
Pram menatap mobil kesayangannya yang mengenaskan, menghantam pohon di tepi jalan. Kaca bagian depan hancur dan kap mesin penyok di sisi kanan. Ia bersyukur tak ada korban jiwa, hanya gerobak bakso yang terguling tak jauh dari tempatnya berdiri dan seorang bapak tua yang menangisi bola-bola berbagai ukuran yang berantakan dan sebagian tergilas roda kendaraan.
Pria itu tersenyum dengan kedua tangan bertekuk di pinggang. Ini adalah mobil keduanya yang dihancurkan Kailla karena pertengkaran mereka. Walau kali ini ia sendiri yang membuat mobil itu berciuman mesra dengan pohon beringin tua di sisi jalan.
Tak lama berselang, Alphard hitam berhenti tepat di depan Pram. Muncul Bayu dan Sam yang terkejut menatap mobil yang kini menjadi pusat perhatian semua orang.
"Sam, tolong antarkan Kailla pulang ke rumah. Aku masih harus mengurus semuanya," titah Pram.
"Ya, Pak."
"Minta Ricko membawa mobil ke sini," lanjut Pram lagi.
"Ya, Pak." Sam menurut,bergegas menghampiri Kailla yang masih setia menunggu di mobil.
Pandangan Pram beralih pada Bayu. "Bay, tolong urusi Bapak itu. Katakan padanya aku akan mengganti semua kerugiaannya," perintah Pram pada asisten kesayangannya sambil menunjuk ke arah pemilik gerobak bakso yang meratapi nasib.
Dari arah mobil yang ringsek, tampak Kailla keluar dengan wajah mendengus kesal. Sepertinya, ibu muda itu kembali terlibat perdebatan dengan asistennya.
"Aku tidak mau pulang sendiri. Kita pulang bersama-sama!" Kailla berdiri di depan suaminya dengan kedua tangan bertolak di pinggang.
"Kai, jangan begini. Untuk apa menungguku. Kasihan anak-anak menunggumu di rumah." Pram membujuk.
"Tidak, masalah kita belum selesai. Aku tidak akan memberikan kesempatan suamiku berduaan dengan gadis tidak tahu diri itu. Bisa saja setelah aku pergi ... kamu akan mendatangi silu'man ular putih itu dan memeluknya karena aku memukulnya tadi," tuding Kailla menatap tajam sang suami.
"Tidak akan, Kai. Percaya padaku."
"Kamu sudah tidak bisa dipercaya lagi. Aku sudah memberi kepercayaan penuh padamu, tetapi apa yang terjadi? Kamu membiarkan dirimu dipatuk ular berbisa," gerutu Kailla, kesal.
Pram menghela napas panjang, berusaha sabar menghadapi Kailla. Di saat ini, bersabar dan mengalah adalah pilihan terbaik untuk menjaga keutuhan rumah tangganya. Ia tidak bisa membela diri dan memberi Kailla pengertian di saat otak istrinya masih dikuasai emosi.
"Sudah, jangan bertengkar di sini. Malu dengan orang-orang yang sedang memperhatikan kita. Masalah rumah tangga itu bukan tontonan semua orang. Ayo pulang." Pram mengalah. Meraih lengan sang istri dan membawa masuk Kailla ke dalam mobil hitam yang terparkir di dekat mereka.
Tampak Pram berpesan pada Bayu untuk mengurus mobilnya. Kailla masih diselimuti emosi dan kemarahan, tidak mungkin menentang istrinya di saat seperti ini.
***
Sepanjang perjalanan Kailla masih mengomel dan tak berhenti menggerutu. Setiap mengingat Pram yang dicium dan dipeluk Keisya, darahnya mendidih kembali. Ibu muda itu butuh pelampiasan. Ingin rasanya memukul suaminya hingga terkapar dan tak berdaya, tetapi ia tidak bisa.
"Sudahlah, Kai. Ini hanya salah paham. Aku minta maaf padamu. Bukankah sudah aku jelaskan padamu ... bagaimana keadaan yang sebenarnya. Bagaimana Keisya yang ...."
"Tapi, kamu berbohong! Kamu tidak mengatakan padaku kalau bocah ingusan itu sudah menciummu, memelukmu," omel Kailla masih tidak mau selesai. Tangannya terkepal, memukul pahanya sendiri.
"Memangnya ... kalau kemarin-kemarin aku berterus , kamu bisa menerima dan memaafkanku?" tanya Pram.
"TIDAK! Aku tidak sebaik dirimu. Aku tidak bisa memaafkanmu dan Keisya begitu saja. Dia mencium suamiku. SUAMIKU! Mana ada istri yang bisa menerimanya!" Nada bicara Kailla kian meninggi, menatap tajam ke arah sang suami.
Pram hanya bisa menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tidak mau berdebat dengan Kailla yang akhirnya akan membuat masalah bertambah dan tidak menemukan jalan keluar.
Kailla masih tetap mengomel sampai mobil yang ditumpangi mereka masuk ke dalam halaman rumah.
Kailla tidak peduli. Ibu muda itu turun dari kendaraan pribadinya dan membanting kasar pintu mobil. Berlari menuju ke rumah dengan kemarahan yang belum reda, Kailla mengabaikan Pram yang terus menerus menyerukan namanya.
"Sayang."
"Kai ..."
"Sayang ...." Buru-buru turun dan mengejar Kailla, Pram tidak bisa membiarkan istrinya melampiaskan kemarahan pada semua orang di rumah. Ia melihat sendiri bola api yang masih menyala di mata indah Kailla.
"Kai, aku mohon. Maafkan aku." Pram merengkuh lengan Kailla saat berhasil mengejar.
"CUKUP, SAYANG!" bentak Kailla mengarahkan telunjuknya ke wajah Pram.
"Tidak perlu membujukku. Aku sedang tidak ingin berdamai denganmu. Ingat ... kita ...." Kailla tidak bisa melanjutkan kalimatnya saat Ibu Citra tiba-tiba keluar dari dalam rumah.
"Kalian sudah pulang?" tanya Ibu Citra menatap heran. Wanita berusia senja itu menangkap aroma pertengkaran di antara anak dan menantunya. Ia melihat sendiri Kailla menunjuk ke arah putranya dengan mata memerah.
"Ya, Ma. Aku tadi mampir ke kantor Pram. Maaf tidak mengabari Mama lebih dulu. Anak-anak tidak rewel, kan?" Kailla menurunkan emosinya saat berhadapan dengan Ibu Citra.
Ini masalah rumah tangganya. Kailla tidak ingin ada yang ikut campur di dalamnya. Apalagi mertunya sudah berumur, tidak seharusnya dijejali dengan masalahnya dan Pram.
Ibu Citra menggeleng. "Tidak," sahutnya datar. Wanita tua itu masih menyimpan tanya di dalam benaknya.
Kailla menoleh ke samping dan tersenyum datar menatap sang suami.
"Aku masih menjaga nama baikmu di depan Mama. Aku tahu ... selama ini kamu juga melakukan hal yang sama dan berusaha menutupi kekuranganku di depan Mama. Aku juga tidak mau Mama kecewa mengetahui semuanya." Kailla berbisik.
"Tapi bukan berarti masalah kita selesai begitu saja," lanjut Kailla. Suaranya pelan hampir tidak terdengar. Ia tidak mau pertengkarannya dan Pram diketahui Ibu Citra. Kailla tahu, andai mama mertuanya mengetahui semua, Pram akan diomeli habis-habisan.
Deg--
Pram tertegun. Tadinya pria itu mengira Kailla akan mengadu. Ternyata di luar dugaannya, Kailla menyimpan rapat-rapat kesalahannya di depan sang mama.
"Ma, mau ke mana?" tanya Pram. Tatapannya tertuju pada punggung sang istri yang bergerak masuk ke dalam rumah.
"Mau pulang. Mama lelah, Pram. Mama mau istirahat sebentar."
"Ma, menginaplah di rumahku malam ini. Ada yang harus aku bicarakan pada Mama." Pram memohon dengan wajah memelas. Ia butuh mamanya untuk menjaga emosi Kailla tetap stabil. Kehadiran Ibu Citra sanggup membuat istrinya melunak dan sedikit tenang.
"Hah! Apa ada masalah?" Ibu Citra terkejut.
Kailla yang masih bisa mendengar ucapan suaminya segera berbalik. Ibu si kembar itu berdiri di tengah pintu dengan tangan bertolak di pinggang. Bola mata melebar hendak menelan suaminya bulat-bulat. Di saat ia ingin melanjutkan pertengkaran, Pram sengaja memanfaatkan mama mertuanya untuk menyudahi semuanya.
"Ma, sebaiknya Mama istirahat di rumah Mama saja. Jangan dengarkan Pram. Di sini anak-anak akan membuat istirahat Mama terganggu" Kailla bersuara. Ibu muda itu berusaha menahan nada bicaranya supaya terdengar lembut sambil menatap punggung Ibu Citra yang berdiri membelakanginya.
"Bukankah kamu sudah berjanji menghabiskan malam ini bersamaku, Sayang," ucap Kailla dengan tidak tahu malunya. Suaranya manja mendayu, tetapi tatapannya seperti singa betina kelaparan. Ia siap menerkam dan mencabik-cabik Pram sampai tak bersisa.
***