
Sebuah gudang tua tidak terpakai menjadi tempat penyekapan Kentley. Letaknya yang jauh dari pemukiman warga ditambah akses menuju ke lokasi masih dipenuhi semak belukar membuat tempat itu tidak terjamah. Jerit dan tangis tak akan terdengar, kecuali oleh pencari kayu yang memang sengaja masuk ke area tidak tersentuh itu.
Belum lagi kabar burung diembuskan beberapa warga mengenai keangkeran tempat yang dulunya pernah difungsikan sebagai tempat pengemasan kain majun. Andai tangisan bayi lucu itu terdengar warga pun, bisa dipastikan mereka akan kocar-kacir ketakutan.
Dengan mata tertutup kain hitam, Kailla menjerit setiap kali kakinya yang tak terbungkus celana dengan sempurna terkena libasan rumput dan ranting kecil pohon berduri. Ia tidak bisa menghindar, kedua tangannya terikat di belakang punggung.
"Apa masih lama? Aku sudah merindukan putraku." Kailla tetaplah Kailla, ia tak akan gentar oleh apa pun. Bahkan di saat seperti ini, ibu si kembar itu masih sempat bertanya banyak hal.
"Tutup mulut!" Jawaban kasar terdengar dari pria yang berada di belakang Kailla. "Berisik sekali!" omelnya sembari mendorong kasar tawanannya hingga terjerembap ke semak belukar.
"Aww! Jerit Kailla saat tubuhnya terguling dan terkena tanaman berduri. Ia yakin kedua lengannya terluka saat merasakan perih di lengan kanan dan kiri. "Huh, tahu begini, aku minta diantar ke mal dulu untuk beli baju dan celana panjang.
"Diam!" teriak pria lain yang sejak tadi diam.
"Bagaimana bisa diam. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Kalau mataku dibuka, mungkin saja aku bisa diam sambil menikmati pemandangan."
"Ini lebih menyulitkan dari putranya. Bukannya mengurangi masalah. Bisa-bisa menambah masalah!" Pria di belakang bersuara.
Tak lama, samar-samar terdengar suara tangisan bayi. Suara itu semakin lama, makin kencang.
"Kentley," cicit Kailla menghentikan langkahnya. Ia menajamkan pendengarannya untuk memastikan kalau suara itu nyata. "Itu suara putraku, kan?" Kailla berlari ke sembarang arah mengikuti kata hati dan nalurinya. Saat ini ia ingin bertemu putranya.
Brukk.
Tubuh Kailla terpental saat menabrak tiang besi di depan gudang tua. Kali ini ia bisa merasakan pelipisnya berdenyut dan basah. Namun, rasa sakit itu lenyap dalam sekejap saat tangis kencang putranya terdengar semakin dekat.
"Tolong buka mataku!" teriak Kailla. Ia tidak bisa bangun, terjerembap dan bersimpuh di tanah kotor.
Kepala Kailla menggeleng kasar, ia berharap penutup mata itu bisa terlepas secepatnya. Tak punya jalan lain, ia harus melihat Kentley secepatnya.
"Tolong lepaskan penutup mataku!" teriak Kailla mulai tidak sabar. Umpatan, makian dan jeritan itu membuat orang-orang di sekitarnya sakit kepala.
"BUKAAAA!" teriak Kailla sejadi-jadinya. Namun, kali ini nasibnya tidak terlalu baik. Sebuah balok seukuran lengan menghantam belakang kepala. Dalam hitungan detik, jeritannya menghilang dan tak sadarkan diri.
"Cara termudah membungkamnya," ujar salah satu pria dengan menggenggam balok di tangannya.
***
Sam panik setelah berjam-jam menunggu di mobil, tetapi Kailla tak kunjung keluar. Ponsel majikannya itu juga tak bisa dihubungi. Ia berlari masuk untuk memastikan apa yang terjadi di dalam restoran. Setengah jam kemudian Sam keluar dengan tubuh lemas.
Kailla tak ada di dalam. Ia sudah menghubungi asisten rumah, majikannya juga tak ada di sana.
"Bagaimana ini? Apa aku hubungi Pak Pram? Sam menimbang sembari membayangkan nasibnya beberapa jam ke depan. Entah apa yang terjadi pada Kailla saat ini, ia tidak bisa menebak. Ia hanya tahu kalau nasibnya tengah di ujung tanduk. Ia harus siap menerima kemarahan Pram.
"Ckckck, apa aku bisa selamat kali ini. Aku berserah padamu, Tuhan." Sam menatap langit dengan kedua tangan terjulur ke atas.
Berjalan menuju mobilnya dengan pikiran kosong, Sam nyaris saja tertabrak mobil yang melintas di halaman restoran.
"Aku selamat di sini, tetapi belum tahu bagaimana nasibku beberapa jam ke depan. Apalagi Non Kailla hamil. Benar-benar tamat riwayatku." Bibir asisten itu komat-kamit sejak tadi.
"Mantapkan hati, aku laporan saja pada Pak Pram. Temui langsung atau kabari lewat ponsel, ya?" Sam menimbang untung ruginya. "Ah, lewat ponsel saja. Setidaknya ia bisa mengomel tanpa bisa menyentuhku. Aku harus latihan fisik dulu sebelum menerima pukulan dari Pak Pram."
Tangan pemuda itu bergetar, mengusap layar gawai mahalnya yang tersisa dua kali angsuran. Tampak ia menghela napas berulang kali untuk meredam gemuruh di jantungnya.
Nada sambung semakin membuat dadanya bertalu-talu. Hilang seketika nyali Sam saat suara berat menyapa dari seberang panggilan.
"Ya, ada apa?"
Deg--
Lidah kelu, rangkaian kalimat yang telah tersusun rapi kini terbang tak bersisa. Sam tergagap.
"Pa ... em ... Pak, ma ... mau laporan." Kalimat pertama lolos. Sam butuh kekuatan lebih untuk menyampaikan berita selanjutnya.
"Ada apa? Jangan membuat waktuku terbuang. Aku masih banyak urusan!" omel Pram.
"Ma ... maaf, Pak. Non Kailla hilang." Sam memejamkan matanya. Berdiri di samping mobil, ia bersiap menunggu ledakan yang akan meluluhlantakkan dirinya.