The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 66



Ibu Citra mendengus kesal, mengantar anak dan menantunya yang berangkat bersama. Perempuan berusia senja itu hanya sanggup melambaikan tangan dengan wajah datar bersama kedua cucu kembarnya.


Oma si kembar kecewa. Sudah berdandan rapi sejak pagi, hanya untuk mengantar Pram dan Kailla berangkat ke kantor. Tidak ada tas branded, tidak ada acara belanja. Sanggul dan riasannya terbuang percuma, sia-sia. Hanya mendapat pujian Sam yang sejak awal kedatangannya tak berhenti mengungkapkan kekagumannya akan sanggul anti corona. Demikian sang asisten menamai jenis sanggul yang menghiasi kepalanya.


"Jangan menatapku seperti itu! Kalau tidak mau nasibmu sama seperti Donny. Aku kutuk menjadi bujang lapuk." Ibu Citra mendengus kesal melihat senyum manis Sam yang meledeknya sejak tadi.


"Ah, Oma. Jangan begitu. Kalau bukan aku yang memuji, aku pastikan tidak akan ada yang memuji Oma. Aku jamin, Oma." Sam masih terus menggoda Ibu Citra, duduk di teras rumah sembari menyesap kopi hitam dan kue basah yang dibeli Ibu Ida di pasar subuh.


"Aku ikhlas memujimu, Oma. Dari lubuk hati terdalam," lanjut Sam, melebarkan senyumnya saat melihat Ibu Citra menyeringai. Ia hari ini diliburkan Kailla, jadi Sam bebas menghabiskan waktunya berleha-leha.


"Jangan menggodaku kalau tidak mau makan sepatu!" Ibu Citra sudah kehabisan sabar, ia bersiap melepaskan sandal wedges lima senti yang melekat di kakinya dan hendak melempar Sam.


"Oh, tidak bisa begitu Oma." Sam kabur sembari menggenggam secangkir kopi. Ia tidak mau menjadi santapan sandal sang majikan.


Asisten itu baru bernapas lega saat kakinya melangkah masuk ke pos security.


"Hampir saja!" Sam mengusap dadanya. Jantungnya berdetak kencang. "Pantas saja menjanda seumur hidup. Sudah tampang biasa-biasa saja, galaknya luar biasa. Hanya Non Kailla saja yang sanggup memiliki mertua seperti Oma Citra. Kalau orang lain pasti sudah dikirim ke daerah konflik, buat jadi penjinak bom atau jadi sasaran regu tembak." Sam berucap asal.


"Masih saja menggoda janda kaya sebelah rumah." Donny yang sejak tadi menunggu di dalam pos sambil menikmati sarapan pagi hanya bisa menggeleng.


Sam tak merespons, ia tergelak saat melihat Ibu Citra menenteng tas tangannya dan berjalan dengan gemulai, kembali pulang ke kediamannya sembari mendengus kesal.


"Anak itu sengaja mengerjaiku. Besok, kalau dia meminta bantuanku, aku akan tutup mata. Bisa-bisanya mengerjai orang tua." Ibu Citra menggerutu sambil berjalan pulang ke kediamannya. Ia masih kesal pada Pram yang mengerjainya tanpa perasaan.


***


Dalam perjalanan ke kantor, Pram masih berusaha membujuk. Ia bahagia, Kailla memilih untuk mengawasinya setiap saat, bahkan rela ikut ke kantor. Namun, ia juga kecewa saat mengetahui istrinya memutuskan untuk cuti kuliah demi menjaganya agar tidak berdekatan dengan Keisya.


"Maaf, social distancing." Kailla menegaskan. Mendorong tubuh Pram agar menjauh darinya.


"Sayang?" sapa Pram dengan suara lembut. Ia masih berusaha mengambil hati Kailla sekaligus mendapatkan maaf dari istrinya itu.


"Tidak. Kalau maaf itu berguna untuk apa ada pak polisi," ungkap Kailla, mengutip sepenggal kalimat di drama Taiwan yang pernah diikutinya beberapa tahun silam.


"Jadi?"


"Tidak ada jadi-jadian. Sudah tua, lima langkah lagi sudah setengah abad, tetapi masih saja tebar pesona." Kailla kesal sendiri. "Menebar pada bocah labil. Ckckck." Kailla berdecak kesal. Kedua tangannya terlipat di dada.


"Maafkan aku, Kai. Aku tidak menyangka Keisya seberani itu padaku." Wajah Pram tampak memelas. "Tapi aku tidak ada perasaan apa pun padanya, Kai. Tidak ada rasa."


Bola mata Kailla membulat, hampir melompat keluar. "Jadi kalau ada rasanya, kamu akan membalasnya?" tanya Kailla. Emosinya terpancing.


"Tidak, Sayang." Pram menggaruk kepalanya. Ia bingung sendiri. Apa saja yang diucapkannya selalu salah di mata Kailla.


"Alasan!" Kailla mendengus kesal. "Kamu itu sudah tua. Sebentar lagi sudah tidak bisa membedakan mana bintang, mana kunang-kunang. Jadi jangan mencoba ...."


"Yang terpenting aku masih bisa mengenalimu meski sudah tidak bisa mengenali banyak hal di dunia ini, Kai," potong Pram, tersenyum menatap istrinya.


***


Maaf pendek, aku ada urusan di RL ya. Love you all.