The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 56



Pram sedang berdiri di depan jendela lebar ruang kerjanya, memandang jauh ke depan sembari menunggu Kailla. Istrinya sudah menghubunginya sejak tadi, mereka akan makan siang bersama.


"Om."


Hening, tidak ada jawaban.


"Om," panggil Keisya lagi saat melihat Pram tidak bereaksi. Pria dewasa berusia kepala empat itu masih tetap memunggunginya.


Pram tersentak dari lamunannya ketika mendengar suara manja tetapi bukan milik istrinya. Mengalihkan pandangannya dari gedung-gedung pencakar langit dengan latar cakrawala biru, pria itu berbalik menatap Keisya.


"Ada apa? Bicara secepatnya. Istriku sedang dalam perjalanan ke sini" Suara Pram terdengar datar. Tak lama, pria itu kembali memandang keluar jendela.


"Maafkan aku, Om." Keisya tertunduk. Gadis itu tidak berani berjalan mendekat. Sikap Pram yang dingin membuatnya menciut.


"Sudah. Aku sudah memaafkanmu. Keluarlah!" titah Pram.


Keisya bergeming. Ia tidak bergerak sedikit pun meski sudah diusir pergi.


"Om, maafkan aku. Tolong jangan mendiamkanku seperti ini. Aku tahu, aku salah. Aku janji tidak akan mengulanginya. Aku akan belajar yang serius seperti keinginan Om. Aku tidak akan bertidak kelewatan lagi. Aku janji padamu, Om. Akan aku buktikan kalau aku sudah berubah." Keisya memohon sembari menitikan air mata. Gadis itu sedih, Pram tidak memedulikannya lagi. Jangankan peduli, sekarang pria dewasa itu tidak mau melihatnya lagi.


"Sudahlah, Sya. Kamu boleh keluar," usir Pram tanpa melihat ke lawan bicaranya.


"Om, aku mohon. Jangan begini padaku. Aku janji akan jadi anak baik dan tidak mengecewakan Om lagi," ucap Keisya lirih. Ia tidak berani berdiri terlalu dekat, takut Pram akan memarahinya.


"Cukup, Sya. Keluar sekarang. Ini untuk kebaikanmu juga." Pram berbalik, menatap wajah sedih Keisya yang sedang bercucuran air mata.


"Om, aku benar-benar tidak akan mengulangi lagi." Ragu-ragu, Keisya berjalan mendekat dan meraih tangan Pram.


"Cukup, Sya!" tegas Pram, menghempaskan tangan Keisya.


"Aku janji pada Om. Aku akan berubah dan tidak berpikiran macam-macam. Tidak akan memeluk Om lagi. Tidak akan mencium Om lagi. Aku janji tidak akan memiliki perasaan yang tidak-tidak. Jangan marah padaku lagi."


Pram menghela napas. " Bukan hanya padaku, Sya. Ini juga berlaku pada pria lain yang memang tidak pantas kamu sukai. Coba renungkan sendiri ... apa kesalahanmu." Pram mengarahkan telunjuknya tepat di wajah Keisya.


"Baik, Om."


"Keluar! Lain kali ... jangan pernah masuk ke ruanganku tanpa permisi. Aku sudah cukup bersabar untukmu, Sya. Kamu ta ...." Pram tidak dapat menyelesaikan kalimatnya, suara pintu dibuka dengan kasar mengalihkan perhatian pemilik RD Group itu.


"Kailla? Kamu sudah datang?" Pram berusaha bersikap biasa walaupun ia bisa menangkap kemarahan di wajah istrinya.


"Kurang ajar! Jadi yang dikatakan Stella benar. Ja'lang kecil ini benar-benar sedang menantangku." Kailla menghambur masuk dan menarik rambut panjang Keisya.


"Aaahh! Sakit Nyo ... nya Bos," ucap Keisya. Teriakannya terdengar pilu sembari menahan rambutnya yang ditarik Kailla dengan sekuat tenaga.


"Kai ... sudah, Sayang." Pram berusaha membuat Kailla melepaskan Keisya.


"Lepas, Sayang! Urusan kita belum selesai! Kamu tunggu saja giliranmu!" ancam Kailla menghempaskan tangan Pram dan menatap tajam suaminya.


Tas bekal makan siang yang dibawa dari rumah, dilemparnya dengan kasar ke tubuh Pram. Kotak bekal berhamburan, sebagian penutupnya terbuka dan isinya berceceran di lantai. Nasi dengan sayur brokoli dan ayam goreng kecap itu berserakan di lantai.


"Maaf, Nyonya Bos. Sakit ...." Keisya merintih, berusaha melepaskan diri dari Kailla.


"Kamu tahu sakit? Beraninya menggoda suamiku!" teriak Kailla. Tidak puas menjambak, Kailla melayangkan dua tamparan di pipi Keisya.


Tamparan itu mendarat mulus tanpa perlawanan. Keisya tidak sanggup menandingi tenaga Kailla.


"Beraninya kamu!" ucap Kailla dengan napas naik turun menahan kemarahan.


"Ma ... af." Keisya tertunduk.


"Kai ... sudah, Sayang." Pram berusaha menenangkan dengan mencekal pergelangan tangan Kailla.


"Sudah? Aku belum puas membuat perhitungan ... kamu memintaku menyudahinya?" Sorot mata ibu muda itu berapi-api. Amarahnya pada sang suami sudah tidak bisa dibendung. Tanpa berpikir panjang, digigitnya tangan Pram sekuat tenaga sampai pria itu menjerit kesakitan dan melepaskannya seketika.


"Maafkan aku, Nyonya." Keisya memohon ampun kembali.


"MAAF?" Kailla mendorong Keisya hingga terjatuh ke lantai. Ibu si kembar itu baru akan menyerang kembali, tetapi Pram sudah mendekapnya dengan erat.


"Kai, sudah. Maafkan aku."


"Sya, keluar sekarang dari ruanganku!" titah Pram lagi.


"Kamu berani keluar!" ancam Kailla. Ibu si kembar itu tidak bisa berkutik, Pram mengunci tubuhnya.


"SYA, KELUAR SEKARANG!" perintah Pram dengan suara kencang.


"Kamu berani keluar, aku akan membu ...." Kailla tidak bisa melanjutkan amarahnya, Pram menyerang bibirnya dengan ganas. Bahkan ia tidak bisa bergerak sama sekali.


Keisya menurut, buru-buru bangkit dan segera keluar. Gadis remaja itu ketakutan saat melihat amarah Kailla bercampur dengan teriakan kencang Pram.


"Mmphht ... mmpphht ...." Kailla mengomel di sela ciuman. Ia kesal saat melihat Keisya pergi. Belum puas melampiaskan kekesalannya, kembali ia menggigit bibir Pram.


"Aw ... ini sakit, Kailla," jerit Pram saat Kailla menggigit bibir atasnya.


Pelukan itu terlepas. Kailla berlari hendak menyusul Keisya. Ia belum puas dengan gadis remaja itu.


"Kai ... tunggu, Sayang." Pram kembali memeluk dan mengunci tubuh Kailla.


PLAK.


PLAK.


Dua tamparan beruntun mendarat di pipi Pram setelah Kailla berhasil meloloskan diri. Bekas tamparan itu menyisakan rona kemerahan.


"Sayang, sudah. Maafkan aku." Pram menggenggam kedua pergelangan tangan Kailla, berusaha menenangkan amarah istrinya.


"Jadi ... kamu membelanya?" tanya Kailla, napasnya menderu.


"Bukan begitu, Sayang." Pram berusaha menjelaskan dan menenangkan Kailla.


"Bukan begitu bagaimana? Kamu tidak mengizinkan aku memukulnya. Bukankah itu berarti kamu membelanya, melindunginya," ungkap Kailla. Kedua tangan terkepal, napas ibu muda itu pendek-pendek sembari menatap Pram dengan mata memerah.


"Pukul aku saja sampai puas. Jangan memukul Keisya. Lampiaskan semua kemarahanmu padaku. Jangan padanya." Pram melepaskan Kailla sembari berjalan ke arah pintu. Dikuncinya pintu ruang kerja itu, tidak ingin pertengkarannya dengan Kailla terlihat orang lain.


Bola mata Kailla membulat. Saat ini ia sedang ingin melampiaskan semua perasaan yang menyesak di dadanya.


"Kamu membelanya, sampai rela pasang badan. Hah?" tuduh Kailla. "Aku pastikan hidupmu dan hidupnya tidak akan tenang."


"Bukan begitu, Kai. Kalau kamu memukulnya, dia bisa melaporkanmu ke polisi. Aku tidak mau itu terjadi." Pram berjalan mendekat, diusapkannya wajah Kailla dengan lembut.


"Kamu boleh memukulku sepuasnya. Aku tidak akan melawan, Sayang. Aku juga tidak akan melaporkan istriku ke polisi." Pram berusaha tersenyum dan mengecup kening Kailla.


"Jadi selama ini ... kamu membohongiku. Kamu benar-benar berhubungan dengannya." Kailla menggeleng.


"Apa saja yang sudah kalian lakukan di belakangku?" tanya Kailla.


Pram menggeleng. "Tidak ada."


"Tidak ada?" tanya Kailla mulai terpancing kembali.


"Aku mendengar sendiri kalau dia memeluk dan menciummu. Kamu bilang tidak ada?" Kailla mengarahkan telunjuknya dengan tegas, tepat di wajah Pram. Sorot matanya kembali berapi-api, siap meledak kapan saja.


"Sayang, duduk. Aku akan jelaskan." Pram meraih tangan Kailla, berusaha menjelaskan dan membuat istrinya tenang.


"Tidak. Kita tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja dan bisa duduk tenang, bicara empat mata," tolak Kailla.


"Cukup katakan padaku ... apa kalian berciuman?" tanya Kailla.


"Tidak." Pram menegaskan sembari menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"TIDAK? MASIH TIDAK MENGAKU?" Kailla kembali meradang. "Aku masih belum tuli, Sayang. Aku mendengar semua yang kalian bicarakan."


"Kami tidak berciuman, tetapi Keisya menciumku. Sudahlah, Kai. Bukankah aku sudah menjelaskan padamu bagaimana keadaan Keisya. Dia hanya salah paham dengan perasaannya. Kemarin kamu bisa mengerti, kenapa ...."


"Kalau yang disukai Keisya itu pria lain, suami wanita lain ... aku bisa mengerti. Tapi, kalau itu suamiku ... aku tidak akan terima!" tegas Kailla.


***