The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 37



Kantor RD Group


Tampak Pram turun dari mobil sport hitamnya yang berhenti di depan lobi kantor, menyusul Keisya yang juga keluar dari mobil yang sama. Remaja dengan seragam putih abu-abu itu membanting pintu mobil Pram dengan angkuh.


Sudah seminggu lebih magang di kantor RD Group, gadis itu mulai terbiasa dengan lingkungan kantor termasuk mulai beradaptasi Pram. Pria matang yang terkadang galak, tetapi di satu sisi sangat perhatian padanya. Terbukti Pram sering mengajaknya keluar makan siang atau mengunjungi ibunya di rumah sakit.


Awalnya, Keisya yang keras kepala dan susah diatur itu tidak pernah mau mendengarkan Pram. Namun, berjalannya waktu semua berubah. Keisya yang membatu tiba-tiba mencair dan jadi anak yang penurut di depan Pram. Walaupun terkadang masih suka manja berlebihan dan tidak tahu tempat.


"Om, aku masuk ke dalam dulu. Bu Stella nanti memarahiku."


Langkah kaki Pram terhenti saat netranya tanpa sengaja menatap mobil baru yang terparkir di halaman kantornya. Ia tersenyum, mengingat Kailla pernah meminta mobil serupa padanya beberapa waktu lalu. Walaupun tidak mengangguk setuju, diam-diam Pram memenuhi keinginan Kailla untuk memiliki hypercar. Pria itu berdecak kagum menatap McLaren Senna hitam yang tampak begitu mencolok dibandingkan mobil-mobil lain yang terparkir di sampingnya.


"Om!" Keisya berteriak setelah ucapannya tidak ditanggapi. Pram berdiri mematung.


"Ya, ada apa?" tanya Pram, menoleh sekilas.


"Aku kembali ke ...." Keisya tidak melanjutkan kalimatnya. Ia baru menyadari keberadaan mobil mewah yang lain sendiri dan menarik perhatiannya.


"Wah ... ini keren sekali. Pasti mahal sekali" Keisya mengurungkan niatnya masuk ke dalam kantor. Gadis dengan kuncir kuda itu berlari menuju mobil baru yang dibeli Pram untuk Kailla. Diusapnya kap mobil yang mengkilap itu dengan penuh kekaguman.


"Om, ini punya Om?" tanya Keisya dengan wajah berbinar. Ia baru kali ini melihat mobil ini secara langsung. Naik mobil sport Pram saja sudah pencapaian yang luar biasa, apalagi kalau bisa menumpang mobil yang tengah diusapnya.


Karyawan kantor yang kebetulan melintas sudah mulai terbiasa dengan Keisya. Mereka tidak heran lagi saat melihat gadis remaja itu bersikap seenaknya pada Pram. Bahkan Keisya dengan leluasa bisa berjalan beriringan dengan pemilik RD Group, pemimpin perusahaan tempat mereka mengais rezeki. Berbeda dengan karyawan lain, yang hanya bisa menyingkir dan diam-diam menatap dari kejauhan.


"Sudah, Sya. Kamu harus kembali bekerja. Ayo masuk ke dalam. Di luar panas." Pram berbalik dan berjalan masuk ke dalam kantor dengan langkah cepat. Senyum di wajahnya menghilang saat melangkah masuk ke dalam gedung. Tampak ia berjalan lurus dengan tangan kiri terselip di kantong celana.


Melihat Pram masuk, Keisya berlari menyusul. Ia mengabaikan pandangan mata karyawan RD Group yang tengah menatapnya, bahkan ada yang berbisik-bisik saat ia berjalan berdua dengan seorang Reynaldi Pratama.


"Om, mobilnya bagus." Keisya dengan tidak tahu tempatnya meraih tangan Pram, membuat pria matang itu berhenti melangkah.


"Sya ...." Pram mengibaskan tangan Keisya agar berhenti bersikap kekanak-kanakan. Bola mata Pram hampir meloncat keluar saat melihat wajah nakal Keisya yang sudah dianggapnya seperti putrinya sendiri. Gadis itu bukannya takut atau menciut, sebaliknya Keisya tersenyum usil.


"Maaf, Om. Aku lupa." Keisya bersikap santai, buru-buru berjalan mengekor di belakang Pram


Untuk sebulan pertama magang di perusahaan, remaja itu diminta Pram membantu pekerjaan Stella. Ia belum bisa melepas Keisya di tempat yang tidak terjangkau olehnya. Pram khawatir Keisya akan membuat masalah dan kekacauan. Keisya adalah kembaran Kailla, ia sudah sangat paham bagaimana menaklukan gadis remaja itu sekaligus sangat mengenal kenakalan yang mungkin bisa saja dilakukan Keisya.


***


Keisya sedang duduk di samping Stella, mencatat jadwal Pram untuk seminggu ke depan. Gadis itu mulai belajar banyak hal. Dari mencatat telepon.masuk, mengarsipkan surat-surat dan ada banyak lagi hal sederhana yang dipelajarinya bersama sekretaris Presdir itu.


"Kei, tolong ke ruangan Pak Pram. Ada berkas yang sudah ditanda tangani, tolong dibawa keluar." Stella memerintah.


"Kei, ketuk dulu ... tunggu Pak Pram mengizinkan baru masuk." Stella mengingatkan.


"Ah, kelamaan Bu Bos. Om tidak akan marah padaku." Keisya menjawab tanpa peduli dengan ucapan Stella, membuat sekretaris itu kesal sendiri. Keisya selalu begitu, bahkan Pram meminta berhenti memanggilnya Om saat di kantor, tetapi gadis itu tetap mengabaikannya.


Keisya yang masuk tanpa permisi tampak terkejut melihat Pram sedang berbaring di sofa ruangannya. Pria yang disapanya Om itu tengah memejamkan mata dengan kedua tangan terlipat di dada. Ada gurat kelelahan di wajah tampan Pram. Keisya bisa melihat, lelah itu tercetak jelas di wajah Pram yang mulai berjejak garis halus di kedua sudut matanya. Keriput itu nyata, usia Pram tidak muda lagi.


"Om ...." Keisya belum sempat berjalan mendekat, tiba-tiba dari arah belakang muncul Kailla yang menerobos masuk dan mendahului.


"Sayang ...." Kailla berlari ke arah sofa, naik dan menunggangi Pram yang tengah berbaring. Terlalu bergembira saat mendapati mobil kesukaannya telah terparkir di halaman kantor, ia mengabaikan Keisya yang kini tengah menonton keintiman mereka.


"Kai, apa yang kamu lakukan, Sayang?" Pram terkejut, tiba-tiba istrinya sudah duduk di atas perutnya.


"Terima kasih, Sayang. Aku menyukai kejutanmu. Mobil keren itu untukku, kan?" Kailla memastikan.


Pram mengangguk dan tersenyum. "Kamu menyukainya?" tanya Pram, merengkuh pinggang Kailla dengan kedua tangannya.


"Sangat, Sayang. Aku mencintaimu ... sangat mencintaimu." Kailla membungkuk, mengecup bibir Pram dan tidak mengizinkan suaminya berontak.


"Kai, jangan gila, Sayang." Pram berkata setelah Kailla melepaskan bibirnya yang bengkak.


"Aku milikmu malam ini, Sayang. Kamu bebas memilikiku," ujar Kailla mengedipkan mata. Ia terlalu gembira.


"Hahaha ... Bukan cuma malam ini. Setiap malam juga kamu milikku, Kai." Pram tergelak, menyentil dahi Kailla.


"Ah, Sayang." Kailla protes dengan manja sembari mengusap dahinya.


"Selamat ulang tahun, istri kecilku. Itu hadiah ulang tahunmu. Terima kasih sudah menjadi istri terbaik untukku, Mommy untuk anak-anakku." Pram masih dalam posisi berbaring, menatap Kailla yang juga tengah menduduki perut berototnya.


"Aku mencintaimu, Kailla Riadi Dirgantara Pratama." Pram meraih tengkuk Kailla dan membawa istrinya berbaring di dalam dekapannya.


Sepasang suami istri yang tengah memadu cinta dalam ciuman hangat dan dalam. Berbagi rasa sampai tidak menyadari kehadiran orang ketiga yang menonton sejak tadi dengan memendam iri.


"Aku baru mau mencoba mobil barunya, ternyata Om membeli mobil baru itu untuk istrinya." Remaja itu membatin. Ia cemburu melihat sikap manis Pram pada Kailla. Selama ini, ia tahu kalau Pram sangat baik, penyabar dan penyayang. Terbukti pria itu bersikap lembut padanya dan ibunya.


Keisya menatap sepasang anak manusia yang tenggelam di lautan cinta sampai mengabaikan kehadirannya.


***


Tbc