The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 91



Jantung Kailla masih berdegup tak karuan, apa yang didengarnya masih terngiang-ngiang.


“Aku masih memiliki saudara. Apa benar istrinya Ditya adalah sepupuku.” Ia masih tidak percaya dengan semua kenyataan yang menamparnya malam ini.


Tidak mau berlama-lama dan membuat masalah, Pram mengusirnya pulang dan Kailla memilih kembali ke rumah. Ada yang lebih penting dari semua ini. Masa lalu akan tetap jadi masa lalu, tetapi keselamatan Kentley adalah yang terpenting saat ini.


Melipat tangannya di dada, Kailla menahan embusan angin malam yang sebentar lagi merontokkan tulang-tulangnya. Berdiri di depan lobi, ia menyerukan nama satu asistennya.


“Sam!


“Don! Siapa pun .... tolong antarkan aku pulang ke rumah.” Suara Kailla memecah keheningan malam.


Tak butuh waktu lama, dua nama yang dipanggil sudah berdiri berjejer di depannya.


“Ada apa, Non?”


“Tolong antarkan aku pulang sekarang." Kailla memerintah sambil berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di halaman kantor. Saat ini ia tidak bisa fokus pada banyak hal. Ada banyak kejutan di dalam hidupnya. Dari menghilangnya Kentley hingga munculnya saudara yang lain. Semuanya membuat kepala berdenyut.


Baru akan membuka pintu mobil, tiba-tiba ia dikejutkan dengan kehadiran Bayu yang mengambil alih tugas Sam.


“Aku yang akan mengantar Non Kailla pulang.” Bayu masuk ke dalam mobil. Sikap asisten kesayangan Pram itu terlihat tenang. Sampai di depan kemudi pun ia masih bersikap biasa, seakan tidak ada hal genting yang sedang mereka hadapi.


Rembulan meninggi, jalanan pun mulai lengang. Sejak masuk ke dalam mobil, Kailla tenggelam dalam pikirannya sendiri dan Bayu memilih konsentrasi dengan kemudi. Sesekali asisten itu melirik majikannya dari kaca spion, seperti ada yang ingin disampaikannya.


“Non, yang sabar, ya. Pak Pram dan semua orang sedang berjuang untuk menyelamatkan Kentley.” Bayu membuka suara.


Kailla bergeming. Tatapannya tertuju pada jalan raya.


“Pak Pram tidak menyalahkan Non Kailla. Semua sudah terjadi, marah juga percuma. Tidak akan mengembalikan Kentley. Dia hanya ingin Non menyadari semua kesalahan dan kelalaian yang tanpa disadari bisa saja berakibat fatal. Kelalaian Non Kailla itu bisa saja membuat masa lalu Pak Pram terulang lagi.”


Deg—


Kailla tersadar. “Ma ... maksudmu, putraku ....” Kailla tidak sanggup mengucapkannya. Ia tidak mau terjadi hal buruk pada putra bungsunya.


“Ya. Pak Pram terpukul. Bukan kali ini saja berhadapan dengan penculikan, tetapi reaksi Pak Pram sangat berbeda dibandingkan saat Non Kailla diculik. Masalahnya Kentley masih bayi.” Bayu menjelaskan.


Ibu muda itu menangis sesenggukan di kursi belakang. Terbayang hal-hal buruk yang mungkin saja menimpa Kentley. Ia tidak bisa membayangkan kalau harus terpisah bertahun-tahun seperti yang dialami mama mertuanya.


“Bay, tolong selamatkan putraku. Aku menyesal. Kalau tahu akan seperti ini, aku lebih memilih berdiam diri di rumah. Aku menyesal selama ini menganggap remeh hal-hal yang selalu diingatkan suamiku.” Kailla terisak.


Bayu menghela napas. “Tolong jaga diri baik-baik. Jangan menambah beban Pak Pram saat ini. Fokus Pak Pram sedang pada Kentley. Duduk diam di rumah dan jaga Bentley. Kita tidak tahu apa yang diinginkan penculik. Hanya sekedar meminta tebusan atau membalas dendam.” Bayu menjelaskan dengan pelan.


Kailla menyimak. Sebagai seorang ibu, ia benar-benar terpukul harus kehilangan putranya. Terbayang saat ini Kentley menangis mencarinya.


“Bay, mengenai ... sepupuku ... apa kamu sudah lama mengetahuinya?” tanya Kailla, ragu-ragu.


“Sudah, Non. Tapi tidak perlu mencari tahu. Pak Pram terlibat perjanjian dengan Ditya Halim Hadinata. Masa lalu Non Kailla bukanlah sesuatu yang ....” Bayu diam sejenak. Tak mungkin ia bicara terus terang dan melukai lawan bicaranya.


“Kalau Pak Pram dan Ditya saja tidak mau membahasnya, pasti ada alasan di balik semua itu. Dan ... penculikan Kentley bisa saja imbas dari masa lalu.”


“Tapi, aku ingin bertemu dengan sepupuku.” Pikiran Kailla menerawang, ia teringat pernah berkenalan dengan istri Ditya Halim Hadinata saat di pemakaman Daddy beberapa bulan yang lalu.


“Harus dengan persetujuan Ditya Halim Hadinata, Non. Pak Pram saja tidak bisa seenaknya. Karena sampai hari ini ... istri Ditya juga tidak tahu apa-apa. Mereka bukan orang sembarangan. Jadi kita tidak bisa ....”


“Aku mengerti.” Kailla memotong.


"Baguslah kalau Non Kailla mengerti." Bayu melempar senyuman dari kaca spion. Ia berharap Kailla mencerna semua ucapannya dan bisa berpikir dua kali sebelum bertindak. Salah melangkah, bukannya menyelesaikan masalah. Namun, bisa saja mengacaukan semua yang sudah ia dan tim rencanakan.


"Oh ya, Pak Pram sempat mengungkapkan keinginannya tadi siang. Mengingat Non Kailla masih tidak paham mengenai pentingnya pengawalan dan fungsi para asisten ...." Jeda sejenak, Bayu tengah menimbang.


"Ada apa?" Kailla penasaran.


"Pak Pram akan membebaskan Non Kailla dari para pengawal. Setelah Kentley ditemukan, Pak Pram memutuskan pindah dari Jakarta."


"Maksudnya?" Kailla bingung.


"Pak Pram belum memastikan akan menetap di negara mana. Hanya saja Indonesia bukanlah tempat yang aman dan nyaman untuk keluarganya. Apalagi, mengingat anak-anak masih terlalu kecil. Masih panjang perjalanan yang harus dihadapi."


"Aku mengerti, Bay." Kailla tertunduk.


***


Semalaman Kailla tidak bisa tidur. Ia terngiang-ngiang dengan tangisan putranya yang sampai detik ini tidak ada kabar sama sekali. Pram tidak pulang, tidak juga memberi berita baik untuknya.


"Apa aku hubungi Matt saja, ya. Bukannya ... semalam Pieter mengatakan kalau asisten Ditya bisa membantu." Kailla duduk di bibir tempat tidur dengan wajah sembab karena terlalu banyak menangis dan kurang istirahat.


Berpikir sejenak, Kailla memantapkan hatinya. Ia tidak bisa diam begitu saja. Tentu saja ia harus turun untuk mencari putranya.


Meraih ponsel miliknya, ia menghubungi asisten Ditya Halim Hadinata tanpa banyak pertimbangan.


"Matt, ini Kailla Riadi Dirgantara. Apa kita bisa bertemu?"


***


Ini adalah season 3, yang artinya ada season 1 dan 2. Untuk bisa paham cerita ini harus baca 2 season sebelumnya dan harus mengikuti karyaku yang berjudul Crazy Rich Mencari Cinta.