
Cukup satu hari dirawat di rumah sakit, Ibu Keisya diizinkan pulang keesokan harinya. Perempuan tua itu masih terkejut dan belum bisa percaya dengan apa yang telah dilakukan putrinya.
"Kei, tolong berubahlah. Kehidupan kita sudah jauh lebih baik berkat bantuan Pak Pram dan Ibu Kailla. Harusnya kamu bersyukur sekarang. Bisa sekolah dengan tenang tanpa memusingkan uang SPP. Kita bisa hidup tenang tanpa memikirkan uang kontrakan dan biaya hidup." Ibu Keisya duduk di sofa, menatap putrinya yang berdiri tertunduk.
Mereka baru saja pulang ke apartemen dengan diantar Bayu. Dokter menyatakan kalau Ibu Keisya tidak perlu dirawat lebih lama lagi, kondisinya sudah sehat.
"Maaf, Bu. Aku menyesal. Aku benar-benar tidak mau mengulanginya lagi. Aku mau menyelesaikan sekolahku dan melanjutkan ke perguruan tinggi." Kedua tangan Keisya saling meremas.
Terdengar helaan napas, perempuan tua dengan wajah keriput termakan usia dan menanggung beratnya beban hidup itu terlihat menatap pada lembaran uang kertas pecahan seratus ribu rupiah yang berserakan di lantai.
"Ibu malu, Kei. Benar-benar malu dengan kelakuanmu. Ibu tidak punya muka lagi. Ibu malu ...." Ibu Keisya memukul dadanya karena kesal. Sejak kemarin, dadanya sesak setiap mengingat kelakuan putrinya yang memalukan.
"Maaf, Bu. Aku benar-benar menyesal." Keisya hampir menangis. Matanya memanas, cairan bening mengumpul di kelopak matanya.
"Keisya, apa yang kamu pikirkan, Nak." Perempuan dengan gaun sederhana itu terlihat menangis sedih. Suaranya terdengar memilukan, meraung dan menyebut nama putrinya berulang-ulang.
"Keisya ...."
"Maaf, Bu." Keisya menghambur, buru-buru bersimpuh dan memeluk kedua kaki ibunya.
Tangisan ibu dan anak itu bersahut-sahutan. Begitu mengiris dan mendominasi.
"Kumpulkan uang-uang itu. Ada waktu, kembalikan pada istrinya Pak Pram. Minta maaf dan katakan kamu menyesal. Kalau perlu cium kakinya, berlutut memohon," pinta Ibu Keisya, memukul pundak putrinya berulang kali.
"Ya, Bu." Keisya terisak. Gadis remaja itu menatap lembaran uang yang berserakan. Tak lama, terlihat Keisya mengumpulkan satu persatu dan meletakkannya di atas meja.
"Jangan mengambilnya. Kembalikan semuanya pada Ibu Kailla. Ibu juga harus minta maaf padanya. Ibu merasa sangat bersalah sekali telah me ...." Terdiam, Ibu Keisya tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Ia tidak mungkin membongkar fakta yang selama bertahun-tahun ia sembunyikan, tidak bisa berterus terang tentang Keisya yang bukan putri kandungnya.
"Kumpulkan dan kembalikan pada istrinya Pak Pram. Ibu tidak mau tahu. Kamu harus minta maaf padanya. Kalau perlu sembah kakinya!" titah Ibu Keisya, berdiri dan melangkah menuju ke kamar. Ia butuh istirahat. Setiap membahas tentang kelakuan memalukan putrinya, sakit kepala menyerang. Dadanya terasa sesak dan nyeri.
"Bu ...." Menatap punggung ibunya yang berjalan tertatih-tatih menuju ke kamar, Keisya tiba-tiba bersuara.
"Ada apa?" tanya perempuan paruh baya itu, berbalik.
"Apa istrinya Pak Pram benar-benar akan melaporkanku ke pihak sekolah?" tanya Keisya ragu-ragu.
"Ibu tidak tahu, Kei. Sebaiknya minta maaf dan minta bantuan Pak Pram."
Tangisan Keisya kembali pecah. "Aku tidak mau sekolah lagi, Bu. Aku malu kalau sampai teman-temanku mengetahuinya."
"Makanya ... sebelum melakukan sesuatu itu harus dipikir matang-matang. Tidak bisa seenaknya. Jangan apa yang ada di pikiranmu, kamu keluarkan semua, Kei. Begini jadinya. Ini akibatnya."
***
Siang itu, cuaca Jakarta lumayan bersahabat. Walau panas terik, semilir angin terasa sejuk menerpa kulit. Pram masih berjuang untuk mendapatkan maaf dari Kailla yang sampai detik ini belum rela melakukan gencatan senjata. Ibu si kembar masih belum mau menyudahi perang dingin dan tak mengizinkan Pram mendekat.
Setelah membuat janji bertemu dengan Ditya Halim Hadinata sejak dua hari yang lalu melalui sekretarisnya, Pram akhirnya berkesempatan bertatap muka dengan pria tampan yang dua tahun lalu menjadi musuhnya.
Pria matang dengan sejuta karisma itu tampak datang lebih dulu di restoran yang menjadi tempat pertemuan. Ia yang meminta bertemu, tentu tidak sopan membuat tamunya menunggu. Duduk nyaman di salah satu ruangan private di restoran langganan keluarganya, Pram tersenyum saat melihat pria yang ditunggunya datang bersama dengan seorang pelayan restoran.
"Apa kabar?" Ditya menyodorkan tangan ketika pandangannya dan Pram beradu..
"Baik, silakan." Pram mempersilakan Ditya duduk.
"Terima kasih. Ada apa mencariku? Aku yakin ada hal penting yang membuatmu minta bertemu," ujar Ditya sembari menjatuhkan bokongnya di kursi. Tampak ia melepaskan kacamata hitam yang sejak tadi menghiasi wajah tampannya.
Pram tersenyum, kedua tangannya saling menggenggam di atas meja. "Mau pesan makan siang?" tawar Pram.
"Oh tidak. Kopi saja."
Terlihat Pram memesan dua cangkir kopi pada pelayan. Pria itu baru memulai pembicaraan setelah memastikan tertinggal ia dan Ditya di dalam ruangan.
"Bagaimana? Masalah proyek?" tanya Ditya tersenyum hangat.
"Bukan." Pram menelan saliva. "Ini masalah para istri." Pria matang itu terkekeh.
Ditya mengernyit bingung. Sejauh ini ia tidak paham dengan apa yang ingin disampaikan Pram padanya.
"Ini mengenai masa lalu istriku yang juga berarti masa lalu istrimu."
"Maksudnya?" Ditya bingung.
"Istri-istri kita ternyata masih memiliki saudara yang lain. Aku sudah bertemu dengannya."
Deg--
Ditya terbelalak. "Siapa? Kamu tidak menyinggung masalah Frolline, kan?" tanya Ditya.
"Tidak, bahkan sampai detik ini Kailla tidak mengetahuinya. Aku masih menyimpan rahasia ini rapat-rapat." Pram tersenyum kecut.
***