The Love Story Of Pram And Kailla

The Love Story Of Pram And Kailla
Pram & Kailla 76



Tiba di Jakarta saat hari menjelang malam, Kailla memutuskan untuk seharian di rumah keesokan harinya. Ia ingin menghabiskan harinya bersama anak-anak, mengganti kebersamaan dengan kedua putranya yang hilang karena perjalanan ke Bandung, menemani Pram.


"Sayang, kamu tidak ke kantor hari ini?" tanya Pram saat berada di meja makan menikmati sarapan pagi. Ia bisa melihat jelas wajah pucat Kailla, berdiri di sampingnya sembari menyiapkan bubur untuk putra kembarnya.


"Tidak." Kailla menggeleng sambil mengaduk bubur brokoli dan ikan tuna untuk kedua putranya.


"Kin, ini milik Kent dan ini milik Bent." Kailla menyodorkan dua mangkuk bubur pada dua pengasuh yang selalu siaga menemani si kembar.


"Kai, kamu yakin tidak mau ke dokter?" tawar Pram. Kekhawatiran itu terlihat nyata, pria 45 tahun itu menangkap sesuatu yang tidak biasa di dalam diri istrinya. Kondisi fisik Kailla tidak menggambarkan kalau sedang baik-baik saja.


Kailla menggeleng. "Aku baik-baik saja."


"Yakin?" Pram memastikan sembari menikmati sarapan pagi buatan Kailla yang tiada duanya. Hanya Kailla yang berani menyuguhkan makanan tanpa rasa yang terkadang membuat lambungnya bergejolak. Dengan alasan usia dan kesehatan, Pram harus rela menelan makanan buatan Kailla dengan sukarela dan menjadi kelinci percobaan untuk menu-menu baru selanjutnya.


Kailla mengangguk.


"Ya sudah, aku harus ke kantor." Pram mengusap sudut bibirnya dengan kain lap dan menghempaskannya perlahan ke atas meja.


Tak lama, Pram terlihat berdiri dan mengecup pucuk kepala Kailla yang tertunduk tak mau menatapnya. Perang dingin itu masih berlangsung walau hanya sebatas pisah tempat tidur. Kailla yang biasanya berceloteh sepanjang hari, berbagi banyak cerita kini lebih banyak diam dan menyembunyikan diri di kamar.


"Aku mencintaimu," bisik Pram, tersenyum di sela kecupan.


"Aku membencimu." Kailla mengirim tatapan permusuhan yang sanggup membuat Pram tergelak.


Rumah tangga mereka aneh dan tak biasa. Di saat bertengkar pun kalimat cinta masih berkumandang sepanjang hari. Kailla masih bicara dan mengurusi sarapan anak dan suaminya. Hanya saja, kemanjaan Kailla yang biasanya bisa dinikmati setiap saat, kini menghilang. Tak ada lagi penyambutan tak biasa setiap Pram pulang kerja.


Selesai mengecup Kailla, Pram beralih pada kedua putra kembarnya yang tengah disuapi sarapan.


"Daddy berangkat ke kantor. Jangan menyusahkan Mommy." Pram berbisik pelan pada keduanya. Menegakkan tubuhnya dan menatap Kailla, Pram tersenyum. Kailla tetap bereaksi.


***


"Boo, aku hamil." Kailla yang kebosanan seharian di rumah, akhirnya memutuskan menemui Bella, sahabatnya. Ia tidak tahu harus berbagi pada siapa. Hanya Bella satu-satunya sahabat yang dimilikinya saat ini.


Bagi sebagian orang, kehamilan adalah berita bahagia, tetapi tidak untuk Kailla. Sampai hari ini, ia belum siap. Bahkan, Kailla masih berharap semua hanya mimpi dan saat terbangun semua itu lenyap dengan sendirinya.


"Wah." Bella ternganga, wajah cantiknya merona bahagia. Istri Barata Wirayudha itu tersenyum mendengar berita yang disampaikan sahabatnya.


"Coba cubit aku, Boo. Siapa tahu ini hanya mimpi." Kailla berkata dengan lemas. "Cubit yang kencang, sampai aku sadar," lanjut Kailla.


Bella benar-benar mencubit pipi temannya itu dengan kencang dan membuat Kailla berteriak nyaring.


"Awwww!" pekik Kailla, mengusap pipinya yang memerah. "Apa-apaan, Bo? Kenapa benar-benar dicubit sekencang ini?" Kailla kesal, mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia tidak mau jeritannya mengganggu semua orang. Ia hanya bertamu, tidak enak sampai mengusik ketenteraman pemilik rumah.


"Tidak ada siapa-siapa. Semua sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Jangan khawatir." Bella tersenyum.


"Serius?" tanya Kailla jadi tidak enak hati.


Bella mengangguk sembari menatap jam di dinding. Sudah hampir jam makan siang, Bara sebentar lagi akan pulang dan menikmati makan siang di rumah.


"Hah!"


"HAH!"


Suara terkejut itu terdengar kencang dan hampir bersamaan. Bukan hanya Bella, Bara yang sudah masuk ke dalam rumah menenteng jas kerjanya pun ikut terkejut sampai tidak sanggup berkata-kata. Bola matanya hampir keluar saat mengetahui Kailla ingin menggugurkan kandungannya.


Ini benar-benar gila. Aku yakin Pram akan menggila kalau sampai mendengar ucapan Kailla.


Bara berusaha bersikap biasa dan berpura-pura tidak mendengar.


"Om." Kailla tersentak, mengalihkan perhatiannya pada Bara yang kini berdiri tak jauh darinya.


"Kalian lanjutkan saja. Aku masih ada urusan." Bara melangkah masuk ke dalam rumah, mengabaikan Kailla.


"Aneh?" Kailla mengerutkan dahi. Tidak biasanya Bara bersikap tenang dan tidak mengajaknya perang.


Sebuah tepukan di pundak mengejutkan Kailla. "Kai, kamu serius?" tanya Bella panik. Ia masih mengingat ucapan Kailla yang ingin menggugurkan kandungan.


"Apa?" tanya Kailla menaikkan dagunya. Ia masih bingung dan terheran-heran dengan sikap Bara yang berubah mendadak.


"Kamu serius ingin menggugurkan kandunganmu. Apa kamu tidak takut Om Pram mengamuk kalau sampai mengetahuinya?" Bella memastikan.


"Ssstt, jangan kencang-kencang." Kailla meletakkan telunjuk di bibirnya. Ibu si kembar bergerak mendekat dan berbisik. "Apa kamu tidak heran dengan perubahan sikap suamimu, Boo?" tanya Kailla. Ia lebih tertarik dengan perubahan sikap Bara. Rasanya ada yang hilang saat Bara tidak mengajaknya bertengkar seperti biasa.


"Kai, aku serius membahas kehamilanmu. Kenapa kamu malah membahas suamiku?" gerutu Bella.


"Ada yang aneh dengan sikap Om Bara. Apa jangan-jangan dia sedang bermasalah dengan selingkuhannya di luar sana? Kamu tidak lihat tampangnya aneh, Boo." Kailla penasaran. Ia lebih tertarik dengan perubahan sikap Bara dibanding kehamilannya.


"Jangan berlebihan deh, Kai." Bella berusaha tidak terpancing, tetapi ucapan Kailla sanggup membuatnya tidak enak hati dan ikut larut dalam prasangka.


"Aku ke dalam dulu, Kai. Kamu mau minum apa? Aku minta Mbak membuatkannya untukmu." Bella memilih mencari tahu.


"Gampang saja. Sudah lihat dulu suamimu. Kalau aku haus, aku akan ke dapur sendiri. Kita bukan orang lain. Aku sudah lama menganggap rumahmu ini rumahku." Kailla mengibaskan tangannya dan meminta Bella menyusul Bara.


***


Ruang rapat RD Group.


Pram tampak serius mendengarkan laporan dari pimpinan proyek saat ponselnya yang tergeletak di meja rapat itu bergetar dan menyala. Mengerutkan dahi saat mendapati nama Bara muncul di layar, Pram heran. Sudah lama Bara tidak menghubunginya. Ia yakin pasti ada masalah penting yang ingin disampaikan sahabat sekaligus rekan kerjanya itu.


"Aneh? Ada apa, ya?" Pram bangkit dari duduknya.


"Tolong lanjutkan, aku masih ada urusan." Pram menepuk pundak Pieter dan bergegas keluar.


Pintu ruang rapat baru saja tertutup kembali saat Pram menyapa Bara. "Ya, Bar. Ada apa menghubungiku?" tanya Pram bersikap santai.