
"Kailla, turun! Apa yang kamu lakukan?" Pram panik, ikut menaikki tangga aluminium dan membantu istrinya turun. "Kamu sedang hamil, Kai." Pram mengingatkan
"Ya, aku hati-hati. Aku hanya membantu Mama turun, Sayang.
"Turun sekarang." Pram mengulurkan tangannya. Ia tidak mau sampai istrinya yang sedang hamil terpeleset dan jatuh.
Berusaha menjaga Kailla, memastikan istrinya turun dengan selamat.
"Sayang, Mama terjepit di atas. Tidak bisa turun." Kailla menunjuk ke arah Ibu Citra yang sedang meratapi nasib. Sejak tadi, ia berusaha untuk membantu sang mertua.
Pohon mangga memang tidak terlalu tinggi, tetapi untuk Ibu Citra menjadi masalah besar. Wanita tua itu gemetaran saat memandang ke bawah, kedua kakinya melemah dan tak sanggup berpijak ke tangga.
"Ma, apa yang kamu lakukan di atas sana?" Pram segera menjejaki kakinya kembali ke tangga, berusaha mengevakuasi Ibu Citra yang sedang duduk di salah satu dahan, berpelukan kencang di pohon utama.
"Kurang kerjaan!" omel Pram begitu berhasil meraih tubuh mamanya dan membantu turun.
Tak lama, kerumunan para asisten pun membubarkan diri. Satu persatu pergi setelah mendapat tatapan tajam Pram.
"Giliran Kailla, suaramu mendayu sekali. Tidak ada sedikit pun kemarahan di dalam nada bicaramu. Tapi giliran Mama, kamu ...." Ibu Citra menggeleng.
"Soalnya Mama kelewatan," gerutu Pram. "Tidak sadar dengan umur, tidak sadar dengan kemampuan. Jangankan memanjat, berjalan saja bisa tiba-tiba jatuh. Ke atas mau mencari apa?" tanya Pram kesal.
"Menantuku hamil, tentu saja mencari mangga muda." Ibu Citra menjawab ketus.
"Tapi, aku tidak sedang mengidam mangga muda." Kailla menyela, membela diri. Ia tidak mau disalahkan.
"Mama hanya menyiapkan. Saat Kailla menginginkannya, sudah tersedia di atas meja. Bagaimana pun, mama harus bisa memenuhi keinginan menantu Mama. Kalau kamu tidak bisa melakukannya, bukannya Mama yang harus mewujudkannya. Di perut Kailla itu cucu Mama juga."
"Mama tidak perlu repot-repot. Aku bisa memanjatnya kalau istriku menginginkannya."
Perempuan tua itu tersenyum. Sejak tadi ia menunggu pertanyaan ini keluar dari bibir Pram.
"Bagaimana bisa? Sedangkan kamu dan istrimu saja bertengkar tak selesai-selesai. Dari pada nanti cucuku yang kena imbasnya, Mama pikir mulai sekarang Mama yang harus mengambil alih tugasmu." Ibu Citra menyunggingkan senyuman, menatap ke arah Kailla.
"Mulai sekarang, Mama saja yang mengurus semua kebutuhan istrimu." Ibu Citra menatap putra dan menantunya bergantian.
Kailla diam dan tertunduk, sedangkan Pram yang mulai menangkap maksud mamanya tampak mengirim kode melalui lirikan. Ia mulai mengerti tujuan mamanya melakukan hal-hal tak masuk akal.
"Aku dan Kailla baik-baik saja, Ma. Bukankah begitu, Sayang?" Pram mengulurkan tangan, menunggu sang istri menyambut.
"Ya, Ma. Aku dan Pram baik-baik saja. Mama tidak perlu khawatir." Tiba-tiba Kailla memeluk erat pinggang suaminya. Tak ada keraguan seperti sebelumnya.
"Serius? Kalian tidak sedang bersandiwara seperti biasanya, kan?" todong Ibu Citra.
Pertanyaan mama mertua menampar Kailla, ibu muda itu menaikkan pandangannya dan menatap Ibu Citra.
"Kalau kalian mau bertengkar, lanjutkan saja nanti. Saat bayi di dalam kandungan itu lahir. Mama hanya kasihan dengan nasib cucu Mama kalau kedua orang tuanya bersitegang. Cucu Mama itu ingin disambut dengan bahagia, bukan dengan perdebatan kalian." Ibu Citra mencoba menasihati.
"Mama tidak membela siapa-siapa. Untuk saat ini, Mama hanya khawatir dengan bayimu, Kai." Ibu Citra menghela napas panjang. Tak lama, ia bergegas masuk ke dalam rumah, meninggalkan pasangan suami istri itu menyelesaikan apa yang masih mengganjal di dalam hati.
Pram tidak banyak bicara, hanya menggandeng Kailla masuk ke dalam rumah. Ia mengerti, saat ini istrinya sedang mengulang kembali apa yang di sampaikan mamanya.
***
Sepanjang hari Kailla banyak merenung. Bahkan ia tampak melamun saat menemani anak-anaknya bermain. Ucapan mama mertuanya masih berputar di otaknya, enggan pergi. Ada banyak hal yang terjadi belakangan ini. Dari kisah Keisya yang tiba-tiba menyusup ke dalam rumah tangganya hingga kehamilan kedunya yang di luar rencana.
Melangkah gontai masuk ke dalam kamar tidurnya, Kailla terkejut saat mendapat Pram baru keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang.
Sudah lama tidak mendapati pemandangan ini, ia dan Pram terlibat pertengkaran dan memilih menjaga jarak untuk ketenangan bersama.
"Kai, kamu kenapa?" tanya Pram heran. Berjalan mendekati Kailla yang mematung di tempat.
Kailla menggeleng.
"Ucapan Mama tidak perlu dipikirkan. Mama hanya mengkhawatirkanmu, bukan menyalahkan." Pram menenangkan.
"Aku hanya merasa semuanya datang bersamaan. Begitu mendadak, sampai aku tidak memiliki persiapan." Kailla menumpahkan perasaannya setelah sekian lama. "Aku mengenal suamiku dengan baik, tetapi tetap saja tidak rela setiap mengingat Keisya menyentuhmu." Kailla tertunduk.
"Kai, dengarkan aku. Untuk saat ini, cukup fokus dengan kehamilanmu saja. Aku tahu tidak mudah untukmu." Kedua tangannya membingkai wajah Kailla, berusaha meyakinkan sang istri kalau semua akan baik-baik saja.
"Lupakan masalah Keisya. Saat semuanya jelas, aku yakin kamu tidak akan memiliki alasan lagi untuk membencinya." Pram menatap manik mata istrinya.
Selama ini ia berpikir keras, membongkar rahasia yang disimpannya rapat-rapat atau menceritakannya pada Kailla. Ia tidak mau masa lalu istrinya menjadi beban. Beban untuk Kailla, beban untuk anak-anaknya.
"Aku mencintaimu, Kai. Kamu tahu jelas, tidak ada siapa pun di dalam hatiku. Hanya ada namamu. Mari kita berdamai, setidaknya untuk anak-anak."
Kailla diam.
"Berdamai bukan untuk mengelabui semua orang. Berdamai untuk kita, untuk anak-anak, untuk bayi di dalam kandunganmu."
Mata Kailla berkaca-kaca saat menangkap kesungguhan di dalam ucapan suaminya. Ia tidak memberi jawaban. Sebagai gantinya memeluk Pram dengan erat dan menumpahkan air mata yang ditahannya sejak tadi.
***
Kisah kehamilan Kailla tidak akan diulas lagi, karena sudah ada di season sebelumnya. Sebentar lagi masuk konflik terakhir. Itu artinya Pram dan Kailla akan ending selamanya. Tanpa sekuel, tanpa bonus chapter. Ini berat untukku, tentunya juga berat untuk pembaca setia yang sudah mendukung sampai tiga season ( 1 tahun 2 bulan ).