tersenyum saat melihat Kailla melingkarkan dasi hitam di lehernya. Pria itu pasrah saat Kailla menariknya mendekat dan menghadiahkan kecupan di bibir. Sedikit menggigit kecil, Kailla menyusupkan lidahnya bermain-main sejenak di mulut Pram.
"Perhiasan?" tebak Kailla setelah melepas ciumannya. Tampak ia memainkan kedua alisnya dan mengulum senyuman. Ia penasaran dengan kejutan yang akan diberikan Pram padanya.
"Namanya juga kejutan." Pram memeluk pinggang Kailla. "Kalau diberitahu sekarang, bukan kejutan lagi, Sayang," lanjut Pram, mengedipkan sebelah matanya..
"Ah ... kamu membuatku tidak konsentrasi belajar nanti." Kailla tengah membuat simpulan dasi di leher Pram dan menyudahinya tanpa banyak drama. "Sempurna. Kamu tampan sekali, Reynaldi Pratama." Kailla mengalungkan kembali tangan di leher suaminya dengan posesif dan mengecup bibir yang berhias bulu halus di atasnya.
Berjalan bergandengan tangan menuruni tangga rumah, Pram dan Kailla layaknya remaja yang tengah dilanda asmara. Tidak ada yang menduga kalau pernikahan mereka masuk tahun keenam sebentar lagi. Keduanya masih seperti pengantin baru.
Begitu menginjakan kaki ke ruang makan, jeritan si kembar yang histeris menyambut kedua orang tuanya meramaikan pagi.
"Dadad ... dada ... didi." Kentley berceloteh dari tempat duduknya ditemani pengasuhnya.
Beda Kentley, beda lagi dengan si sulung Bentley. Anak itu lebih tenang, menyantap sarapan pagi. Semangkuk bubur jagung, salmon dan brokoli yang dihaluskan.
"Morning, Anak-anak." Pram melepaskan genggaman tangannya pada Kailla dan menghampiri kedua putranya. Dihujaminya ciuman pada keduanya yang tampak menggemaskan pagi ini.
"Anak-anak Daddy sudah pintar makan sekarang." Pram menepuk pucuk kepala si kembar bergantian.
Pram merasa hidupnya sempurna. Memiliki istri luar biasa seperti Kailla. Cantik, menarik dan terpenting sangat manja dan bergantung padanya. Kemanjaan dan ketergantungan Kailla yang membuat hubungan mereka semakin erat. Ia merasa berguna sebagai seorang suami, ia merasa dibutuhkan sebagai laki-laki. Untuk alasan itu juga, Pram tidak menuntut Kailla untuk jadi wanita mandiri, karena biasanya wanita mandiri tidak pernah meminta.
Pram ingin menjadi suami sejati, yang memberi tanpa diminta. Dan, Pram lebih suka Kailla yang membutuhkannya untuk melakukan hal kecil sekali pun. Ia menyukai Kailla yang hanya untuk sebuah pembalut atau handuk akan meneriakinya dari kamar mandi. Pram menyukai Kailla yang saat kehilangan sesuatu dan menjadikanya orang pertama untuk berbagi dan bersandar.
Selain Kailla, Tuhan juga menghadirkannya anak-anak yang lucu, menggemaskan dan bertumbuh setiap hari. Ada saja hal-hal baru yang dilaporkan istrinya dan dua pengasuh setiap ia pulang kerja. Si Bentley yang mulai lancar merangkak atau si Kentley yang mulai belajar berdiri dan merambat.
Ia bersyukur, di usianya yang tidak muda lagi, Tuhan menghadiahkannya kehidupan yang sempurna. Karier, keluarga dan orang-orang yang setia berdiri di sampingnya.
"Bos ...."
"Bos ...."
Terdengar suara familiar yang sudah lama menghilang dari kediaman mereka. Pram tersentak. "Bayu?"
"Itu suara Bayu, kan?" Pram bergegas keluar. Ia sudah tidak sabar memastikan kalau pendengarannya tidak salah.
Dan benar saja, saat kakinya melangkah di teras rumah, ia melihat Bayu dengan tampang lusuh berjalan ke arahnya.
"Bay!" teriak Pram, turun dari teras rumah dan memeluk erat asisten kesayangannya.
"Akhirnya kamu pulang. Temui anak dan istrimu sekarang. Nanti baru melapor padaku." Pram menepuk pundak Bayu dan tersenyum bahagia.
***
Tbc